}} Batur, Ranu, dan Rananggana: Kisah Ksatria Batur dan Dewi Danu dalam Menjaga Kedaulatan Kerajaan Bali* - Bebaturan.id

Batur, Ranu, dan Rananggana: Kisah Ksatria Batur dan Dewi Danu dalam Menjaga Kedaulatan Kerajaan Bali*

Pasuara
Baris Jojor Desa Adat Selat.

Oleh Putu Eka Guna Yasa**

Foto: Baris Jojor Desa Selat (I Komang Rangga Adi Kusuma).

========================

BALI yang saat ini mengandalkan sandaran ekonomi pada industri pariwisata seolah tak pernah punya masa lalu yang kelam. Padahal, warisan sastra, khususnya yang bergenre historiografi seperti babad, pamancangah, pariagem, dan seterusnya dengan terang menyebutkan bahwa Bali juga memiliki masa lalu yang penuh dengan intrik dan konflik. Intrik dan konflik itu bisa berasal dari seteru antarkerajaan Bali, termasuk pula serangan yang berasal dari luar.

Ancaman berupa kekacauan bahkan kehancuran kerajaan selalu menjadi dinamika kerajaan-kerajaan di Bali. Sepanjang sejarah pergolakan politik tersebut, warga Batur dan Dewi Danu sebagai sungsungan masyarakat Batur khususnya dan Bali umumnya, juga tampak terlibat aktif. Ada berbagai sumber karya sastra sejarah yang menarasikan bahwa Dewi Danu memberikan anugerah kepada raja yang berkuasa di Bangli dan Bali.

Pertama, Babad Bendesa Batur menjelaskan bahwa Ida Dewi Danu menganugerahkan pasukan khusus bernama Sikep Batur kepada Raja Bangli untuk menjaga kedaulatan Kerajaan Bangli. Kedua, Babad Mengwi juga menyebutkan bahwa Dewi Danu menciptkan seorang manusia sakti bernama Ki Balian Batur untuk mengganggu Kerajaan Mengwi akibat Raja Mengwi yang bergelar Cokorda Sakti Blambangan tidak mau tunduk kepada Dalem di Gelgel. Ketiga, Kidung Bhuwana Winasa yang menguraikan perjanjian Raja Denpasar dengan Tabanan di Pura Nambangan Badung sebelum terjadinya Puputan Badung. Uraian lebih rinci peran Dewi Danu dan masyarakat Batur dalam pergolakan politik Bali tersebut dipaparkan di bawah ini.

 

Sikep Batur: Pasukan Khusus Penjaga Kedaulatan Kerajaan Bangli dari Serangan Kerajaan Gianyar

Babad Bendesa Batur[1] menceritakan pemerintahan Raja Bangli, Ida I Dewa Tangkeban III. Pada masa pemerintahan raja tersebut, terjadi ekspansi besar-besaran yang dilakukan oleh Raja Gianyar, I Dewa Manggis. Perluasan wilayah tersebut sampai ke daerah kedaulatan Kerajaan Bangli sisi selatan yang meliputi wilayah Bitra sampai daerah di sisi utara Petak Kaja yang bernama Tegal Melakang. Menyikapi keadaan itu, Ida I Dewa Tangkeban III mengutus sejumlah punggawa Kerajaan Bangli seperti keturunan Tirta Arum untuk menjaga wilayah di sekitar Bakbakan. I Dewa Pulasari ditempatkan di Petak Gumantring. Sedangkan, Jero Mekel Tampwagan diperintahkan untuk bertempat tinggal di wilayah Tegal Melakang. Semua pasukan itu ditugaskan untuk menjaga wilayah Kerajaan Bangli dari serangan Raja Gianyar.

Meskipun telah melibatkan pasukan kepercayaan, Gianyar tetap mampu memperluas wilayahnya. Satu per satu desa yang sebelumnya menjadi kekuasaan Bangli direbut oleh I Dewa Manggis. Oleh sebab itulah, Raja Bangli merasa khawatir jika ekspansi itu menjadi tonggak-tonggak awal kehancuran Kerajaan Bangli. Pasukan khusus Kerajaan Bangli konon merasa kesulitan menghadapi Kerajaan Gianyar karena raja tersebut memiliki kekuatan wak bajra siddhi mandhi yang mampu mewujudkan segala keinginan sang raja. Hanya satu yang tidak mampu ditandingi oleh Raja Gianyar yaitu pasukan bernama Sikep Batur yang dianugerahkan oleh Dewi Danu.

Menyadari hal tersebut, I Dewa Tangkeban III lalu bergegas memohon bantuan kepada Dewi Danu untuk menganugerahkan pasukan yang bernama Sikep Batur itu. Hanya dengan anugerah Dewi Danulah kerajaan Bangli bisa diselamatkan. Ketulusan permohonan Raja Bangli menyebabkan Dewi Danu terkesan. Beliau lalu mengabulkan permohonan sang raja dengan segera menitahkan Pasukan Sikep Batur untuk membatu Raja Bangli mengamankan kedaulatan wilayahnya.

Pasukan yang bergelar Sikep Batur dipimpin oleh Bendesa Gede Batur, serta diikuti oleh Pasukan Prabali yang disebut Bali Mula, yaitu keturunan Ki Kayu Selem, Ki Kayuan, Ki Pande Batur, Ki Pasek Gelgel Songan, dan yang lainnya. Pasukan khusus itu, lalu berangkat ke daerah Tegal Melakang yang terletak di sisi barat laut kerajaan Bali karena serangan pasukan kerajaan Gianyar sudah dekat dengan desa itu. Menyadari Pasukan Sikep Batur yang merupakan anugerah dari Dewi Danu sudah tiba di wilayah Desa Tegal Melakang, seketika itu pula pasukan Kerajaan Gianyar menghentikan serangannya. Mereka tahu betul bahwa pasukan khusus yang dianugerahkan oleh Dewi Danu tidak akan mungkin dikalahkan. Raja Gianyar memang agaknya sangat oportunis, seperti yang dikemudian hari diketahui bahwa ketika raja-raja di Bali melakukan Puputan melawan Belanda, Raja Gianyar malah melakukan persekutuan.

Warga masyarakat keturunan dari Pasukan Sikep Batur yang saat ini berada di wilayah Tegal Melakang, turut pula membawa sejumlah tradisi yang semula dilakukan di Batur. Sejumlah tradisi itu seperti tradisi maulu apad, ritus makincang-kincung, menggunakan titi gonggang di pura, baris jojor, siat plengkungan, dan yang lainnya. Diaspora masyarakat Batur inilah yang menumbuhkan jejaring budaya yang tidak hanya berkembang di kawasan Batur, melainkan di daerah-daerah lain seperti daerah Tegal Melakang yang saat ini bernama Desa Selat. Dalam perkembangannya, tidak semua budaya warisan Batur itu bisa dipertahankan menghadapi perkembangan zaman. Desa Selat yang dihuni oleh keturunan Pasukan Sikep Batur saat ini hanya mampu mempertahankan tradisi maulu apad, tradisi matata gama, dan baris jojor. Tradisi makincang-kincung, matiti gonggang, dan yang lainnya sudah sirna bersama arus waktu!

 

Ki Balian Batur: Pasukan Khusus untuk Merajut Harmoni Kerajaan Mengwi dengan Gelgel 

Babad Mengwi[2] menarasikan bahwa kerajaan yang juga disebut Kawya Pura itu tidak mau tunduk kepada Dalem di Gelgel. Bahkan tersiar juga kabar, Raja Mengwi berkeinginan untuk menyerang Gelgel. Oleh sebab itulah, Raja Gelgel memohon bantuan kepada Dewi Danu untuk memberi cobaan kepada Raja Mengwi yang bergelar Ida Cokorda Sakti Blambangan. Permohonan Dalem ternyata tidak ditolak oleh Dewi Danu. Beliau berkenan menciptakan manusia sakti yang merupakan keturunan sengguhu asal Wingkang Ranu. Manusia sakti itu bergelar Ki Balian Batur.

Ki Balian Batur berasrama di wilayah Teledu Nginyah. Di padepokannya ia ditemani oleh istri, anak, dan muridnya yang semuanya menguasai ilmu kiri alias pangiwa. Mereka semua menguasai berbagai ilmu seperti teluh, desti, teranjana, dan berbagai ilmu seperti Shiwer Mas, Kalung Sweta, Pitik Bengil, Gringsing Wayang, dan ilmu pangiwa lainnya. Berbekal berbagai kesaktian itulah Ki Balian Batur menyerang desa-desa yang termasuk dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Mengwi. Banyak warga Mengwi yang tiba-tiba sakit diikuti dengan kematian tanpa sebab yang jelas.

Cokorda Sakti Belambangan merasa murka dengan ulah Ki Balian Batur bersama seluruh antek-anteknya yang telah menyebarkan berbagai wabah penyakit kepada masyarakat yang nirdosa. Hal itu yang menyebabkannya mengutus 200 orang pasukan khusus untuk berperang tanding melawan Ki Balian Batur. Pasukan utusan Raja Mengwi itu dipimpin oleh Bendesa Gelgel. Mereka semua juga menguasai ilmu hitam dan ilmu putih termasuk ilmu siluman sehingga Cokorda Sakti Blambangan merasa optimis hanya dengan serangan pasukan itu Ki Balian Batur bisa dikalahkan.

Pasukan Mengwi disertai rajapun berangkat menuju Teledu Nginyah, tempat Ki Balian Batur bersama anak buahnya menimba dan mendamba berbagai ilmu hitam. Meskipun Ki Bendesa Gelgel telah menggunakan ilmu menghilangnya, Ki Balian Batur tahu kedatangan tamu tak diundang itu karena ia sendiri memiliki anak buah makhluk halus tanpa tubuh di sekitar padepokannya. Peperangan sengitpun terjadi di antara pasukan Cokorda Sakti Blambangan dengan Ki Balian Batur. Saat itu, Ki Bendesa Gelgel konon mampu menghabiskan seluruh anak buah Ki Balian Batur. Hal itu menyebabkan anak ciptaan Dewi Danu itu murka seraya merubah wujud menjadi burung garuda besar lalu mematuk seluruh pasukan Cokorda Sakti Blambangan.

Ki Bendesa Gelgel tak berdaya. Peperangan melawan Ki Balian Batur dilanjutkan oleh Cokorda Blambangan sendiri. Meskipun seluruh senjata yang dimiliki Raja Mengwi seperti tombak Ki Olang Olah Guguh dan Keris Ki Panglipur yang terkenal sakti sudah dikeluarkan, Ki Balian Batur tetap saja tak bergeming. Ki Balian Batur yang sudah berwujud garuda lalu memberitahu Raja Mengwi, bahwa satu-satunya senjata yang dapat mengalahkannya adalah Ki Sliksik yang keluar dari bedil Narantaka milik Dalem di Gelgel.

Bertitik tolak dari ketidakberdayaan menghadapi Ki Balian Batur itulah akhirnya raja Mengwi memohon pinjaman senjata bedil Ki Narantaka dari Dalem Gelgel. Permohonan itu menjadi tanda tunduknya kerajaan Mengwi terhadap Gelgel. Raja Gelgel tentu tidak menolak permohonan ini karena memang sesungguhnya ialah aktor intelektual di balik serangan Ki Balian Batur. Setelah bedil Ki Narantaka diserahkan, pertempuran melawan Ki Balian Batur sudah diketahui pemenangnya. Berbekal senjata bedil Ki Narantaka dan Ki Sliksik di dalamnya, Ki Balian Batur ditembak. Ia yang tengah berwujud garudapun jatuh tersungkur tak berdaya, dan menerima kekalahannya sebab tujuan utama Dalem telah tercapai.

 

Memohon Anugerah Dewi yang Berstana di Batur Sebelum Perang Puputan Badung

Tidak hanya memberi anugerah untuk kedaulatan Kerajaan Bali ketika menghadapi prahara internal. Ada dugaan kuat bahwa sebelum perang Puputan Badung meletus antara Kerajaan Badung melawan penjajah pada tanggal 20 September 1906, Cokorda Denpasar/Cokorda Pemecutan sebagai Raja Badung melakukan pemujaan di Pura Tambangan Badung untuk memuja dewi yang berstana di Batur yaitu Dewi Danu.

Pada saat itu Raja Denpasar tidak sendiri, beliau didampingi oleh Raja Tabanan. Di Pura Tambangan Badunglah mereka masamaya ‘berjanji’ untuk bersama-sama menempuh jalur pembebasan di jalan pedang menghadapi berbagai serangan Belanda. Menurut informasi yang termuat dalam Kidung Bhuwana Winasa ‘nyanyian kehancuran jagat’ karya Ida Padanda Ngurah dari Geria Belayu Tabanan, Belanda menuduh masyarakat Sanur menjarah kapal dagang Sri Komala yang kandas di pesisir Pantai Sanur. Akan tetapi, setelah dikonfirmasi ternyata warga masyarakat di kawasan itu tidak melakukan hal seperti yang dituduhkan oleh Belanda, terlebih mereka menuntut ganti rugi atas kejadian tersebut.

Ganti rugi yang diminta oleh Belanda dimaknai oleh Cokorda Denpasar sebagai jalan untuk menimbulkan konflik sehingga terjadi peperangan. Oleh sebab itu, ketika kesepakatan Belanda tidak dipenuhi, Cokorda Denpasar tahu bahwa sikap selanjutnya adalah penyerangan fisik menggunakan senjata. Meski diancam oleh para utusan Belanda, Raja Badung sedikitpun tidak bergeming dengan ancaman itu. Sesuai etika, beliau lalu mengirim utusan untuk menyampaikan informasi ini kepada Raja Tabanan, termasuk pula ke Klungkung yang dihormati otoritasnya sebagai trah Dalem yang berkuasa di Bali. Raja Klungkung memberikan restu atas pilihan sikap Raja Badung. Sementara Raja Tabanan datang langsung menemui Raja Denpasar. Kedatangan Raja Tabanan itu meneguhkan semangat Cokorda Denpasar untuk melakukan tindakan perang puputan sebagai rana yadnya ‘yadnya seorang ksatria di medan perang’. Saat itulah Raja Denpasar dengan Raja Tabanan bertemu di Pura Tambangan Badung untuk berjanji setia mendampingi dalam suka dan duka. Dengan liris Kidung Bhuwana Winasa menyatakan sebagai berikut.

Sampun tinanggapan malih, atur-atur, ring Badung Nata uni, sampun saguluk ring kahyun, Badung ring Nata Tabanan, dadi turu, asaksi dewata ikut, hana ring Nambangan, yuwa raja anyarĕngin. [Kidung Bhuwana Winasa, Puh Pangkur, 1]

Terjemahan.

Setelah ditanggapi lagi, semua perbincangan, konon Raja Badung, sudah sepakat batinnya antara Raja Badung dengan Tabanan, lalu beristirahat, disaksikan oleh para dewata, yang berstana di Pura Nambangan, disaksikan oleh Raja Muda (Raja Pemecutan).

 

Petikan Kidung Bhuwana Winasa di atas menyatakan bahwa Raja Denpasar dengan Raja Tabanan melakukan upasaksi di Pura Nambangan Badung. Di tempat itulah beliau memuja Dewi Danu sebagaimana palinggih-nya masih ada saat ini berjejer dengan palinggih untuk para dewata yang berstana di gunung-gunung lainnya. Kenapa harus memuja Dewi Danu dan termasuk dewa-dewi lainnya? Kemungkinan besar karena Cokorda Denpasar adalah trah Pemecutan. Leluhur beliau yang secara geneologis menurunkan trah Pemecutan yang bernama Arya Bebed konon mendapatkan anugerah berupa pecut dan tulup dari Dewi Danuh ketika melakukan dewa sraya ke wilayah Ulun Danu Batur.  Dengan demikian, sangat masuk akal apabila sebelum Puputan Badung berlangsung Raja Denpasar melakukan pemujaan di Pura Nambangan Badung untuk memohon anugerah Batari Danu dan para dewa lainnya. Relasi kerajaan Badung dengan Dewi Danu semakin dikuatkan apabila kita mendengar pertempuran antara Kerajaan Buleleng di bawah pimpinan I Gusti Ngurah Panji Sakti dengan Kerajaan Badung akibat adanya keinginan Raja Badung memperluas wilayah sampai ke Mengwi. Taruna Sikep Pasukan Badung yang bertempur dengan Taruna Goak di wilayah Taen Siat berhenti melakukan peperangan setelah ada sabda Dewi Danu dari angkasa yang memerintahkan untuk menghentikan perang itu.

Berdasarkan ketiga kisah yang termuat dalam karya sastra babad di atas, terlihat peranan masyarakat Batur dan Dewi Danu dalam menjaga kedaulatan kerajaan-kerajaan di Bali. Dewi Danu dan pengikutnya senantiasa hadir untuk memberi anugerah untuk menjaga stabilitas tanah dan natah Bali mulai dari Kerajaan Bangli, sampai masalah Dalem di Klungkung, hingga Bali menghadapi serangan Belanda. Demikianlah babad menitipkan pesan kepada kita. Tentu karya sastra sejarah itu perlu kita kritisi kandungan isinya sebagai produk historiografi tradisional. Akan tetapi, selama ada nilai-nilai yang dapat merajut harmoni yang bisa dimaknai dari babad-babad itu, relevansinya penting diinformasikan sampai saat ini.

 

Wasana Wakya: Catatan Penutup

            Memandang Batur dari jendela warisan karya-karya sastra yang ada ternyata memberikan arah pandang menggairahkan. Dengan membaca sumber-sumber karya sastra sejarah seperti Babad Bendesa Batur, Babad Mengwi, dan Babad Badung kita mendapatkan kesan dalam ceruk kesadaran bahwa Dewi Danu dan masyarakat di kawasan Batur senantiasa terlibat dalam mempertahankan kedaulatan tanah dan natah Bali. Semangat menjaga kedaulatan kerajaan Bali yang tercitra dalam karya sastra itu tentu perlu ditransformasikan agar bisa menubuh dalam kesadaran masyarakat Batur saat ini yang juga penuh tantangan dari dalam dan luar. Seperti telaga yang penuh dengan teratai, maka tidak hanya kupu-kupu yang akan datang untuk mereguk putik teratai. Namun, sesekali ular berbisa dan burung pemangsa pun akan merangsek datang dalam berbagai wujud, meski tidak diundang. Ular dan burung pemangsa yang dimaksud boleh jadi kini tengah menyamar menjadi pelaku usaha pariwisata di kawasan Batur. Tanpa bermaksud mengerdilkan peran pariwisata dalam menyejahterakan masyarakat Bali, perubahan yang diakibatkan oleh daluwang bernama dollar, pasti mengubah ruang dan cara berpikir orang, Semoga, spirit masyarakat Batur yang dalam berbagai karya sastra kental dengan jiwa pemberani, cerdas, termasuk pula Dewi Danu yang senantiasa memberi anugerah dan berkah bagi mereka yang membutuhkan selalu menyala dalam nyali setiap krama-nya.

 

Daftar Pustaka                 

Agastia, IBG. 2018. Kakawin Usana Bali Mayantaka Karya Dang Hyang Nirartha. Denpasar: Taman Sastra Wagiswari.

Dharma Palguna, IBM. 2015. Shastra Wangsa: Kamus Istilah Wangsa Bali Pustaka, Pusaka, dan Manusia. Lombok: SadampatyAksara.

Sidemen, IB. Historiografi Tradisional Bali. Denpasar: Tungtunging Gesing Asrami.

Tim Penyusun. 1985. Tata Bahasa Bali. Denpasar: Fakultas Sastra Universitas Udayana.

Tim Penyusun. 2007. Dharma Pamacul. Singaraja: Gedong Kirtya

Tim Penyusun. 2008. Babad Pasek Kayu Selem. Singaraja: UPTD Gedong Kirtya.

Tim Penyusun. 2016. Kamus Bali-Indonesia Beraksara Latin dan Bali. Denpasar: Badan Pembina Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali.

Tim Redaksi. 2019. “Batur: Kata Penyambung Peradaban”. Batur: Usaha Drue Batur

[1]   Secara lebih rinci ulasan mengenai Babad Bendesa Batur dalam kaitannya dengan Pasukan Sikep Batur silakan baca buku “Pura Penataran Bale Agung: Perspektif Sejarah, Keunikan Tradisi, dan Ritual” karya Putu Eka Guna Yasa tahun 2018 yang diterbitkan secara khusus dalam Upacara Malik Sumpah di Pura Penataran Bale Agung, Banjar Selat Tengah, Desa Selat, Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli.

[2] Selanjutnya baca buku Shastra Wangsa yang ditulis oleh IBM Dharm Palguna tahun 2015.

 

====

*Tulisan ini adalah tulisan terpilih dalam program “Catatan Menuju Seabad Relokasi Batur” yang digelar Lingkar Studi Batur untuk memperingati HUT ke-3 tahun 2023 dan memperingati seabad peristiwa perpindahan Desa Adat Batur dari Desa Batur Let di kaki Gunung Batur menuju tempat saat ini. Tulisan ini juga akan terbit dalam buku berjudul Seabad Relokasi Batur yang saat ini dalam proses penerbitan.

**Penulis adalah dosen di Prodi Sastra Bali Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana. Menerima penghargaan sebagai Pemuda Pegiat Literasi dari Balai Bahasa Bali (2018). Pernah terlibat sebagai tim digitalisasi dan penyusunan Katalogus Lontar Bali-Lombok Endangered Archives Programme oleh British Library (2021) dan tim penyusun Katalogus Lontar Bali dan Jawa di Bayerische Staatsbibliothek Munich-Germany (2023).

Berita terkait