}} KPK Soroti Geliat Pariwisata hingga Pendidikan di Kintamani - Bebaturan.id

KPK Soroti Geliat Pariwisata hingga Pendidikan di Kintamani

Berita, Gatra Desa
Diskusi KPK

Sukawana, Bebaturan.id — Koalisi Peduli Kintamani (KPK), sebuah komunitas yang lahir dari kegelisahan dan kepedulian orang-orang lintas desa di Kecamatan Kintamani menyoroti berbagai dinamika yang tengah menghujam kecamatan dengan 48 desa ini.

Isu pariwisata hingga pendidikan disoroti, sembari merekomendasikan solusi mengurai persoalan tersebut. “Pariwisata di Kintamani adalah sebuah keniscayaan yang harus diterima dan direspons secara bijak oleh masyarakat,” kata praktisi pariwisata yang juga pemilik Pramana Zahill, Putu Widya Snicaya dalam diskusi publik edisi publik bertema “Meneropong Arah Pembangunan Kintamani Masa Depan” yang digelar KPK di K-Hometainment, Banjar Paketan, Desa Sukawana, Kintamani, Kamis, 1 Juni 2023.

Meneropong kondisi itu, maka pria asal Desa Batur ini sangat mendorong masyarakat untuk siap berhadapan dengan itu melalui peningkatan sumber daya manusia, sehingga tidak hanya menjadi penonton atau sekadar menjadi pekerja pariwisata di sektor manajemen bawah.

“Bagaimana kita meningkatkan sumber daya manusia, sehingga siap menjadi top management. Dengan demikian, kita tidak hanya sekadar menjadi penonton. Sudah harus ada SMK pariwisata di Kintamani untuk mendukung SDM kepariwisataan,” katanya dalam kegiatan yang dimoderatori Jero Penyarikan Duuran Batur itu.

Menyambung persoalan pendidikan, Ketua DPK Peradah Indonesia Bangli, I Nyoman Diana mengamati pemuda Kintamani sesungguhnya memiliki kualitas yang baik. Hanya saja pengembangannya ke depan perlu dikawal.

Akademisi di ITP Markandeya Bali ini mengatakan banyak sekolah di Kintamani saat ini kekurangan fasilitas dan tenaga pengajar. Bahkan, ada beberapa sekolah yang harus tutup karena kekurangan guru.

“Banyak sekolah yang fasilitasnya sangat kurang. Ada fasilitas komputer misalnya, tetapi tidak ada jaringan, sehingga tidak maksimal digunakan. Ada sekolah yang kekurangan guru, sehingga ditutup padahal sangat penting bagi kawasan tersebut,” kata dia.

Dalam konteks budaya, Jero Mangku Sabaraka yang adalah pengamat budaya Kintamani mengatakan bahwa Kintamani merupakan kawasan yang penting dalam percaturan sejarah Bali. Prasasti Bali Kuno dari masa Dinasti Singamandawa hingga Astasura Ratna Bumi Banten banyak ditemukan di Kintamani.

“Hampir 80 persen tinggalan prasasti Bali ditemukan di Bangli dan 65 persen di antaranya terdapat di Kintamani. Sementara, Sukawana adalah titik dari kebudayaan Bali tua, yang ditandai dengan keberadaan konsep Ulu Apadnya,” katanya.

Diskusi
Salah satu peserta diskusi KPK menyatakan pendapatnya tentang pendidikan.

Sayangnya, n kebudayaan Kintamani itu terkesan mengalami degradasi dan peminggiran, yang ditunjukkan melalui sejumlah narasi menyimpang yang ditemukan. “Misalnya Raja Jayapangus dalam banyak pemahaman masyarakat Bali kini lebih dikenal sebagai seorang yang menikahi putri China, Kang Cing We, berselingkuh dengan Dewi Danu, dan memiliki anak raksasa Maya Danawa. Ini narasi yang tidak ada dalam data prasasti dan seakan meminggirkan eksistensi dan penghormatan masyarakat atas jasa-jasa Raja Jayapangus di masa silam,” kata dia.

Dalam konteks hukum, Pendiri LBH Panarajon, Made Somya Putra mengingatkan perlunya kehati-hatian menyikapi dinamika Kintamani yang tengah berjalan pesat. Jangan sampai dimensi kapitilistik yang tengah menyerbu Kintamani mendegradasi dan meminggirkan orang Kintamani itu sendiri.

“Penjualan tanah di Kintamani saat ini sangat masif. Ketika kita gampang menjual tanah, maka akan sangat sulit membelinya kemudian. Ini tantangan kita ke depan. Belum lagi persoalan air. Saat ini kita tengah melawan sisi kapitalistik, yang dibawa pariwisata,” katanya.

Sedangkan, pada bidang pertanian, praktisi pertanian Wayan Darmayuda mengatakan bahwa Kintamani memiliki potensi yang sangat besar dikembangkan. Tiap desa memiliki peluang mengembangkan komoditas yang berbeda-beda sesuai dengan kontur geografisnya.

“Hampir 80 persen masyarakat Kintamani bertani. Tantangan hari ini di dunia pertanian adalah membentuk petani agar bisa mandiri. Perlu penguatan kelompok tani. Selain itu, perlu penerapan teknologi, akses pendampingan, permodalan, dan pasar bagi Kintamani,” katanya.

KPK hadir sebagai forum kritis mengawal pembangunan Bangli. Forum ini didukung oleh sejumlah organisasi dan komunitas. Pada diskusi seri perdana, kegiatan didukung oleh LBH Panarajon, DPK Peradah Indonesia Bangli, Lingkar Studi Batur, K-Hometainment, MSP Creative Team, dan Info Batur. Adapun diskusi direspons antusias oleh para peserta yang datang dari berbagai desa di Kintamani seperti Sukawana, Batur, Songan, Kintamani, Subaya, Belantih, Selulung, Pinggan, Belandingan, dan lain-lain. rls/red

___

Penulis: Redaksi

Foto: Maiva Utama

Editor: Carik Hulu

Berita terkait