}} Lontar Pura Bendesa Kubayan Batur Dikonservasi ULU - Bebaturan.id

Lontar Pura Bendesa Kubayan Batur Dikonservasi ULU

Batur Matangi, Gatra Desa
Lontar milik Bendesa Kubayan Batur.

BATUR – Unit Lontar Universitas Udayana (ULU) melaksanakan kegiatan konservasi dan digitalisasi naskah lontar milik keluarga besar Bendesa Kubayan Batut pada Kamis, 23 November 2023. Lontar yang mengalami beberapa kerusakan itu bergenre lontar babad yang menarasikan sejarah keluarga.

Panglingsir Warga Bandesa Kubayan Batur, Guru Wayan Kridit, mengatakan lontar tersebut sebagai penanda dan pengikat keluarga besarnya. Dituturkan bahwa Bendesa Kubayan Batur merupakan salah satu keluarga (klan) yang ada di Desa Adat Batur, di mana leluhurnya terdahulu pernah menjabat sebagai kubayan, yakni pemimpin desa di era Bali Kuna. “Kubayan itu jika diba ke saat ini sepadan dengan kepala desa atau bendesa adat,” katanya.

Guru Kridit menjelaskan bahwa saat keluarga besarnya telah berjumlah 113 kepala keluarga. “Selain itu, juga ada yang berada di luar Desa Adat Batur, dibuktikan dengan beberapa orang yang sempat datang ke kami karena petunjuk spiritual dan menyatakan bahwa mereka berasal dari Batur (keluarga kami, red),” katanya.

Lontar tersebut selama ini memang sangat disakralkan. Lontar hanya diturunkan ketika ada upacara-upacara tertentu. “Oleh karena itulah sekarang yang kebetulan kami sedang melakukan renovasi pura, kami meminta bantuan dari ULU untuk turun meneliti, konservasi, dan medokumentasikannya. Harapannya, nanti informasi yang tersurat di lontar bisa kami pelajari untuk masa depan. Selain itu juga untuk melindungi warisan leluhur kami ini,” kata dia.

Mewakili keluarga besar Guru Kridit mengucapkan terima kasih atas partisipasi ULU dalam merawat warisan keluarga. “Terima kasih pada Universitas Udayana. Ke depan program seperti ini harus terus dilanjutkan agar warisan budaya kita tetap lestari,” katanya.

Sekretaris ULU, Putu Eka Guna Yasa, S.S., M.Hum., yang memimpin pelaksanaan konservasi menjelaskan lontar tersebut tersimpan di dalam sebuah keropak. Lembar lontar sebanyak 18 lembar dan dua buah sampul (depan-belakang). Masing-masing sampul berupa dua buah lontar yang disatukan. Dari 18 lembar tersebut, 17 lembar di antaranya menjelaskan narasi tentang sejarah keluarga sedangkan selembar lainnya berisi rerajahan kajang (gambar sakral untuk kematian).

“Kerusakan terjadi akibat faktor usia, di samping kondisi cuaca yang lembab dan penanganan yang tidak tepat oleh pemilik, misalnya ketika mengupacarai terkena air atau ada benda organik seperti bunga yang dibiarkan tetap di dalam.lontar,” katanya.

Akibatnya, kerusakan ditemukan pada bagian depan lontar. Meskipun sampul depan dibuat dari penyatuan dua buah lontar, tetapi sampul itu tampak aus dan patah menjadi dia bagian. Bahkan ada bagian yang hilang.

Pada bagian isi, kerusakan terjadi pada sejumlah halaman, di mana yang paling parah adalah halaman pertama dan kedua. Beberapa bagian lontar aus, sehingga mengaburkan aksara. Sementara, selain mengalami aus, halaman pertama lontar tersebut juga patah menjadi tiga bagian. Hal yang sama juga terjadi pada halaman ketiga yang mengalami aus dan patah menjadi dua bagian.

“Beruntung setelah kami coba identifikasi, aksaranya masih relatif bisa terbaca, sehingga untuk penyikapan lebih jauh, seperti pembacaan dan pengkajian bisa dilakukan,” kata akademisi Prodi Sastra Bali FIB Unud ini.

Naskah selanjutnya dikonservasi dengan membersihkan debunya serta mengoleskan cairan khusus. Digitalisasi juga dilakukan untuk menyelamatkan lontar. “Kami kemudian membersihkan naskah tersebut dengan cairan minyak sereh dan arang kemiri. Selain itu, sesuai permintaan pemilik lontar kami juga melakukan digitalisasi,” katanya.

—-

Penulis/Penyunting: Carik Hulu

Foto: Pura Bendesa Kubayan Batur

Berita terkait