}} Batur Bergerak Tanpa Arah?* - Bebaturan.id

Batur Bergerak Tanpa Arah?*

Pasuara
Pembangunan destinasi wisata di Penelokan.

Oleh Jero Mangku Andika Budi Utama**

Foto: Dinamika pembangunan fasilitas penunjang wisata di kawasan Penelokan, Batur (Jero Penyarikan Duuran Batur).

========================

 

Batur Masa Kini

Lima tahun terakhir masyarakat Batur menjadikan pariwisata sebagai tulang punggung perekonomian. Dominasi sektor pariwisata dapat dilihat dari besarnya perhatian pengusaha (investor) dalam wujud kepariwisataan Batur. Banyaknya investasi di bidang kepariwisataan ditunjukkan dengan adanya bangunan coffee shop yang berdiri menghiasi sisi jalanan di Desa Batur. Masuknya investor bidang pariwisata tentu akan berdampak pada sektor lainnya, mengingat ekonomi Bali umumnya dibentuk oleh tiga sektor prioritas yakni pertanian, pariwisata, dan industri kecil.

Gubernur Bali, Wayan Koster melalui “Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun ke Depan” yang dirilis belum lama ini telah memaparan haluan pembangunan Bali dalam rentang tahun 2025-2125. Ia menyatakan bahwa sebagai pemimpin Bali pihaknya memiliki tanggung jawab besar secara niskala dan sekala mewujudkan masa depan Bali hingga 100 tahun ke depan demi kesucian dan keharmonisan alam, manusia dan kebudayaan Bali untuk kemuliaan generasi Bali sepanjang zaman. Konsep Bali masa depan ini disebut bersifat ideoligis, kultural, religius, dan nasionalis. Ia membagi haluan pembangunan Bali masa depan terdiri atas 4 bagian, yaitu, Bali tempo dulu, Bali masa kini, permasalahan dan tantangan, serta Bali masa depan. Berpijak pada hal itu, Batur dengan alkuturasi budaya yang tinggi dan adat-istiadatnya yang kuat, di mana salah satu terkonsentrasi di Pura Sad Khayangan Jagat yaitu Pura Ulun Danu Batur seharusnya mendapat perhatian yang serius demi menjadikan perekonomian pembangunan dan budaya Desa Batur yang harmonis.

Secara ideal, pembangunan perekonomian Bali yang memberikan prioritas kepada sektor pertanian, pariwisata, dan industri diharapkan memberikan pertumbuhan yang seimbang kepada ketiga sektor ekonomi tersebut. Namun, banyak ahli yang memiliki pandangan berbeda, khususnya mengenai keterkaitan antara sektor pariwisata dan pertanian. Hermans (1981), Mickler (1994) dan Winpenny (1982) misalnya, yang sama-sama percaya bahwa bila sektor pariwisata semakin berkembang di suatu daerah yang sebelumnya mengandalkan sektor pertanian maka sektor pertanian tersebut memungkinkan akan mati secara perlahan-lahan. Kemaian sektor pertanian ini disebabkan oleh beberapa hal, antara lain peralihan tata guna lahan, tenaga kerja, dan pemenuhan air dari pertanian ke pariwisata. Apakah hal ini juga telah dan akan terjadi di Batur? Bagaimana strategi ke depannya?

 

Pertanian Batur Masa Kini

Pertanian Batur di masa kini kian menurun, sehingga perlu kiranya dipikirkan langkah strategis ke depan yang bijaksana dalam mempertahankanya. Batur memiliki beberapa peluang dalam pengembangan pertanian. Mayoritas penduduk tinggal di daerah pedesaan sehingga akses ke lahan-lahan pertanian lebih mudah. Masyarakat Batur nemiliki ketrampilan berbudiya pertanian dan daya inovas tinggi sehingga diharapkan lebih mampu bersaing. Keberadaan subak sebagai organisasi masyarakat batur khususnya petani yang sudah teruji keandalannya dalam membantu petani selama hampir seribu tahun. Lahan pertanian di Batur cukup subur sehingga berbagai jenis tanaman dapat diproduksi dengan baik.

Pertanian dalam arti luas mencakup water–based agri–culture seperti aquaculture dan perikanan yang belum dieksploitasi secara baik, sehingga masih banyak peluang yang dapat dikembangkan. Namun demikian, pengembangan sektor pertanian di Batur memiliki beberapa kendala, sektor pertanian kurang menarik bagi generasi muda di pedesaan karena dianggap sebagai pekerjaan berat “makipu” yang tidak memberikan manfaat ekonomi sebanding dengan sektor jasa (seperti pariwisata). Kendala lainnya adalah banyaknya pemuda Batur saat ini yang memilih bekerja di sektor pariwisata, contohnya di bidang coffee barista. Belum majunya teknologi pascapanen yang dimiliki petani serta kurangnya pengetahuan dan akses yang dimiliki petani terhadap pasar termasuk informasi pasar turut mempengaruhi hal itu.

 

Pariwisata Batur Masa Kini

Batur merupakan salah satu objek pariwisata yang dipilih oleh masyarakat saat ini. Hal ini menjadikan Batur sebagai salah satu destinasi yang wajib dikunjungi di Bali. Perkembangannya pesat dan didukung dengan hadirnya coffeeshop dan pendukung pariwisata yang khas seperti pemandian air panas dan jeep tracking.

Ketertarikan wisatawan berkunjung ke Bali sangat dipengaruhi oleh daya tarik budaya Bali (55,7%) dan keindahan alam (29,4%) (Diparda Bali, 1998). Hal ini juga didukung oleh tersedianya fasilitas pendukung seperti bandara internasional, sarana-prasarana transportasi yang memadai, dan akomodasi yang memenuhi standar internasional. Sementara itu, beberapa peluang dalam pengembangan pariwisata di Batur, antara lain memiliki daya tarik wisata yang baik dengan ragam budayanya serta tersedianya infrastruktur memadai untuk wisatawan internasional.

Pada saat Covid-19 terjadi tren pariwisata dunia beralih ke arah pariwisata alternatif kembali ke alam, seperti ekowisata, agrowisata, dan wisata pesedaan. Pada tahun 2019, pariwisata Batur berkembang sangat cepat di bidang coffeshop yang menjadikannya destinasi wisata unggulan, baik domestik maupun internasional. Kondisi ini membuat pertumbuhan ekonomi Batur seakan berbanding terbalik dengan perekonomian Bali yang tumbuh negatif sepanjang Covid-19. Pada tahun 2023 ini, semakin banyak dibangun coffeshop di pinggir jalan dengan pemandangan Gunung Batur yang indah.

Perkembangan pariwisata yang tidak diimbangi dengan persiapan memadai tentu akan menimbulkan permasalahan baru di Desa Batur. Di masa mendatang, tantangan yang dihadapi masyarakat Batur berkaitan dengan keterbatasan sumber daya alam (lahan dan air). Pembangunan di pinggir Danau Batur telah menyebabkan tercemarnya danau. Keterbatasan dalam hal perencanaan dan pengawasan pembangunan pariwisata menjadi faktor penting yang dialami Batur, sehingga ke depan peran pelaku pariwisata dan masyarakat sangat diperlukan. Kita tidak perlu lagi memperdebatkan bidang ekonomi atau ekologi. Pasalnya, jika keduanya terus dikambinghitamkan solusi terbaik tidak akan ketemu. Ekonomi akan selalu dianggap lebih penting.

Ke depan arah pembangunan harus menyeimbangkan kedua sektor tersebut. Keduanya harus berjalan beriringan. Pembangunan harus tetap berjalan, tetapi alam dan budaya di dalamnya harus tetap dijaga. Tidak tepat apabila ada pihak yang memaksa untuk menghentikan pembangunan dengan alasan deforestasi atau emisi karbon. Namun, juga tidak tepat jika dalam pembangunan tidak memperhitungkan faktor lingkungan dan alam. Oleh karena itu, penting untuk selalu menekankan sisi lingkungan atau aspek ekologi dalam setiap aktivitas pembangunan dan perekonomian. Inilah konsep pembangunan ekonomi tanpa merusak lingkungan harus diwujudkan.

 

Prediksi dan Rancangan Batur ke Depan

Apabila strategi pembangunan perekonomian Batur ke depan masih berorientasi pada target kuantitas wisatawan (tingkat pertumbuhan kedatangan wisatawan), maka persaingan antara sektor pertanian dan pariwisata dalam berebut sumberdaya (lahan, air dan tenaga kerja) tidak dapat dihindari. Kuantitas wisatawan dan aktivitas yang ditimbulkan akan berpengaruh pada pengakomodasian bangunan fisik, di mana lahan produktif atau lahan hijau yang semestinya tidak beralih fungsi akan digunakan sebagai pengganti untuk pemenuhan kebutuhan wisatawan yang berkunjung. Bertambahnya kuantitas wisatawan dan aktivitas perekonomian akan menyebabkan penurunan kualitas lingkungan, sehingga kenikmatan pertumbuhan ekonomi harus dibayar mahal dengan penurunan kualitas hidup secara umum. Keberlanjutan bisnis pariwisata di Batur juga perlu dipikirkan secara matang apabila kondisi di atas terjadi di Batur. Wisatawan juga tidak akan puas bila alam Batur tidak lagi seperti dulu. Peningkatan jumlah wisatawan yang tidak diimbangi dengan peningkatan jumlah kendaraan yang berkunjung ke Kintamani juga akan menambah kemacetan di sepanjang Jalan Raya Kintamani. Ini tentu saja harus dipikirkan ke depan, karena sangat berdampak terhadap kenyamanan wisatawan yang berkunjung ke Batur.

Ada hal yang juga perlu diperhatikan jika strategi pembangunan perekonomian Batur ke depan bertumpu pada pariwisata saja. Beberapa tahun yang lalu, akibat pandemi Covid-19, kita sudah merasakan bagaimana rentannya bisnis pariwisata oleh faktor eksternal. Untuk itu, ke depan perlu dilakukan kajian yang lebih mendalam dalam membuat rencana alternatif yang komplementer dengan sektor pariwisata di Batur. Lalu, apa rekomendasi penulis untuk rancangan pembangunan Batur ke depan yang sejalan dengan program haluan Bali 100 tahun Pemerintah Provinsi Bali? Penulis merekomendasikan beberapa hal yang dapat dijadikan pertimbangan.

Pertama adalah pertanian dengan strategi link and match. Pembangunan sektor pertanian masyarakat Batur ke masa depan perlu didorong agar lebih mengembangkan usaha tani yang memberikan manfaat ekonomi lebih baik kepada petani. Menuju hal tersebut perlu adanya rancangan strategi link and match antara produksi pertanian dengan kebutuhan pariwisata dan agroindustri terhadap hasil pertanian. Strategi ini dapat menghubungkan petani dengan para pengusaha secara langsung, sehingga mereka dapat melakukan kontrak kerja sama, misalnya dalam bentuk corporate farming. Melalui kerja sama antara petani dengan pengusaha restoran dan coffeeshop di Batur, maka petani tidak perlu risau untuk menjual produk yang akan dijual.

Kedua adalah menghilangkan peariwisata berbasis kuantitas. Pemerintah harus berani secara tegas mengubah paradigma pariwisata kuantitas menjadi pariwisata kualitas. Pemerintah tidak perlu lagi menargetkan pertumbuhan kedatangan wisatawan per tahun, tetapi harus mulai berpikir meningkatkan kualitas destinasi dan atraksi wisata sehingga dapat dijual dengan harga yang lebih tinggi. Selain itu, penerapan aturan mengenai mekanisme dan tata cara mengunjungi Bali juga diperlukan untuk menghindari berbagai kemungkinan seperti beberapa kasus yang belakangan sempat viral.

Ketiga adalah menciptakan pariwisata kembali ke alam (back to nature). Tren pariwisata back to nature sudah seharusnya menjadi cara pandang baru pengembangan pariwisata Batur di masa depan. Pariwisata Batur hendaknya memperhatikan kelestarian lingkungan karena wisatawan akan semakin tertarik dengan ekowisata dan agrowisata.

Keempat adalah subsidi. Pemerintah perlu memberikan subsidi kepada petani untuk mampu mempertahankan lahan pertaniannya untuk tetap berproduksi, bukan dijual untuk dialihfungsikan. Khusus untuk lahan pertanian yang memberikan nuansa keindahan alam (natural view) kepada wisatawan layak diberikan kompensasi dalam bentuk insentif pemandangan.

 

Harapan ke Depan

Apabila pembangunan perekonomian Batur difokuskan pada sektor pariwisata yang skenarionya didasarkan atas prediksi pertumbuhan kedatangan pariwisata yang semakin meningkat setiap tahunnya, maka dalam jangka waktu 10-20 tahun mendatang diperkirakan akan terjadi eksploitasi sumber daya alam. Kondisi ini belum termasuk alih fungsi yang disebabkan oleh pertambahan penduduk yang pesat. Perencanaan pembangunan Batur ke depan perlu dilakukan secara holistik dengan pendekatan sistemik sehingga keterkaitan antar sektor dapat dianalisa serta dapat direncanakan suatu sinergi antarsektor yang saling melengkapi untuk mencapai hasil seperti yang diharapkan bersama. Itulah PR kita bersama. “Batur matangi, lalu kemana?

 

=====

*Tulisan ini adalah tulisan terpilih dalam program “Catatan Menuju Seabad Relokasi Batur” yang digelar Lingkar Studi Batur untuk memperingati HUT ke-3 tahun 2023 dan memperingati seabad peristiwa perpindahan Desa Adat Batur dari Desa Batur Let di kaki Gunung Batur menuju tempat saat ini. Tulisan ini juga akan terbit dalam buku berjudul Seabad Relokasi Batur yang saat ini dalam proses penerbitan.

**Penulis adalah pemuda Batur yang sejak di bangku SMP telah ngayah sebagai pemangku di Pura Ulun Danu Batur. Menyelesaikan studi sarjana ekonomi dan magister manajemen di Universitas Udayana. Saat ini sedang menempuh pendidikan doktor di uiversitas yang sama.

Berita terkait