Oleh Putu Oka Suyasa*
Foto: Pakelem di Puncak Gunung Batur Kanginan (Pura Kanginan) (Maiva Utama)
========================
GUNUNG Batur dan Danau Batur memang menjadi primadona saat ini. Gunung Batur telah lama menjadi sasaran para pendaki dan pegiat alam bebas untuk melihat keindahan alam dari puncak Gunung Batur.
Pendakian Gunung Batur menjadi sasaran wisatawan dari berbagai belahan dunia. Selain wisatawan lokal dan domestik, setiap hari ribuan wisatawan mancanegara juga tak kalah ramai melakukan pendakian disana.
Pendakian Gunung Batur juga relatif mudah, Hanya dengan tracking 2—3 jam dari kaki Gunung Batur wisatawan sudah sampai di puncak gunung. Pemandangan yang menakjubkan akan tergambarkan apalagi saat beruntung, akan terbentuk sebuah negeri di atas awan yang sangat indah.
Panorama tersebut memang sangat sulit untuk dilewatkan, apalagi dewasa ini pendakian menjadi suatu kegaitan pariwisata yang menarik dilakukan. Jalur yang tidak begitu sulit membuat pendaki pemula pun dapat mencapai puncak, didukung dengan jalur yang sudah sangat jelas.
Namun demikian, kegiatan wisata ke Gunung Batur harus terhenti pada tanggal 14-15 Oktober 2023. Hal ini karena ada upacara agama yang dilakukan di Danau Batur dan Gunung Batur. Upacara itu adalah Karya Agung Danu Kerthi.
Nyepi karya merupakan salah satu agenda yang menjadi rangkaian agenda Karya Agung Danu Kerthi 1945 Saka/2023 Masehi. Nyepi karya adalah pelaksanaan menghentikan sementara aktivitas di Gunung dan Danau Batur.
Nyepi karya tidak saja digaungkan oleh masyarakat adat. Pelaksanaannya pun didukung oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (Balai KSDA) Bali. Dukungan itu dilakukan dengan terbitnya pengumuman No. PG. 01/BKSDA.BI-1/TU/10/23 yang menyatakan BKSDA Bali menutup sementara aktivitas pendakian di kawasan Taman Wisata Alam Gunung Batur Bukit Payang pada tanggal 14-15 Oktober 2023.
Walau hanya dua hari, penutupan tersebut menjadi pola yang bisa diterapkan dalam memberikan ruang terhadap alam untuk beristirahat dari aktivitas pariwisata. Ini jadi solusi untuk menghadapi problematika terkait Gunung Batur yang kini juga dimanfaatkan sebagai destinasi wisata.
Sebelumnya masih menjadi isu hangat terkait penutupan gunung untuk kegiatan wisata. Beberapa aktivitas selain pendakian Gunung Batur, seperti aktivitas jeep diharapkan berhenti. Kondisi sempat membuat suasana menghangat.
Namun, ketika upacara dilaksanakan, khususnya ketika nyepi karya, pelaku pendakian seolah dengan kesadaran sendiri tidak melakukan pendakian. Pemilik jeep di Batur pun saya lihat enggan membuka touring saat dilaksanakan nyepi karya. Kesadaran masyarakat dengan pola seperti itu menjadi efektif dalam upaya untuk memberikan ruang kepada alam untuk beristirahat. Pola ini tidak hanya berorentasi pada upacara, tetapi sebagai tindakan nyata untuk memberikan ruang kepada alam perlu terus digalakkan.
Di daerah lain penghentian kegiatan pariwisata pendakian gunung sudah banyak dilakukan saat akan adanya upacara di suatu pura. Sebagai contoh, apabila akan dilaksanakan upacara di Desa Pujungan, jalur pendakian Gunung Batukaru akan ditutup. Hal yang sama juga berlaku di Desa Selat, Karangasem di mana, jalur pendakian Gunung Agung akan ditutup sementara. Ini pola-pola yang baik untuk mengelola gunung kita ke depan.
====
*Penulis adalah alumnus Program Magister Fakultas Hukum Universitas Udayana yang juga seorang pemuda Batur. Seorang penggiat alam bebas.











