}} Mulih Luwih! Pulang ke Batur Tanah Kelahiran* - Bebaturan.id

Mulih Luwih! Pulang ke Batur Tanah Kelahiran*

Pasuara
Batur Let saat Fajar.

Oleh Jero Jemiwi**

Foto: Batur Let sesaat setelah fajar (Jero Penyarikan Duuran Batur)

========================

APA yang bergerak secepat angin? (Pikiran?)

Apa yang beratnya melebihi bumi? (Keinginan atau ingatan?)

Apa yang sama dari pikiran, keinginan, juga ingatan zaman ke zaman? Dan, apa yang berubah?

Bagi Baturi (nak Batur, panjak Batur, orang Batur), apa yang tak berubah? Lalu, siapa Baturi? Siapa pahami? Perubahan?

Mari menengok Gunung Batur tahun 1926. Ketika erupsi dahsyat menyapu bersih pusat peradaban salah satu desa tua di Bali, Desa Batur Tui, Batur Wayah, yang terletak di kaki Gunung Batur sisi barat daya. Hampir seabad erupsi Gunung Batur “menagih” tanpa sisa segala yang “dimiliki” nak Batur kala itu, kecuali beberapa hal. Dua tahun mengungsi di Desa Bayunggede, akhirnya pada tahun 1928, Karanganyar menjadi tempat relokasi pusat Desa Batur. Direlokasi ke tempat baru, di sisi timur Desa Kintamani yang menjadi pusat Desa Batur kini.

Tidak terasa, hari, bulan, tahun berganti. Mengantarkan kita pada Sasih Kasa 2023. Ini artinya kurang dari seribu hari menuju 100 tahun peristiwa itu. Hari ini, ketika AI/artificial intelligent (kecerdasan buatan) dan IoT/internet of things sedang sangat digemari, Batur sesungguhnya memperoleh kesempatan jeda. Menepi. Menoleh ke dalam, melakukan kontemplasi. Menyusuri kembali kisah perjalanannya sejak rarud hingga madunungan di Karanganyar.

Karanganyar memang tidak lagi anyar. Daerah yang semula barisan pepohonan, hamparan sengéngé, beluu, keciplokan, dan bunga girang menghias tepi jalan telah berubah menjadi pagar beton dan kedai-kedai menjulang. Sebagian tampak modern dan menyisakan sedikit celah pandang, sebagian lagi sedemikian sangar, menutupi pandangan pengguna jalan. Gunung Batur dengan kilau danaunya yang cantik pun tidak lagi tampak bagi siapa saja yang sedang melintas di sepanjang Penelokan hingga Pura Batur. Bila tidak berkunjung ke kedai, tentu sulit menemukan panorama tiga gunung serta Danau Baturnya. Yah, itu perubahan?

Di tanah Karanganyar yang tidak lagi anyar ini, Batur memang sedang bertanding bukan dengan zaman, tetapi dengan dirinya sendiri. Serbuan keinginan dan ingatan, merayu menggoda pemikiran. Bila tidak dengan iming-iming kemajuan, maka dengan intimidasi untuk bertahan atau berkembang menyamai tetangga, di arena perubahan yang multidimensional. Zamankah yang mencekoki? Atau perubahan memang kehendak tidak terelak?

Perubahan landskap lingkungan, laku sosial-budaya, dan kegemaran-kegemaran kebaruan orang Batur berubah. Letusan perubahan di zaman ini sesungguhnya tidak kalah dahsyat dari erupsi yang terjadi di tahun 1926. Walaupun mungkin tidak akan pengungsian secara fisik, tetapi dampak psikologis itu tetaplah mau tidak mau akan mengajak permenungan. Bagaimanakah relokasi itu, peristiwa madunungan itu setiap Sasih Kasa dihadirkan? Madunungan membawa kembali keluarga yang terpencar dan berkesempatan bertegur sapa satu sama lainnya, juga melihat-lihat ekspresi hati masing-masing.

Merayakan madunungan itu, tidak memerlukan waktu menanti 1000 hari lagi. Sebab, madunungan itu setara dengan trauma healing (penyembuhan trauma) pascabencana yang selalu diwaspadai bila terjadi bencana alam. Bandingkan kini dengan letusan perubahan yang dialami Batur. Memang letusan perubahan dahsyat itu tak menimbulkan ekspresi kasat mata, tetapi berupa ketakutan, jerit tangis, cemas, dan hampa. Tidak ada nampak rasa ketidakpastian akibat kehilangan rumah, keluarga, kekayaan, bahkan tempat ibadah. Tidak seperti bila menghadapi bencana alam, selalu memberi dampak fisik dan psikologis yang tidak terhindarkan.

Setiap Sasih Kasa, di sekitar area jaba Pura Jati ada yang namanya madunungan. Madunungan ini secara kata diartikan berteduh untuk sementara waktu sampai keadaan menjadi lebih tenang dan aman. Apa kaitannya medunungan dengan 1000 hari menjelang seabad Relokasi Batur itu? Dan, apa kaitannya kini dengan perubahan dashyat yang dialami warga Batur dan lingkungan hidupnya? Kaitannya adalah pada liniernya dampak perubahan kepada “kesehatan mental”. Jangan membayangkan, tetapi kenang dan renungkan bagaimana setiap Sasih Kasa tradisi madunungan itu diulang. Saat itulah terjadi langkah-langkah trauma healing. Pertama, tradisi ini membawa seluruh warga Batur yang terpisah-pisah untuk kembali terhubung, dan satu sama lain mendapatkan dukungan moral, sosial, dan spiritual. Kedua, terjadi pertukaran informasi, kabar, dan percakapan. Semua itu adalah proses identifikasi keadaan satu sama lain, dari kesehatan, ekonomi, pendidikan, sampai soal asmara. Semua dilakukan dengan situasi madunungan, bergerak satu sama lain di area yang sudah ditandai. Madunungan ini adalah kecerdasan luar biasa, warisan dari leluhur Batur untuk sejak awal dengan gaya bahasa Baturi memperhatikan benar apa yang namanya kecerdasan Baturi untuk trauma healing pascabencana. Artinya, sejak lampau ada kecerdasan luar biasa untuk memperhatikan kesehatan mental.

Perhatikanlah bagaimana biasannya penanganan pada bencana alam. Misalnya seperti yang dirilis WHO di tahun 2011 untuk memulai memberikan pertolongan pertama psikologis khususnya pada bencana. WHO (2011) menjelaskan adanya 3L untuk upaya itu yang merupakan singkatan dari look, listen, link.

Memang, secara umum untuk Indonesia, kesadaran akan kesehatan mental belum sepenuhnya baik, terutama yang dialami perempuan. Bahkan ketika bicara soal kesehatan mental, seakan itu sesuatu yang tabu. Sesuatu yang dihindarkan. Tetapi, dampak psikologis akibat bencana alam, apalagi kisah ledakan dahsyat Gunung Batur 1926 di mana Desa Batur Beten (black lava) itu masih terhampar menawan untuk selalu mengetuk lamunan dan ingatan nak Batur dan sesekali ingin tahu, penasaran: di manakah letaknya rumah I Tuwa di Batur Beten dahulu kala? Seperti apa wajah Desa Batur Tui itu di balik hamparan black lava? Artinya, tradisi madunungan begitu cerdas menjangkau ketidakpastian ke depan akan dampak bencana alam. Jadi, setiap tahun, saat Sasih Kasa tiba, pemujaan di Kangin itu, di Pura Jati, adalah healing, penyembuhan yang terjadi secara holistik bagi nak Batur, baik secara fisik, emosi, mental, dan spiritual.

Zaman ini, ketika VUCA dipandang sebagai era yang paling membuka ruang kesempatan pada “impian kebaruan dan kemajuan”, sekaligus menjadi era yang paling menentukan, menantang, akibat gelombang keterkejutan serta gulungan keriangan, kebimbangan dan ketakutan yang membingungkan. Dijejakkannya itu semua pada berbagai lapisan kesadaran, riil maupun imajiner, menandai transisi sebuah zaman. Kini, ketika VUCA menghadirkan volatility (volatilitas), uncertainty (ketidakpastian), complexity (kompleksitas) dan ambiguity (ambiguitas) dalam kehidupan, maka kesadaran menjadi sangat penting untuk dihadirkan, dijaga, dan dipercaya sebagai penyeimbang. Ibarat berlayar di tengah laut dan di bawah langit yang sedang gelap. Ketika pilihan serta kemampuan untuk percaya telah sedemikian kecilnya, maka kesadaranlah bintang utara kita, yang layak untuk kita percaya. Hari ini, saat ini, di sini! Kesadaran menjadi cahaya pemandu sekali pun kecil. Ia seperti juri paling adil, di mana suara, kerlip, dan tandanya paling masuk akal untuk dipercaya. Zaman ini, memerlukan sekali keseimbangan yang bermuara dari kesadaran yang terjaga, jagra, bahkan penyembuhan batin bagi semua hati dalam menghadapi keambiguan hidup dalam kemajuan. Sebagai sebuah langkah rarud, magerendongan, lalu madunungan. Sehingga, terjadilah kembali 3L itu: look, listen, link, agar apapun zaman yang berkunjung pada hidup kita, tetap ingat tugas utama kita yang hanya satu: jagra, menjaga kesadaran. Maka, niscaya keseimbangan hidup itu mengantar kita menemukan pesan zaman dan melampaui apapun tantangannya dengan tetap sehat lahir batin, seger oger waras!

 

=====

*Tulisan ini adalah tulisan terpilih dalam program “Catatan Menuju Seabad Relokasi Batur” yang digelar Lingkar Studi Batur untuk memperingati HUT ke-3 tahun 2023 dan memperingati seabad peristiwa perpindahan Desa Adat Batur dari Desa Batur Let di kaki Gunung Batur menuju tempat saat ini. Tulisan ini juga akan terbit dalam buku berjudul Seabad Relokasi Batur yang saat ini dalam proses penerbitan.

**Penulis adalah perempuan Batur yang seorang public speaker. Sejak kecil ngayah sebagai jero mangku di Pura Alas Arum Batur. Buku terbarunya berjudul Besen Rerama.

Berita terkait