BATUR – Puncak Karya Agung Danu Kerthi, Tawur Agung Labuh Gentuh, Meras Danu lan Gunung, Bakti Pakelem ring Segara lan Puncak Gunung Batur, Mapaselang lan Mapadanan yang dilaksanakan di Danau Batur dan Gunung Batur oleh Desa Adat Batur pada Sabtu, 14 Oktober 2023 berjalan lancar.
Pakelem di tengah danau dibarengi dengan pelaksanaan nuwur tirta amreta yang diikuti Penjabat Gubernur Bali, S.M. Mahendra Jaya, Dirjan Bimas Hindu, Pror. Dr. I Nengah Duija, Bupati Bangli S.N. Sedana Arta, dll.
Pakelem di segara danu berlangsung sekitar pukul 13.00 WITA setelah pelaksanaan Tawur Labuh Gentuh dan Mapaselang di Pura Segara Ulun Danu Batur-Pura Jati. Sarana-sarana upacara yang dikurbankan ke tengah danau kemudian diangkut menggunakan rakit yang didorong oleh 7 buah perahu.
Sarana-sarana tersebut antara lain bagia-pulakerti, panyegjeg, dan kurban wewalungan seperti seekor babi, tiga ekor kerbau, kambing, angsa, bebek hitam, ayam hitam, serta uang kepeng sejumlah 10.000 keping.

Prosesi pakelem di segara dimulai dengan menenggelamkan kebo yosbrana di timur, kebo sebulu di selatan, babi di barat, kerbau cemeng di utara, serta kurban-kurban lainnya. Setelah itu barulah dilakukan memohon tirta amreta dengan menenggelamkan botol yang tertutup rapat ke tengah danau selama beberapa menit.
Sementara itu, pakelem di Pucak Gunung Batur Kawanan dan Pucak Gunung Batur Kanginan dilakukan di kawah kedua puncak tersebut. Pelaksanaannya dibantu oleh dua desa Batun Sendi Bhatari Sakti, yakni Desa Sekardadi di Puncak Kanginan Gunung Batur dan Desa Buahan di Puncak Kawanan Gunung Batur.
Sarana-sarana pakelem yang dikurbankan di puncak Gunung Batur dibawa ke atas pada subuh oleh masing-masing desa. Proses pengurbanan dilakukan setelah puja ritual tawur manca kelud usai dihantarkan oleh para sulinggih dari areal Pura Segara Ulun Danu Batur-Pura Jati, Desa Adat Batur, Kintamani, Bangli.
Manggala Karya, Jero Gede Batur Duhuran, mengatakan bahwa upacara Danu Kerthi merupakan salah satu bentuk masyarakat adat Batur, khususnya, dan masyarakat Bali pada umumnya untuk mengucapkan terima kasih kepada Ida Bhatari Danuh.
Upacara Danu Kerthi termuat dalam Rajapurana Pura Ulun Danu Batur, khususnya pada lontar Pratekaning Usana Siwa Sasana dan dilaksanakan setiap 5 tahun sekali. “Pada tahun ini kami menggunakan pola yadnya seperti 104 tahun yang lalu, yakni pada tahun 1919, di mana pakelem di danau menggunakan 3 ekor kerbau dan 1 ekor babi seharga 1.000,” kata dia.

Prof. Duija mengatakan ritual Danu Kerthi yang menggunakan sarana kerbau dan babi sebagai sarana upacara adalah upaya mengembalikan harmonisasi alam semesta. “Bahwa selama sekian tahun yang lalu, 100 tahun lalu tentu sudah mengalami kekurangan unsur atau kelebihan unsur. Dalam konsep Hindu, inilah yang disebut alam yang netral, ketika semua unsur ini tidak ada yg melebihi dan kurang. Hari ini kita menyaksikan ritual, di mana siklus ritual, menjadi momen penting bahwa alam semesta harus disempurnakan supaya lebih sempurna,” katanya.
Mantan Rektor IHDN Denpasar ini mengatakan bahwa pakelem bukan ritual membuang-buang binatang, tetapi binatang yang dikurbankan telah diberikan penyucian lebih dulu dan jiwa-jiwa dari binatang yang dipersembahkan sudah disucikan, sehingga perjalanan sang roh akan sempurna ketika lahir kembali.
“Siklus inilah sebuah netralitas, jika kita bicara Hindu. Kita ucapkan terima kasih pada umat Hindu, khususnya yang di Batur karena sudah bisa melakukan upacara sebuah kesucian di segara ini, sebagai huluning Pulau Bali. Kalau kepala sudah bersih, astungkara aliran darah ke bawah akan bersih,” katanya.
____
Penulis: Redaksi
Foto: Panitia Dokumentasi Karya Agung Danu Kerthi Desa Adat Batur Tahu 2023.
Penyunting: Carik Hulu











