BATUR – Hujan deras mengguyur kawasan Batur bertepatan pada perayaan Imlek 2575 Kongzili, Sabtu, 10 Februari 2024. Namun, derasnya hujan tidak menyurutkan rasa bakti umat untuk bersembahyang di Palinggih Ida I Ratu Gde Ngurah Subandar di Pura Ulun Danu Batur atau yang umum dikenal sebagai Konco Batur.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, Imlek di Konco Batur tahun ini diramaikan oleh persembahyangan warga Tionghoa maupun masyarakat Hindu. Keramaian mulai tampak sejak Jumat, 9 Februari 2024 yang terus berlanjut hingga hari Sabtu. Orang-orang silih berganti datang dan sembahyang, baik secara Tionghoa maupun adat Bali.
Memasuki sekitar pukul 11.00 WITA, hujan mulai turun dengan lebat hingga sore hari. Hujan pun masih mengguyur sampai pukul 15.00 WITA, tatkala Desa Adat Batur melaksanakan upacara secara adat Batur untuk turut memperingati perayaan Imlek. Seperti tahun-tahun sebelumnya, pada perayaan Imlek masyarakat adat Batur turut melaksanakan upacara dengan sarana rosan yang dihantarkan langsung oleh Jero Balian Desa Kajanan, Desa Adat Batur.
Pangemong Pura Ulun Danu Batur, Jero Gede Batur Duhuran mengatakan bahwa Palinggih Ida Ratu Gde Ngurah Subandar atau Konco Batur merupakan bentuk pluralitas yang telah hadir sejak dahulu kala. Melalui serangkaian ritus di palinggih tersebut, masyarakat Batur dan warga Tionghoa berkolaborasi dan saling mendukung dalam proses pelaksanaan upacara.
“Kerja sama kami selalu berjalan, baik ketika Imlek atau pujawali Ida Bhatara yang jatuh pada Purnama Sasih Jyestha atau ketika Ngusaba Kadasa. Kami selalu berjalan beriringan melakoni setiap ritual-ritual yang dipersembahkan ke hadapan beliau,” katanya.
Imlek tahun 20 persiapan telah dilakukan sejak beberapa hari sebelumnya. rangkaian itu dimulai dengan bersih-bersih di palinggih yang juga dilakukan oleh masyarakat Tionghoa panyungsung Konco Batur. “Persiapan dimulai dengan marerisak (bersih-bersih) pada tanggal 6 dan 7 Februari 2024, setelah itu pada tanggal 9 Februari 2024 tengah malam dilakukan ritual menyambut kedatangan Ida Bhatara dari surga yang turun ke bumi. Pada proses ini juga dilakukan oleh masyarakat Tionghoa dan Desa Adat Batur,” kata dia.
—-
Penulis: Redaksi
Foto: Jero Pande Oktarika
Penyunting: Carik Hulu











