BATUR – Bertepatan dengan Purnama Kapat, 10 Oktober 2022, Komunitas Lingkar Studi Batur merilis logo baru dan kanal website resmi, Bebaturan.id. Hadirnya logo baru diharap dapat memberi semangat baru dalam gerakan literasi di Batur. Harapan itu pun dikukuhkan melalui kehadiran website yang diproyeksi sebagai media informasi, edukasi, dan diskusi.
Koordinator Lingkar Studi Batur, Jero Penyarikan Duuran Batur (I Ketut Eriadi Ariana) menjelaskan Lingkar Studi Batur terbentuk pada 25 Desember 2020 di Titik Nol Desa Batur Kuno (Batur Let) di Kaldera Batur. Lingkar Studi Batur memfokuskan diri pada bidang literasi, khususnya terkait dengan warisan Batur sebagai media penghubung gagasan lelangit Batur ke generasi muda masa kini dan masa depan.
“Kami lahir dari kegelisahan atas kesenjangan pengetahuan para pendahulu kami, yang kami yakini mengandung kearifan untuk bisa direfleksikan di masa kini secara jernih. Dalam mewujudkan cita-cita itu, tahun ini kami melakukan langkah lebih konkret dengan merilis web resmi, Bebaturan.id, serta rebranding logo,” katanya.
Ia menyebut, kata “bebaturan” yang diambil sebagai nama kanal resmi komunitasnya secara harfiah memiliki arti sebagai ‘dasar’, kemudian berkembang menjadi ‘tempat suci’. “Kami lantas memaknai ‘bebaturan’ sebagai ruang untuk menguatkan diri sekaligus ruang diskusi untuk memperluas perspektif tentang warisan Batur,” katanya berharap ke depan komunitas dapat semakin guyub dan mampu memberi manfaat pada masyarakat luas.
Beragam Harapan
Kehadiran Bebaturan.id yang dikembangkan Lingkar Studi Batur mendapat beragam tanggapan dari beragam kalangan. Pamucuk Desa Adat Batur yang juga Pangemong Pura Ulun Danu Batur, Jero Gede Batur Duhuran, berharap bebaturan dapat menjadi media menyambung dan merefleksikan dresta-dresta kuna. Lingkar Studi Batur melalui Bebaturan.id pun diharap dapat menjadi ruang komunikasi yang konstruktif.
“Semoga dengan media ini bisa mengajegkan dresta Batur yang baik sebagai bentuk kearifan leluhur Batur, kemudian bercermin darinya,” katanya.
Harapan senada dinyatakan Perbekel Desa Batur Tengah, I Made Sasmika. Ke depan, bebaturan.id diharapkan dapat menjadi database peradaban Batur. Apresiasi pun disampaikan karena website tersebut digerakkan oleh para anak muda. “Saya sangat dan pasti dukung hal seperti ini. Sudah saatnya kembali memasyarakatkan peradaban Batur biar semakin dikenal,” kata dia.
Tanggapan lainnya dinyatakan oleh sastrawan yang juga founder kanal jurnalisme warga, Tatkala.co, Made Adnyana ‘Ole’. Ia berharap bebaturan.id dapat mengalirkan “kejernihan” sebagaimana tagline Bebaturan.id, “Aliran Kejernihan”
“Aliran kejernihan bisa datang dari segala penjuru, juga bisa datang dari Batur. Bahkan saya percaya, aliran yang meluncur dari batu gunung, pasir tanah, dan air danau–sebagaimana sumber-sumber kehidupan yang dimiliki Batur–adalah aliran yang bukan hanya jernih, melainkan juga nyaring,” kata dia.
Adnyana ‘Ole’ pun meyakini Lingkar Studi Batur dapat mengelola “suara nyaring” yang dimaksud. “Saya pikir akan mengelola suara-suara yang nyaring itu agar terdengar memenuhi semesta. Selamat, Bebaturan.id,” katanya.
Pandangan tidak jauh berbeda dinyatakan, akademisi Universitas Udayana, Gede Kamajaya. Ia mengingatkan bahwa menulis adalah pekerjaan untuk kewajiban. “Lebih-lebih menulis jejak peradaban panjang menyoal Batur. Ia harus terus ‘dialirkan’ layaknya rembesan Danau Batur, hidup dan mengakar dalam ritus di banyak desa di Bali,” kata dia.
Akademisi asal Buleleng Timur ini pun turut menggantungkan harap Bebaturan.id dapat menjadi wahana literasi bagi kalangan muda. “Sebagai pribadi yang punya keterpautan erat dengan Batur sebagai tanah kelahiran, di lain kesempatan saya ingin menjadi bagian kecil yang turut menyaksikan dan jadi pelaku aliran-aliran pengetahuan itu,” katanya.











