Oleh Ni Ketut Veny Yuliasih
Foto: Bade tumpang semebilan pamereman Palinggih Dane Jero Gede Alitan (Kawanan) Batur (Pusdok Batur)
Penyunting: Carik Hulu
========================
Sunyi yang Datang Perlahan
TANGGAL 6 Januari 2026 bukan sekadar penanda waktu. Ia hadir sebagai ingatan kolektif bagi Desa Adat Batur, ingat akan genap setahun kepergian Palinggih Dane Jero Gede Alitan (Kawanan) Batur. Sejak hari itu, desa belajar memahami satu bentuk sunyi yang berbeda: sunyi yang tidak menghilangkan bunyi gamelan, tidak memadamkan dupa, tidak menghentikan yadnya, tetapi perlahan menggeser rasa di batin krama.
Sunyi ini bukan kekosongan yang gaduh. Ia hadir tenang, sebagaimana danau yang tampak diam namun menyimpan kehidupan. Dalam sunyi itulah, kehadiran beliau justru terasa semakin dekat sebagai ingatan, sebagai tuntunan, sebagai bayang spiritual yang tidak kasat mata namun nyata.
Sosok yang Menjadi Titik Tengah
Dalam kehidupan adat dan spiritual Batur, Palinggih Dane Jero Gede Alitan (Kawanan) Batur tidak pernah berdiri sebagai individu semata. Beliau adalah titik tengah tempat bertemunya sekala dan niskala, adat dan agama, manusia dan alam. Sebagai representatif sesuhunan Ida Bhatara Sakti Maduwe Gumi dan Ida Bhatara Maduwe Gama. Beliau hadir bukan untuk ditinggikan secara personal, melainkan untuk menjaga keseimbangan kosmis agar tetap berada pada porosnya.
Setiap upacara besar, setiap piodalan, setiap yadnya agraris, kehadiran beliau menata rasa dan meneguhkan keyakinan kolektif. Bukan karena kemegahan tutur, melainkan karena ketenangan laku. Dalam diamnya, beliau mengajarkan bahwa adat tidak perlu lantang untuk berwibawa; cukup dijalani dengan tulus dan konsisten.
Palebon sebagai Penutup Sebuah Bab
Palebon Palinggih Dane Jero Gede Alitan (Kawanan) Batur pada Januari 2025 adalah peristiwa yang lebih dari sekadar pelepasan raga. Ia adalah penutup sebuah bab panjang dalam sejarah spiritual Batur.
Bade tumpang sembilan yang diusung ribuan krama dari desa-desa Batun Sendi Batur bukan hanya simbol status, tetapi pernyataan kolektif tentang penghormatan dan rasa terima kasih.
Di balik kemegahan upacara itu, ada kesadaran bersama bahwa yang dilepas bukan hanya seorang tokoh, tetapi satu zaman. zaman di mana satu sosok menjadi poros rujukan batin bagi banyak desa. Palebon itu adalah yadnya terakhir beliau kepada desa, sekaligus yadnya desa kepada beliau.
Sunyi yang Menguji
Setahun berjalan, Desa Batur tetap hidup. Upacara tetap dilaksanakan, adat tetap ditegakkan. Namun, banyak krama merasakan bahwa menjalani yadnya kini menuntut kedewasaan yang lebih dalam. Tidak lagi bersandar pada satu figur, desa diajak untuk berdiri sebagai kesadaran kolektif.
Sunyi pascakepergian beliau menjadi ujian: sejauh mana nilai-nilai yang selama ini ditanamkan benar-benar hidup dalam laku, bukan hanya dalam ingatan. Sunyi itu mengajak desa untuk bertanya, bukan dengan suara keras, melainkan dengan perenungan: apakah keseimbangan masih dijaga ketika penjaganya telah kembali ke niskala?
Menjaga Gumi lan Gama
Sebagai wakil sesuhunan Ida Bhatara Sakti Maduwe Gumi dan Ida Bhatara Maduwe Gama, ajaran yang diwariskan beliau tidak berhenti pada ritual. Ia hidup dalam cara masyarakat memandang alam: danau bukan sekadar sumber air, gunung bukan sekadar lanskap, tanah bukan sekadar ruang ekonomi. Semuanya adalah bagian dari kesucian yang harus dirawat.
Di tengah tantangan zaman, apalagi tentang pariwisata, perubahan sosial, dan tekanan ekonomi. Setahun tanpa beliau, Desa Batur dihadapkan pada kenyataan bahwa menjaga gumi dan gama kini bukan lagi tugas satu sosok, melainkan tanggung jawab bersama.
Warisan yang Menyatu dengan Waktu
Palinggih Dane Jero Gede Alitan (Kawanan) Batur telah kembali ke asalnya, tetapi warisannya tidak pergi. Ia menyatu dengan waktu, hidup dalam tata upacara yang tetap dijalankan dengan taksu, dalam gotong royong yang terus dirawat, dan dalam kesadaran bahwa adat bukan peninggalan masa lalu, melainkan jalan untuk menata masa depan
Warisan itu bukan berupa kata-kata panjang, melainkan keteladanan. Tentang kesetiaan pada tugas, kesabaran menjaga keseimbangan, dan keteguhan untuk tidak tergesa mengikuti arus zaman.
Mengenang sebagai Laku
Setahun wafatnya Palinggih Dane Jero Gede Alitan Batur adalah pengingat bahwa mengenang bukan sekadar mengingat nama. Mengenang adalah laku, menjalankan yadnya dengan tulus, menjaga alam dengan hormat, dan menempatkan adat sebagai penuntun, bukan beban.
Selama Desa Batur masih setia menjaga keseimbangan gumi dan gama, selama yadnya dijalankan dengan rasa dan taksu, maka kehadiran beliau tidak pernah benar-benar pergi. Ia hadir dalam sunyi yang meneguhkan, dalam kesadaran yang membimbing, dan dalam langkah desa yang terus belajar berjalan dengan rendah hati.











