Oleh Pande Jipayana Putra*
Foto: Pura Dalem Mengani (Jipayana Putra)
Penyunting: Carik Hulu
========================
DESA Adat Calo yang terletak di Desa Pupuan, Tegalalang, Gianyar menyimpan sebuah tuturan lisan terkait dengan hubungan desa tersebut dengan Batur. Kisah ini telah diwarisi turun-temurun secara gugon-tuhon sebagai warisan peradaban masyarakat desa yang dahulu kala juga dikenal sebagai Tiing Puhun itu.
Legenda ini menghubungkan Desa Batur dengan beberapa situs di Desa Adat Calo, antara lain Pura Jati, Pura Dalem Mengani, serta Pura Tirta Taman Sangku.
Berikut ini kisah yang diwarisi masyarakat Desa Adat Calo.
*
Alkisah dahulu kala masyarakat di Desa Batur, Kintamani mengadakan pujawali (upacara). Agar pelaksanaan upacara lengkap, maka diutuslah delapan orang warga dari seputaran Desa Batur untuk memohon air suci yang bernama Tirta Pamuput Wali.
Setelah seluruh persiapan matang, kedelapan orang tersebut berangkat menuju ke arah selatan menuju griya (rumah) orang suci di Griya Sakti. Namun, saat sampai di sana, orang suci yang dituju sedang berada di tengah sawah. Kedelapan orang utusan ini pun mencari orang suci tersebut ke tengah sawah.
Delapan orang utusan Batur berhasil menemui orang suci tersebut, yang kebetulan sedang bekerja di tengah sawah. Mereka kemudian menjelaskan maksud tujuan mereka datang untuk memohon air suci yang dimaksud.
Mendengar permintaan utusan tersebut, orang suci itu pun langsung menunjukkan kesaktiannya. Ia mengambil air sawah dan memberikan japa mantra, kemudian memberikananya kepada kedelapan utusan. Orang suci tersebut mengatakan bahwa itulah air suci yang mereka sedang cari.
Usai menerima air suci tersebut, kedelapan orang utusan pun pamit pulang untuk kembali ke Batur. Namun, di tengah perjalanan mereka merasa tidak yakin dengan air suci yang dibuat oleh sang suci. Kebetulan saat itu, di tengah perjalanan mereka menjumpai arena sabung ayam. Di sana mereka memutuskan untuk beristirahat dan ikut nimbrung bermain judi sabung ayam. Sementara itu, air suci yang tidak begitu mereka yakini sebagai air suci ditaruh di rerimbunan pohon bambu.
Kejadian yang tidak pernah disangka pun terjadi. Air suci yang ditaruh di rerimbunan pohon bambu secara ajaib tumbuh lebat, dan semakin lebat, hingga seolah menjadi hutan bambu yang lebat. Melihat kondisi tersebut, kedelapan orang itu pun tersadar dengan tugasnya. Mereka mulai mencari air suci yang mereka tinggalkan dengan cara merabas setiap pohon bambu.
Peristiwa ajaib kembali terjadi. Tiba-tiba tebasan mereka mengenai tempat air suci yang mereka mohon kepada orang suci. Secara ajaib air suci itu pun berubah menjadi api yang membakar habis rumpun bambu tersebut. Sejak saat itu daerah tersebut diberi nama Pering Gesing atau Tiing Puun. Tempat tersebut kini terletak di Banjar Calo, Tegallalang
Setelah peristiwa kebakaran yang terjadi di rumpun bambu tersebut, kedelapan orang yang diutus dari Batur tidak menemukan jalan pulang. Mereka akhirnya menetap di tempat tersebut. Namun demikian, karena bakti mereka terhadap Hyang Embang, mereka kemudian membangun sebuah tempat pemujaan yang diberi nama Pura Jati. Nama tersebut sama dengan nama tempat pemujaan yang ada di Batur.
Selain itu, juga dibangun sebuah pura yang diberi nama Pura Dalem Mengani, sedangkan tempat terbakarnya tirta juga dibangun pura bernama Pura Tirta Taman Sangku. Ketiga pura ini masih dapat ditemui sampai saat ini.
Sementara itu, tetua Batur yang mengutus mereka berdelapan untuk memohon air suci mulai gelisah, sebab kedelapan utusan tersebut tidak kunjung kembali. Tetua desa kemudian kembali mengirim orang untuk menelusuri kedepan orang utusan sebelumnya.
Utusan ini berjalan menuju tempat yang seharusnya dituju oleh utusan sebelumnya. Dalam perjalanan, mereka akhirnya berjumpa dengan delapan orang utusan sebelumnya yang kini tinggal di Desa Tiing Puun. Delapan orang utusan sebelumnya pun menceritakan kisah yang mereka alami. Mereka sekarang tidak ingin kembali ke Batur, dan memilih menetap di desa tersebut.
Mendengar keputusan delapan orang utusan itu, utusan kedua pun mengiyakan dan akan melaporkan kepada tetua desa. Sebagai bentuk tanda keterikatan mereka, kedelapan orang yang memilih menetap di Desa Tiing Puun diberikan sebatang pohon rijasa sebagai pengingat. Ketika dilaksanakan upacara di Pura Jati, pohon rijasa itu akan berbunga. Harum dari bunga pohon rijasa akan semerbak dan tercium hingga ke Batur. Pada saat itulah mereka wajib melakukan persembahyangan karena di Pura Jati sedang berlangsung yadnya.
Setelah diberikan pohon rijasa, untuk mengetahui bahwa kedelapan utusan melakukan yadnya di Pura Jati, Desa Tiing Puun, mereka lantas diberi hadiah gong yang suaranya akan menggema hingga ke Batur. Sayangnya saat hadiah itu dikirim, gong itu tidak sampai ke Tiing Puun, tetapi diberikan di Banjar Tatag, Manukaya. Sampai saat ini gong tersebut disimpan di tempat itu. Meski demikian, suara niskalanya diyakini tetap berada di Desa Tiing Puun.
Tanda lain yang diterima oleh kedelapan utusan yang kini menetap di Desa Tiing Puun adalah sumber mata air untuk bercocok tanam. Setelah mereka menetap di desa tersebut, Hyang Penguasa Batur memberikan anugerah berupa mata air sebesar tangkai kapak. Mata air tersebut hingga saat ini masih menyembul, dan terletak di belakang Subak Calo.
Beberapa waktu kemudian, masyarakat Timbul kembali memohon air sebesar tangkai kapak kepada Hyang Penguasa Batur. Dalam permohonannya, masyarakat Timbul diantar oleh Dukuh Sakti yang tinggal di Bukit Talembu. Atas kesaktian sang dukuh, tangkai kapak itu diputar, sehingga mata air yang semula kecil menjadi sangat besar. Air inilah yang mengalir ke Subak Calo Timbul.
Peristiwa tersebut akhirnya membawa bencana di Desa Batur, di mana setiap musim kemarau air Danau Batur mengalami kekeringan. Kondisi ini membuat tetua di Batur kembali memohon air suci ke Tirta Empul. Air suci dari Tirta Empul dibawa menggunakan periuk tanah (payuk pere) sejumlah empat buah. Dalam perjalannya, satu periuk jatuh dan pecah di sebuah tempat yang kini dikenal sebagai Desa Belahan. Sementara itu, tiga periuk lainnya selamat sampai di Danau Batur. Sejak saat itulah di Danau Batur hidup be nyalian (ikan wader). Ikan ini diyakini turut terbawa dalam air di dalam periuk tanah yang diambil dari Tirta Empul.
===
*Penulis merupakan seorang jurnalis yang juga merupakan warga adat Calo.











