Oleh I Wayan Diana Putra**
Foto: Tempek Jero Gambel Desa Adat Batur menabuh pada saat pujawali Pura Segara Ulun Danu Batur-Pura Jati (Jero Penyarikan Duuran Batur)
========================
Tabuh Pat Parianom adalah nama dari gending pegongan yang diwarisi dan dilestarikan di Desa Adat Batur, Kintamani, Bangli. Tabuh ini umumnya dimainkan dalam barungan Gamelan Gong Gede yang disebut dengan Gong Duwe Lingsir milik Pura Ulun Danu Batur. Gending pegongan juga sering disebut dengan gending lelambatan, yaitu salah satu bentuk gending dari gamelan pegongan. Gamelan pegongan merujuk pada barungan Gamelan Gong Gede dengan struktur sistem musikal terpusat pada tungguhan gong. Menurut Ketut Gede Asnawa berdasarkan analisis dari Collin McPhee gamelan pegongan memiliki komposisi untuk konteks seremonial dan memiliki formulasi yang bersifat komplek dan statis. Bersifat statis dalam artian apapun nama repertoar yang dimainkan strukturnya tidak berubah seperti dimulai dari kawitan, pengawak, pengisep, bebaturan, embat-embatan, dan pengecet (tabuh telu atau gegilakan).
Merujuk pemikiran McPhee, Ketut Gede Asnawa, mengklasifikasikan gending pegongan ke dalam dua jenis yaitu gending ageng dan gending gangsaran. Gending ageng berorientasi pada kalimat gending yang panjang, sedangkan gending gangsaran bersifat lebih cepat dan alurnya relatif pendek-pendek. Dalam pemikiran lain, I Wayan Madra Aryasa berpendapat dari segi bentuk komposisi terdapat dua tipe gending pegongan, yaitu motif lelambatan dan motif gegancangan. Motif lelambatan bercirikan ukuran lagu bersifat panjang, bersifat metris, dan terikat dengan pola komposisi yang ketat. Kemudian, motif gegancangan ukuran lagu bersifat pendek dan tanggung, benyak menggunakan ornamentasi ubit-ubitan dan pola komposisi yang kurang ketat (1984/85:64). Dari kedua pendapat mengenai bentuk gending itu, dapat ditarik bahwa gending ageng turunannya adalah tipe gending pengawak dan gending gangsaran adalah bentuk tipe gegancangan.
Tabuh Pat Parianom adalah nama dari gending golongan tabuh jenis tabuh pat, yakni nama formulasi struktur gending dalam gamelan Bali dengan struktur kolotomik empat pukulan kempur dan empat pukulan kempli dalam satu siklus gong. Parianom sebagai nama gending masih perlu dikaji lebih lanjut prihal alasan diberikan penamaan tersebut. Selain Parianom terdapat jenis gending tabuh pat lainnya, yaitu Tabuh Pat Bandasura, Ginanti, dan Wirolodra. Tabuh Pat Parianom sendiri memiliki bentuk gilak sebagai bagian pekaad yang menarik dari segi progresi melodinya. Progresi melodi gilak dari gending Tabuh Pat Parianom gaya Batur bergerak dengan melompat-lompat.
Progresi melodi melompat-lompat dari gending Gilak Tabuh Pat Parianom sangat menarik untuk dianalisa. Analisis mengenai progresi melodi yang melompat-lompat pada bagian gending gilak ini memiliki formulasi dalam penyusunannya. Meskipun para pendahulu tidak menjelaskan secara teoretis maupun deskriftif, tetapi melalui pisau bedah analisis melodi formulasi progresi melodi yang melompat-lompat tersebut dapat diurai. Hasil dari mengurai progresi melodi melompat-lompat dari Gilak Tabuh Pat Parianom dapat digunakan sebagai referensi serta bahan ajar dalam menyusun bentuk gending gilak ke depannya oleh para komposer gamelan Bali. Dalam tulisan ini berupaya mengeksplanasi mengenai hasil analisis melodi melompat-lompat bagian gilak dari gending Tabuh Pat Parianom.
Gilak dalam Gending Tabuh Pat Parianom Gaya Batur
Gilak atau gegilakan adalah sebuah bentuk gending dengan ukuran siklus pendek berupa delapan ketukan/peniti dalam satu gongan dalam satu palet. Ketukan kelima dan ketujuh jatuhnya pukulan kempur/kempul. Ketukan keempat jatuhnya gong tengah lagu dan ketukan kedelapan merupakan gong final lagu (Aryasa, 1984:70). Skema pola gending gilak/gegilakan dapat diamati seperti di bawah ini:
| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 |
| . | . | . | ( ) | + | . | + | ( ) |
Keterangan:
| . | : | dibaca peniti/ketukan |
| + | : | jatuhnya pukulan kempur/kempul |
| ( ) | : | jatuhnya pukulan gong |
Dalam kasus yang lain menurut Aryasa juga terdapat pola gilak gede dan gilak nyalah. Antara gilak, gilak gede, dan gilak nyalah secara pola kolotomik, gong dan kempur sama-sama memiliki pola yang selesai dalam delapan ketukan seperti bagan di atas, yang membedakan adalah progresi melodinya saja. Jika gilak gede progresi melodinya baru selesai dengan ukuran delapan gong kali delapan[1]. Gilak nyalah memiliki progresi melodi tiga kali delapan palet atau 24 ketukan/peniti dan 3 baris.
Kemudian lebih lanjut gending gilak dalam Tabuh Pat Parianom gaya Batur memiliki 32 ketukan/peniti dalam satu siklus putaran gending. Mengingat ukuran ketukan/peniti dari gilak pada gending Tabuh Pat Parianom gaya Batur berjumlah 32 ketukan, maka penulis dengan yakin memasukkan ke dalam gilak golongan gilak gede merujuk dari teori Aryasa. Mengapa demikian? Walaupun dalam teorinya Aryasa baru menggolongkan dalam gilak kelas gilak gede jika memiliki 64 ketukan/peniti setara dengan dengan delapan baris, di mana setiap baris terdiri atas delapan ketukan/peniti. Namun, gilak pada gending Tabuh Pat Parianom gaya Batur memiliki 32 ketukan/peniti sudah melebihi dari delapan ketukan yang disebut dengan wirakerasri, dan 16 ketuk disebut wirengprebawa, gilak nyalah dengan 24 ketukan/peniti dan mendekati ukuran ketukan/peniti 64 ketuk. Untuk lebih jelasnya, gending gilak pada Tabuh Pat Parianom gaya Batur dapat disimak pada notasi dibawah ini:
Notasi Gending Gilak Dalam Tabuh Pat Parianom Gaya Batur

Keterangan:
| . | : | dibaca peniti/ketukan |
| + | : | jatuhnya pukulan kempur/kempul |
| ( ) | : | jatuhnya pukulan gong |
Gending gilak dalam Tabuh Pat Parianom gaya Batur diposisikan pada struktur pekaad. Pekaad yang berasal dari kata kaad yang berarti ‘keluar’, ‘pergi’, atau ‘hilang’. Namun, dalam konteks struktur gending tabuh di dalam gamelan Bali pekaad bermaksud bagian untuk menjelang akhir dari gending. Jadi, gending Gilak Tabuh Pat Parianom gaya Batur diposisikan sebagai gending untuk mengakhiri atau menjelang akhir gending dari bagian kawitan, pangawak, dan pangisep sebagai bagian inti dari gending Tabuh Pat Parianom gaya Batur. Dari bagian pangawak dan pangisep menuju bagian gegilakan disambungkan oleh bagian transisi yang disebut panyalit berupa bentuk gending bebaturan dan embat-embatan.
Gending Gilak Tabuh Pat Parianom gaya Batur ini dimainkan dengan cara berulang-ulang bersifat fleksibel dengan variasi angsel (ornamentasi) dan dinamika yang dipimpin oleh juru (pemain) kendang. Dalam penyajian berulang-ulang dengan sifat fleksibel peran juru kendang untuk mengatur timing angsel dan dinamika sangat penting. Diperlukan kemampuan penguasaan melodi secara utuh, kepemimpinan yang dapat meyakinkan seluruh penabuh untuk mengikuti segala jenis kode berupa vokabuler gebug (pukulan) kendang. Dalam penyajian gending gilak pada Tabuh Pat Parianom gaya Batur dengan menggunakan barungan gamelan gong gede terdapat juga peran juru kendang dalam memimpin pola ornamentasi ritmis dari cakepan ceng-ceng kopyak (cymbal Bali). Pola ornamentasi ritmis dari cakepan ceng-ceng kopyak selain berfungsi sebagai hiasan yang memperkuat melodi juga sebagai penguat dinamika. Juru kendang pula yang memiliki kuasa penuh untuk mengakhiri gending gilak dalam Tabuh Pat Parianom gaya Batur dengan pola gebug wangsit yang sebelumnya dilakukan pola ngeseh yang berangsur-angsur melambat. Pola ngeseh adalah sebuah pola yang dimainkan dengan intensitas kuat dank eras dalam waktu yang relatif singkat.
Ngelangkahin Gunung: Progresi Melodi Melompat-Lompat dalam Gilak Tabuh Pat Parianom Gaya Batur
Nglangkahin Gunung dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai ‘melangkahi gunung’. Dalam konteks musikal utamanya dalam gending gilak pada Tabuh Pat Parianom gaya Batur tidaklah berarti sebuah pekerjaan melangkahi sebuah gunung dengan gending, tetapi sebagai sebuah idiom dalam cara kerja melodi. Idiom nglangkahin gunung dalam tradisi gamelan Bali sering penulis dengar apabila terdapat sebuah melodi dengan progresi yang melompat-lompat dari susunan nada yang berdekatan. Untuk memahami progresi melompat-lompat ada baiknya pemahaman digiring dalam susunan laras dalam gamelan Bali dengan merujuk pada yang paling sederhana dalam susunan pelog lima nada. Adapun susunan nada pelog lima nada yang akan dijadikan acuan untuk idiom nglangkahin gunung adalah sebagai berikut.

Dari susunan pelog lima nada di atas terdapat lima nada yang berurutan antara satu dengan yang lainnya. Antara satu nada dengan nada yang lainnya memiliki hubungan musikal seperti jarak nada dan harmoni. Dalam susunan pelog lima nada di atas terdapat jarak nada yang sama dan tidak sama. Jarak nada yang sama dengan jarak 1 nada adalah antara nada ding-dang-dong, dong dan deng, serta dung dan dang. Sedangkan antara nada dang ke ding dan nada deng ke dung berjarak 1,5. Jarak nada 1,5 yang dimiliki oleh jarak nada dang ke ding dan nada deng ke dung kemudian berhubungan dengan konsep pelarasan tujuh nada yang dalam gamelan Bali disebut dengan saih pitu dengan penambahan nada daing hasil dari jarak nada dang ke ding serta dung hasil dari jarak nada deng ke dung.

Kemudian, terdapat juga konsep harmoni. Konsep harmoni dalam pelog lima nada disebut dengan ngempyung. Ngempyung adalah tumbukan atau benturan antara dua nada yang dibatasi oleh dua jarak nada.
Jika diamati dari susunan nada pelog lima nada maka nada ding ngempyung dengan nada dung, dibatasi oleh dua nada dong dan deng. Nada dong ngempyung dengan nada dang, dibatasi oleh nada deng dan dung. Nada deng ngempyung dengan nada ding, dibatasi oleh nada dung dan dang. Nada dung ngempyung dengan nada dong, dibatasi oleh nada dang dan ding. Terakhir nada dang ngempyung dengan nada deng, dibatasi oleh nada ding dan dong. Untuk lebih jelasnya dapat disimak pada tabel di bawah ini:

Dari kedua konsep jarak nada dan harmoni yang disebut kempyung dalam progresi melodi gamelan Bali digunakan sebagai piranti analisis untuk menemukan idiom nglangkahin gunung sebagai gerak melodi yang melompat-lompat dalam gending Gilak Tabuh Pat Parianom gaya Batur.
Nglangkahin gunung adalah sisi yang lain dari yang disebut dengan gending mapah. Gending mapah adalah idiom yang digunakan untuk menyatakan sebuah progresi melodi yang mengalir dari satu nada menuju nada yang berdekatan metafora dari pelepah (papah) pisang dan kelapa yang menghunus dari pangkal yang lebar menuju runcing pada bagian ujung dengan teratur. Adapun contoh progresi melodi yang disebut dengan mapah adalah sebagai berikut:

Melodi mapah berbalik dengan nglangkahin gunung yang berarti harus melompat, melompati bentuk demografi gunung secara wadag untuk menyatakan alur progresi melodi dengan tidak mengalir pada nada terdekat. Secara filosofis nglangkahin gunung digunakan sebagai idiom atas pemilihan nada yang melompat-lompat dalam sebuah melodi mengingat nada sendiri dalam konsep spiritual di Bali diposisikan pada posisi bagian atas dalam simbol ongkara. Sedangkan, gunung merupakan tempat puncak yang memiliki tatanan dan posisi di atas pula, oleh sebab itu jika melompati nada maka dapat diasosiasikan melangkahi gunung pula. Progresi melodi yang melompat-lompat banyak dijumpai pada susunan melodi gending Gilak Tabuh Pat Parianom gaya Batur meliputi pada baris ke 2,3 dan 4. Hanya baris pertama yang tidak nampak progresi melodi melompat-melompat melainkan menggunakan melodi mapah. Progresi melodi nglangkahin gunung pada gending Gilak Tabuh Pat Parianom dapat disimak pada tabel notasi di bawah ini:

Jika diamati pada tabel di atas dari notasi gending Gilak Tabuh Pat Parianom gaya Batur, maka dari baris ke dua sampai ke empat sebagai baris jatuhnya pukulan gong terdapat progresi melodi ngelangkahin gunung. Hanya pada baris pertama saja yang menggunakan progresi melodi mapah. Pola progresi melodi ngelangkahin gunung digunakan dalam penyusunan melodi gending Gilak Tabuh Pat Parianom gaya Batur adalah sebuah gagasan yang ingin disampaikan oleh “sang pangripta” gending terdahulu. Terlebih gagasan untuk memberikan penyeimbang dari progresi melodi mapah yang linear dengan menghadirkan progresi yang melompat-lompat namun dapat menyajikan sebuah melodi yang berkualitas.
Catatan Kaki
[1] dalam satu palet melodi terdiri dari delapan baris dan 64 ketukan/peniti
=====
*Tulisan ini adalah tulisan terpilih dalam program “Catatan Menuju Seabad Relokasi Batur” yang digelar Lingkar Studi Batur untuk memperingati HUT ke-3 tahun 2023 dan memperingati seabad peristiwa perpindahan Desa Adat Batur dari Desa Batur Let di kaki Gunung Batur menuju tempat saat ini. Tulisan ini juga akan terbit dalam buku berjudul Seabad Relokasi Batur yang saat ini dalam proses penerbitan.
**Penulis adalah akademisi di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali (dulu ISI Denpasar). Selain akademisi juga merupakan praktisi seni karawitan yang berasal dari Desa Bunutan, Ubud, Gianyar. Banyak berkiprah di event seni, baik di Bali maupun nasional.











