}} Membaca Batur dalam Mantra-mantra: Relasi Air Suci, Pemurnian, hingga Pelepas Kutuk* - Bebaturan.id

Membaca Batur dalam Mantra-mantra: Relasi Air Suci, Pemurnian, hingga Pelepas Kutuk*

Pasuara
Manuskrip.

Oleh Pande Putu Abdi Jaya Prawira**

Foto: Ilustrasi manuskrip lontar (Jero Penyarikan Duuran Batur).

========================

Batur dalam Mantra

Mantra adalah objek yang sangat umum ditemukan dalam naskah lontar. Kalimat awal yang ditulis setiap mengawali tulisan lontar pun umumnya adalah “(Om) Awighnamastu” yang merupakan mantra sebagai bentuk izin dan permohonan agar bebas dari segala halangan. Keberadaan mantra sering dijumpai dalam kegiatan keagamaan, khususnya yang bertalian dengan Agama Hindu sebagai agama yang dominan dianut masyarakat di Bali.

Mantra memiliki makna dan maksud pengucapan yakni untuk mencapai kebebasan; memuja manifestasi Tuhan Yang Maha Esa; memuja dan berkomunikasi kepada para dewa dan roh; mencegah serta mengusir roh-roh jahat, penyakit, dan pengaruh negatif; memberi pengaruh lain terhadap pikiran dan perbuatan; serta menyucikan badan manusia (Majumdar dalam Titib, 2001: 465). Sebuah mantra umumnya menegaskan aksara-aksara suci atau mistik, nama-nama dewa maupun entitas lain, tempat suci, tujuan atau harapan.

Seperti halnya Gunung Agung, Batur acapkali disebut dalam berbagai mantra. Kedua kata tersebut dijadikan pula sebagai nama bhatara, sehingga konstruksinya menjadi Ida Bhatara ring Batur maupun Ida Bhatara sakeng Batur. Alternatif lainnya adalah nama Ida Bhatara ring Gunung Lebah, yang mana Gunung Lebah merupakan satu dari sekian banyak julukan Gunung Batur.  Ida Bhatara ring Batur dalam sejumlah teks mantra kerap dipuja bersamaan dengan Bhatara ring Gunung Agung maupun dengan dewa lainnya. Hal itu sebenarnya tidak mengherankan, sebab kedua gunung itu memiliki makna filosofis yang sangat kuat bagi masyarakat Bali.

Seorang pemangku dalam teks Kusumadewa melalui sebuah seha[1] memohon berkenannya Ida Bhatara di Gunung Lebah untuk menganugerahkan air suci. Kutipan mantra tersebut menyebut, “Asung sěrdah dewa sakti, malingga maring Gunung Agung, Gunung Lěbah, dewa sami ngamijilang tirtha pabêrsihan, danu trěběsan tělaga waja panglukatan gunung manik tagěl siku ring sagara…”. Melalui air suci itu, seorang pemangku memohon anugerah bhatara untuk melebur segala kekotoran dari persembahan manusia. Menurut kutipan tersebut dapat diperhatikan ungkapan bila dewa-dewa tersebut memunculkan air suci sebagai pembersihan, danau, rembesan, telaga waja, dan panglukatan dari gunung manik tagel siku serta laut.

Sebuah mantra pada teks yang sama juga menyebut nama Gunung Batur, yakni pada saat memohon para dewa agar turun dan ikut menyaksikan upacara yang sedang berlangsung. Kutipan mantra itu menyebut, “paduka dewa sasuhunan agung, malinggih ring Jambudwipa, ring pucak ing Giri Kěncana Manik, tumurun maring Bali, malinggih ring Gunung Agung, Gunung Batur, mangke tumurun ring kahyangan iki”. Kutipan mantra tersebut menyampaikan jika dewata yang agung (sasuhunan agung) yang berstana di Jambudwipa turun ke Bali dan berstana di Gunung Agung dan Gunung Batur. Konsep yang sama dengan disebutkan dalam tutur-tutur dan babad. Berikutnya, dari sana pemangku mengharapkan dewa agar berkenan turun ke pura atau tempat suci yang sedang menyelenggarakan upacara tersebut.

Tujuan pemujaan dewa di Gunung Agung dan Gunung Batur dalam mantra ini rupanya masih untuk memohon air suci yang muncul dari pradana-purusa kedua dewa ini, sehingga dapat menghidupi seluruh alam, menghilangkan penyakit dan halangan, segala kesengsaraan, dosa, dan kekotoran. Mantra ini pun menempatkan Gunung Agung dan Gunung Batur sebagai dualisme: Gunung Agung sebagai purusa dan Batur sebagai pradana[2].

 

Mlaspas: Mohon Anugerah dari Batur

Tidak hanya untuk upacara di pura, melalui sebuah mantra bhatara di Batur juga dimohonkan kehadirannya untuk memberikan anugerah untuk bangunan yang baru diresmikan dalam upacara pamlaspasan[3]. Mlaspas sendiri adalah upacara yang wajib dijalankan bagi pemilik rumah yang baru saja membangun atau memperbaiki bangunannya.

Mantra untuk mlaspas tercantum dalam lontar Tutur Wiswakarma atau Wiswakarma Tatwa. Mantra yang disebut dapat digunakan untuk mlaspas balai, sanggar, lumbung, tempat suci, dan segala bangunan. Pada mantra itu kembali menampilkan nama Ida Bhatara sakeng Gunung Lebah (Bhatara dari Gunung Lebah) yang sebelumnya didahului dengan menyebut Bhatara sakeng Majapahit dan Bhatara sakeng Gunung Agung. Selain itu, ada sejumlah nama bhatara yang ikut disebut seperti Bhatara sakeng Puseh, Dalem, dan Sedahan Panyarikan.

Bila mantra ini disimak, dapat ditemukan dengan jelas jika mantra ini berisi keinginan dari sang perapal yang memohon air suci guna menyucikan atau menghidupkan bangunan, serta agar energi negatif tidak mengganggu sang pemilik bangunan (apang sampun amigranin ring sang adruwe papayonan). Berikutnya sembilan dewa penjaga penjuru arah mata angin dimohonkan untuk memberi anugerah atau kestabilan, dan terakhir semua bagian bangunan itu disepadankan dengan bagian pohon yang masih hidup, misalnya tiang adalah batang dan atap adalah daun.

Mantra untuk mlaspas itu membuktikan bila bhatara di Gunung Lebah tidak hanya memberi kemakmuran kepada manusia melalui persawahan, lebih jauh dari itu beliau juga diharapkan memberi anugerah dan perlindungannya kepada orang yang melakukan penyucian bangunan. Melalui permohonan tersebut, manusia mengharapkan agar bangunan memiliki jiwa, bersih dari segala kekotoran rohani, serta memberi kestabilan hidup pada penghuni yang secara tidak langsung akan mendatangkan kenyamanan, kemakmuran, dan rezeki sesuai dengan manifestasi Bhatara di Gunung Lebah yang merupakan poros kemakmuran Bali.

 

Bhatara Batur Menghapus Kutukan

Bhatara Batur dalam teks mantra lain juga memberi anugerah untuk menghapus cela akibat sumpah. Sebuah teks mantra yang berfungsi untuk penyucian diri bagi orang yang terkena kutukan mencantumkan nama sejumlah dewa guna melepas derita akibat kutuk tersebut. Mantra yang dimaksud adalah Mantra Panglukatan Lebur Prasangsa. Mantra ini dapat ditemukan dalam Tutur Lebur Gangsa dan Panglukatan Kaputusan Sang Hyang Taya.

Mantra panglukatan[4] ini merinci sejumlah neraka yang dialami oleh arwah leluhur, serta tempat untuk memurnikannya di dalam tubuh. Disebutkan pula sejumlah kutukan yang berasal dari sumber berbeda-beda. Kutukan-kutukan (upata upadrawa) ini dapat mendatangkan kemalangan bagi hidup manusia. Tentu saja tidak ada manusia yang ingin hidup di balik bayang-bayang kutukan, baik atas kesalahan yang dilakukannya di kehidupan saat ini, maupun akibat karma yang pernah dilewati pada kehidupan sebelumnya. Oleh sebab itu, kutukan dari berbagai sumber tersebut dimurnikan melalui mantra ini.

Ada lima sumber kutukan dan dewa yang dimohon untuk pemurniannya disebut dalam mantra ini. Kutukan akibat cor[5] dimurnikan oleh dewa di Cungkub, kutukan akibat orang tua dimurnikan oleh dewa di Puseh, kutukan dari Adiguru dimurnikan oleh dewa di Panataran, kutukan dari leluhur dimurnikan oleh dewa di Batur, kutukan akibat segala besarnya kesalahan dunia dimurnikan oleh Bhatara Siwa bersama Bhatara Surya.

Dewa di Batur yang dimohonkan untuk melebur petaka akibat kutukan leluhur memiliki dua intepretasi. Orang pastinya langsung terbayang pada Pura Ulun Danu Batur ketika mendengar atau membaca mantra ini, tetapi Pura Batur pun dapat merujuk tempat pemuliaan khusus untuk leluhur keluarga tertentu. Istilah nama Pura Batur untuk pemujaan leluhur ini umum ditemukan di wilayah Bali selatan. Baik dimaksudkan sebagai Ulun Danu, maupun sebagai pura leluhur, dewa di Batur dalam mantra tersebut merupakan pemberi ruwatan.

Persamaan antara Batur sebagai Ulun Danu dan sebagai pura leluhur adalah keduanya sama-sama menjadi sumber awal kehidupan manusia. Bila Ulun Danu menjadi titik awal peradaban manusia Bali karena aliran airnya, maka Batur Kawitan menjadi titik awal peradaban manusia Bali melalui tetes sukla (air mani) yang menjelma menjadi napas bagi manusia. Maka dengan ini kutukan dari leluhur atau dari asal mula pemberi hidup dapat dimurnikan bila permohonan itu ditujukan kepadanya lagi dan diperkenankan pula olehnya.

 

Relasi Air Suci

Eksistensi mantra-mantra yang berkaitan dengan Gunung Batur sebagaimana dinyatakan di depan menunjukkan adanya keterkaitan Batur dan kehidupan manusia Bali. Mantra-mantra itu adalah cerminan bagaimana Gunung Batur atau Gunung Lebah dan dewata yang dipuja di baliknya selalu erat kaitannya dengan air suci, pemurnian diri, pelebur kotoran serta pemberi kemakmuran umat manusia Bali. Secara faktual, pemaknaan itu didukung dengan adanya sebelas mata air suci di kawasan Batur, yakni Tirta Telaga Waja, Tirta Danu Gadang, Tirta Danu Kuning, Tirta Bantang Anyud, Tirta Palisan, Tirta Mangening, Tirta Pura Jati, Tirta Rejeng Anyar, Tirta Toya Bungkah, Tirta Mas Mampeh, dan Tirta Prapen.

 

Daftar Referensi

Anandakusuma, Sri Reshi. 2010. Kusuma Dewa. Denpasar: Dharma Pura.

Oka Supartha, Ngurah. 1993. Karya Panca Walikrama di Danau Batur Sadhana Nyegjegang Bhatari Danuh. Besakih: Panitia Pelaksana Karya Agung Candi Narmada, Panca Walikrama ring Sagara Danu, Tribhwana dan Bhatara Turun Kabeh Pura Agung Besakih.

Suarka, I Nyoman dkk. 2005. Kajian Naskah Lontar Siwagama 2. Denpasar: Dinas          Kebudayaan Provinsi Bali

Titib, I Made. 2001. Teologi dan Simbol-simbol dalam Agama Hindu. Surabaya: Paramita.

Zoetmulder. 1995. Kamus Bahasa Jawa Kuna Indonesia (Penerjemah Darusuprapto, S. Suprayitno). Jakarta: Gramedia      Pustaka Utama.

 

Manuskrip

Panglukatan Kaputusan Sang Hyang Taya (Koleksi pribadi)

Tutur Lebur Gangsa (Koleksi Pusat Dokumentasi Kebudayaan Bali, Denpasar)

Wiswakarma (Koleksi Wiswakarma Museum, Batubulan, Gianyar).

 

Catatan Kaki

[1] Doa berupa ungkapan dalam bahasa sederhana atau sehari-hari.

[2] Purusa dan pradana adalah unsur maskulin dan feminim, juga bisa sebagai unsur kejiwaan dan unsur kebendaan. Keduanya selalu berdampingan.

[3] Ritual untuk menyucikan dan menghidupkan secara rohani bangunan yang sudah rampung dikerjakan.

[4] Prosesi pembersihan diri dengan sarana air yang sudah diberi mantra-mantra. Air suci itu umumnya juga dipercikkan dengan mantra, diminum dan dipakai mengguyur orang yang menjalani prosesi tersebut.

[5] Semacam sumpah yang dilakukan pada masa lampau, biasanya dijadikan sebagai alat bukti di pengadilan. Akibat buruk sumpah ini dipercayai akan ditanggung sampai tujuh keturunan bagi orang yang tidak jujur saat melakukan persumpahan.

 

=====

*Tulisan ini adalah tulisan terpilih dalam program “Catatan Menuju Seabad Relokasi Batur” yang digelar Lingkar Studi Batur untuk memperingati HUT ke-3 tahun 2023 dan memperingati seabad peristiwa perpindahan Desa Adat Batur dari Desa Batur Let di kaki Gunung Batur menuju tempat saat ini. Tulisan ini juga akan terbit dalam buku berjudul Seabad Relokasi Batur yang saat ini dalam proses penerbitan.

**Penulis adalah pencinta lontar, jurnalis, peneliti, dan penulis asal Tulikup, Gianyar. Lulusan Prodi Sastra Jawa Kuna Universitas Udayan dan saat ini tengah menyelesaikan studi magister di Program Studi Linguistik Program Magister, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana.

Berita terkait