}} Palinggih Ida Ratu Gde Ngurah Subandar: Cermin Pluralitas hingga Tempat Memohon Tuntunan Bisnis - Bebaturan.id

Palinggih Ida Ratu Gde Ngurah Subandar: Cermin Pluralitas hingga Tempat Memohon Tuntunan Bisnis

Parahyangan
Suasana Konco Batur pada pelaksanaan Imlek.

BATUR – Pura Ulun Danu Batur di Desa Adat Batur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli merupakan situs yang sangat kompleks. Pura ini terdiri atas sejumlah palebahan (mandala) dan disokong oleh belasan kompleks pura pangideran yang tersebar di kawasan Kaldera Batur.

Mandala inti Pura Ulun Danu Batur terletak di jantung Desa Adat Batur yang terletak di tepi Jalan Raya Batur. Lokasi pura saat ini merupakan pura hasil relokasi pada tahun 1928. Sebelum erupsi Gunung Batur pada tahun 1926 Pura Ulun Danu Batur dan Desa Adat Batur terletak di kaki Gunung Batur sebelah barat daya. Saat ini kawasan desa lama telah terkubur lava hitam dan dikenal oleh wisatawan sebagai Black Lava.

Salah satu palinggih di mandala inti Pura Ulun Danu Batur adalah Palinggih Ida Ratu Gde Ngurah Subandar. Palinggih ini terletak di Utama Mandala Pura Ulun Danu Batur. Palinggih yang umum dikenal sebagai Konco Batur ini terletak di sebelah utara (kiri) dari Jero Agung (Bale Pasamuhan) di Utama Mandala Pura Ulun Danu Batur.

Konco Batur sejak dahulu telah menjadi simbol dari spirit pluralitas yang hidup di Batur. Palinggih ini menjadi tanda terjalin eratnya interaksi antara masyarakat Bali dan masyarakat Tionghoa. Hal ini ditandai dengan kerja sama yang dilakukan antara masyarakat adat Batur dan masyarakat Tionghoa.

Seperti nama palinggih-nya, Ida Bhatara utama yang bersetana di Konco Batur bergelar Ida I Ratu Gde Ngurah Subandar. Selain itu, di Konco Batur juga terdapat sejumlah tempat pemujaan menurut adat Tionghoa seperti pemujaan kepada Dewa Langit, Dewa Penjaga Pintu, Dewi Kwam Im, Dewa Tri Ratna, Dewa Kebijaksanaan, Dewa Bumi, dan Dewa Harimau.

Secara tradisi Batur, Ida I Ratu Gde Ngurah Subandar dipersembahkan upacara (pujawali) pada Wayon Agung Kadasa (Panglong ke-1 Sasih Kadasa atau sehari setelah Purnama Kadasa) dan Purnama Sasih Jyestha. Selain itu, upacara juga dilakukan saat perayaan Imlek.

Setiap pelaksanaan upacara tersebut, masyarakat adat Batur selalu bersinergi dengan masyarakat Tionghoa. Persembahyangan pun dilakukan melalui dua tradisi, yakni secara adat Bali ala Batur dan secara adat Tionghoa.

Pangemong Pura Ulun Danu Batur, Jero Gede Batur Duhuran menerangkan bahwa Konco Batur adalah salah satu dari ratusan palinggih yang terkait dengan Pura Ulun Danu Batur. Entitas Bhatara yang dipuja di sana bergelar Ida I Ratu Gede Ngurah Subandar yang diyakini sebagai dewa perdagangan.

“Konco Batur adalah satu-kesatuan yang tidak dapat terpisah dengan Pura Ulun Danu Batur. Kami telah mewarisinya sejak dulu kala, bahkan ketika Desa Batur masih terletak di kaki Gunung Batur dulu. Tempat dupa yang merupakan benda sakral pemujaan Ida Bhatara Ngurah Subandar adalah salah satu benda yang berhasil diselamatkan dari peristiwa letusan Gunung Batur tahun 1926. Demikian sejarahnya,” katanya.

Sebagai dewa perdagangan, umat juga diakui sering memohon petunjuk dan tuntunan dari Ida Bhatara Gede Ngurah Subandar agar diberi kesuksesan dalam berbisnis. “Banyak sekali yang meyakini hal itu, sehingga banyak orang yang mohon restu Beliau. Tidak saja dari Bali, tetapi juga dari luar Bali,” kata Jero Gede.

Pemangku Ida Ratu Gde Ngurah Subandar, Jero Mangku Eka Yasa Suryawan menambahkan pada hari-hari biasa, masyarakat yang ingin bersembahyang di Konco Batur dapat terlebih dahulu berkoordinasi dengan Kasinoman Adat Batur yang berada di sekretariat pura di samping utama mandala. “Kasinoman akan memfasilitas apabila konco belum dibuka atau menyiapkan hal-hal lain yang diperlukan, seperti menghubungi jero mangku misalnya,” kata jero mangku yang kini tengah menyelesaikan studi di Universitas Hindu Negeri I G.B. Sugriwa ini.

Selanjutnya, terkait dengan tata cara persembahyangan, ia yang telah ngiring sejak tahun 2010 itu mengatakan tata laksanakanya juga menurut masing-masing tradisi. Umat Hindu dapat bersembahyang secara Hindu dengan mempersembahkan banten. Sementara, secara adat Tionghoa dapat dilaksanakan bersaranakan dupa sebanyak 17 batang.

Persembahyangan menurut adat Tionghoa itu dimulai dari Dewa Langit kemudian ke Dewa Penjaga Pintu, dan barulah ke hadapan Ida I Ratu Gde Ngurah Subandar dan dewa-dewi yang bersetana di bagian dalam Palinggih Ida I Ratu Gde Ngurah Subandar.

—-

Penulis: jero Mangku Andika Budi Utama

Foto/Penyunting: Carik Hulu

Berita terkait