Oleh A.A. Sagung Mas Ruscitadewi**
Foto: Dua orang pemudi Batur menyunggi pralingga Ida Bhatara Dalem Balingkang dan Ida Ratu Gede Kepasekan memasuki mandala Pura Ulun Danu Batur (Jero Penyarikan Duuran Batur).
========================
BATUR bisa jadi nama gunung danau, desa, karaman, bahkan merek dagang sebuah bisnis. Namun, Batur dalam tulisan ini saya maknai sebagai gunung dan danau yang secara teritorial terletak di Kabupaten Bangli, Bali, dengan segala aspek, elemen yang ada di dalamnya, juga yang terkait dengannya. Batur sebagai suatu kesatuan yang utuh yang menjadi simbol feminim-maskulin, laki-perempuan, purusa-pradhana, serba keduaan yang berbeda dan saling melengkapi.
Laki-Perempuan
Batur adalah alam itu sendiri, manifestasi Tuhan yang telah dihadirkan dalam wujud nyata yang senyata-nyatanya, untuk membantu manusia Bali memahami ke-Esan Tuhan, dalam harmonisasinya sebagai laki-perempuan, jasmani-rohani, sekala-niskala, sakral-profan, dan lain-lain. Sebagai gunung, Batur adalah lingga, laki-laki atau api yang menjulang tinggi ke angkasa. Sebagai danau, Batur adalah yoni, adalah air yang mengalir menuju kerendahan.
Batur adalah gunung dan danau, laki-perempuan, api-air, jasmani-rohani, sekala-niskala yang saling mengisi dan meresap di dalamnya. Sayangnya, pada gunung, yang dihitung adalah ketinggiannya. Puncak tinggi dengan jangkauan daya pandang yang luas dan jauh, dipenuhi rasa kagum. Tanah, bebatuan, pohon-pohon yang menyusun puncak gunung terabaikan. Pertiwi, hanya menikmati rasa perih menopang keangkuhan. Danau-pun demikian, air, zat yang membasahi itu terabaikan kualitas dan kehornatannya, hanya dipandang dari keluasan, kedalaman, peruntukannya untuk dikelola dan dikuasai, secara jasmani-rohani.
Perempuan dan keperempuanan “Batur” dengan cinta kasih tulusnya yang telah melahirkan, menjaga, menyusui, mengasuh, dan membesarkan peradaban Bali telah diingkari, diabaikan, bahkan dicampakkan, demi kuasa material yang bersifat jasmani dan rohani. Hidup dan kehidupan memang memerlukan materi. Penguasaan yang bersifat rohani atas materi yang bersifat jasmani akan mengantarkan pada kekuasaan yang bersifat rohani. Dalam hal ini nampak sekali adanya ketidaksehimbangan antara yang jasmani, yang dirubah ke dalam yang rohani. Perempuan dan keperempuanan itu sendiri adalah simbol material juga, seperti unsur tanah dan air yang nyata, bisa dipegang, dan dengan mudah dipindahkan atau dikelola. Sayangnya, kemudahan ini dengan mudah pula membuat manusia merasa paling memiliki, tanpa memberi ruang pada air dan tanah untuk tetap tegak dengan kesejatiannya sebagai jasmani, sebagai ibu bumi. Bahkan, penghargaan dan pemuliaan atas tanah dan air sebagai jasmani lebih banyak dilakukan dengan cara rohani, mengabaikan cara jasmani, sehingga membuat tanah dan air makin jauh dari kemurniannya yang sejati.
Sejarah, Batur, dan Perempuan
Sejarah mengajarkan bahwa “Batur” bukan tentang luas dan jangkauan wilayah, jumlah dan jenis penduduk, kekuasaan atau segala yang bersifat maskulin atau laki-laki saja, tetapi juga tentang tanah, air, manusia, binatang dan pepohonan yang saling menjaga, dan menyayangi. Prasasti-prasasti masa Bali Kuna yang banyak ditemukan di daerah sekitar gunung dan danau Batur dan Bangli menyiratkan rasa hormat dan penghargaan leluhur masa lalu dalam kesetiaan menjaga alam dan budayanya.
Prasasti Raja Jayapangus yang bergelar Pāduka Śri Māhāraja Aji Jayapangus Arkaja Cihna/Lañcana banyak ditemukan di Bangli. Prasasti tertua yang dikeluarkannya berangka tahun 1178 Masehi ditemukan di Mantring, yang menyiratkan penghargaan terhadap alam dan sekitarnya. Pada prasasti Raja Jayapangus berangka tahun 1181 Masehi, nama raja disandingkan dengan dua permaisurinya, Paduka Bhatari Sri Parameswari Indujaketana dan Paduka Sri Mahadewi Cacangkaja Cihna. Penyebutan nama raja sebagai Arkaja Cihna atau Lañcana, yang bermakna laksana matahari, dan Indujaketana dan Cacangkaja Cihna yang bermakna laksana bulan. Dalam hal ini tersirat semangat pemerintahan yang dijalankan adalah kekuasaan dengan penerangan, ketegasan, keadilan matahari, atau laki-laki, dan kelembutan, keindahan, kasih sayang bulan atau perempuan.
Demikian juga dengan prasasti Pura Kehen C yang berangka tahun 1204 Masehi (Darma Putra, Tatkala.co, 24 Maret 2021) yang menyebut nama Bhaṭāra Guru Śrī Aḍi Kuntiketana sebagai sosok raja perempuan, yang mendampingi raja Śrī Dhana-adhi Raja Lañcana atau Bhaṭāra Parameśwara Śrī Wīrāma bersama Pāduka Bhaṭāri Śrī Dharma Dewīketu. Sebutan Bhatara Guru, menyiratkan fungsi perempuan sebagai guru, dan juga nama Śrī Aḍi Kuntiketana yang dipakai mengingatkan pada tokoh Pandu dalam cerita Mahabaratha dengan istri tuanya Kunti yang mendampingi Pandawa (putra Pandu). Nama “ketana” yang dipakai sangat dekat dengan nama permaisuri Raja Jayapangus. Nama-nama berbeda yang dipakai dan masih memiliki kedekatan secara makna dan simbol oleh Jayapangus, permaisuri, anak, dan menantu juga menunjukkan karakter laki-perempuan, menunjukkan karakter pemerintahan yang tak semata berorientasi pada nama dan kekuasaan. Catatan nama seperti menjadi tak begitu penting ketimbang upaya dan kerja yang dilakukan. Maka, tidak heran nama Jayapangus diidentikkan juga dengan nama Jayasakti dan Ragajaya yang ditemukan pada beberapa prasasti, seperti nama-nama lain Sri Kesari Warmadewa, yang disamarkan dengan nama-nama Dewa Wisnu lainnya.
Pembunuhan Karakter Perempuan
Ada banyak cerita yang berkembang dan dikembang-kembangkan lagi oleh seniman dan penulis terkait dengan Danau Batur dan Raja Jayapangus. Sayangnya cerita yang tidak masuk akal dan bersifat pembunuhan karakter terhadap aspek perempuan dan keperempuanan di Batur, juga merambah bahkan disebar luaskan juga oleh orang-orang yang mengaku berkebudayaan Batur dan Bali.
Pada tradisi filsafat kerajaan, raja dianggap manifestasi Tuhan di dunia, yang bertugas mengatur, menata, serta mengelola alam dan masyarakat untuk kesejahteraan bersama, juga sering disebut sebagai cakraningrat atau cakrawarti. Dalam fungsinya sebagai pengatur, penata dan pengelola, raja dianggap sebagai perwujudan Dewa Wisnu, dan istrinya sebagai Dewi Sri Laksmi. Jika Dewa Wisnu esensi dari air danau, maka istrinya adalah bentuk fisik dari danau itu sendiri atau Dewi Danau (Danu).
Raja yang laksana matahari adalah Dewa Danau, dan dua istri yang laksana bulan adalah Dewi Danau. Maka sangat tidak masuk akal jika dua istri yang bahkan namanya dicantumkan bersama-sama dalam prasasti mengutuk raja yang Dewa Danau atau Dewa Wisnu, dan dirinya sendiri sebagai Dewi Danau atau Dewi Sri Laksmi. Upaya pembunuhan terhadap laku kemuliaan perempuan melalui mitologi kutuk-mengkutuk yang lebay, antara Dewi Danu, Kang Ching Wie, dan Jayapangus telah berhasil melunturkan warna baju yang dikutuk dan mengutuk. Bertahun-tahun, ratusan abad kemurnian cinta kasih Gunung-Danau Batur telah diracun, dicemari pestisida pemikiran yang terstruktur dan masif, dan tanpa sadar telah mengubah prilaku yang semula penuh kasih menjadi tidak tahu terima kasih, sabar menjadi pengumbar, dan tulus menjadi fulus.
Syukurnya yang berubah hanya baju yang memang mudah luntur. Sebagian besar masyarakat Bali masih punya rasa hormat dan bakti yang begitu tinggi pada gunung dan danau, walau hanya dalam kata dan pikiran, yang terefleksi dalam doa dan upacara ritual.
Karakter perempuan, alam, tanah dan air di Batur, Bali, dan semesta memang telah dibunuh, tetapi fisik, material, keperempuanan tidak akan pernah bisa dimatikan, karena ialah kematian itu sendiri yang mengorbankan diri untuk kehidupan. Keperempuanan itu, diam, pasif, tetapi kemasifan, ke-over-aktifan ambisi kekuasaan akan membunuh dirinya sendiri. Karena tidak akan ada kehidupan yang bahagia dan damai tanpa harmonisasi laki-perempuan, tanpa penghargaan dan rasa hormat pada yang mati.
=====
*Tulisan ini adalah tulisan terpilih dalam program “Catatan Menuju Seabad Relokasi Batur” yang digelar Lingkar Studi Batur untuk memperingati HUT ke-3 tahun 2023 dan memperingati seabad peristiwa perpindahan Desa Adat Batur dari Desa Batur Let di kaki Gunung Batur menuju tempat saat ini. Tulisan ini juga akan terbit dalam buku berjudul Seabad Relokasi Batur yang saat ini dalam proses penerbitan.
**Penulis adalah wartawan, penulis, dan sastrawan. Tinggal di Kesiman, Denpasar.











