BATUR – Sumber daya alam di kawasan Desa Adat Batur sangat melimpah, salah satunya hutan pinus. Hutan pinus memberikan sensasi tersendiri jika dikunjungi, terlebih jika kabut datang. Suasana sejuk akan bertabur dengan kesan mistis yang kuat.
Potensi itulah yang dilihat Desa Batur Selatan. Mereka melirik beberapa spot hutan pinus di kawasannya, satu di antaranya yang terletak di selatan Setra Adat Batur. Dulu kawasan ini digunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab sebagai tempat sampah. Mereka kemudian mengelolanya hingga menjadi objek wisata yang kini digandrungi oleh kaula muda.
“Hutan Pinus Desa Batur Selatan sebenarnya memiliki potensi untuk destinasi wisata alam, dibandingkan sebelumnya dijadikan tempat pembuangan sampah. Nah, ke depan akan dikembangkan lagi namun tetap mengkonsepkan pengelolaan alam yang ramah lingkungan. Akan ditambahkan juga wahana yang menantang seperti flying fox, ATV, bersepeda, tracking, dan camping ground. Selain wahana adventure juga akan dikembangkan wisata tanaman seperti angrek dan binatang yang memang ada di sini,” kata Ketua Pengelola Hutan Batur Selatan, Ketut Sandra belum lama ini.
Dalam upaya mengelola potensi tersebut, pihaknya mengaku ke depan akan terus mengembangkan sumber daya alam yang ada. Nantinya akan dibentuk organisasi yang dibagi dalam bidang-bidang, seperti bidang pengelolaan sampah, bidang pariwisata, dan lainnya.
Terkait dengan pengembangan tempat wisata yang kuat dengan ikon jembatan gantung kuning itu, Sandra mengatakan bahwa pengembangan hutan tersebut telah mulai dari 2017 hingga mendapat izin dan mulai menata pada tahun 2018. Sayangnya pengembangan sempat terhenti karena Covid-19 sempat vakum.
Pada tahun 2017, Sandra dan kelompoknya mengajukan ke Kementrian Kehutanan dan akhirnya keluar SK terkait pengelolaan hutan pinus ini. “Kami diberikan hak untuk mengelola 54 hektar dan saat ini baru kita awali dengan 2-4 hektar, itupun masih terkendala dana untuk modal. Ya tapi kita optimis dapat mengembangkan tempat ini,” katanya.
Dalam pengembangannya, Sandra dan kelompok dilarang untuk menebang pohon dan bahkan sekadar memotong ranting pohon yang ada di sana. “Kami diarahkan oleh pemerintah dalan pengembangan hutan ini harus tetap menjaga kelestariannya dan kebersihannya. Bahkan kami dilarang menebang pohon dan menebang ranting, justru kami akan membudidayan tanaman buah dan tanaman yang bisa dimanfaatkan untuk kegiatan keagamaan,” jelasnya.
Sandra berharap ke depan masyarakat banyak yang berkunjung ke objek tersebut. Selain itu, pihaknya juga berharap agar pemerintah bisa membantu infrastuktur dan promosi objek tersebut.
Salah seorang wisatan yang berkunjung ke Hutan Pinus Batur Selatan, Wayan Dika Pratama mengaku tempat tersebut sangat sejuk dan layak dikunjungi. “Bangli perlu mengembangkan tempat wisata seperti ini. Mungkin nanti bisa disedikan tempat makan, minum, dan istirahat. Selain itu lokasi juga sangat dekat dan strategis di pinggir jalan, dari Bangli menuju ke sini kurang lebih 30 menit sudah sampai,” kata wisatawan asal Bangli itu.
___
Penulis/Foto: Putu Oka Suyasa
Editor: Carik Hulu











