BATUR – Dua hari pascapelaksanaan Puncak Karya Ngusaba Kadasa Pura Ulun Danu Batur, Desa Adat Batur melaksanakan ritual Wayon Alit. Kegiatan dilaksanakan dari pukul 16.00 WITA s.d. 22.00 WITA.
Wayon Alit Ngusaba Kadasa terdiri atas tiga ritual penting yakni nebengin/maican-ican, ngabuangin/maberas gunung sari, dan maider gita.
Pangemong Pura Ulun Danu Batur, Jero Gede Kanginan (Duhuran) Batur, mengatakan ritual nebengin dilaksanakan untuk memohon petunjuk kehadapan Ida Bhatara-Bhatari Batur terkait pelaksanaan Karya Ngusaba Kadasa. Dalam hal ini, Pangemong Pura Ulun Danu Batur, melakukan proses nedunang Ida Bhatara-Bhatari melalui media para prawalen (jero dasaran istri).


Para prawalen ibarat sebagai jembatan komunikasi antara masyarakat (umat) kepada entitas Ida Bhatara-Bhatari Batur. Nebengin mirip dengan ritual nyanjan, hanya saja tujuannya hanya memohon petunjuk tentang pelaksanaan upacara dan hanya melibatkan jero prawalen.
Selanjutnya, ngabuangin atau ritual maberas gunung sari. Ritual ini sangat khas, di mana masyarakat menyusun pala bungkah (umbi-umbian) dan pala gantung (buah-buahan) layaknya sebuah gunung yang disebut Gunung Amreta. Setelah didoakan beras, pala bungkah, dan pala gantung, akan dibagikan oleh Jero Gede Kanginan (Duhuran) Batur sebagai simbolis kesejahteraan.
“Beras tersebut lambang kesejahteraan, yang diyakini sebagai amreta. Biasanya ditebarkan di sawah-perkebunan, diletakkan di lumbung, dan atau warga melakukan usaha,” katanya.
Rangkaian ketiga Wayon Alit adalah maider gita. Maider gita mirip dengan ritual nyenuk di Bali dataran. Pada prosesi maider gita, simbolis masyarakat akan mempersembahkan berbagai tembang seperti kakawin, kidung, dan palawakya.

Lebih lanjut Jero Gede Kanginan (Duhuran) Batur menjelaskan setelah Wayon Alit ritual Ngusaba Kadasa akan dilanjutkan dengan bakti panganyar dari 15 April 2025 s.d. 23 April 2025.
“Setelah bakti penganyar tuntas dilaksanakan selama rentang waktu di atas, baru akan dilaksanakan panyineban/Ida Bhatara-Bhatari Katuran Ngaluhur,” katanya.
“Selama nyejer, kami mengimbau dengan sangat agar pamedek senantiasa bisa menjaga lingkungan, khususnya di kawasan pura dengan cara membawa sampah yang dihasilkannya ke rumah masing-masing atau membuang pada tempat sampah yang telah disediakan. Kami juga tidak menyediakan plastik untuk menempatkan tirta, sehingga mohon agar pemedek bisa membawa tempat tirta dari rumah masing-masing,” ucap dia.











