}} Gambaran Wilayah dan Sejarah Desa Batur dari Kaki Gunung Batur hingga di Kalanganyar* - Bebaturan.id

Gambaran Wilayah dan Sejarah Desa Batur dari Kaki Gunung Batur hingga di Kalanganyar*

Pakraman, Pasuara
Batur.

I Wayan Sukadia**

Foto: Pusat Desa Adat Batur hari ini di Kalanganyar (Maiva Utama).

========================

DESA Adat Batur yang pusat desanya saat ini berada Kalanganyar telah melalui dinamika sejarah panjang. Desa Batur lahir melalui berbagai peristiwa sejarah, termasuk penyatuan banyak desa. Berdasarkan catatan Rajapurana Pura Ulun Danu Batur, Desa Batur awalnya dibentuk oleh beberapa kekuatan komunitas besar, antara lain Desa Sinarata dan Desa Tampurhyang. Hauser-Scaublin (2011) menduga hal ini, di mana kemudian Pura Ulun Danu Batur merupakan penyatuan antara I Ratu (Sesuhunan) Sakti dari Sinarata dan Ratu Sakti Bujangga Luwih dari Tampurhyang. Desa Sinarata sangat erat kaitannya dengan Gunung Batur, sedangkan Desa Tampurhyang sangat erat kaitannya dengan Danau Batur.

 

Dasanama Gunung Batur

Gunung Batur adalah gunung berapi aktif yang memiliki ketinggian 1717 meter di atas permukaan laut. Menurut para geolog, gunung ini sesungguhnya merupakan anak dari Gunung Batur Purba yang diduga memiliki ketinggian di atas 5.000 meter di atas permukaan laut. Gunung Batur Purba ini meletus pada 29 ribu tahun yang lalu hingga menghilangkan kerucutnya dan membentuk Kaldera Batur I. Letusan dahsyat juga terjadi pada 25 ribu tahun yang lalu hingga membentuk Kaldera II Batur. Di Kaldera II Batur itulah kemudian muncul anak Gunung Batur Purba yang kini dikenal sebagai Gunung Batur serta sebuah danau berbentuk bulan sabit yang dikenal sebagai Danau Batur.

Aktivitas Gunung Batur tampaknya tidak menunjukkan penurunan selama berabad-abad. Menurut ingatan panglingsir Batur, gunung api ini terus meletus hingga berpengaruh pada kehidupan masyarakat di sekitar kawasannya. Menurut cerita, Danau Batur dulunya sangat luas hingga memenuhi seluruh Kaldera Batur, tetapi letusan Gunung Batur akhirnya terus menimbun bagian kakinya, sehingga akhirnya menyisakan danau seluas saat ini. Pada catatan sejarah yang dapat diketahui, Gunung Batur tercatat mengalami 26 kali letusan. Letusan yang paling dahsyat terjadi tahun 1926, yang mengubur Desa Batur Let di kaki Gunung Batur.

Menurut Rajapurana Pura Ulun Danu Batur bagian Usana Bali, Gunung Batur diyakini sebagai potongan Gunung Mahameru di Jambudwipa yang sengaja dipotong oleh Bhatara Pasupati. Potongan Gunung Mahameru itu di Bali menjadi Gunung Batur dan Gunung Agung. Keduanya diyakini umat Hindu Bali sebagai gunung-gunung suci di Bali.

Gunung Batur disebut pula Gunung Lingga Acala. Gunung Lingga Acala artinya gunung yang menjadi stana abadi dari Bhatara-Bhatari Batur. Lingga artinya tempat Tuhan dalam berbagai manifestasinya berdiam, sedangkan acala artinya tetap abadi. Namun, dalam kepercayaan masyarakat Batur, Gunung Batur memiliki banyak nama atau dasanama. Setidaknya ada 11 nama lain Gunung Batur yang telah penulis kumpulkan. Pertama adalah Gunung Tampurhyang yang artinya adalah gunung bekas tapak dari Ida Bhatari Danuh ketika disungggi oleh Ki Pemucangan sebagaimana dituliskan dalam Rajapurana Pura Ulun Danu Batur.

Nama kedua dari Gunung Batur adalah Gunung Sinarata. Sinarata artinya gunung yang mendapat sinar merata dari matahari. Lantaran nama inilah di sekitar kawasan Gunung Batur kemudian ada Desa Sinarata. Nama ketiga dari Gunung Batur adalah Gunung Silagiri. Silagiri dapat diartikan sebagai gunung batu atau gunung etika atau susila.

Keempat adalah Gunung Lebah. Lebah artinya rendah. Nama ini diberikan karena Gunung Batur berada di kawasan kaldera yang lebih rendah jika dibandingkan dengan tempat lainnya. Nama kelima adalah Gunung Ederan, yang mirip dengan arti Gunung Lebah. Gunung Ederan artinya diberikan gunung yang dikelilingi oleh gunung-gunung lain yang berada pinggir di Kaldera Batur. Gunung-gunung yang mengitari Gunung Batur antara lain Gunung Abang, Gunung Penulisan, Gunung Payang, dan lain-lain. Lantaran posisinya yang diitari pegunungan, Gunung Batur juga disebut Gunung Lekeh.

Nama ketujuh dari Gunung Batur adalah Gunung Indrakila. Nama Gunung Indrakila cukup terkenal pada sastra agama. Namun, dalam hal ini penamaan Gunung Batur sebagai Gunung Indrakila diartikan sebagai gunung yang dikelilingi oleh zat padat berupa batuan dan pasir serta zat cair yakni danau. Nama selanjutnya dari Gunung Batur adalah Gunung Sari yang diartikan sebagai gunung yang menjadi inti utama dari kehidupan.

Gunung Batur disebut juga sebagai Gunung Kembar. Disebut demikian karena Gunung Batur memiliki dua buah puncak yang dikenal sebagai Puncak Kanginan dan Puncak Kanginan. Simbol Puncak Kanginan dan Kawanan ini sangat kental diwarisi oleh masyarakat Batur saat ini, di mana Ida Bhatara-Bhatari Batur yang disebut sebagai Ida Bhatara Makalihan adalah representasi dari Ida Bhatara Pucak Kanginan (Ida Bhatari Danuh) dan Ida Bhatara Pucak Kawanan (Ida Bhatara Madue Gumi). Ida Bhatari Pucak Kanginan dibuatkan palinggih berupa meru tumpang solas sedangkan Ida Bhatara Pucak Kawanan dibuatkan palinggih berupa meru timpang sia. Dua puncak dari Gunung Batur ini juga menurun ke sistem pranata masyarakat melalui hadirnya Jero Gede Batur Kanginan (Jero Gede Duhuran) dan Jero Gede Batur Kawanan (Jero Gede Alitan).

Selanjutnya, Gunung Batur disebut juga sebagai Gunung Catur karena berbentuk seperti bujur sangkar mengerucut (marepat). Dengan bentuknya yang marepat, Gunung Batur disangga oleh empat gunung lainnya, yakni deretan Pegunungan Tuluk Biyu (Abang) dari timur ke selatan, Gunung Tangked (Peninjoan atau Penelokan) di barat, dan Gunung Penulisan di utara. Sementara itu, nama terakhir yakni Gunung Batur berarti sebagai gunung yang disucikan, di mana Ida Bhatara-Bhatari bersemayam. Masyarakat Bali sejak dulu mengenal tempat suci sebagai bebaturan sebagai tempat suci yang paling sederhana.

 

Permukiman di Sekitar Gunung Batur

Kawasan Kaldera Batur telah dipilih menjadi salah satu kawasan permukiman sejak masa prasejarah. Hal ini didukung oleh beragam temuan artefak di sekitar kawasan Kaldera Batur. Ini menjadi masuk akal melalui keberadaan Danau Batur yang secara alami dapat sumber kehidupan, khususnya pangan kepada manusia.

Pada masa Bali Kuno di daerah Batur telah terdapat banyak desa (karaman). Salah satunya adalah Desa Cempaga dan Tumpuhyang. Wilayah Desa Cempaga ini masih bisa dilihat keberadaannya dengan batas-batasnya yang terdiri atas Titimarmar (Titimamah), Bubungkelambu, Bukit Atampud (Bukit Tampud), dan lain-lain.

Nama Tumpuhyang selain merujuk sebuah karaman/desa juga merujuk tempat pemujaan penting di Kaldera Batur. Peranannya diperkirakan sama dengan peranan Pura Penulisan, yakni sebagai pusat kegiatan ritual bagi banua-banua pendukungnya. Sampai saat ini, belum ditemukan prasasti khusus tentang Desa Tumpuhyang seperti desa-desa lainnya di Wingkang Ranu (sisi Danau Batur). Desa ini disebut dengan jelas pada Prasasti Cempaga yang menyatakan adanya konflik antara Desa Cempaga dan Tumpuhyang. Belakangan nama Tumpuhyang lebih dikenal sebagai Tampurhyang.

Selama dinamika politik yang terjadi antara Kerajaan Bali dan Jawa dari zaman Kertanegara (Singasari) hingga Majapahit, desa-desa di kawasan Gunung Batur juga mengalami dinamika politik. Setelah ekspedisi Gajah Mada ke Bali pada 1343 Masehi, wilayah Bali dibagi-bagi di bawah pengawasan para arya. Orang-orang Majapahit (wong Majapahit) awalnya mendapat reaksi dari penduduk beberapa desa yang sudah ada (wong Bali Mula). Tercatat puluhan desa dan penduduknya melakukan protes keras terhadap kekuasaan Dalem Kresna Kepakisan di Samprangan sebagai wakil Majapahit di Bali. Desa-desa adalah Batur, Campaga, Songan, Kedisan, Abang, Pinggan, Muntig, Pludu, Cintamani, Culik, Tista, Bulakan, Tulamben, Pedahan, dan desa lainnya yang total berjumlah 56 desa.

Berdasarkan Babad Batur, sebagaimana dikutip dari Buku Pura Ulun Danu Batur hasil penelitian Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, disebutkan bahwa pada masa pemerintahan Dalem Ketut (1380-1460), pemerintah menempatkan sejumlah tokoh kerajaan di Desa Batur. Selain adanya kepentingan penguasaan terhadap wilayah teritorial penempatan tersebut juga bermakna dan berkaitan terhadap penyucian Pura Batur. Oleh karena itulah sejak saat itu Pura Ulun Danu Batur mendapat perhatian yang besar. Dalem Ketut adalah raja Bali ketiga dari Dinasti Kresna Kepakisan yang memerintah Bali atas nama Raja Majapahit. Dalem Ketut selanjutnya digantikan oleh anaknya yakni Dalem Baturenggong yang juga berperan besar terhadap keberadaan Desa Batur (Tim Penyusun, 1989).

Pada pemerintahan Dalem Baturenggong, pendeta suci dari Jawa bernama Dang Hyang Nirartha datang ke Bali dan aktif menyebarkan paham Agama Hindu di Bali. Kala itu, Pura Ulun Danu Batur telah jadi pemujaan yang sangat penting di Bali. Dang Hyang Nirartha dan Raja Dalem Baturenggong sangat memberikan perhatian kepada Pura Batur karena Pura Batur termasuk salah satu Pura Kahyangan Jagat di Bali (Tim Penyusun, 1989). Lontar Usana Bali juga ditulis ketika Dang Hyang Niratha berperan sebagai pendeta Hindu di Bali. Dalam lontar itu disebutkan bahwa Pura Batur sebagai satu pemujaan penting umat Hindu di Bali.

 

Desa-desa yang Disatukan

Antara tahun 1480-1550 Masehi desa-desa kecil di wilayah Batur disatukan. Menurut panglingsir, desa-desa yang telah ada sebelum Batur dan disatukan menjadi Batur adalah Desa Cempaga, Tampurhyang, Dungsuh, Sinarata, Alas Kenyeri, Petapan (Tapayasa), Cemara, Asah, Sapura, dan Gebog Domas. Penyatuan desa-desa tersebut masih belum diketahui secara pasti, mungkin karena bencana alam maupun bencana biologis (wabah) yang menyebabkan jumlah penduduk di Batur turun drastis, sementara mereka memiliki tanggung jawab menjaga pura yang besar, yakni Pura Ulun Danu Batur.

Lantaran banyak desa yang disatukan, wilayah Batur menjadi membentang sangat luas. Rajapurana Pura Ulun Danu Batur menyebut beberapa batas Desa Batur yang masih ada sampai saat ini, yakni Tatag Megat Danu, Tiblun Majempang, Batu Magantung, dan Tanah Cebuk. Tatag Megat Danu merujuk pada batas Batur dengan Desa Kedisan, Tiblun Majempang dan Batu Magantung adalah batas Desa Batur dengan Desa Songan, masing-masing di Banjar Yeh Bungkah dan Yeh Mampeh, sedangkan Tanah Cebuk adalah batas Desa Batur dengan Desa Kintamani.

Pada masa pemerintahan Raja Dalem Baturenggong, penduduk Desa Batur memperbaiki Pura Batur, kemudian dilengkapi dengan Palinggih Dalem Baturenggong. Sampai saat ini kita dapat menemukan meru untuk menghormati Raja Dalem Baturenggong di area Pura Batur. Itu karena begitu besar peran dan kontribusi Raja Dalem Baturenggong, sehingga masyarakat Batur memberikan rasa hormat dengan membuatkan meru untuk pemujaannya.

 

Wilayah Batur pada Masa Kolonial

Catatan dalam bentuk peta tentang Desa Batur dibuat pada masa penjajahan Belanda. Kini peta itu berada di Museum Geopark Batur dengan judul “Het G. Batoer-Complex”. Peta ini berskala 1:100.000 yang terbit pada tahun 1915. Berdasarkan peta tersebut, diketahui bahwa Desa Batur merupakan desa terbesar yang berada di Kaldera Batur. Selain itu juga ada peta yang dibuat tahun 1926, mungkin setelah letusan besar Gunung Batur.

Berdasarkan peta tahun 1915 dan peta 1926 terlihat jelas bahwa pusat permukiman Desa Batur Let berada di arah barat daya Gunung Batur. Bukit Payang, Desa Batur, Bukit Sampian Wani, dan Gunung Batur berada pada satu garis lurus. Posisi Bukit Sampian Wani dan Gunung Batur terletak di arah timur laut (kaja–kangin) dari Desa Batur Let. Desa Batur Let juga dikelilingi oleh batuan lava hitam serta pegunungan di sekitarnya yakni, Bukit Sampian Wani, Gunung Batur, Bukit Dalam, dan Bukit Payang.

Desa Batur Let terletak pada koordinat 8o15’53” S; 115o21’38″E pada ketinggian 1.061 meter di atas permukaan laut. Berdasarkan peta tahun 1915, dapat diamati batas-batas Desa Batur yakni di sebelah utara adalah Desa Pinggan, di sebelah timur laut adalah Desa Songan, di sebelah timur adalah Danau Batur (Desa Terunyan, Desa Abang), di sebelah tenggara adalah Desa Kedisan dan Desa Buahan, di sebelah barat laut adalah Desa Bayunggede, dan di sebelah barat adalah Desa Kintamani.

Kita semua tentunya bertanya, di mana letak presisi Desa Batur di kaki Gunung Batur? Pertanyaan ini dapat dijawab oleh data-data otentik yang pernah disusun oleh ilmuwan Belanda yang berkunjung ke Desa Batur khususnya dan Kaldera Batur pada umumnya. Ilmuwan tersebut tidak terlepas dari para ahli geologi yang memetakan Kaldera Batur dengan sangat rinci. Pertanyaan ini juga dibahas tuntas dalam buku Jejak Peradaban di Kaki Gunung Batur (2018). Buku tersebut menjelaskan mengenai metode tim pemertaan dalam menentukan titik nol Desa Batur Let semasa di kaki Gunung Batur.

Sementara itu, jika dilihat dari foto-foto yang ada serta denah desa tahun 1835 (kemungkinan tahun Saka), maka Desa Batur Let tampak tercitrakan sebagai permukiman yang sangat padat. Jika dibandingkan dengan kepadatan permukiman dengan desa-desa sekitarnya, Desa Batur memiliki tingkat permukiman yang sangat padat dan area permukiman terbesar. Konsentrasi penduduk padat ini menunjukkan adanya pusat peradaban tua di Kaldera Batur saat itu.

Struktur tata ruang desa terlihat sangat erat dengan konsep tata ruang rumah orang Bali Mula yakni mengambil konsep seperti tubuh manusia yang terdiri dari tiga bagian yakni kepala, badan, dan kaki. Terdapat jalan besar sebagai jalan utama yang membelah desa menjadi dua bagian yang proporsional. Jalan tersebut juga yang membagi masyarakat menjadi masyarakat dauh rurung dan masyarakat dangin rurung. Pembagian menjadi dua ini seperti tangan kiri dan tangan kanan, di mana satu sama lain saling melengkapi. Jalan utama desa melintang dari utara ke selatan yang terbentang secara lurus.

Menurut peta 1835 Saka (1913 Masehi) ada beberapa banjar di Desa Batur Let, yakni Banjar Jero, Banjar Kelod Batulompeh, Banjar Tengah, Banjar Asah, Banjar Petak, dan Banjar Abang Desa Kanginan. Sementara itu menurut ingatan panglingsir, banjar-banjar di Batur keseluruhannya ada 11 banjar, yakni Banjar Jero, Banjar Kaja, Banjar Kauh, Banjar Asah, Banjar Kodo Gunalali, Banjar Tambean, Banjar Abang Desa Kanginan, Banjar Petak, Banjar Pande, Banjar Kelod Batu Lompeh, dan Banjar Tengah.

Denah menunjukkan pada ujung jalan (utara desa) yang dekat dengan Gunung Batur, terletak sebuah pura yakni Pura Ulun Danu Batur (Jero Agung). Pada area Pura Ulun Danu Batur (Jero Agung) terdapat pohon beringin. Pada sisi kanan Pura Ulun Danu Batur (Jero Agung) terdapat Pura Bale Agung Batur. Sebelum masuk ke Jero Agung ada jaba tengah yang terdapat bale gong. Di antara Banjar Jero dan Banjar Tengah terdapat wantilan dan bale banjar. Pura Alas Arum dan Pura Jaba Kuta terletak di sebelah kiri (barat) Jero Agung atau di utara Banjar Asah. Merajan Bukitan-Bukutan terletak di samping Banjar Asah. Pura Kodo terletak di antara Banjar Tengah dan Banjar Kelod Batulompeh (barat daya). Pura Petak yang berada di timur laur Pura Bale Agung, di antara Banjar Petak. Pura Tulukbiyu berada di timur desa, di Banjar Abang Desa Kanginan. Pura dan fasilitas publik seperti Pura Dalem Batur, kuburan, dan perladangan tidak tampak di dalam denah. Mungkin denah itu hanya menjangkau pusat desa saja.

Titik akhir Desa Batur yang telah disebutkan pada paragraf sebelumnya, bukan titik tetap sejak awal dibangunnya peradaban tua Batur. Desa Batur tampaknya terus mengalami perpindahan dari tempatnya semula menuju ke mengarah ke arah barat mengikuti arah putaran jarum jam untuk menghindari dan menyelamatkan diri dari letusan Gunung Batur. Hipotesa ini juga didukung oleh Jero Gede Batur Kawanan pada tahun 2017, dalam sebuah kesempatan dalam acara menunjukkan titik-titik parahyangan Desa Adat Batur yang berada di kawasan Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Pada keterangannya dijelaskan terdapat 385 pelinggih di dalam wilayah parahyangan Desa Adat Batur yang tersebar di Kaldera Batur. Letak persis pusat peradaban awal sangat sulit dilakukan, mengingat sebagian besar Kaldera Batur, khususnya wilayah Desa Adat Batur diselimuti hamparan lava hitam Gunung Batur.

 

Desa Baru di Kalanganyar

Pada tanggal 3 Agustus 1926 (Anggara Pon Medangkungan tahun Saka 1848) lava pijar memporak-porandakan Desa Batur dan sekitarnya. kejadian itu membuat Desa Batur dipindah ke atas, yaitu di Kalanganyar (Stehn, 1928). Perpindahan ini diakibatkan oleh meletusnya anak Gunung Batur (Gunung Bundar/Prapen) tahun 1926. Perpindahan ini tidak hanya berdampak pada manusia Batur, tetapi juga pada sarana-sarana yang terkait dengan Pura Batur Kuno. Semua benda sakral itu dibawa dan diselamatkan ke tempat yang aman.

Pada peristiwa itu raja dan rakyat Kerajaan Bangli, khususnya penduduk desa sekitarnya, bertanggung jawab atas pemindahan Pura Batur. Pemerintah Belanda yang telah berkuasa penuh di Bali sejak runtuhnya Kerajaan Klungkung juga ikut mendukung gagasan pemindahan pura. Kebijakan ini untuk mendukung dan melindungi kebudayaan dan Agama Hindu di Bali, terutama didukung oleh kelompok orientalis pendukung Baliseering.

Meletusnya anak Gunung Batur mengakibatkan masyarakat Batur terpecah-pecah dan tinggal sementara di desa-desa sekitarnya yang tidak secara langsung dikenai bencana itu. Tempat mengungsi penduduk terbanyak terdapat di Penelokan. Kondisi itu terjadi sampai proses penyatuan mereka kembali. Akhirnya, mereka kembali disatukan menjadi satu desa yang berlokasi di Kalanganyar. Setelah bersatu, maka dilakukan pembagian tanah tempat tinggal. Atas seizin Pemerintah Belanda yang berkuasa di Bali ditentukan bahwa yang ngayah (mengabdi) mendapat tanah 3 are sedangkan masyarakat yang sudah duda mendapat tanah 1,5 are.

Tahun 1927, pembangunan Desa Batur dan Pura Batur mulai dilakukan secara bertahap. Pembangun Pura Batur di-plaspas pada hari Redite Pon Prangbakat, 14 April 1935 meskipun palinggih belum selesai secara keseluruhan. Pembangunan Pura Batur di Kalanganyar dibantu oleh pemerintah dan sesuai dengan banyaknya palinggih-palinggih yang pernah ada di Pura Batur lama. Mengenai keberadaan Kalanganyar, disebutkan di dalam Rajapurana Pura Ulun Danu Batur sebagai berikut.

nghing wasampun ginanti paryyangan ira Batara, ring Tampuryyang nguni, mangke hana mungwing kalanganar ngaran Batur kalanganar. apan nguni purwa telas dening karuganing paranganagni, wetu saking madyaning giri.

Pusat Desa Adat Batur hari ini di Kalanganyar (Maiva Utama).

 

Kalanganyar merupakan areal yang baru (anyar) khusus untuk lokasi Desa Batur yang baru dipindahkan. Desa-desa yang berdekatan dengan Kalanganyar adalah Desa Bayunggede, Buahan, Sekardadi, Bonyoh, Belatungan (Katung), Belancan, Selulung (Petak Cemeng), Tajun (Pakisan), dan Sribatu. Desa-desa ini merupakan Batun Sendi Ida Bhatari Batur yang maksudnya sebagai pendukung utama dalam penyelenggaraan aci serta menjaga Pura Ulun Danu Batur yang pada mulanya berada di madianing gunung Batur.

Di madyaning Gunung Batur pada mulanya terdapat sembilan pelebahan (mandala pura). Pura-pura inilah yang dipindahkan ke daerah Kalanganyar di dekat Kintamani. Di sini dibangun kembali sembilan pelebahan pura sesuai dengan denah serta bentuk semula semasih berlokasi di Batur Kuno Oleh karena itulah pura ini disebut dengan Pura Ulun Danu Batur, walaupun letaknya tidak lagi berdekatan dengan Danau Batur. Namun, rupanya ada beberapa pura yang tidak bisa dipindahkan untuk selama-lamanya, terutama yang berkaitan dengan tirtha (air suci) sehingga setelah keadaan memungkinkan, pura-pura tersebut perlu dibangun kembali. Pura-pura patirthaan itu meliputi Pura Jati, Pura Tirtha Bungkah, Pura Tirtha Mas Mampeh, Pura Rejeng Anyar, Pura Taman Sari, dan Pura Pelisan.

 

Jadi Tiga Desa Dinas

Setelah di Kalanganyar, dinamika sosial-politik terjadi di Desa Batur. Pada kisaran tahun 1947 terjadi dinamika sosial, sehingga Desa Batur mekar menjadi dua yaitu Desa Batur Utara dan Desa Batur Selatan. Pada tahun 1952 dinamika kembali terjadi, sehingga lahirlah Desa Batur Tengah. Tahun 1967 muncul upaya pembentukan Desa Batur Catur sebagai desa keempat, tetapi permohonan pengajuan formal ke pemerintah tidak dikabulkan. Tokoh-tokoh dan penduduk yang sempat mendukung pembentukan Desa Batur Catur akhirnya kembali ke tiga desa dinas yang telah ada.

Setelah mekar jadi tiga desa dinas, berbagai peristiwa sosial-politik terjadi di Batur. Seiring dengan pergolakan yang terjadi upaya-upaya menyatukan kembali ketiga desa dinas pun dilakukan. Pada akhirnya upaya tersebut berhasil ditempuh pada tanggal 20 Januari 1978. Pada saat itu, ketiga desa dinas berkomitmen untuk menyatukan diri di bawah satu payung desa adat, yakni Desa Adat Batur. Saat itu masyarakat menyepakati untuk mengangkat Jero Gede Batur sebagai Pamucuk Desa Adat Batur yang sebelumnya hanya menjabat sebagai Pangemong Pura Ulun Danu Batur. Sejak saat itulah Jero Gede Batur memikul dua posisi sekaligus, yakni sebagai pimpinan agama (Pura Ulun Danu Batur) dan adat (Desa Adat Batur).

Sampai saat ini Desa Adat Batur tetap ajeg disokong oleh tiga desa dinas dengan wewidangan yang demikian luas. Dalam mengelola masyarakat, dibentuk pula banjar adat yang kini jumlahnya 24. Banjar adat hadir bersinergi bersama tempeken yang secara tradisi telah ada sejak Batur lama. Setelah 46 tahun terintegrasi, dinamika selalu terjadi mengiringi perjalanan Desa Adat Batur. Namun, masyarakat Batur perlu terus mulat sarira, bercermin dan menyadari keberadaan desa adat. Desa adat wajib dijaga, dijunjung tinggi, dan dihormati sebagai tali pengikat dan payung yang menaungi keragaman di dalam desa.

 

Daftar Pustaka

Stehn, CH. E. (1928). De Batoer op Bali En Zijn Eruptie in 1926. Druk N.V. Maks & V.D. Klits.

Tim Penyusun. (2018). Jejak Peradaban di Kaki Gunung Batur.

 

=====

*Tulisan ini adalah tulisan terpilih dalam program “Catatan Menuju Seabad Relokasi Batur” yang digelar Lingkar Studi Batur untuk memperingati HUT ke-3 tahun 2023 dan memperingati seabad peristiwa perpindahan Desa Adat Batur dari Desa Batur Let di kaki Gunung Batur menuju tempat saat ini. Tulisan ini juga akan terbit dalam buku berjudul Seabad Relokasi Batur yang saat ini dalam proses penerbitan.

**Penulis adalah pemerhati kebudayaan Bali Mula, khususnya di Desa Adat Batur. Senang membaca, mendengarkan, merenungkan, dan menulis. Telah mengeluarkan sejumlah buku tentang Batur yang diterbitkan secara mandiri.

 

Berita terkait