Oleh Tim Penulis Buku Pura Ulun Danu Batur Hulu Suci Balidwipa Mandala (2024).
Foto: Pura Jaba Kuta Batur (Wendra Pratawa)
Penyunting: Carik Hulu
===============
PURA Jaba Kuta merupakan salah satu Pura Pasanakan Ulun Danu Batur. Secara administratif, pura ini terletak di Banjar Kerta Budi, Desa Batur Selatan. Pura dapat diakses melalui Gang Jaba Kuta yang terletak di sebelah timur jalan raya, sekitar 500 meter di utara Pura Ulun Danu Batur. Gang ini cukup kecil, tetapi bisa dilalui kendaraan roda empat berukuran kecil-sedang. Jarak pura dari jalan raya lebih kurang 300 meter.
Posisi Pura Jaba Kuta berorientasi ke timur, hulunya tepat ke arah Gunung Batur. Seperti namanya, pura ini menurut konsepnya terletak di luar permukiman inti Desa Adat Batur. Namun, karena wilayah Desa Batur saat ini yang tidak terlalu luas, psosisi pura pun tidak persis berada di luar desa, melainkan masih di kawasan permukiman.
Pura Jaba Kuta adalah mandala pemuliaan Ida I Ratu Petani dan Ida I Ratu di Alas yang merupakan nueng Dane Jero Balian Desa Kajanan dan Dane Jero Balian Desa Kelodan Desa Adat Batur. Pujawali-nya jatuh setiap Purnama Katiga. Pura ini juga menjadi tempat mendak Ida Bhatara Dalem Pasamuhan setiap Purnama Kapitu.
Pura Jaba Kuta terbagi menjadi tiga mandala, yakni jeroan (utama mandala), jaba tengah (madya mandala), dan jaba sisi (nista mandala). Mandala inti atau jeroan adalah tempat berdirinya palinggih-palinggih utama. Di sebelah timur, menghadap ke barat terdapat Palinggih Ida I Ratu Petani, Palinggih Ida I Ratu di Alas, Palinggih Ida I Ratu Jaba Kuta, dan Palinggih Ida I Ratu Ngurah Subandar. Bangunan pelengkapnya adalah sebuah palinggih pepelik dan bale pangaruman yang cukup besar.
Palinggih Ida I Ratu Candi Kuning, sebuah palinggih pertiwi setana Ida I Ratu Tambang Layar, serta sebuah palinggih pepelik untuk Ida I Ratu Candi Kuning berdiri di selatan mandala, menghadap ke utara. Sementara itu, di utara yang berorientasi ke Pucak Penulisan terdapat palinggih bebaturan memanjang sebagai setana Ida I Ratu Dalem Pasamuhan. Adapun di sebelah barat terdapat palinggih pertiwi setana Ida I Ratu di Kebon dan Ida I Ratu Kebo Edan. Pada utama mandala, tepatnya di pojok tenggara, juga terdapat bale gong yang tidak terlalu besar.
Madya mandala terdapat beberapa palinggih di sebelah utara dan sebuah bale panjang. Palinggih-palinggih tersebut adalah Palinggih Tegal Suci dan Palinggih Ida I Ratu Pamanggungan (Pamosan). Pada mandala ini berlangsung ritual mamosa pada setiap Tilem Kapitu. Situs ini juga dimanfaatkan untuk menggelar ritual nguliang lakon (nguliang balun) bagi seorang jero mangku yang telah meninggal dunia.
Setiap mandala pura ini dibatasi oleh candi bentar. Areal menuju madya mandala terdapat sebuah candi bentar menghadap ke arah utara, sementara akses utama ke utama mandala adalah sebuah candi bentar yang menghadap ke timur.
Ada tiga ritual yang dilaksanakan di pura ini. Pujawali ke hadapan Ida I Ratu Petani, Ida I Ratu di Alas, Ida Ratu Candi Kuning, berserta pengiringnya jatuh setiap Purnama Katiga. Pada saat ini pula setiap dua tahun sekali dipersembahkan kurban kijang sebagai persembahan.
Pada Purnama Kapitu dilaksanakan upacara pamendak Ida I Ratu Dalem Pasamuhan. Ritual ini dipusatkan ke palinggih bebaturan yang terdapat di sebelah utara. Sementara itu, pada Tilem Kapitu setiap dua tahun sekali (tahun Saka ganjil) juga dilaksanakan ritual mamosa menggunakan kurban sapi di Tegal Suci.
Pada Tilem Kapitu masyarakat acapkali juga mempersembahkan bakti ngantukang bersanakan ikan kuyuh (ikan gabus). Ritual ngantukang secara tradisional dilakukan oleh warga adat yang dalam setahun itu terkena penyakit cacar. Penyakit cacar disebut ngogong, yang diyakini bahwa yang bersangkutan dipilih sebagai penanda Ida Bhatara Dalem Pasamuhan telah tiba di Pulau Bali. Ngantukang secara leksikal artinya mengembalikan, dengan harapan penyakit itu dikembalikan kepada yang membawa, sehingga masyarakat terhindar dari persoalan tersebut.











