}} Menulis Batur dari Sejarah Kehidupan Sehari-hari: Sebuah Alternatif Narasi* - Bebaturan.id

Menulis Batur dari Sejarah Kehidupan Sehari-hari: Sebuah Alternatif Narasi*

Pasuara
Aktivitas ngayah masyarakat Batur serangkaian pelaksanaan ngaben massal tahun 2022.

Oleh I Kadek Surya Jayadi**

Foto: Aktivitas ngayah masyarakat Batur untuk persiapan pelaksanaan ngaben massal (Panca Sedana).

========================

SEBAGAI orang yang berada di luar Batur dan tidak pernah melakukan pengamatan mendalam terhadap Batur, saya mendapat kehormatan ketika diminta mengirim sebuah tulisan oleh Lingkar Studi Batur, terkhusus kawan saya yang saya hormati dan kagumi, Jero Penyarikan Duuran Batur. Sesungguhnya saya ingin menolak menulis, tetapi rasa penghormatan saya terhadap kawanlah yang membuat saya harus turut menyumbangkan tulisan sederhana ini. Tulisan ini terang terlalu pribadi dan jauh dari bobot ilmiah yang diharapkan, sudi kiranya dimaafkan pembaca yang budiman.

Ada banyak hal yang tentunya menarik dari Batur. Daya pandang sayalah yang terbatas, sehingga kesulitan menangkap keunikan-keunikan itu. Dari kepicikan saya, saya memahami Batur sebagai perpaduan antara kontur alam yang posisi dan potensinya strategis, diimbangi dengan denyut ritus penghormatannya yang merupakan perpaduan ritus purba dengan agama literer. Seperti itulah gambaran umum pemahaman saya tentang Batur.

Dari pemahaman itu, saya menyadari bahwa apa yang saya amati kini dari Batur sejatinya telah mengalami perubahan-perubahan. Perubahan ini tidak bisa dilawan, sebab telah menjadi kodrat kehidupan. Justru, studi mengenai Batur sebaiknya dilihat dalam tataran perubahan itu. Sebagaimana yang diungkapkan oleh antropolog Ngurah Suryawan, yang menyatakan bahwa janganlah mengkhawatirkan perubahan yang terjadi dan akan terjadi di Batur. Hanya saja, seberapa besar refleksi yang dilakukan untuk merespon perubahan ke depan. Lantas, darimanakah perubahan itu harus dilihat?

Refleksi atas perubahan itu sejatinya telah dipetakan. Salah satunya oleh I Ketut Eriadi Ariana yang kini merupakan Jero Penyarikan Duuran Batur. Dia menyampaikan gagasan refleksinya dalam esai-esainya pada buku Ekologisme Batur. Esai tersebut sejatinya merupakan sebuah pembacaan yang mendalam terhadap Batur dengan segenap kemuliaan bahkan paradoksnya. Esai ini menurut pengamatan pribadi saya bisa menjadi pintu masuk untuk mempelajari secara mendetail perubahan itu. Dengan kata lain, esai dalam buku tersebut bisa jadi sebuah pemandu untuk masuk ke hutan belantara kehidupan sosial budaya Batur yang lebat. Namun, bukan berarti hanya dengan buku itu kita dapat secara tuntas memahami Batur dengan limpahan keunikannya. Justru buku tersebut perlu disambut dengan tawaran-tawaran pemikiran lainnya. Pada titik inilah tulisan ini mencoba menawarkannya.

Di antara keberlimpahan keunikan Batur yang saya tangkap, saya menawarkan perlu adanya kajian tentang sejarah kehidupan sehari-hari masyarakat Batur. Alasannya sederhana, karena dari kehidupan sehari-hari orang Baturlah kita bisa memahami Batur secara lebih mendalam.

Studi mengenai sejarah kehidupan sehari-hari sejatinya merupakan sebuah gagasan yang muncul karena hegemoni sejarah politik dengan narasi orang-orang besar yang begitu mendominasi. Menyeimbangkan perspektif, barangkali itulah yang diharapkan dari munculnya upaya menulis sejarah orang-orang kecil ini. Sebab tidak mungkin pula menghapus sejarah politik. Bukankah sejarah juga harus terlibat dengan penguasa?!  Dengan kata lain, cara pandang kita melihat kuasalah yang harus dielaborasi. Sebagaimana ungkap Cornelis Lay, yang menyatakan bahwa kekuasaan tidak semata-mata berada pada negara, tetapi orang-orang kecil, strata terbawah pun memiliki kuasa.[1] Sehingga dengan demikian, menulis sejarah sehari-hari orang Batur pun sejatinya untuk memahami bagaimana sebuah kekuasaan itu membayang-bayangi kehidupan masyarakat Batur dan bagaimana pula mereka merespons kekuasaan itu.

Batur sejatinya telah mengajarkan bagaimana berkelindan di atas hegemoni kekuasaan. Orang-orang Bali Aga yang tersebar di kawasan Batur sejatinya telah melakukan perlawanan atas hegemoni politik orang-orang Majapahit. Orang-orang Bali Aga di kawasan Batur tidak mau tunduk atas Majapahit, tetapi tidak pula lantas melakukan perlawanan secara frontal. Di titik inilah justru saya melihat ada hal menarik yang perlu dikaji lebih lanjut. Terkait dengan ini sejatinya telah dibahas oleh Thomas A. Reuter dalam bukunya Custodians of the Sacred Mountains: Budaya dan Masyarakat Pegunungan di Bali. Dengan bahasa yang menarik, Thomas Reuter menulis sebagai berikut, “…Identitas orang Bali adalah hasil dari suatu proses dan intersubjektif sejarah di mana di dalamnya orang Bali Aga berpartisipasi dengan sikap mendua, yaitu bersaing dan juga bekerja sama…”

Dengan kerangka pemahaman tersebut, maka teranglah sudah jika sesungguhnya kita perlu melihat bagaimana orang-orang Batur menjalani realitas kehidupan kesehariannya dengan segenap dinamika-dinamikanya. Orang Batur punya cara pandang sendiri dalam menjalankan laku hidupnya. Apa yang tergambarkan dalam ritusnya, isi bicara/gaya bertuturnya, gaya berpakaiannya, bentuk rumahnya, dan sebagainya, merupakan representasi dari keunikan Batur. Keunikan ini ada di tiap-tiap orang Batur, dengan kelas sosialnya yang beragam.

Banyak topik yang bisa digarap dari pendekatan sejarah kehidupan sehari-hari. Kita bisa menangkap kehidupan perempuan Batur dari generasi ke generasi. Saya meyakini, bahwa perempuan Batur punya banyak cerita terkait dengan kehidupan mereka. Namun, hingga kini belum ada narasi yang menulis tentang keberadaannya. Seolah kehadiran perempuan Batur itu tidak ada dalam sejarah, serta seolah tidak ada hal menarik darik eksistensi mereka.

Sejarah kehidupan sehari-hari orang Batur juga menarik dilihat dari kacamata pendidikannya. Setiap orang Batur pasti punya pengalaman edukasi yang berbeda-beda. Ada yang mengenyam sekolah secara formal dengan beragam tingkatan, ada pula mereka yang mengenyam pendidikan secara non-formal dengan berbagai jalurnya. Semua ini adalah cerita yang sungguh sayang apabila diabaikan begitu saja. Sejauhmanakah kemudian tingkat pendidikan mempengaruhi cara pandang mereka melihat identitas mereka sebagai orang Batur? Bagaimana pula tingkat pendidikan mempengaruhi cara pandang orang Batur mengadaptasi perubahan? Survei dengan kuantitatif belaka tidak cukup untuk menjawab realitas yang ada. Maka, narasi sejarah dengan pendekatan sejarah kehidupan sehari-hari menjadi cara baru untuk menemukan realitas itu dalam bentangan sekian periode.

Sampai sejauh ini, saya belum menemukan suatu ulasan sejarah daripada kehidupan para pengayom umat di Batur. Narasi mereka tidak hanya sebatas ritus dengan kedalaman filosofisnya.  Sebagai pemuka Batur, mereka juga tentunya memiliki kehidupan sehari-hari yang menarik untuk kita lihat sebagai sebuah kewajaran bahkan sebuah ironi. Adakah sejauh ini narasi yang menghadirkannya?! Dari kesaksiannya, kita juga akan menangkap tidak saja pengalaman mereka, tetapi pemaknaan mereka sebagai orang Batur melihat dinamika Batur sekaligus bagaimana mereka memahami representasi orang luar terkait Batur.

Banyak aspek yang seharusnya bisa digali dari Batur dalam perspektif sejarah kehidupan sehari-harinya. Tentu tantangan yang dihadapi pula tidak sedikit. Tantangan tersebut salah satunya maukah kita keluar dari sebuah pemahaman sejarah yang konvensional, yang kaku, dan mengarahkannya kepada sebuah narasi sejarah alternatif. Sejarah konvensional tetaplah harus diakui sebagai kerangka yang penting dalam memahami sejarah, akan tetapi berhati-hati pula pada resikonya yang mengikis sejarah itu sendiri. Itu sebabnya penulisan sejarah yang mengakar dengan kehidupan masyarakat sehari-harinya dibutuhkan.

Semuanya tidak semata-mata untuk kepentingan orang Batur semata. Kita semua membutuhkan narasi alternatif tentang Batur. Sebab, Batur adalah milik kita semua!

 

Catatan Kaki

[1] Analisis Kuasa (LIKU): Power (Cornelis Lay) | (Part 1/2) – YouTube, diakses 20 Juni 2023

 

=====

*Tulisan ini adalah tulisan terpilih dalam program “Catatan Menuju Seabad Relokasi Batur” yang digelar Lingkar Studi Batur untuk memperingati HUT ke-3 tahun 2023 dan memperingati seabad peristiwa perpindahan Desa Adat Batur dari Desa Batur Let di kaki Gunung Batur menuju tempat saat ini. Tulisan ini juga akan terbit dalam buku berjudul Seabad Relokasi Batur yang saat ini dalam proses penerbitan.

**Penulis adalah sejarawan dan dosen di Prodi Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana.

Berita terkait