}} Inspirasi Taksu Jejaitan dari Batur* - Bebaturan.id

Inspirasi Taksu Jejaitan dari Batur*

Pasuara
Piranti ritual di Palinggih Ida Ratu Ulun Bale Agung.

Oleh Ni Wayan Antari**

Foto: Piranti upacara yang dipersembahkan ke hadapan Ida I Ratu Ulun Bale Agung pada Ngusaba Desa (Jero Penyarikan Duuran Batur).

========================

PISAU dan janur sudah menjadi kawan setia yang menemani perjalanan hidup saya sehari-hari. Sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD) saya sudah mulai belajar majejaitan bersama nenek yang sekarang mungkin sudah bereinkarnasi lagi. Majejaitan yang dimaksud di sini bukan menjait beberapa lembar kain menjadi seperangkat pakaian, tetapi merangkai janur menjadi sebuah canang atau bentuk lain yang digunakan sebagai pelengkap sarana persembahyangan umat Hindu di Bali. Saya pertama kali berhasil menciptakan jaitan ketika duduk di bangku kelas V SD. Saat itu saya berhasil menciptakan sebuah sampian penjor yang kala itu masih sangat jauh dari kata sempurna. Namun, sebagai seorang bocah berusia 10 tahun, saat itu saya merasa sangat luar biasa, karena bisa membuatnya sendiri.

Kegemaran itu berlangsung terus-menerus hingga akhirnya saya berinisiatif untuk menjadikan hobi sebagai ladang cuan. Saat menginjak usia 17 tahun, saya memulai bisnis kecil-kecilan sebagai penjual jejaitan untuk uparengga (perlengkapan) Galungan. Bermodal uang Rp100 ribu, saya berhasil mendapatkan keuntungan dari merangkai ental (lontar) menjadi aneka jejaitan Galungan seperti sampian penjor, cenigan, tamiang, dan lain sebagainya. Keuntungan yang diperoleh saat itu bisa saya gunakan untuk membeli sepasang pakaian: sepotong baju berwarna kuning dan celana berwarna merah, serta mencukupi kebutuhan yang lain. Saya sungguh bangga kala itu karena pertama kali merasakan bisa membeli apa yang diinginkan dari hasil jerih payah sendiri.

Usaha yang saya geluti sejak 2017 tersebut lumayan ramai peminatnya, meskipun bersifat musiman hanya setiap Galungan dan Kuningan atau saat hari-hari raya besar keagamaan lainnya. Banyak yang lebih memilih membeli jaitan karena tidak bisa ngringkit (membuat pola pada janur), ada pula yang beralasan agar lebih cepat dan tidak mau repot. Banyak yang beranggapan bahwa selama kita pintar mencari uang, urusan majejaitan dan matanding banten bukan menjadi masalah. Kita tinggal membeli tanpa harus repot lagi membuatnya. Pernyataan itu saya rasa sah-sah saja dan bagi saya sangat menguntungkan karena saya akan semakin banyak mendapatkan pelanggan. Namun, sebenarnya ada satu hal yang saya khawatirkan. Jika semua orang membeli jaitan, baik pada saya atau pedagang lain, berarti tidak akan ada yang belajar selain para pedagang ini. Bahayanya lagi, jika semua orang ingin membeli, lalu siapa yang akan menjual? Siapa yang akan belajar dan melestarikan warisan leluhur? Ini menjadi PR kita bersama.

Sebagai seorang perempuan Hindu Bali, budaya majejaitan dan matanding banten (membuat sesajen) tidak akan bisa lepas dari kehidupan sehari-hari. Hampir setiap hari di seluruh sudut Pulau Bali tidak pernah kosong akan harumnya aroma dupa dan indahnya canang yang dijadikan persembahan. Terlebih ketika hari-hari besar keagamaan maupun piodalan di pura, tentu akan dipenuhi dengan jejaitan dari janur dan sejenisnya.

Perjalanan panjang saya menggeluti dunia majejaitan ini berawal dari seringnya membantu nenek yang memang seorang serati (tukang banten). Saya masih ingat sekali bagaimana nenek mengajari membuat tangkih (tempat lauk untuk sesajen) agar berbentuk segitiga sempurna; membuat kulit ketupat yang ketika pertama kali berhasil dimintanya untuk melilitkannya di pinggang sebanyak tiga kali agar kita cepat ingat; membuat lamak dengan konsep tri bhuana, yakni tiga tingkatan alam semesta yang terdiri dari bhur (alam bawah), bhuah (alam tengah/dunia tempat manusia hidup), dan swah (alam atas); serta masih banyak lagi ajaran lainnya. Semua itu saya jadikan dasar dalam belajar. Pesannya, “Sekenang mlajahin kéné, yén nyai ba bisa anak sing ja kal rugi, pasti kal maguna buin pidan kabisaané! (Pelajari dengan baik hal ini, kalau kamu sudah terampil, kamu tidak akan rugi, pasti akan berguna suatu saat nanti bakat ini!)”.

Setelah nenek tiada, saya selau mengingat pesannya dan tetap berusaha untuk menambah pengetahuan dengan belajar dari siapapun, di manapun dan kapanpun. Terutama dari jejaitan orang Batur. Desa Batur merupakan salah satu desa tetangga yang terdekat dengan desa saya, Desa Kintamani. Para tetua saya mengatakan bahwa sebelum masyarakat Batur pindah ke atas karena Gunung Batur mengalami erupsi di tahun 1926, wilayah Desa Batur sekarang dulunya merupakan wilayah Desa Kintamani. Rasanya hal itu benar karena bisa dibilang Desa Batur berada di tengah-tengah wilayah Desa Kintamani. Jika saya hendak pergi ke pusat desa, pasti melewati Desa Batur. Itulah yang menyebabkan saya sering kali dapat memperhatikan jejaitan orang Batur di sepanjang jalan raya. Bentuknya tidak biasa, sangat unik, dan tidak ada daerah lain yang bisa menyamai.

Saya melihat jaitan di Batur mengandung aura tersendiri. Spirit itu menjadikan jejaitan orang Batur unik dan berbeda dengan jejaitan daerah lain. Saya beberapa kali dengan sengaja mendokumentasikan jaitan yang saya lihat di Pura Batur saat tangkil. Bentuknya tampak bagus dan cocok untuk ditiru. Namun, taksu jaitan saya tidak pernah sama seperti jaitan orang Batur meskipun bentuk tuesan dan reringkitan-nya sama persis.

Saya sering mengamati orang lain yang berasal dari luar Desa Batur mencoba meniru canang Batur yang berupa sampian sodan besar. Namun, tetap saja taksu-nya tidak sama seperti jaitan orang Batur. Hal ini selalu membuat saya bertanya-tanya, apa yang menyebabkan jaitan canang di Batur tidak ada yang menandingi? Apakah masyarakat Batur mendapat anugerah khusus dari Ida Bhatari? Pertanyaan itu pada akhirnya terjawab, ketika ada salah seorang teman dari Batur menceritakan kepada saya bahwa di Batur ada pura khusus yang difungsikan masyarakat Batur untuk nunas panugrahan (memohon anugerah) jika hendak belajar majejaitan. Saya pun tertarik untuk sembahyang ke sana, berharap dengan sembahyang ke sana hasil karya saya akan menjadi lebih mataksu dan tentu dagangan saya akan semakin laris. Sayangnya, teman saya ini hanya tahu sepintas, tidak secara detail tahu pura apa dan di mana lokasinya. Pada akhirnya saya mencoba bertanya dengan teman lain yang berasal dari Batur. Jawabannya cukup mengejutkan, “Sing ya ada kéto. To bes nglebihin tutur adanané! (Tidak ada begituan. Itu hanya melebihkan cerita namanya!)”. Saya tersentak dan langsung menyudahi pertanyaan saya agar tidak dianggap terlalu berlebihan.

Rasa penasaran saya tidak berakhir sampai di sana. Suatu ketika saya bertanya lagi sembari mengobrol santai dengan teman Batur yang lain. Saya mendapatkan jawaban singkat, tetapi sangat memuaskan. Di Batur memang terdapat sebuah pura yang diyakini oleh masyarakat Batur sebagai tempat memohon anugerah bagi mereka yang ingin bersungguh-sungguh belajah majejaitan. Palinggih tersebut terdapat di Pura Sampian Wani yang berada satu kawasan dengan Pura Dalem Gede Desa Adat Batur. Ida Bhatara yang berstana di pura tersebut memiliki sebutan (abhiseka) Ida I Ratu Pangringkitan. Pujawalinya jatuh pada Puranama Sasih Kanem menurut perhitungan kalender Bali. Apabila ingin bersungguh-sungguh belajar dan memohon anugerah Beliau, saat sembahyang ke sana harus dilengkapi dengan sarana pisau, janur, semat, dan sebagainya. Demikian informasi yang saya peroleh.

Jika dilihat dari konteks nama puranya yang mengandung kata sampian ‘rangkaian janur yang digunakan sebagai pelengkap sarana persembahyangan’ maka pura ini sesungguhnya sudah sangat menjurus ke dunia majejaitan. Saya kira Ida I Ratu Pangringkitanlah yang dipercaya berstana di sana pasti memberikan anugerah luar biasa terhadap masyarakat Batur sehingga mampu menghasilkan reringkitan yang sangat mataksu. Namun, anugerah ini tentu tergantung dari bagaimana keyakinan si penerima taksu terhadap yang dipujanya.

Nah, pertanyaannya sekarang. Apakah hanya dengan sembahyang, berdoa, dan nunas taksu kita bisa langsung menjadi hebat? Saya kira hal itu tentu tidak akan terjadi jika kita tidak berusaha belajar dan senantiasa melatih diri dalam bidang apapun. Selayaknya gelas kosong, kemanapun ia pergi, ia akan tetap siap menampung air yang dirasa bermanfaat. Apabila sudah merasa penuh, hendaknya dibagikan kepada yang lain dan siap menerima air baru lagi. Demikian pula dalam dunia majejaitan. Selama kita masih menjadi perempyan Hindu Bali sejati, kita harus selalu siap mempelajari warisan leluhur. Setelah menguasari, kita hendaknya meneruskan atau membagikan pada anak-cucu kelak.

Pertanyaan terberat untuk dijawab dalam hal ini adalah apakah generasi berikutnya masih ada yang bersemangat belajar majejaitan? Apakah hanya segelintir yang sanggup, sehingga mereka yang majejaitan pada akhirnya menjadi spesies langka? Saya kira mari kita jaga dan lestarikan tradisi majejaitan itu sebagai wujud bakti kita terhadap leluhur.

====

*Tulisan ini adalah tulisan terpilih dalam program “Catatan Menuju Seabad Relokasi Batur” yang digelar Lingkar Studi Batur untuk memperingati HUT ke-3 tahun 2023 dan memperingati seabad peristiwa perpindahan Desa Adat Batur dari Desa Batur Let di kaki Gunung Batur menuju tempat saat ini. Tulisan ini juga akan terbit dalam buku berjudul Seabad Relokasi Batur yang saat ini dalam proses penerbitan.

**Perempuan asal Desa Kintamani. Ia adalah seorang guru dan sastrawan, khususnya sastra Bali modern. Gemar majejaitan dan aktif di Dewan Pimpinan Kabupaten Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia Kabupaten Bangli (DPK Peradah Indonesia Bangli).

Berita terkait