Kadek Sara Mandiasa**
Foto: Jero Gede Batur Duhuran (kanan) dan Jero Gede Batur Alitan (kiri) (Ferdy Febriana).
========================
Jika ada pertanyaan, kebanggaan apa terbesar yang dirasakan oleh masyarakat Desa Adat Batur saat ini? Jawabannya bukanlah naiknya pamor daerah ini karena maraknya bermunculan kedai kopi di sepanjang Jalan Raya Kintamani. Bukan juga disebabkan oleh banyaknya kunjungan wisata sehingga perekonomian meningkat dan berdampak positif bagi kesejahteraan warga setempat. Jawabannya juga bukan karena lokasi Kintamani yang dipandang sejuk serta memiliki pemandangan bagus.
Semua kebanggaan itu hanyalah semu. Kebanggaan itu bisa hilang dengan cepat ditelan oleh waktu dan kecepatan era digital sekarang. Ada kebanggaan lebih besar yang harus disyukuri dan dinikmati dengan tetap memeliharanya secara baik yang harus dirasakan segenap jiwa. Kebanggaan terbesar itu adalah adalah keberadan Pura Ulun Danu Batur dan segenap struktur perangkat Desa Adat Batur.
Batur sampai saat ini memang masih kuat mempertahankan sejumlah tradisinya. Termasuk dalam hal memposisikan pemangku di dalam struktur desa adat. Struktur masyarakat Batur bernama Karaman Setimahan. Karaman kata dasarnya adalah rama yang berarti ‘ayah’ (sesekali ibu), ‘paman’, ‘guru’, juga berarti ‘tetua’ (Zoetmulder, 2011). Setimahan artinya 45. Maka, karaman setimahan berarti ‘tetua desa yang berjumlah 45’. Tatanan itu terdiri dari 28 jabatan pemangku, 16 jabatan paduluan, dan satu jabatan patinggi atau kepala desa. (https://tatkala.co/2021/01/29/tata-perguruan-di-desa-kami/).
Struktur tersebut diakui legalitasnya oleh masyarakat. Seluruh dari perangkat struktur inilah dipimpin oleh Jero Gede Batur. Ada dua orang jero gede, kemudian menurun ke level selanjutnya menurut tugas dan fungsi masing-masing. Mengutip tulisan dari Jero Penyarikan Duuran (Ariana, 2021) mereka inilah yang disebut sebagai pemangku desa adat. Pemangku dalam artian luas yang terdapat dalam konstruksi masyarakat Batur merupakan seorang jan banggul. Artinya, para pemangku tidak saja diangkat menurut kesepakatan sekala oleh masyarakat, namun juga dipilih oleh entitas niskala oleh Ida Bhatara yang berstana di parahyangan-parahyangan desa.
Kelengkapan struktur dalam masyarakat Batur ini adalah karunia terpenting yang harus disyukuri sebagai masyarakat lokal. Tanpa struktur ini, Desa Batur akan terasa hampa dan tidak ada keteraturan dalam bermasyarakat sehari-hari. Sebagai masyarakat komunal, Batur sangat membutuhkan kehadiran Jero Gede Batur sebagai pemimpinnya. Keberadaan Jero Gede adalah instrumen penting masyarakat Batur. Jika diibaratkan, Jero Gede Batur adalah rantai utama dalam masyarakat komunal Batur.
Peran Jero Gede Batur sangat dominan dalam sendi masyarakat Batur. Tidak ada satu kegiatan kecil pun tanpa pengaruhnya. Ini menandakan tugas dan peran seorang jero gede mengalahkan semua pekerjaan di berbagai aspek. Jero Gede Batur dengan seluruh petangan (pemangku di bawah strukturnya) siap melayani kepentingan umat selama 24 jam. Ini menjadi penting jika dibandingkan hari ini, ketika banyak orang sangat enggan membuang waktunya sedetik pun untuk meraup keuntungan. Di balik itu semua, peran Jero Gede sebenarnya memberikan makna filosofis dalam kegiatan masyarakat Batur.
Peran Jero Gede Batur saat ini belum dapat dimaknai lebih dalam bahkan oleh masyarakat Batur sendiri. Masyarakat masih memandang peran dan kiprah Jero Gede Batur hanya secara fisik semata. Padahal secara filosofis, keberadaan Jero Gede Batur memberikan makna sangat mendalam untuk membantu masyarakat dalam mencapai kesempurnaan hidup. Filosofi sebagai pelayan suci berskala besar yang hampir luput dari pandangan warga. Tugas-tugas seorang Jero Gede mirip dengan seorang pelayan. Mereka melayani kebutuhan segala aspek masyarakat di Batur. Di sini peran Jero Gede Batur sekaligus sebagai yadnya. Yadnya bukan hanya dalam bentuk upakara, tetapi pengorbanan diri.
Dalam konteks sekarang, pengorbanan untuk bertugas memberikan pelayanan kepada masyarakat Batur demi mewujudkan keharmonisan berkehidupan. Melayani dengan senyum, ramah, sopan dan beretika akan memproduksi vibrasi yang baik pada semuanya. Menjunjung nilai integritas yang tinggi akan memberikan dampak terhadap kesejahteraan bersama. Dalam tingkatan lebih tinggi lagi, pelayanan Jero Gede Batur merupakan bentuk kesadaran jiwa dengan alam semesta.
Kesadaran ini menuju sikap damai, dan ujungnya adalah moksa. Moksa dalam arti perlakuan kita sehari-hari. Moksa jika dijabarkan lebih lanjut adalan sikap tanpa pamrih dan tidak terikat dengan duniawi. Tugas-tugas yang dijalankan seorang Jero Gede Batur selama ini sangat berkorelasi dengan moksa. Mereka tidak mementingkan diri sendiri dan tanpa pamrih melayani umat. Moksa merupakan tingkatan tertinggi dari seorang pelayan suci.
Moksa adalah tuntunan terhadap perlakukan kita sehari-hari. Namun, ia tidak melekat pada keterikatannya. Jadi, kita bekerja tapi tanpa mengharapkan hasilnya. Itu wujud tanggung jawab kita sebagai manusia. Moksa sebenarnya adalah inti utama menyerap peran dari seorang Jero Gede Batur. Hanya menghargai dan bangga keberadaan Jero Gede Batur saja tidak akan pernah bisa menempatkan Desa Batur menjadi daerah berkesinambungan (sustainability). Maka, adopsi konsep moksa sangat diperlukan dewasa ini.
Konsep moksa perlu menjadi aplikatif bagi seluruh masyarakat Bali bukan tanpa tujuan. Batur saat ini sudah sangat bagus. Hanya saja, berbagai tantangan muncul berpotensi membuat kawasan Batur menjadi stagnan. Apabila masyarakat tidak berupaya menerapkan moksa dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa adanya kesadaran moksa, lambat laun Batur akan stagnan. Jalan di tempat, alias maju enggan mundur pun segar.
Kesadaran akan moksa mendesak diresapi oleh seluruh warga. Kesadaran diri akan moksa menjadi sangat mendesak agar bisa menjadi tujuan bersama. Tanpa adanya kesadaran diri dalam rupa moksa, susah mempertahankan berbagai tantangan yang akan muncul ke depan. Menjadi pertanyaan berikutnya, bagaimana menuju tahapan moksa itu?
Satu caranya adalah dengan meningkatkan kualitas diri. Dengan sudah mengadopsi moksa, akan lebih mudah bagi setiap individu di Batur untuk naik ke taraf berkualitas. Mereka siap beradaptasi. Siap untuk mengubah perilaku yang merugikan diri sendiri maupun bagi wilayah. Peningkatan diri bisa dilakukan lewat cara-cara sederhana. Keikhlasan bertanggung jawab dengan kewajiban sehari-hari bisa menjadi contoh. Lalu, sudahkah kita bergerak ke arah itu?
=====
*Tulisan ini adalah tulisan terpilih dalam program “Catatan Menuju Seabad Relokasi Batur” yang digelar Lingkar Studi Batur untuk memperingati HUT ke-3 tahun 2023 dan memperingati seabad peristiwa perpindahan Desa Adat Batur dari Desa Batur Let di kaki Gunung Batur menuju tempat saat ini. Tulisan ini juga akan terbit dalam buku berjudul Seabad Relokasi Batur yang saat ini dalam proses penerbitan.
**Penulis adalah krama Desa Adat Batur yang ngayah di Tempek Pecalang. Kesehariannya adalah tenaga pengajar di Universitas Ngurah Rai Denpasar, di samping mengelola bisnis pribadi. Sebagai akademisi, ia menggeluti bidang ilmu ekonomi.











