BATUR – Pura Ulun Danu Batur kini memiliki 100 lubang biopori. Pembuatan lubang biopori yang akan memberi manfaat lingkungan ini dilakukan oleh Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Bhuana Giri Universitas Mahasaraswati (Unmas) Denpasar yang dipasang Jumat-Sabtu, 10-11 Februari 2023.
Kasinoman Desa Adat Batur, Guru Wayan Werma mengucapkan terima kasih atas pemasangan lubang biopori oleh Mapala Bhuana Giri Unmas. Paduluan yang akrab dipanggil Guru Wer ini meyakini pembuatan biopori dapat memberi dampak lingkungan yang baik bagi pura.
“Matur suksma (terima kasih), adik-adik dari Mapala Bhuana Giri ini sudah mengadakan kegiatan seperti ini, sebab di pura memang di beberapa titik sering tergenang air jika ada hujannya deras,” kata Kesinoman Regu II ini.
Guru Wer menjelaskan, dalam pembuatan biopori tersebut, Desa Adat Batur sengaja melibatkan Roban agar mereka memiliki pengetahuan pembuatan biopori. Ke depan, jika Roban sudah cakap, pembuatan biopori direncanakan akan dilakukan di pura-pura lain di lingkungan Desa Adat Batur.
“Kesinoman menugaskan Tempek Roban (pemuda adat) untuk berpartisipasi membuat. Kami juga libatkan perwakilan pengayah (masyarakat adat, red) dan kasinoman (pelaksana harian adat, red) dalam workshop. Dari workshop mereka jadi tahu fungsi biopori, yakni penyerapan air, jadi tempat sampah organik, dan hasilnya jadi kompos yang akan menjaga unsur hara. Ini pasti bermanfaat bagi masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Ketua Umum Mapala Bhuana Giri, Prince Denil Andi Gerindem, mengatakan pembuatan lubang biopori dapat memberi dampak positif bagi lingkungan. Program itu pun menjadi salah satu program wajib pihaknya.
“Pura Ulun Danu Batur dipilih untuk pemasangan ini karena pura ini merupakan salah satu pura penting di Bali, dan kami mendengar ada di beberapa titik daya serap air hujannya tidak begitu baik, sehingga sering tergenang,” kata Andi.
Setelah lubang biopori dipasang, lubang sedalam 1 m itu setidaknya dapat memberi tiga manfaat, antara lain menjadi sumber resapan air, pembuangan sampah organik, dan sampah yang telah diurai dapat dipanen sebagai kompos alami.
“Kami berharap ke depan masyarakat dapat menerapkannya di rumah-rumah, terlebih dalam kegiatan ini Desa Adat Batur juga melibatkan para krama adatnya, khususnya pemuda untuk kami libatkan,” kata dia.
Andi menambahkan, sebagai mahasiswa pecinta alam, kami hanya berupaya memantik masyarakat. Ke depan, harapannya biopori ini dapat dibuat di rumah-rumah warga, sehingga manfaat lingkungannya lebih luas. “Dengan buat satu biopori, kita bisa menadah air hujan dengan lebih baik, sehingga daya tampung air tanah akan lebih baik pula, sejalan dengan kita yang memanfaatkan air tanah, terutama di perkotaan,” ucapnya.
____
Penulis/Foto: Carik Hulu
Editor: Carik Hulu











