}} Memupuk Harmoni Ubud dan Batur (Catatan menyongsong Pelebon Dane Jero Gede Batur Alitan) - Bebaturan.id

Memupuk Harmoni Ubud dan Batur (Catatan menyongsong Pelebon Dane Jero Gede Batur Alitan)

Pakraman, Pasuara

Oleh Cokorda Gde Bayu Putra (Puri Anyar Ubud/Akademisi UNHI Denpasar)

Foto: Arak-arakan penyambutan Patulangan Kaang (Cokorda Gde Bayu Putra).

Penyunting: Carik Hulu

========================

Mendengar Kabar di Pagi hari

Pagi hari tanggal 6 Januari 2025 pukul 07.35 WITA di tengah perjalanan menuju Rumah Sakit Mata Bali Mandara, telepon genggam saya bergetar. Terlihat di layar ada panggilan masuk dari Jero Penyarikan Duuran Batur. Saya pun memberhentikan motor di tepi Jalan Raya Lodtunduh yang sedang ramai pagi itu. Jero Penyarikan Duuran Batur mengabarkan bahwa Dane Jero Gde Batur Alitan sampun lebar. Sungguh mengejutkan baru seminggu yang lalu dalam sebuah pertemuan di kawasan Renon Denpasar, saya berjumpa dengan Bapak Wayan Absir–asal Batur yang memberi tahu bahwa Dane sedang dirawat di Rumah Sakit Puri Raharja Denpasar. Di tengah perjalanan pagi itu, saya merenung kenapa kepulangan Dane Jero Gede Batur Alitan bertepatan di tengah persiapan menyambut Karya Agung di Pura Gunung Lebah Ubud. Baru saja sehari sebelumnya 5 Januari 2025, Panglingsir Puri Agung Ubud bersama keluarga Puri, Subak Dam Ubud, dan Desa Adat Ubud mengundang para Prajuru Desa Adat amunduk Gunung Lebah untuk membahas perencanaan Karya Agung yang puncaknya akan dilaksanakan pada 12 Februari 2025. Memang takdir yang ada di bawah langit bumi tidak ada yang tahu dan Tuhan punya kuasa menentukan cerita zaman.

Setelah tiba di Rumah Sakit Mata Bali Mandara dan sebelum memasuki ruang Unit Gawat Darurat, saya menelpon Tjokorda Gde Dharmaputra Sukawati untuk menanyakan perihal kabar kepulangan Jero Gede Batur Alitan. Sosok yang akrab dipanggil Tjok Piko tersebut merupakan putra tertua Prof. Tjok Ace yang saya ketahui memiliki kedekatan batin dengan Ida Bhatari Batur. Bagi saya, Tjok Piko merupakan rekan diskusi yang produktif jika membahas urusan sejarah dan kebiasaan masa lalu. Ia turut membantu memberikan banyak kemudahan bagi saya tatkala melaksanakan penelitian lapangan saat studi yang lalu. Dari kontak telepon waktu itu, Tjok Piko juga telah mendengar kabar duka dari Batur sejak pukul 05.00 WITA sebelumnya. Ia lantas memberi tahu bahwa saat ini dirinya sedang bergegas menuju Puri Saren Agung Ubud untuk menyambut kedatangan para tetua Batur. Salah seorang pamangku Pura Ulun Danu Batur–Jero Mangku Dibia memberikan kabar kepada Tjok Piko bahwa rombongan sedang dalam perjalanan menuju Puri Agung Ubud. Saya menduga kemungkinan ada pesan khusus mendiang yang barus disampaikan kepada Panglingsir Puri Agung Ubud-Tjokorda Gde Putra Sukawati.

Pada kesempatan terpisah sembari menunggu penukaran resep Obat, saya juga menyempatkan memberi kabar via telepon kepada Tjokorda Raka Kerthyasa–Panglingsir Desa Adat Ubud tentang berita kepulangan Dane dan juga melakukan kontak via Whatsapp dengan Prof. Tjokorda Gde Raka Sukawati–seorang Guru Besar Bidang Ilmu Manajemen di Universitas Udayana yang saya panggil dengan nama “Kopang De”. Saya meyakini bahwa kabar kedatangan para tetua batur akan ada kaitanya dengan persiapan sarana pelebon. Betul saja, usut punya usut ternyata pangrauh para paduluan dari Batur konon selain memberi kabar berpulangnya Dane Jero Gede Batur Alitan, juga memohon petunjuk terkait pamargi Pelebon sesuai dengan pesan Dane Jero Gde Batur Alitan.

Pukul 10.30 WITA para tetua dari Batur memasuki plataran Ancak Saji Puri Agung Ubud, melewati semanggen dan menuju areal Rangki. Di pendopo Gedong Betel telah menyambut Tjok Piko, Tjok Agung Ichiro Sukawati, Prof. Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati yang mendampingi Panglingsir Puri Agung Ubud. Keluarga Puri menyampaikan duka cita yang mendalam atas berpulangnya tokoh karismatik Bali–Dane Jero Gede Batur Alitan. Beliau tidak saja dekat dengan keluarga Puri Ubud, namun juga erat hubungannya dengan masyarakat adat dan subak di belahan Bali. Kedekatan Puri Ubud bersama almarhum tidaklah hari ini namun telah terjalin sejak bertahun-tahun di masa lampau. Beberapa catatan dan arsip keluarga Puri menguraikan kedekatan Dane Jero Gede Batur makalihan dengan Ida Raja Dewata Tjokorda Gde Agung Sukawati dan Ida Raja Dewata Tjokorda Gde Agung Suyasa. Tidak saja perjumpaan di medan ritus namun juga dalam gerakan pemajuan keuamatan lewat pendirian Pura Mandara Giri Semeru Agung silam. Pagi hari di Puri Agung Ubud kala itu, akhirnya Panglingsir Puri yang juga pangempon Pura Gunung Lebah Campuhan Ubud memutuskan untuk mempersembahkan satu buah bade dan satu buah petulangan sebagai bentuk penghormatan terhadap salampah laku almarhum. Pengerjaan sarana pelebon tersebut dikomandoi oleh Prof. Tjokorda Gde Raka Sukawati bersama seniman dan undagi Ubud lainnya serta berkolaborasi dengan dengan seniman dan undagi dari Batur.

 

“Ritus, Pura, dan Desa” – Ingatan dari Sang Lebar

            Kabar kepulangan Palinggih Dane Jero Gede Batur Alitan sontak terekspos luas di beberapa WhatsApp Group dan akun-akun media sosial. Sejak dari pagi saya mengikuti bagaimana publikasi masyarakat tentang kabar kepulangan Sang Pengabdi ini. Dari dalam kamar seorang diri sembari istirahat melakukan pemulihan, saya memantau perkembangan kepulangan layon Dane lewat media sosial. Siang hari saya mengikuti live akun info batur yang menyiarkan bagaimana ambulance yang mengantar layon Dane telah tiba di Batur dan disambut haru ribuan warga. Para pemangku, jero kraman, tetua, yowana dan masyarakat Batur tumpah ruah ke jalan menyambut ambulance yang berjalan pelan menuju Purian. Pagi harinya dari beberapa informasi konon berita lebarnya Dane disambut oleh kulkul bulus di beberapa titik di Batur. Masyarakat Batur larut dalam duka serta mengawal layon Dane dan alunan gamelan pun turut mengiringi perjalanan layon menuju Purian yang letaknya di Jaba Pura Ulun Danu Batur. Dane Jero Gede Batur tidak saja pamucuk Pura yang dihormati dan dituakan, namun juga pendoa yang intens merawat solidaritas subak dan desa – Pasihan Ida Bhatari Batur.

Masyarakat yang terpanggil mendekat dalam iringan mamendak layon Dane bagi saya menandakan bagaimana sejatinya figur penting Bali ini dihormati dan disegani dalam bentang panjang pengabdiannya pada Pura dan Desa di Batur. Tanggal 29 September 2020 yang lalu di sebuah kesempatan, saya sempat menemui Dane di kediamannya di Jalan Nangka Denpasar. Saat itu saya sedang melaksanakan proses riset untuk mendalami bagaimana sejatinya makna dibalik kesadaran pelaku peristiwa memainkan praktik akuntabilitas keuangan pada Ngusaba Kadasa di Pura Ulun Danu Batur. Kala itu saya ditemani salah satu wargi – Gede Agus Krisna Dwipayana dan telah menunggu untuk mendampingi Dane saat itu satu Guru Karaman yaitu Guru Wayan Asta. Di tengah kondisi kesehatan yang kurang fit, Dane sempat menceritakan bahwa perjalanannya menjadi seorang Jero Gede dimulai dari proses Nyanjan yang dilakukan setelah Dane Jero Gede Batur Alitan yang sebelumnya lebar dan sampun maraga Raja Bhatara. Saat itu beliau mengingatnya pada Bulan September Tahun 1958. Dane Jero Gede mengenang bahwa cobaan dan ujiannya menjadi Jero Gede tidaklah mudah. Ditengah situasi Desa yang kurang kondusif, Dane bersama dengan para tetua pageh untuk berupaya menyatukan desa dan masyarakatnya. Baginya seluruh daya upaya dilakukan sembari berserah kepada Ida Bhatari Batur agar memberikan jalan di setiap langkah pengabdian. Dane menyerukan bahwa salampah lakunya tidak semata menjalankan warisan tradisi sebagai bentuk penghormatan pada Ida Bhatari namun juga dimotivasi dari tekad yang kuat agar Pura dapat tertata dan dirawat dengan baik, ritual upacara tetap dapat dijalankan dan masyarakat desa tetap dapat bersatu. Pada titik ini, kita dapat memahami tiga hal penting yang senantiasa menjadi pegangannya dalam mengarungi masa-masanya kelak mengabdi pada Batur dan Bali yaitu: Ritual, Pura dan Desa.

 

Pengabdi di Bidang Laku Sastra, Agama, dan Budaya Bali

            Suatu sore tanggal 6 September 2024, saya bersama Ketua Yayasan Janahita Mandala Ubud – Tjokorda Gde Agung Sukawati mengikuti rapat tahunan dalam rangka penganugerahaan Sarasastranugraha Tahun 2024. Rapat dihadiri oleh pengurus Yayasan bersama dengan Tim Kurasi yang sejak awal terlibat dalam penjaringan serta penetapan tokoh penerima Sarasastranugraha. Kebetulan waktu itu Tim yang hadir Putu Eka Guna Yasa dan IGA Darma Putra. Seperti telah diketahui sebelumnya bahwa Sarasastranugraha merupakan apresiasi dan penghormatan yang dihaturkan oleh Yayasan Janahita Mandala Ubud kepada figur penting yang sepanjang hidupnya produktif dalam melaksanakan pengabdian dibidang sastra, agama, adat, seni dan budaya Bali. Penganugerahaan diberikan di bulan Desember berbarengan dengan pembukaan Festival Ubud Campuhan Budaya serta peluncuran Buku Sarasastra & Buku Macandetan. Biasanya kesepakatan rapat akan dibawa kepada Pembina dan para Pakar untuk dimintakan persetujuannya sebelum ditetapkan dalam sebuah Surat Keputusan Ketua Yayasan Janahita Mandala Ubud

Tahun 2021, Yayasan menghaturkan Sarasastranugaraha kepada Bapak I Gede Sura, Tahun 2022 dihaturkan kepada Bapak IBG Agastia dan Tahun 2023 dihaturkan kepada Ida Wayan Oka Granoka. Ketiganya merupakan tokoh yang patut dicatat dalam perjalanan penting kebudayaan bali hari ini. Lalu, untuk Tahun 2024 rapat waktu itu mengusulkan beberapa nama yang patut dipertimbangkan serta memiliki dedikasi yang kuat pada bidang kebudayaan khsususnya sektor budaya pertanian karena tema kunci Tahun 2024 mengangkat “Swi Prakerthi”. Jelang rapat disimpulkan kala itu, lalu hadir sebuah usulan yang menyodorkan peran tokoh penting bali yang erat kiprahnya merawat solidaritas subak dan memegang teguh tradisi agama dan budaya yang beririsan dengan air serta pertanian bali. Ia adalah Jero Gede Batur Makalihan. Rapat yang tadinya akan usai, kembali berlanjut dengan beragam argumentasi dan pembahasan hingga akhirnya disepakati dan kemudian oleh Pembina, Pengawas dan para Pakar selanjutnya disetujui untuk ditetapkan dalam sebuah keputusan lanjutan.

Akhirnya, pada malam hari tanggal 13 Desember 2024, Sekretaris Yayasan Janahita Mandala Ubud – Ida Bagus Oka Manobhawa membacakan Surat Keputusan Ketua Yayasan Janahita Mandala Ubud Nomor: 17/SKSN-01/XII/2024 yang menetapkan Jero Gede Batur Makalihan sebagai penerima Penghargaan Sarasastranugraha Tahun 2024 atas beragam kontribusi, dedikasi, etik, serta pengabdiannya dalam Laku Sastra, Agama, dan Budaya Bali.

Setelah dibacakan Keputusan tersebut, dua Pamangku dan satu Guru Karaman naik keatas panggung mewakili Jero Gede Batur Makalihan untuk menerima tanda penghargaan. Malam itu Saya bersama Bendahara Umum Yayasan – I Made Purna Wirawan turut mendampingi Tjokorda Gde Agung Sukawati. Turut juga naik memberikan ucapan selamat kala itu Panglingsir Puri Agung Ubud yang juga Pembina Yayasan, Ida Padanda Mangsrami Sidemen, Prof. Tjokorda Gde Raka Sukawati dan Dr. Anak Agung Ari Dwipayana. Memberikan pengantar dan testimoni terhadap salampah laku Jero Gede Batur Makalihan dalam pengabdiannya selama ini yaitu I Wayan Westa, IGA Darma Putra, Putu Eka Guna Yasa, Jero Penyarikan Duuran Batur dan Guru Wayan Asta yang ditampilkan dalam bentuk video pendek dan hingga kini dapat diakses pada laman youtube Janahita Mandala Ubud. Sungguh sebuah momen yang tak terlupakan malam itu memasuki penghujung Tahun 2024 – yang terhitung 24 hari sebelum Dane Jero Gede Batur Alitan meninggalkan kita semua.

 

Sembilan

Dalam kepercayaan masyarakat Batur, Jero Gede merupakan Dalem Sesanglingan yang merepresentasikan Dalem Bali untuk masyarakat subak dan desa pegunungan. Secara niskala, Dane Jero Gede Batur Alitan tak terpisahkan dari entitas Ida Bhatara Sakti Maduwe Gumi – Meru Tumpang 9 di Pura Ulun Danu Batur yang mengukuhkan pemuliaan pada entitas tanah atau gumi. Ekologisme Batur karya Jero Penyarikan Batur Duhuran menejelaskan bahwa kala lebar Jero Gede Batur Alitan berhak menggunakan Bade Tumpang 9. Perjalanan menuju Batur tanggal 14 Januari 2025 saya ditemani oleh Arik Suwitra – asal Sukawati. Ia merupakan salah satu jebolan Magister Manajemen Unhi Denpasar yang studi akhirnya menangkap makna dibalik akuntabilitas tradisi Nyingkrem di Banjar Gelulung Sukawati. Kami berangkat dari Ubud pukul 13.00 WITA untuk menghadiri acara nyiramang layon Dane. Sesuai eed karya, acara direncanakan terlaksana Pukul 16.00 WITA. Sepanjang perjalanan, saya melakukan kontak via telepon dengan Tjok Piko yang juga akan menuju Batur seusai acara di Bunutan. Pukul 14.30 WITA, akhirnya kebetulan kami bisa tiba bersamaan di Batur dan bergegas memasuki areal Puri Kawanan. Kala itu, hadir Prof. Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati, Cokorda Alit Dharmayudha, Tjokorda Gde Anggara Sukawati dan beberapa pangiring lainnya.

Kami memasuki Bale Cenik dan berdiri di hadap layon Dane sembari masing-masing memegang satu buah dupa memberikan doa mogi Dane sida polih genah utama nyujur kasunyatan. Perbekel dan Jero Kraman menyampaikan terima kasih atas kedatangan kami, begitu pula Prof. Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati menyampaikan rasa duka sembari berbagi banyak cerita tentang kenangannya bersama Dane. Dikarenakan agenda adat yang berbarengan waktunya di Katiklantang Ubud, maka rombongan yang tadinya berangkat dari Bunutan memutuskan kembali lebih dahulu. Saya dan Tjok Piko ditugaskan untuk tetap di Batur mengikuti jalannya proses nyiramang layon Dane.  Waktu masih tersisa dan sembari menunggu, lantas Saya, Tjok Piko dan Arik Suwitra dipersilahkan menuju Genah Kasinoman di Pura Ulun Danu Batur. Di tempat tersebut telah ada Jero Penyarikan, para pamangku dan jero karaman.

Kami bercerita tentang banyak hal sembari menyantap hidangan serta menunggu waktu untuk nyiramang layon. Dari kabar yang didapat katanya pamendak Ratu Padanda telah berangkat menuju Kota Bangli, namun belum kunjung tiba di Batur. Kami merasa ada yang aneh hingga jam lewat pukul 18.00 WITA. Dari kabar yang kami terima ternyata ada satu rombongan pamendak Ratu Padanda Buda dari Nongan yang masih dalam perjalan mendak. Waktu itu saya berguaru dengan Prof. Putu Astawa – Guru Besar di Politeknik yang masih terhitung keluarga Jero Gede, jangan jangan nanti Pukul 21.00 WITA atau Jam 9 malam baru nyiramang dimulai. Pukul 19.50 WITA, wiku Siwa Buda mulai ngaturang puja dan benar adanya Pukul 9 malam Layon Dane diturunkan serta dimandikan oleh beberapa perwakilan. Saya dan Tjok Piko turut menyaksikan tahap demi tahap nyiramang layon Dane sembari kami berkelakar selalu ada cerita dibalik “sembilan”. Kami juga hitung-menghitung bahwa kepulangan Dane di awal Tahun 2025. Jika dijumlah 2+0+2+5 sama dengan “sembilan”. Dari Meru, Tumpang Bade, Jam Nyiramang, dan Jumlah Tahun selalu “sembilan”. Telisik punya telisik Dane juga lahir Tahun 1936. Tahun 36 jika dijumlah juga “sembilan”. Entah kebetulan atau memang suratan takdir, tapi yang jelas sosok Dane memang begitu spesial bagi kebanyakan orang.

 

Gerak Cepat Ubud dan Batur menyongsong Pelebon

Sejak diputuskan bahwa Bade Tumpang Siya dan Patulangan Kang (Kaang) -berwujud ikan akan dipersembahkan oleh Puri Agung Ubud, Prof. Tjokorda Gde Raka Soekawati segera menyusun perencanaan kerja didampingi oleh beberapa undagi. Saat itu di Pura Gunung Lebah Campuhan juga telah dimulai beberapa tahapan kegiatan menyongsong pelaksanaan Karya Agung. Puncak pelebon terhitung tinggal 16 hari lagi, sungguh waktu yang mepet. Oleh karenanya, tanggal 8 Januari 2025 pagi itu beberapa bahan baku mulai berdatangan di Puri Saren Campuhan. Di Jaba sisi Puri, tenaga kerja pun memulai mengerjakan panel-panel konstruksi untuk Bade. Sangging legendaris – Bapa Sadra asal Sambahan Ubud didampingi para tukang menterjemahkan konsep-konsep yang dirancang Tjokorda Gde Raka Sukawati. Ada yang mengerjakan konstruksi kampit Bade, ada yang fokus untuk menggarap awak bade dan sisanya terlibat dalam pembuatan Bale untuk patulangan. Beberapa pangayah dari ubud berbaur dengan beberapa undagi yang datang dari Batur. Di utama mandala Puri, tepatnya di Gedong Baler / Bale Daja, juga dimulai pengerjaan untuk konstruksi Kang. Dalam kebiasaan masyarakat tradisional di Bali, Bale Daja merupakan bale utama yang diperuntukkan untuk penyambutan dan tempat duduk bagi tamu utama saat kegiatan adat dilangsungkan. Di tempat ini pula, tahun lalu pengerjaan Naga Banda untuk mendiang almarhum Tjokorda Bagus Santaka dikerjakan.

Sesuai pesan mendiang Dane Jero Gede Batur Alitan, bahwa penggunaan taru untuk punggelan Kang agar menggunakan kayu Dadab Wong. Dan, ternyata sungguh menarik dari beberapa informan, konon Dane Jero Gede Batur Alitan telah memesan pohon dadab wong sejak 30 tahun yang lalu kepada pemiliknya untuk dijadikan sebagai bahan utama dalam pembuatan sarana pelebon jika suatu saat nanti beliau lebar. Kang berwarna putih yang pengerjaannya dikomandoi langsung oleh Prof. Tjokorda Gde Raka Sukawati ini dibantu oleh beberapa yowana yang datang silih berganti setiap harinya diantaranya yowana Desa Adat Bungbungan dan yowana Sekaa Teruna Satya Buana Banjar Bunutan-Desa Adat Bunutan. Desa Adat Bunutan sendiri memiliki ikatan tersendiri dengan Pura Ulun Danu Batur, dikarenakan Ida Bhatara Dalem Tengaling di Desa Adat Bunutan memiliki palinggih di Pura Ulun Danu Batur. Selain itu, konon dahulu pendiri Puri Ubud – Ida Tjokorda Gde Putu Kandel saat akan menuju sebuah medan tempur diseputar kawasan Tanggayuda, sempat terhenti sejenak di Desa Bunutan dikarenakan melihat sinar diatas pohon pule yang dikuti oleh suara gaib. Suara tersebut ternyata sabda Ida Bhatari Batur yang berkenan menurunkan dua putranya yaitu Sang Hyang Manik Galih dan Sang Hyang Manik Galang sebagai ancangan jagat. Akhirnya ditempat tersebut dibangun sebuah Pura yang dikenal dengan nama Pura Batan Pule yang hari ini Bernama Pura Dalem Tengaling Bunutan.

Guna mempercepat proses pengerjaan Kang, beberapa siswa sekolah SMK Ratna Warta Ubud juga datang secara bergantian di siang hari membantu proses ngampad sisik Kang. Dari pengamatan saya, beberapa pentolan turut terlibat dalam proses ini diantaranya Pak Gina, Pak Wenten, Pak Widia, Gusti Ngurah Bagus Arya Atmaja, Mangku Alit Pura Gunung Lebah, Jro Mangku Suraja Bunutan, dan I Made Ady Parwa. Kang putih dituntaskan pengerjaannya pada tanggal 22 Januari 2025. Pagi harinya, Prof. Tjokorda Gde Raka Soekawati bersama Tjok Piko memandu perpindahan Kang dari Gedong Daje menuju areal Jaba Sisi Puri. Dibantu beberapa tenaga kerja lepas dan ayahan Kang digotong melewati sisi timur pamrajan Puri melintasi medan yang curam dan terjal hingga tepat pukul 09.30 WITA, kang berhasil tiba di Jaba Sisi.

Menghiasi bataran, Tjokorde Gde Raka Sukawati mempersiapkan beberapa bunga dan dedaunan untuk menghiasi dasar kang yang dirangkai oleh tenaga florist Pitamaha, satu tenaga florist Puspaninglango serta dibantu oleh beberapa tenaga lepas lainnya. Pukul 16.30 WITA, Kang diberangkatkan menuju Batur menggunakan mobil towing dari Batur diiringi oleh beberapa yowana, masyarakat Bunutan dan masyarakat Batur. Tampak dalam iringan terdepan Mobil Pecalang Desa Adat Batur mengawal perjalanan Kang yang menggunakan jalur Payangan – Kintamani. Sesampainya di Batur, masyarakat tumpah ruah menyambut dan kang digarap menggunakan sanan dari bambu. Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati – Guru Besar Tidak Tetap Bidang Ilmu Desain, Arsitektur Tradisional dan Kebudayaan Bali ISI Denpasar yang juga mantan Bupati Gianyar dan Wakil Gubernur Bali periode 2019-2024 ini menyanggupi antusiasme masyarakat untuk naik didepan kang serta digarap menuju Jaba Puri Kawanan dan setelahnya menuju tempat Bale Kang yang telah parkir didepan Pura Ulun Danu Batur.

Sebelumnya pada Sukra Wage Wayang – hari yang diperingati sebagai penanda kelahiran Ida Raja Dewata Buncing (Tjokorda Gde Agung Sukawati dan Tjokorda Istri Galuh Muter), panel-panel konstruksi Bade yang tadinya dipersiapkan di Puri Saren Campuhan Ubud diberangkatkan menuju Batur. Kolaborasi seniman dan undagi Ubud dengan Batur mewarnai perjalanan pengerjaan Bade Tumpang Sia. Terlebih manakala panel konstruksi Bade telah disusun di Batur, para undagi Batur dan pengayah lainnya setiap harinya membaur “macampuhan” dengan para undagi dan pekerja yang datang dari Ubud. Pengerjaan menjadi lebih intens dan terfokus dalam menuntaskan hiasan bade dan tragtag.

Tanggal 22 Januari 2025, juga sungguh istimewa manakala tumpang bade mulai dinaikkan. Beberapa tetua dan pengayah dari Banjar Ubud Kaja yang datang dengan saput khasnya – poleng tepi merah dibawah komando Kelihan Banjar Adat I Wayan Subadi dan Kelihan Desa I Nyoman Ada berkolaborasi dengan pengayah dari Batur untuk memasang tumpeng. Para lekaki menggunakan destar hijau mengangkat tumpang menaiki tragtag dan diatas bade telah berdiri beberapa pengayah Ubud Kaja untuk bersiap mengikat dan memastikan tumpang terpasang dengan tegap. Saya pagi itu datang bersama Tjokorda Gde Raka Sukawati dan Tjok Piko pada saat baru saja tumpang telah terpasang dan sempat untuk menyapa dan berfoto bersama dengan prajuru dan perwakilan krama Ubud Kaja. Beberapa hari sebelumnya, Panglingsir Desa Adat Ubud – Tjokorda Raka Kerthyasa bersama Penyarikan – Cokorda Alit Dharmayuda, Angga Raksa – Cokorda Gde Indrayana, Cokorda Putra Daramayuda dan beberapa Pecalang Desa Adat Ubud juga hadir di Batur untuk menghaturkan duka cita serta memberikan penghormatan kepada Dane Jero Gede Batur Alitan.

 

Energi Campuhan

            Puri Saren Campuhan terletak dipinggir lembah campuhan tepatnya diutara hotel Campuhan kini. Puri ini sebelah timurnya berbatasan dengan Tukad Wos Kawan. Pertemuan antara Tukad Wos Kawan dan Wos Wadon inilah yang dikenal dengan “campuhan”. Pertemuan dua aliran air sungai berada tak jauh dari jaba sisi Pura Gunung Lebah Ubud. Dalam kepercayaan masyarakat Ubud, air campuhan sangatlah disucikan dan dapat difungsikan untuk berbagai kegiatan penting keagamaan. Dari pinggir campuhan inilah konon di masa silam Rsi Markandya bersama para pengikutnya datang untuk memusatkan batin dan pikiran. Gita Bali Tatwa karya rakawi Ida Putu Maron menjelaskan bahwa kautamaan air campuhan dapat difungsikan sebagai sarana panglukatan selain juga sebagai prametaning sawah. Dalam kepercayaan masyarakat Ubud, Ida Bhatara Gunung Lebah merupakan stana Ida Bhatari Batur dan seluruh patirtannya merembes pada dua aliran sungai yaitu Wos Kangin dan Wos Kawan yang hulunya bersumber dari Kaldera Batur.

Eriadi dalam bukunya berjudul Ekologisme Batur merujuk pada catatan Sukadia tahun 2012 yang menjelaskan bahwa di terdapat 11 tirtha utama di kawasan Kaldera meliputi : Tirta Telaga Waja, Tirta Bantang Anyud, Tirta Danu Gadang, Tirta Danu Kuning, Tirta Pelisan, Tirta Mangening, Tirta Pura Jati, Tirta Rejeng Anyar, Tirta Toya Bungkah, Tirta Toya Mampeh, dan Tirta Perapen. Khusus Tirta Danu Kuning diyakini sebagai sumber air Tukad Yeh Wos Kawan dan Wos Kangin atau biasa disebut Wos Lanang dan Wos Wadon yang kemudian menyatu menjadi Tukad Campuhan di Ubud. Pada titik inilah vibrasi Campuhan dan Pura Gunung Lebah Ubud tak dapat dipisahkan dari getaran spiritual Ida Bhatari Batur. Di kawasan Pura Gunung Lebah sendiri memiliki banyak patirthan diantaranya: Tirta Taman Beji, Tirta Salukat, Tirta Dedari, Tirta Banyu, Tirta Bayu, Tirta Rawana, Torta Goa dan Tirta Sudamala. Kesemuanya tersebar di kawasan munduk gunung lebah tak jauh dari lokasi Pura dan merupakan tirta suci duwen Ida Bhatara Gunung Lebah yang rembesannya menyatu pada Air Campuhan. Khusus untuk Tirta Sudamala berada pada sebuah Beji yang dikenal dengan nama Beji Sudamala dan berlokasi di kawasan Puri Saren Campuhan – tempat pembuatan panel awal Bade dan Kang untuk Dane Jero Gede Batur Alitan dikerjakan. Pada titik inilah saya meyakini bahwa energi campuhan yang tak terpisahkan dari Ida Bhatari Batur turut memberikan vibrasi pada pengerjaan sarana pelengkap pelebon Dane Jero Gede Batur Alitan.

Pagi hari tanggal 21 Januari 2025 – tepat 115 tahun kelahiran Ida Tjokorda Gde Agung Sukawati dan Tjokorda Istri Galuh Muter Sukawati, Jero Gede Batur Duhuran napak rauh di Pura Saren Campuhan. Saya turut mendampingi Prof. Tjokorda Gde Raka Sukawati menyambut kedatangan Dane yang hari itu didampingi oleh Bapak Wayan Suambara, adik, ipar, anak, keluarga serta pangiring lainnya. Tjok Piko datang menyusul dari Bandara I Gusti Ngurah Rai setibanya dari Jakarta. Pagi itu pertama kalinya Dane melihat langsung pembuatan Kang. Sungguh haru saat Dane langsung menuju Gedong Daje mengelus-elus Kang – patulangan Dane Jero Gede Batur Alitan. Kedatangan Dane menambah motivasi tersendiri bagi Prof. Tjokorda Gde Raka Sukawati dan beberapa undagi lainnya untuk lebih bersemangat menuntaskan Kang yang akan dihaturkan keesokan harinya. Dari kejauhan sebelum meninggalkan Puri, Dane sempat melihat dari jauh Tukad Wos dan Beji Sudamala sembari memberikan beberapa pesan dan ucapan terima kasih atas perhatian serta dukungan Puri terhadap Batur yang tak kenal lelah sejak dari dulu. Kejadian menarik manakala Dane sedang berbicara, satu putranya terlihat trance dan harus digotong keluar utama mandala Puri. Kejadian tersebut mengundang perhatian para yang hadir dan sesaat setelahnya Dane meninggalkan Puri untuk kembali menuju Denpasar.

 

Harmoni Ubud & Batur – Silam, Kini, dan Nanti

Tanggal 22 Januari 2025, pagi hari saya telah tiba di Puri Saren Campuhan. Sesaat setelah Kang berhasil dikeluarkan dari Gedong Daja menuju Jaba sisi Pura, Prof. Tjokorda Gde Raka Sokawati mengajak saya menuju Batur. Saya dan Tjok Piko mendampingi beliau dalam satu mobil. Setibanya di Batur, tumpang bade telah terpasang dan kami diminta menuju genah Kasinoman oleh Jero Penyarikan Duuran Batur. Sesampai di Genah Kasinoman, telah bersila Jero Penyarikan Alitan Batur, Petinggi atau Perbekel di Batur, Guru Karaman, serta para Bandesa Batun Sendi Batur yang akan menggelar parum teknis terkait pelaksanaan nyandang Bade pada puncak pelebon tanggal 24 Januari 2025. Guru Waji membuka parum serta memberikan kesempatan kepada Jero Penyarikan Duuran Batur meberikan pengantar dan arahan kepada para manggala Desa Batun Sendi serta memohon kesediaan Prof. Tjokorda Gde Raka Sukawati memberikan arahan serta masukannya agar perjalanan puncak karya pelebon nantinya berjalan dengan lancar. Mewakili keluarga Puri yang juga pengempon Pura Gunung Lebah Ubud, Prof. Tjokorda Gde Raka Sukawati memberikan penjelasan tentang ikatan Pura Gunung Lebah, Campuhan dan Batur serta lebih dalam memberikan motivasi kepada para manggala desa untuk menjaga kekompakan serta ketulusan menyukseskan pelebon Jero Gede Batur Alitan.

Momen tersebut merupakan kali pertama saya merasakan hadir ditengah parum Desa Adat Batur dengan manggala Desa Batun Sendi yang terdiri dari: Bayung Gede, Buahan, Selulung, Sekardadi, Bonyoh, Sribatu, Tanggahan Gunung, Sangkaduan, Belancan dan Katung. Desa-desa tersebut konon memiliki keterikatan sejarah dengan Batur baik dalam kaitannya dengan keberadan puseh, bebanuan maupun solidaritas persamaan lainnya. Desa-Desa itulah yang akan ngaturang ayah pada puncak pelebon secara bergantian nyandang Bade Tumpang Siya Dane Jero Gede Batur Alitan. Lantas menarik rasanya untuk menelisik sejauh mana ikatan Puri Ubud dan Ubud sendiri dengan Batur. Karena menjadi sesuatu hal yang penting untuk diketahui bahwa kedekatan kini tentu lahir dari buah perjalaanan masa lalu.

Suatu ketika yang lalu, saya membaca sebuah ebook berjudul Batur-Seri Kaldera Nusantara. Dari halaman keduanya setelah sampul, tertera penulisnya adalah A.Ratdomopurbo dan I Wayan Juniartha serta diterbitkan oleh Badan Geologi kementrian ESDM Tahun 2008. Dijelaskan bahwa Kaldera Batur I yang besar hari ini merupakan hasil letusan super besar 29.300 tahun yang lalu dan Kaldera Batur II terjadi akibat letusan 20.100 tahun yang lalu. Bisa jadi betul adanya sebelum mengalami letusan dasyat, Gunung Batur Purba tingginya melebihi gunung agung kini dan kemungkinan sejalan dengan mitos yang beredar di Ubud bahwa ancut Gunung Batur berada di kawasan Ubud. Letusan dasyat pertama 29.300 tahun yang lalu tidak saja menghasilkan lava panas dan membentuk kaldera namun juga menghasilkan endapan vulkanik yang disebut dengan Ignimbrite. Dan para peneliti menyebutnya dengan Ignimbrite Ubud, karena endapan ignimbrite jenis ini pertama kali dikenali di wilayah Ubud.

Nampaknya endapan letusan purba mengarah ke Ubud dan ke selatan menyusuri aliran Sungai Ayung, Wos dan Petanu serta dapat dilihat endapan tersebut membentuk material pada dinding-dinding tinggi. Bisa jadi gelagat vulkonologi dasyat tersebut lah yang membuat perubahan kontur daerah seperti yang tampak hari ini dan memunculkan banyak mata air kemudian. Satu yang pasti menurut catatan peneliti adalah efek endapan letusan aktif tersebut yang membentuk batu paras pada dinding seputaran sungai. Batu paras bukan lah batu kali namun batu hasil letusan Gunung Batur 29-30.00 tahun yang lalu. Paras-paras dengan kualitas baik terdapat di pinggiran wos atau dikenal oleh orang Ubud dengan paras campuhan dan kualitas baik lainnya tentu diselatan yang dikenal dengan paras silakarang. Perdaban ini kemudian menghasilkan kemahiran manusia dalam mengukir tebing maupun menatah pada bidang-bidang kerajinan ukir lainnya seperti yang tampak pada Pura-Pura dan rumah tinggal yang menggunakan pasangan paras. Pada titik inilah sejatinya peristiwa vulkanologi purba di utara memberi dampak pada bagian hilir dan ketika sejumlah paras yang dipergunakan kini merupakan hasil endapan letusan purba batur, maka tak mengherankan daerah-daerah di Ubud sangat berhutang budi pada Batur itu sendiri.

Selain tentang perjalanan geologi, romantisme Ubud dan Batur tidak dapat dipisahkan dari adanya Puri Ubud yang merupakan warih Ida Bhatara Dalem Sukawati – Dewa Agung Sri Aji Maha Sirikan. Konon menurut cerita beberapa tetua, Sri Aji Maha Sirikan yang mendirikan kerajaan di Timbul setelah mengalahkan Ki Balian Batur mendapatkan mandat Dewa Agung Klungkung untuk ngemong Batur dan kakandanya di Klungkung ngemong Besakih. Salah satu legenda lainnya juga berkenaan dengan keberadaan Ida Dewa Agung Putra (Generasi IV dalem Sukawati) yang konon meminta setelah bersih agar dibuatkan pelinggih Meru Tumpang Tiga di Pura Gunung Lebah Ubud sehingga dekat ngrastiti Ida Bhatari Batur memohon kemakmuran dan berkah air yang melimpah bagi subak-subak sampai di Sukawati dan Ketewel. Beberapa tetua yang masih mengingat juga menuturkan bagaimana saat Ida Bhatari Batur malakukan palungan ke Batu Bolong, pasti akan simpang di Pura Gunung Lebah Ubud dan masyarakat Ubud sekitarnya tumpah ruah menghaturkan sembah bakti disetiap perjalanan Ida Bhatari menuju Pura Gunung Lebah.

Perihal patedun Ida Bhatari Batur di Pura Gunung Lebah, saya masih mengingat dan mengenang bagaimana  Ida Bhatari Batur sebagai pangrajeg karya niskala saat Karya Agung Panca Wali Krama Tahun 2014. Saat itu tanggal 30 September 2014, saya bersama Tjok Piko, Tjok Angga Sukawati, Cok Alit Sayan, dan Cok Gung Menara mendampingi Prof. Tjokorda Oka Artha Sukawati dan Cokorda Gde Indrayana mendak Karas Ida Bhatari Batur. Masyarakat Ubud tumpah ruah turun ke jalan. Ida Bhatari kapendak dari Pura Ulun Danu Batur menggunakan truck dan setibanya di Desa Adat Bunutan, jempana diturunkan lalu berjalan kaki diiringi ribuan warga menuju Pura Gunung Lebah Ubud menggunakan lantaran kain putih. Masyarakat sepanjang Bunutan, Kedewatan, Lungsiakan, Payogan dan Ubud menghaturkan banten didepan angkul-angkul rumah hingga sampai di Pura Gunung Lebah.

Memang Puri Ubud sejak silam tidak bisa dipisahkan dari anugerah Ida Bhatari Batur. Konon Ida Bhatara Lelangit generasi I Puri ubud – Ida Tjokorda Gde Putu Kandel acapkali melakukan andewasraya di Pura Batur dan Pura Jati. Bahkan salah satu cucu Beliau (generasi ketiga Puri Ubud) memiliki nama lain yaitu Ida Tjokorda Rai Batur. Catatan Lepas “Ubud: Getaran Spiritual” Tahun 2006 yang ditulis Prof. Tjokorda Rai Sudharta menceritakan bahwa Ida Tjokorda Rai Batur memiliki kekuatan spiritual yang tinggi sehingga memperoleh “pice” berupa dua buah sibuh dari petunjuk gaib Ida Bhatari Ulun Danu Batur. Yang satunya tampak pada besarnya sumber air di Pura Tirta Negari dan yang satunya hanya keluar menjadi sumber air kecil yang dikenal dengan Tirta Batan Arep. Kedekatan spiritual dengan Ida Bhatari Batur dilanjutkan pada generasi Tjokorda Gde Soekawati yang mampu melompatkan bentang wilayah dari Manca menuju Punggawa. Sebagai pemimpin perang spiritualis, Ida Tjokorda Gde Soekawati mendapatkan banyak kemujisatan dari pice Batur, salah satunya adalah Pusaka Gunung Lebah yang disambut didaerah Taman. Pusaka tersebut selain disucikan juga bersifat fungsional kala itu menenami beragam medan laga peperangan yang dihadapi Ida Tjokorde Gde Soekawati. Selain pusaka Gunung Lebah, juga terdapat Pusaka Keris Pura Jati yang didapat dari sebuah kejadian aneh saat melakukan pemugaran Pamrajan Agung Ubud silam.

Dalam bentang pengabdian panjang Ida Tjokorde Gde Soekawati memajukan Ubud, beliau menghabiskan banyak malamnya di Pura-Pura. Bahkan sebelum gejer Batur 1917, Beliau sempat membuat pesanggrahan tak jauh dari Pura Gunung Lebah. Mungkin dimaksudkan agar lebih dekat dengan Ida Bhatari Batur. Pasca hancur akibat gejer, beliau memilih membangun pondok poenggantinya di Daerah Bunutan hingga newata disana. Kita tahu bahwa Bunutan pun merupakan Desa yang erat kaitannya dengan Batur hingga kini. Satu hal yang masih terngiang oleh para tetua dan dituturkan turun temurun hingga kini adalah pesan beliau agar tidak satupun masyarakat Ubud mengusir pangalu yang datang dari Batur. Kepada mereka yang di Batur lah, Ubud menaruh hormat karena mereka menjaga parhyangan Ida Bhatari Ulun Danu Batur, serta merawat kesucian Gunung dan Danau Batur.

Interaksi solidaritas desa dan subak di kawasan Ubud dengan Batur juga berhasil direkam dari catatan salah putra beliau – Ida Tjokorde Gde Rake Soekawati (anggota volksrad dan mantan Presiden NIT) dalam sebuah artikel yang terbit di Inter Ocean tahun 1924 (dua tahun sebelum erupsi dasyat 1926) berjudul The Romance of The Rice Grain. Menurut artikel tersebut, subak-subak akan berduyun datang memohon berkah Ida Bhatari sebelum akan memulai tahapan siklus pertanian. Kelompok subak dan pekasehnya menuju Batur memohon air suci ke Pura Batur. Yang pertama dilakukan adalah menghaturkan persembahan ke Pura Jati, lalu ke Pura Batur dan terkahir menggunakan sujang memohon air danu batur. Saat itu tentu Pura Batur yang dimaksud masih berada dibawah karena catatan tersebut dibuat pada tahun 1924.

Keberadaan subak-subak sendiri diwilayah Ubud terikat dalam satu ikatan dengan Pura Gunung Lebah Ubud. Tjok Oka Artha Ardhana Sukawati dkk Tahun 1979 dalam papernya berjudul Pura Gunung Lebah Campuhan Ubud menjelaskan hubungan Puri Ubud dengan subak-subak tersebut diantaranya: Subak Nyuh Kuning, Lateng, Bingin Ambe, Titi Buah, Junjungan, Blandu, Legung, Pacung, taman, Jati, Bungkuan, Sakti, Gunjatan, Benekaon, Sukawayah, Juwuk Manis dan Semujan. Selian memiliki kewajiban ritus di masing-masing Ulun Suwi, Subak-Subak yang hampir semua terikat dalam satu aliran Subak Dam Ubud ini memiliki tanggungjawab turut terlibat dalam ritus di Pura Gunung Lebah Campuhan karena posisi Pura sebagai sungusungan masceti Dam Ubud. Pola jejaring ulun suwi dan masceti ini berlanjut pada ikatan satu tahun di Pura Apuh maupun saat ngusaba kadasa di Pura Ulun Danu Batur.

Harmoni Ubud dan Batur juga tampak pada hampir keseluruhan Karya Agung di desa-desa yang dimobilisasi oleh sumbangsih angga Puri Ubud selaku Pangrajeg Karya dengan menempatkan satu eed penting yaitu: ngaturang pakelem di Gunung dan Danau Batur. Siklus ritus di subak dan desa-desa tersebut tidak semata ekspresi religius namun juga jalan memupuk kerukunan dan silahturahmi krama di seputaran Ubud dengan Pamucuk dan krama di Batur. Tjokorde Gde Agung Sukawati (mantuk 1978) menuturkan bagaimana hubungan mesra dirinya dengan Jero Gede Batur baik saat pelaksanaan Ngusaba Kadasa, Karya Eka Dasa Rudra Besakih maupun dalam perjalanan keagamaan laiannya di Bali hingga ke Jawa silam. Catatan Rosemary Hilbery (1979) berjudul “Reminiscences of Balineses Prince: Tjokorde Gde Agung Sukawati” mengulas kedekatan Tjokorde Gde Agung Sukawati dengan Ida Bhatari Batur. Semasa hidupnya, Beliau terpanggil dan terlibat dibeberapa pengerjaan ngodak Pratima di Pura Ulun Danu Batur. Demikian pula dengan masyarakat Batur yang lain juga memiliki kedekatan dengan keluarga Puri Ubud lainnya. Katakan saja seorang yang bernama Guru Santi yang sangat dekat dengan Ida Tjokorde Gde Ngoerah – rakawi ubud yang mantuk 1967. Beliau merupakan ayahanda dari Tjokorda Gde Agung Suyasa dan Tjokorda Raka Kerthyasa. Dalam sebuah pertemuan di Bale Bangli 4 April 2023, saya dan Tjok Piko mendengarkan tuturan putra Guru Santi yaitu Jero Wacik (Mantan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI dan Mantan Menteri ESDM RI di era Presiden SBY). Konon ayahnya bahkan dipercaya sebagai Juru kembar Ida Tjokorde Gde Ngoerah dan itupun berlanjut dengan dirinya bersama dengan Tjokorda Gde Agung Suyasa. Jero Wacik sungguh terkenang dengan kegigihan Tjokorda Gde Agung Suyasa dalam mewujudkan pembangunan Pura Mandhara Giri Semeru Agung. “Mungkin saja ini keterlibatan Ida Bhatari Batur memberikan jalan agar saya bisa membantu melaksanakan pembangunan Semeru” – kenang Jero Wacik menirukan perkataan Tjok Suyasa.

Satu yang menarik untuk melihat juga kaitan Ida Bhatari Batur dengan Puri Ubud adalah catatan Eriadi (2020) dalam Buku Sarasastra (Pusparagam Pemikiran Kebudayaan Bali) bahwa menurut informasi Jero Gede Batur Duhuran, Puri Ubud memiliki peran yang besar dalam upaya pembangunan pasca relokasi akibat erupsi 1926 karena konon Puri Ubud adalah salah satu yang memiliki andil dalam penentuan pemilihan serta pembangunan Pura Ulun Danu Batur seperti yang tampak saat ini. Selain itu Puri-Puri di bali memiliki ikatan amongan dengan beberapa Palinggih di Utama Mandala Pura Ulun Danu Batur. Salah satunya adalah Palinggih Meru Tumpang Siya yaitu Palinggih Ida Bhatara Dalem Waturenggong yang kebetulan menjadi amongan Puri Ubud. Jero Penyarikan Duhuran sempat mewawancarai Jero Gede Batur Duhuran pada tanggal 2 September 2020 dan didapat informasi kemungkinan dasar among-inamong Puri tersebut dijalankan berdasarkan rasa bhakti terhadap entitas Bhatara/Bhatari yang dipuja di Pura Ulun Danu Batur. Bisa jadi nilai ini juga yang diyakini oleh Dane Jero Gede Batur Alitan sehingga memberi pesan agar rauh ke Puri Ubud jika Dane telah lebar selain memang karena sebab-sebab yang lain.

Sebuah harmoni masa lalu dan perjalanan kini masih dirasakan serta barang tentu tentu memiliki tantangan akan keberlanjutan masa depan. Sebuah catatan tertulis sebagai sarana penanda dan pengingat perlu disuguhkan terus tidak semata sekedar mengabdikan momen namun juga mewarisi apinya bagi generasi masa depan. Solidaritas di masa depan tampaknya tidak semata penting dipupuk di medan ritus dan kebudayaan, namun perlu menyasar hal-hal praktis yang lebih mendasar berkaitan dengan semangat saling memajukan kompetensi sumber daya manusia, kedaulatan ekologi serta jejaring ekonomi kerakyatan yang saling menguatkan antara hulu dan hilir. Namun ditengah tantangan masa depan dan perubahan yang tak menentu, pesan Jero Gede Batur Alitan tentang “ritual, pura dan desa” perlu menjadi pegangan untuk dirawat dan dijaga oleh generasi masa depan.

 

Menutup catatan di Malam Penuh Kenangan

Dane Jero Gede Batur Alitan telah berpulang dan menuju keabadian. Kita semua tentu terkenang dengan salampah laku pengabdiannya, pada begitu banyak hal-hal yang diwarisi serta dipersembahkannya. Momen menyongsong pelebon Dane merupakan jalan baik untuk tidak sekedar menundukkan kepala, namun juga mempersembahkan seluruh daya dan ketulusan menyukseskan palebon hingga maligia Dane. Hampir seluruh isi dalam catatan ini ditulis dengan sangat terburu-buru terlebih di malam tanggal 22 Januari 2025. Tanggal yang sangat penting dalam perjalanan hidup saya karena tepat 26 tahun yang lalu 22 Januari 1999 Pukul 23.00 WIB di Kota Medan, ayahanda saya Cokorda Raka Marutha menghembuskan nafas terakhirnya. Malam itu, Saya yang waktu itu duduk kelas 5 SD sedang berada di Kota Batam bersama ibu, adik, bibi dan nenek. Dan kami pun sekeluarga akhirnya pulang menuju Bali keesokan harinya tanggal 23 Januari 2025. Takdir adalah kuasa Tuhan dan pasti ada hikmah dibalik guncangan hidup. Andai saja kehilangan itu tak saya alami, kemungkinan saya dan keluarga tidak pulang ke Bali dan bisa jadi juga puluhan tahun setelahnya saya tidak berjumpa dengan Batur dan bertemu dengan Jero Gede Batur Makalihan.

Saya mengakhiri tulisan ini sembari memantau dari telepon genggam, kedatangan Kang putih karya Prof. Tjokorda Gde Raka Sukawati tiba di Batur. Begitu antusias dan larutnya masyarakat menyambut serta menggotong kang tersebut. Dari pantuan media sosial Saya juga melihat bagaimana Prof. Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati yang didaulat berdiri didepan kang, digotong oleh puluhan krama menggunakan destar hijau-hijau. Dua peristiwa penting dalam hidup saya yang tak terlupakan dari sosok Prof yang malam itu mengenakan pakaian serba hitam yaitu: pada Tahun 1999 saat beliau memaksa saya untuk naik di Bade duduk diatas Bendusa ayah dan Tahun 2021 saat beliau memberikan sambutan mewakili Keluarga pada Sidang Promosi Saya. Malam itu saat Kang digotong dan dihaturkan ke Batur, tak berlebih rasanya saya merasa bahwa Puri Ubud dan Pengempon Pura Gunung Lebah Ubud sedang mengemban tutur leluhur, merawat harmoni masa lalu serta mempersembahkan yang terbaik pada sesuatu yang sedang terjadi di kawasan huluning Wos. Semoga catatan sederhana yang jauh dari sempurna dan kurang baik secara tata bahasa ini menjadi arsip jaman bagi masyarakat Ubud dan kulawarga ageng Puri Ubud sendiri dalam merawat harmoni dengan Batur seperti yang telah dilakoni oleh Lelangit terdahulu.

“Mohon maaf atas segala kesalahan dalam penulisan ini. Mogi Dane Jero Gede Batur Alitan sida ngamolihang genah sane utama manunggal ring sankan paraning dumadi. Juga tulisan ini dipersembahkan untuk Panglingsir Puri Agung Ubud, dengan teriring doa dan harapan segera kembali sehat dari pemulihan pasca operasi”.

 

Usadhi Desa

23 Januari 2025

Berita terkait