}} Cemeti, Danau, dan Lahirnya Gunung - Bebaturan.id

Cemeti, Danau, dan Lahirnya Gunung

Pasuara
Pecut

Oleh Pande Putu Abdi Jaya Prawira*

Foto: Pajenengan Pecut Ida Bhatari Sakti Batur (Panca Sedana)

========================

Cemeti pusaka yang dikibaskan bukan sekadar alat,
Ia lambang kehendak yang terpusat,
Ia menetapkan arah, tak hanya gelagat,
Niatnya bukan ‘tuk merusak, hanya menjejak hikmat.

*

Ledakan tidak melulu soal amarah dan kehancuran. Sejumlah cerita di jagat mitos Bali yang kaya lapisan makna, menempatkan ledakan sebagai sebuah penataan semesta. Satu contohnya adalah ledakan sebelas hari sebelas malam yang kemudian menjadi cikal bakal terciptanya gunung megah, yang kini kita kenal sebagai Gunung Batur.

Kisah ini dimulai dari Ida Bhatari Ayu Mas Membah. Beliau menuju sebuah tempat bernama bebengan agung, sebuah kaldera purba dan jejak purba yang berbentuk laksana sarang burung. Seperti burung yang akan kembali bertelur, tempat ini ditakdirkan sebagai tempat beliau akan bertahta. Menyinggung telur pun membuat saya teringat akan telur ilahi Brahma: Brahmanda. Cikal bakal alam beserta seluruh isinya tercipta. Perjalanan Ida Bhatari Ayu Mas Membah menuju bebengan agung oleh sebab itu bukan sekadar berpindah dari satu tempat ke tempat lain, melainkan juga perwujudan dari panggilan kosmik untuk menyatu kembali dengan poros alam semesta.

Ditemani oleh kawula setia bernama Ki Mucangan, sang dewi melintasi Jawadwipa menuju bebengan di tanah Bali ini. Tidak dikisahkan detail perjalanan itu, sampailah keduanya di bibir kawah. Masalah pun muncul, di tengah kaldera hanya ada air. Sebuah danau yang luas, tenang, dan dalam. Ki Mucangan yang tampaknya bukan pakar geologi terdiam. Ia menatap ke tengah danau, ke sana kemari, yang terlihat olehnya hanya bentangan air. Ia menengok ke sang dewi, lalu kembali menatap air, dan demikianlah ia terus melihat-lihat ke sana-sini hingga daerah itu disebut dengan nama Panelokan. Konon peristiwa melihat-lihat atau delak-delok Ki Mucangan ini yang jadi inspirasi nama daerah yang diminati wisatawan dewasa ini.

Melihat kebingungan kawulanya, Ida Bhatari Ayu Mas Membah pun mengangkat cemeti pusaka, anugerah dari Bhatara Guru. Pusaka ini bukan sembarang cemeti. Cemeti ini agaknya lebih berperan sebagai pemantik perubahan ketimbang sekadar alat pemacu kuda. Satu kibasan menyebabkan bumi berguncang. Ledakan maha dahsyat berlangsung selama sebelas hari sebelas malam. Waktu menjadi bara. Sunyi menjadi nyala. Alih-alih terjadi kiamat, ledakan ini justru melahirkan sebuah gunung kecil dari dasar danau yang tak bergeming.

Seiring waktu, gunung itu membesar dan meninggi. Danau yang sebelumnya meliputi segalanya, pelan-pelan tersisih, menyisakan bagian timur saja. Gunung dan danau itu kemudian dikenal sebagai Gunung Batur dan Danau Batur, pasangan kosmis yang hidup dalam simbol lingga dan yoni, maskulin dan feminin. Kehadiran keduanya tidak hanya menjadi cara mitos menjelaskan fenomena geologis, tetapi sekaligus mengikat ide kosmologi Bali yang memadukan gemuruh itu sebagai tanda atas usaha melakukan penciptaan melalui hadirnya sebuah energi aktif. Danau menyimpan air, sebagaimana rahim menyimpan kehidupan. Gunung menjulang, sebagaimana kesadaran bangkit dari gelap.

Kisah ini melampaui sekadar catatan letusan atau mitos gunung belaka. Kaldera sebagai bebengan agung secara spiritual bukanlah ruang kosong, melainkan tubuh alam itu sendiri. Tempat ini jadi rahim besar yang akan menghidupi banyak nyawa. Jalinan kisahnya adalah alegori tentang kekuatan, perubahan, dan kestabilan yang tidak selalu muncul dari tempat yang sudah siap, tetapi harus dibentuk melalui guncangan batin dan ledakan keberanian.

 

Gunung Batur dan kawasan eks. permukiman Desa Batur sebelum tahun 1926 (Maiva Utama).

 

Batur dan Kita

Dalam kehidupan modern saat ini, kita sering lupa bahwa hal-hal spektakuler tidak lahir dari kemudahan. Kadang kita harus berhadapan dengan kaldera dalam diri kita sendiri, misalnya kekosongan besar, pertanyaan tanpa jawaban, hingga rencana yang seolah terhalang air tak terjamah.

Saat itulah barangkali kita butuh cemeti. Bukan untuk memecut orang lain, bukan untuk melampiaskan amarah, tetapi untuk membelah kebuntuan dalam kepala kita sendiri. Lalu mulailah kita mengaduk air dan tanah (atau lumpur) yang selama ini kita hindari. Ketika kita berani “mengguncang” pusat kaldera itu, akan lahir gunung baru sebagai tempat berpijak. Titik stabil dari diri yang semula hanya bingung mencari jalan menoleh ke sana kemari.

Gunung Batur oleh sebab itu bukan sekadar gunung. Ia adalah monumen dari tangan yang tahu kapan harus menghentak. Danau Batur bukan hanya danau. Ia adalah sisa dari kedalaman yang merelakan sebagian dirinya untuk tempat bersemayam Sang Luhur. Ki Mucangan pun barangkali adalah cerminan kita yang masih bingung, tetapi bahagia dan terhormat karena ikut menyaksikan lahirnya mahakarya Sang Maha Pencipta.

Jadi bila suatu hari kita merasa tak tahu ke mana arah hidup, bisa saja kita berdiri di tepi Danau Batur. Mulai mengingat ada gunung di sampingnya. Lalu menyadari bahwa bahkan sebuah kebingungan dan air yang terlalu luas pun bisa berubah menjadi altar: asalkan ada satu cemeti, dan satu keyakinan. Kalau tidak punya cemeti pusaka? Tenanglah. Kadang keputusan sederhana dengan niat yang jernih sudah cukup. Ledakan dalam diri kita tak selalu keras, tapi bisa sangat dalam. Dari situlah gunung itu lahir.

Alam adalah teks dan tubuh, kehadiran Gunung Batur yang berada di daerah yang lebih rendah menjadi penanda bahwa tidak semua kekuatan harus ditinggikan untuk diagungkan. Beberapa justru memilih tumbuh dari dasar, dari ketenangan yang diledakkan dalam sunyi. Kisah ini mengajarkan bahwa kita tidak perlu selalu mencari tempat tertinggi secara fisik, melainkan kita juga bisa mencari tempat terdalam secara spiritual.

Jika kita berdiri di tepi Danau Batur, melihat gunung yang terbit dari dalam air, kita sedang menatap bukan sekadar pemandangan, melainkan tubuh dari mitos yang hidup. Dan barangkali, dalam diam dan sejuk udara di sekelilingnya, kita sedang diajak untuk mengingat bahwa dalam diri setiap manusia pun ada kaldera ruang hening yang menanti satu kibasan kesadaran untuk menjadi gunung.

Kini, ketika ribuan orang mengunjungi Batur, berfoto di tepian danau, mendaki gunung di dini hari untuk menyaksikan matahari sembari meninggalkan jejak kaki dan sampah, tidak semua menyadari bahwa mereka sedang menapaki tubuh dari satu kisah mitos luar biasa. Bahwa di setiap langkahnya di Batur, mereka sebenarnya sedang diajak untuk introspeksi diri. Kita bisa ingat untuk kembali menatap ke dalam kaldera diri kita masing-masing. Menyaksikan danau yang dibanjiri penuh oleh unek-unek masa lalu, dan menanti cemeti untuk melahirkan gunung baru dari dalamnya: gunung yang akan memberi arah pulang, tempat berpijak, dan ruang sembahyang bagi jiwa yang merindukan-Nya.

*
Sebab dalam setiap diri, selalu ada Batur yang belum bangkit.
Serta dalam setiap perenungan batin dan doa nan terucap lirih, Ida Bhatari selalu hadir, membimbing sang diri memaknai kembali dirinya sendiri.

===

*Penulis adalah sastrawan, peneliti Sastra Jawa Kuno dan Bali, serta mahasiswa magister pada Program Studi Linguistik Program Magister Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

Berita terkait