BATUR – Naskah sakral, Rajapurana Pura Ulun Danu Batur, yang tersimpan di Pura Ulun Danu Batur, Desa Adat Batur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, dikonservasi pada Jumat, 20-21 September 2024. Konservasi terhadap naskah-naskah tersebut dilaksanakan setelah 45 tahun dibaca dan dialih aksara oleh Museum Bali pada tahun 1979 silam.
Konservasi terhadap naskah lontar Rajapurana Pura Ulun Danu Batur dilaksanakan oleh masyarakat adat Batur sebagai pangemong Pura Ulun Danu Batur dengan menghadirkan Tim Konservasi dan Digitalisasi Unit Lontar Universitas Udayana (ULU). Konservasi dan digitalisasi dilaksankaan di Utama Mandala Pura Ulun Danu Batur yang turut dihadiri oleh Tim Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XV.
Konservasi dan digitalisasi dilakukan mengingat kondisi lontar yang sudah berusia. Kondisi-kondisi yang berpeluang merusak lontar, seperti lontar yang lembab dan berjamur juga menjadi perhatian khusus untuk memperpanjang usia lontar.
Mengingat posisi Rajapurana Batur sebagai naskah suci, pelaksanaan konservasi dimuai dengan pelaksanaan ritual penurunkan lontar dari tempat simpannya. Selanjutnya, dipersembahkan upacara matur piuning dan mensetanakan sementara Ida Bhatara Rajapurana dalam tapakan, sehingga pralingganya dalam bentuk lontar bisa dikonservasi. Selain itu, seluruh peserta konservasi dan digitalisasi terlebih dahulu melakukan upacara prayascita, demikian pula alat-alat yang digunakan terlebih dahulu disucikan melalui prayascita.
Sekretaris ULU, Putu Eka Guna Yasa, S.S., M.Hum., mengatakan pada momentum tersebut pihaknya mengerahkan sekitar 30 orang, yang terdiri atas 4 dosen dari Prodi Sastra Bali dan Prodi Sastra Jawa Kuno Universitas Udayana, 3 staf ULU, dan belasan mahasiswa dan alumni Prodi Sastra Bali dan Prodi Sastra Jawa Kuno Universitas Udayana.
“Tim ULU mendapatkan kesempatan yang luar biasa untuk berpartisipasi dalam usaha ngodak_atau mengkonservasi dan mendigitalisasi Rajapurana Pura Ulun Danu Batur. Korpus naskah ini merupakan salah satu warisan berharga Bali tentang tatanan peradaban gunung, siklus hidrologi, teologi, dan kemasyarakaran hulu Bali, yaitu Batur,” kata Guna Yasa.
Ia menjelaskan, pengerjaan konservasi lontar juga dibantu oleh mahasiswa Sastra Bali dan Jawa Kuno yang sebelumnya telah mendapatkan teori dan praktik konservasi lontar. Ini adalah kesempatan berharga untuk “ngayah” sekaligus “malajah” bagi mahasiswa.
“Tim ULU yang mendigitalisasi naskah ini juga telah berpengalaman dalam berbagai proses digitalisasi naskah di seluruh Bali. Dengan kecanggihan teknologi, korpus naskah sebagai candi pengetahuan para leluhur akan mengabadi,” kata dia.
Sementara itu, Jero Penyarikan Duuran Batur, seizin Jero Gede Batur dan didampingi Kasinoman Desa Adat Batur mengucapkan terima kasih atas peran serta ULU dalam melakukan konservasi dan digitalisasi naskah lontar Rajapurana Batur. Ia mengaskan bahwa Rajapurana Batur terdiri atas 13 cakep naskah lontar yang berisi berbagai macam wacana.
“Rajapurana Batur pernah dikonservasi dan dibaca pada tahun 1979 oleh Tim dari Museum Bali. Setelah itu tidak pernah lagi dilakukan konservasi. Pembacaan terakhir dilakukan tahun 2016 untuk kepentingan ritual Munggah Makraman,” katanya.
Ia menegaskan bahwa naskah Rajapurana Batur sangat disakralkan oleh masyarakat. Pustaka tersebut selalu “tedun” menyertai upacara-upacara di Pura Ulun Danu. “Namun, untuk pembacaan memang tidak boleh sembarangan. Oleh karena persoalan itu pula beberapa fisik naskah mengalami kondisi yang cukup mengkhawatirkan, sehingga kami putuskan untuk bersurat ke ULI guna memohon tindakan konservasi,” katanya.
Beruntung, setelah dilakukan konservasi seluruh naskah bisa pulih kembali. “Rajapurana Pura Ulun Danu Batur terdiri dari 13 cakep yang merupakan rekaman kebudayaan kami, baik berupa pengingat ketetapan adat (pangeling-eling), tatanan upacara, maupun kisah-kisah mitologis. Di dalam lontar-lontar tersebut terekam pengetahuan tentang etnohidrologi, etnoagrikultur (subak), filosofis, hingga teologi orang Batur. Oleh karena itulah sangat penting untuk diselamatkan untuk generasi ke depan,” kata dia.
___
Penulis: Redaksi
Foto: Proses konservasi lontar Rajapurana Pura Ulun Danu Batur, Jumat, 20 September 2024 (Tim Dokumentasi BPK Wilayah XV).











