BATUR – Baris Batur dan Gong Gede Batur selalu hadir melengkapi pujawali yang dilakukan di Desa Adat Batur. Keduanya seolah menjadi suatu kesatuan. Gong gede ditabuh oleh Tempek Jero Gambel sedangkan Baris Batur yang ditarikan oleh Tempek Jero Baris.
Kedua warisan budaya Batur ini memiliki kekhususan dan ciri khasnya masing-masing. Pemilihan para penabuh dan penarinya pun tidak sembarangan. Hal ini dibahas dalam diskusi bertajuk “Mudra Suara: Menelisik Pagongan dan Baris Batur” yang dilakukan di Jaba Tengah Pura Ulun Danu Batur, Minggu, 30 April 2023 oleh Yayasan Janahita Mandala Ubud yang bekerja sama dengan Pura Ulun Danu Batur, Desa Adat Batur, dan Lingkar Studi Batur.
Narasumber yang hadir dalam diskusi tersebut adalah Guru Wayan Kridit (Jero Kraman Desa Adat Batur), Pande Gede Mustika (Seniman Gong Gede), serta Made Ringan (Jero Baris Desa Adat Batur). Acara dimoderatori oleh I Wayan Diana Putra, seorang Dosen ISI Denpasar.

Guru Kridit mengatakan bahwa Gong Gede Batur memiliki cirinya sendiri yang unik dan lengkap. Kesakralan dari gong adalah penabuhnya bukan disebut sebagai sekaa gong tapi disebut Jero Gambel. Pemilihan penabuh pun ditentukan oleh Jero Keraman.
Gong Gede sendiri akan ditabuh saat pujawali-pujawali besar di Batur seperti saat Kadasa, Kapat, Kalima, dan Kasanga. “Sementara, saat Ida Bhatara Lunga, mesucian melis yang ditabuhkan hanya bebonangan saja,” terang Guru Kridit.
Ia membuka mengapa dalam iring-iringan Ida Bhatara Gong Gede Batur ditempatkan di depan. Pada saat iring-iringan Ida Bhatara, iring-iringan itu akan dimulai dengan canggah gong, kemudian baru diikuti gong, Jero Baris dan pengayah lainnya, dan yang paling belakang adalah pralingga Ida Bhatara. “Ini adalah formasi untuk menandakan jika ada kondisi yang gawat,” katanya.
Menabuh Gong Gede Batur juga tidak sembarang, melainkan ada urutan tabuh yang wajib diikuti. Urutan itu mulai dari Tabuh Gilak, kemudian Tabuh Telu, baru dilanjutkan tabuh lainnya.
“Saat ini Gong Gede ada dua yaitu Gong Gede Duwe Lingsir dan Gong Duwe Alit atau duplikat. Gong Gede Dewe Lingsir nabuh hanya dilakukan di tempat, tidak dipindah-pindahkan, berbeda dengan Gong Dwe Alit. Gong Duwe Lingsir ini diwarisi sejak Batur masih di bawah,” katanya.

Selanjutnya, Pande Gede Mustika mengatakan, menurut informasi yang ia dapat ketika penelitian tesis, Gong Gede Batur sudah ada sejak tahun 1204. Ia pun mengamini berbagai keunikan dalam Gong Gede Batur.
“Perbedaan Gong gede Batur juga terletak pada gendingnya yang sangat komplit dari Tabuh Telu sampai Tabuh Kutus. Ini juga yang menjadi dasar pendidikan di ISI Denpasar. Hal unik lainnya adalah istilah tedun trompong di mana semua instrumen akan digunakan,” jelas Mustika.
Ia menjelaskan Tabuh Pari Anom Gong Gede Batur yang memiliki tempo unik. Dugaan Mustika yang sudah mengamati Gong Gede dari tahun 90-an, hal itu terjadi karena kontur wilayah perbukitan di Batur. “Terkait tabuh Pari Anom Batur, kami pernah mendatangkan Jero Gambel dari Batur untuk melatih di ISI Denpasar yaitu Nang Desel, Nang Suastika dan Nang Lancar (alm). Atas seizin Jero Gede Batur, tabuh itu kami gunakan sebagai kurikulum di ISI,” kata dia.

Sementara itu, narasumber lainnya, Made Ringan menerangkan terkait tari Baris Batur sebagai salah satu tarian sakral. “Menurut penglingsir kami secara turun-temurun mengatakan bahwa Baris Batur adalah sebagai prajurit sesuhunan. Hal ini terlihat saat, Ida Bhatara Bhatari lunga atau melasti, ditandai dengan urutan perjalanan yang pertama yaitu Gong Gede, Jero Baris, kemudian Sesuhunan,” jelas Made Ringan.
Menurutnya, awalnya ada tiga tari baris di Batur, yakni Baris Jojor, Baris Gede, dan Baris Dadap. Namun, perkembangan kemudian, kini ada lima baris, yaitu ditambah Baris Bajra dan Perisi.
“Ini juga didukuung ketika Kadasa yaitu saat Maider Gita, hanya Baris Jojor dan Baris Gede yang masolah, di mana Baris Jojor membawa pangasepan, sedangkan Baris Gede membawa kampuh sebagai pertanda persembahan kehadapan Ida Bhatara Bhatari,” kata dia.
Selain upacara Maider Gita, Baris Gede dan Baris Jojor tidak lepas dari upacara Pepranian. Pada saat menarikan Baris Perang-perangan juga dipersembahkan dua baris yaitu Baris Jojor dan Baris Gede. “Baris Jojor saat pepranian melambangkan kaum pemuda dan Baris Gede melambangkan orang tua sebagai kepala keluarga. Baris Perang-perangan artinya adalah peperangan memperebutkan paica amerta. Maknanya untuk semangat perang memperebutkan amerta karena saat selesai peperangan penari mendapatkan paice dengan makan di tengah-tengah arena,” katanya.
___
Penulis: Oka Suyasa
Editor/Foto: Carik Hulu











