Oleh Jro Adit Alamsta**
Foto: Gerakan bersih sampah plastik di pesisir Danau Batur oleh pemuda Bangli pada tahun 2019. Danau Batur saat ini masuk sebagai satu dari 15 danau prioritas nasional akibat baku mutu air dan lingkungan yang rusak (Dokumentasi DPK Peradah Indonesia Bangli).
========================
JIKA para dewa menciptakan Bandung ketika Tuhan sedang tersenyum, lalu menciptakan Yogyakarta ketika Tuhan sedang jatuh cinta, berarti Tuhan menciptakan Pulau Bali ketika Tuhan sedang menciptakan Nirwana. Lalu, Bali adalah serpihan Nirwana yang jatuh ke Bumi. Sebab Bali adalah rumah yang di dalamnya dipenuhi oleh kasih sayang, keindahan, kedamaian, sejuk, ramah tamah, dan ketulusan tanpa memandang perbedaan. Ia adalah surga nyata jika dipandang oleh teropong asing di belahan dunia. Maka tidak jarang mereka yang memandang Bali dari kejauhan ingin menetap dan menikmati surganya Bali.
Segala penjuru arah mata angin dijaga ketat oleh para dewa. Setiap sudut pulau ini terdapat pura yang megah, yang masing-masing memiliki peran penting untuk menjaga, menganugerahi, menyuburkan, serta menjaga keberlangsungan umat manusia dan makhluk hidup lainnya. Maka, selain disebut Pulau Surga, Bali disebut juga Pulau Dewata, tempat beristananya para dewa. Kekuatan para dewa pun dikisahkan dengan mahadahsyat, diceritakan turun-temurun lewat tulisan, lisan, dan disebarluaskan.
Terciptanya Pulau Bali, manusia, dan segala isinya adalah anugerah yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Agung. Sebab, Bali yang pulaunya tergolong kecil memiliki sumber kehidupan yang sangat melimpah. Gunung-gunung berjejer gagah menjulang tinggi menembus awan-awan, samudra biru mempesona indah berisi banyak ikan dan biota laut lainnya, demikian pula hutan tropis yang menghasilkan jutaan oksigen sehat melintang di bawah atmosfer bumi. Bali juga memiliki empat danau yang kaya akan mineral kehidupan, yang senantiasa menemani umat manusia menjalankan rutinitas dan kesuburan.
Memang betul rasanya Bali adalah pulau surga. Empat danau yang dianugerahkan kepada Bali terdiri atas Danau Beratan, Danau Buyan, Danau Tamblingan, dan yang terakhir adalah Danau Batur. Danau Batur ialah danau terbesar yang ada di Bali. Keseluruhan danau inilah yang menghidupi tanah Bali. Danau Batur merupakan titik pusat air yang menghidupi seluruh aspek kehidupan yang ada di Bali. Ibarat ibu yang menyusui, itulah Ibu Bumi Batur yang disebut Bhatari Danuh atau juga disebut Dewi Danuh.
Berjuta-juta tahun Bhatari Danuh menghidupi ciptaannya, memberi kasih sayang layaknya ibu yang tak pernah harap kembali. Atas apa yang telah diberikan oleh Bhatari terhadap manusia dan ciptaan lainnya hidup. Air susu murni bernama Danau Batur, dapurnya yang tidak akan pernah padam baranya bernama Gunung Batur, sementara rumah yang selalu terbuka pintunya bernama Desa Batur.
Bhatari Dewi Danuh adalah simbol keagungan bagi seluruh umat manusia di Pulau Bali, terkhusus bagi aliansi subak di Bali. Beliau adalah seorang ibu yang sangat mulia. Namun, kini kita sebagai manusia, yang adalah anak-anak Beliau, tampak menistakan keagungan Beliau lewat prilaku-prilaku tidak pantas. Prilaku-prilaku itu adalah tindakan anak durhaka. Mencemarinya, mengotorinya, membunuhnya. Jika manusia memang benar makhluk yang berakal budi dan memiliki kemuliaan jiwa yang disebut sukma, serta dapat saling terhubung satu sama lain untuk menjalankan lakonnya, mengapa manusia selalu berbuat jauh dari kesepakatan dengan para dewata?
Jika manusia Bali cinta terhadap ibunya yang bernama Danau Batur serta mendengarkan bhisama Bhatari Danuh, tentu ia tidak akan pernah mencemari Danau Batur dengan sampo, sabun, pestisida, sampah, dan limbah keseharian manusia. Jika memang benar manusia Bali cinta terhadap alam yang diyakini sebagai rumahnya, manusia tidak akan pernah merusak Gunung Batur, menanami beton, mengkeruk secara rakus, pembabatan area konservasi, mengalihkan kawasan suci spiritual menjadi objek benda semata. Bahkan, sampai detik ini ancaman terhadap kelestarian alam Batur masih terjadi. Orang-orang hanya mengeksploitasi kekayaannya saja, memperkosa bumi pertiwi, memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi. Demikian terus berjalan tanpa rasa bersalah. Jika benar manusia cinta terhadap sesamanya, seharusnya tidak ada orang pengangguran, tidak ada orang miskin, sebab Bhatari Danuh dalam bhisama-nya selalu menegaskan tentang kesetaraan, pemerataan, solidaritas, dan keadilan.
Kita tahu sebagian besar manusia Bali hidup dari keindahan yang dijual kepada wisatawan. Lalu, jika keindahan itu dirusak oleh kita sendiri, lantas apa yang akan dijual lagi kemudian? Maka, rawatlah keindahan alam ini hingga anak cucu dapat menikmatinya. BUkan tidak mungkin slogan Pulau Surga lambat laun bisa lenyap oleh prilaku kita terhadap alam. Mungkin Bali yang terkenal sebagai Pulau Surga kala pagi hingga senja dengan keindahan alamnya gunung yang megah, pantai yang indah, lantunan irama gong yang menenangkan, serta tarian yang menghibur. Suatu saat pulau ini tidak menutup kemungkinan berubah menjadi Pulau Neraka karena ada praktik transaksi ilegal yang dilakukan seperti judi, miras, narkotika, premanisme, dan prostitusi. Baik dari penguasanya, wisatawannya, dan orang-orang kita juga menikmati sisi neraka itu. Kini, dunia yang penuh akan kegelapan selalu menghantui surat kabar Pulau Surga Dewata ini.
Sebenarnya apakah kepercayaan terhadap alam dan Tuhan di jiwa manusia itu telah memudar? Seiring berjalannya waktu, manusia kian jauh dengan alamnya. Hari ini tidak ada yang berani meminum air Danau Batur yang secara alamiah dan konsep ketuhanan adalah pusatnya air suci yang menyuburkan tanaman, tumbuhan, dan segala sektor. Bahkan, di beberapa titik pusat kemunculan air di Batur ditetapkan sebagai patirtaan yang bisa menyembuhkan penyakit. Namun, justru hari ini kita lebih percaya terhadap minuman kemasan yang diproduksi oleh perusahaan. Kita jua lebih memilih air berkaporit untuk keperluan keseharian.
Seharusnya selain melakukan upacara penyucian danau secara niskala, maupun melakukan persembahyangan ketika Ngusaba Kadasa, alangkah baiknya bersama-sama mengedukasi, lalu beraksi nyata melakukan revitalisasi terhadap Danau Batur agar ke depan airnya tetap layak dikonsumsi. Bagaimana Bhatari Danuh bisa memberikan kesuburan ketika sumber mangkok air yang berada di Danau Batur tercemar oleh zat-zat berbahaya. Justru itu bakal menjadi wabah penyakit baru yang akan menjangkiti masyarakat Wingkang Ranu.
Apakah Bhatari Danuh mati? Jika kesuburan itu telah lenyap, keindahan itu telah berubah menjadi kehinaan, kekayaan berubah menjadi kemiskinan, kemurnian berubah menjadi kontaminasi, kasih sayang berubah menjadi kedurhakaan, lantas apakah Bhatari Danu masih ada? Apa hanya ada patungnya saja yang berdiri, tetapi kesuburannya telah lenyap? Apa hanya ada kitab lontarnya saja yang disakralkan tetapi petuahnya yang harus terlaksana kita abaikan? Jika iya, maka penista dan pembunuh Bhatari Danuh adalah kita sendiri. Kita, orang Bali, yang telah lalai menjaga gunung, danau, tanah, air, dan udaranya. Kita telah membunuh keagungan dan kemuliaan Bhatari Dewi Danuh.
Jika pengabaian terhadap alam ini masih terus dilanjutkan di berbagai penjuru pulau ini, saya yakin kita sesungguhnya telah membunuh para dewa. Para dewa hanya sebatas nama yang telah mati taksu-nya. Kita hanya menyembah Tuhan miskin esensial. Tuhan dan para dewa memang secara spiritual adalah kekal dan tidak bisa musnah oleh apapun, tetapi ketika berbicara konteks etika dan ajaran yang telah kita serap dari buku, kitab, maupun lontar, Tuhan dan para dewa telah mati oleh prilaku manusia yang jauh dari kesepakatan-kesepakatan tertulis, dan tersirat oleh leluhur kita. Apakah kita akan tetap tak bergeming melihat pembunuhan kepada para dewa oleh kita sendiri?
====
*Tulisan ini adalah tulisan terpilih dalam program “Catatan Menuju Seabad Relokasi Batur” yang digelar Lingkar Studi Batur untuk memperingati HUT ke-3 tahun 2023 dan memperingati seabad peristiwa perpindahan Desa Adat Batur dari Desa Batur Let di kaki Gunung Batur menuju tempat saat ini. Tulisan ini juga akan terbit dalam buku berjudul Seabad Relokasi Batur yang saat ini dalam proses penerbitan.
**Penulis adalah pemangku di Pura Ulun Danu Batur. Ia adalah seorang aktivis sosial-lingkungan. Aktif di Lingkar Studi Batur, DPK Peradah Indonesia Bangli, dan Komunitas Pencinta Alam Lingkar Rimba.











