KEBUDAYAAN Bali yang kelahirannya dibidani aktivitas agraris tidak pernah terlepas dari air. Air bersetia mendampingi orang Bali mulai dari lahir dan hadir di dunia hingga kembali ke rumah sejati. Butiran air yang mengalir telah dicatat sejarah menciptakan persaudaraan antar komunitas, utamanya di Bali, menembus batas-batas kewilayahan dari kawasan hulu di pegunungan tengah hingga ke masyarakat pesisir pantai di keempat penjuru. Sebaliknya, air juga telah membuktikan dirinya menjadi sumber pemutus jaring persaudaraan. Oleh karena itu, tidak salah jika menjaga dan mengelola air adalah langkah paling strategis untuk meneruskan hidup.
Pulau Bali, meski tidak terlalu luas memiliki empat danau yang sejatinya cukup untuk memenuhi kebutuhan penghuninya jika dikelola dengan baik. Uniknya, keempat danau itu terletak di dataran tinggi, sehingga secara logika akan sangat mudah mengalir ke dataran yang lebih rendah. Bulir-bulir air dari keempat danau itulah yang kemudian mengalir menghidupi setiap mahkluk, menjadi tumpuan utama pangan di Bali. Pada sisi lainnya, aliran air ini turut membangun jaringan sosial dan budaya masyarakat Bali yang tersohor ke dunia, subak. Sementara itu, dalam ranah teologi, gunung dan danau turut dihormati sebagai titik-titik suci kediaman para dewa. Teks Kuttara Kanda Dewa Purana Bangsul misalnya, secara panjang lebar menguraikan keberadaan gununggunung tempat hunian para putra Hyang Pasupati, yang ditugaskan menjaga kesejahteraan Bali.
Sama halnya dengan gunung, keempat danau di Bali juga dinyatakan sebagai lingga Catur Dewi. Danau Batur sebagai danau terbesar di Bali merupakan stana Dewi Uma, Danau Beratan stana Dewi Gangga, Danau Buyan stana Dewi Laksmi, dan Danau Tamblingan stana Dewi Sri. Pada teks-teks lain, diantaranya Usana Bali, Kusuma Dewa, Nyan Pratekan Batara Maring Bali, Raja Purana Pura Ulun Danu Batur, juga sejumlah babad, penguasa air danau tertuju pada tokoh bergelar Hyang Bhatari Dewi Danuh. Tokoh teologi ini digambarkan sebagai penguasa unsur pradhana, bersanding dengan penguasa unsur purusa, Ida Bhatara Putrajaya. Keduanya oleh masyarakat Hindu di Bali dipandang sebagai personifikasi Bhatara Rwa Bhineda. Bhatari Dewi Danuh berstana di Gunung Batur, sementara Bhatara Putrajaya berstana di Gunung Agung.
Ketokohan Bhatari Dewi Danuh yang “menetap” di kawasan resapan air sentral di Bali inilah yang merekatkan sebagian besar masyarakat subak. Keterikaan itu semakin menguat dengan lahirnya cerita lisan, yakni mitos Ida Ratu Ayu Mas Membah. Mitos yang hingga saat ini masih hidup di tengah-tengah masyarakat itu menguraikan keterikatan Batur dan masyarakat di kawasan Bali Timur hingga Bali Utara. Dalam praktik ritual, relasi masyarakat subak dan Batur tergambar cukup jelas melalui proses nunas tirta pakuluh di Pura Ulun Danu Batur. Tirta pakuluh yang dimohon digunakan untuk merawat dan meruwat sawah dan tanaman padi, mulai dari persiapan tanam hingga memanen hasilnya. Sebagai wujud terimakasih, pada upacara Ngusaba Kadasa masyarakat subak akan menghaturkan hasil panen (sarin tahun atau sawinih) untuk dipersembahkan kehadapan Dewi Danuh (Bhatari Sakti Batur).
Penyokong Pura Ulun Danu Batur
Masyarakat subak yang terlibat dalam jaringan aliran tersebut diistilahkan dengan pasihan. Kata pasihan kemungkinan berasal dari kata dasar pasih, kemudian mendapat afiksasi –an. Kata pasih diartikan sebagai ‘laut’; ‘gelar’ (pepasih); ‘bujuk’, ‘rayu’, ‘hibur’ (Tim Penyusun, 2016: 50).
Sementara itu, Jero Gede Batur Duhuran, menjelaskan Pasihan Ida Bhatari Batur sebagai masyarakat subak pengelola lahan pertanian yang sumber air irigasinya berasal dari aliran air Danau Batur. “Pasihan Ida Bhatari adalah subak-subak yang telah nunas tirta (memohon air suci), kecoran tirta yang berasal dari Danau Batur. Air itulah yang kemudian dimanfaatan di masing-masing subak,” kata Jero Gede Batur Duhuran.
Dalam setahun, subak-subak yang masuk sebagai anggota Pasihan Ida Bhatari Batur setidaknya akan memohon tiga kali tirtha pakuluh, mulai dari menanam hingga memanen padi. Pada Sasih Kasa masyarakat subak bersangkutan akan memohon tirta pangruak (tirta pangendag), kemudian dilanjutkan dengan memohon tirta panglanus (tirta panangluk merana pada Sasih Kalima. Selanjutnya, pada Sasih Kadasa, ketika Ida Bhatari-Bhatari Turun Kabeh, masyarakat subak yang dimaksud akan memohon tirta usaba (tirta sawinih).
Proses ini berjalan secara siklus terus menerus, meski saat ini sawah telah menghasilkan padi hingga tiga bulan sekali. Atas segala nikmat yang diberikan oleh alam semesta melalui wujudnya aliran air Danau Batur, masyarakat subak Pasihan Ida Bhatari Batur yang dimaksud juga memiliki kewajiban mempersembahkan hasil buminya sebelum pelaksanaan Ngusaba Kadasa (ngaturang sawinih atau sarin tahun). Hasil bumi inilah yang digunakan sebagai bahan berbagai perlengkapan upacara selama Ngusaba Kadasa.
“Apa yang dihaturkan oleh krama subak (sebelum Ngusaba Kadasa) itu berbeda-beda, ada yang hanya kena kelapa, ada yang menghaturkan beras, ada berupa babi, berupa kerbau, ada juga yang hanya berupa salaran. Intinya antara satu subak dengan subak lainnya itu berbeda-beda,” kata Jero Gede Duhuran.
Dituturkannya, sebagai Pangemong Pura Ulun Danu Batur, dalam siklus perjalanan air itu, masyarakat Batur secara penuh bertindak sebagai pelayan krama subak. Menjelang Ngusaba Kadasa, masyarakat Batur juga bertanggung jawab mengingatkan persembahan-persembahan yang hendaknya dipersembahkan krama subak ke Pura Ulun Danu Batur. “Kami dari Batur sifatnya hanya sebagai panyanggra (penyambut) dan penyelenggara upacara. Untuk itu kami berkewajiban menyurati Pasihan Ida Bhatari Batur itu sebagai bentuk pemberitahuan akan digelar pujawali. Hingga saat ini, pemberitahuan itu masih ditulis menggunakan lontar, yang ditulis oleh Jero Penyarikan Pura Ulun Danu Batur,” tuturnya.
Menurut Suparta (1993:34), atas dasar keterikatan yang terjalin inilah, Pura Ulun Danu Batur selain berstatus sebagai parahyangan Rwabhineda dan Sad Winayaka, juga memiliki kedudukan dan status sebagai pura fungsional (pangulun subak di Bali). Dalam hal ini, Pura Ulun Danu Batur secara khusus merupakan panyiwian dan panyungsungan krama subak di Bali, yang mengambil sumber air di kesebelas sumber mata air petirtaan Bhatari Danuh, yang berlokasi di taman Lembah Gunung Batur, di samping dari Danau Batur.
Pura Ulun Danu Batur juga berkedudukan, berstatus dan berfungsi sebagai Pura Teritorial karena keterikatan krama subak yang wilayah atau palemahannya mengambil sumber air di sumber-sumber itu. Keterikatan terirotial ini diejawantahkan dalam swadharma keagamaan oleh masing-masing palemahan subak seperti melakukan upacara memendak tirta ke Pura Ulun Danu Batur pada saat melakukan upacara mapag toya, ngendag, ngawit mamakal, ngawit mamulih, ngawit ngurit di subak masing-masing. Termasuk pula patut nuwur tirta panglanus setelah beberapa Wuku Panguritan agar terbebas dari segala jenis hama, saat mabiyukukung, saat padi telah keluar dari batangnya sampai isinya (biji) menjadi kental. Swadharma krama subak lainnya datang ketika masyarakat subak menggelar Ngusaba Panganyian (saat mengetam padi), dan saat Ngusaba Nini, termasuk menghaturkan sawinih atau sarin tahun saat Ngusaba Kadasa berlangsung.
Bentang Kewilayahan Pasihan Ida Bhatari Sakti Batur
Jero Gede Batur Duwuran menjelaskan, bentang kewilayahan Pasihan Ida Bhatari Batur melintasi sejumlah kabupaten di Bali. Menurut catatan Raja Purana Pura Ulun Danu Batur bagian Pratekaning Usana Siwa Sasana 14b, Pasihan Ida Bhatari Batur berjumlah 45 desa yang saat ini telah berkembang menjadi lebih banyak. Adapun uraian dalam teks yang merupakan satu dari 13 cakep lontar itu adalah sebagai berikut.
…ne kawnang awawangun pajênêngan ring Tohlangkir, ring Sinarata, tinanggu ika dwan samangkana Bhatara anyatur bhuwana, angelinga ikang pasihyan, Ratu Gunung Menang, pasihyan ida 32, Ratu Maduwe Jagat pasihyan ida 35 desa, pasihyan Ratu Tuluk Biyu 21, salikur desa, Ida I Ratu Sakti Sinarata, 45 desa… (…yang patut membangun stana di Tohlangkir, di Sinarata, diakhiri para dewa demikian rupa ke segala penjuru, mengingatkan pasihan beliau, Ratu Gunung Menang jumlah pasihannya 32, Ratu Madewe Jagat pasihannya 35 desa, Pasihan Ratu Tuluk Biyu 21 desa, Ida Ratu Sakti Sinarata 45 desa…)”
Sementara itu, berdasarkan bentang kewilayahannya, Pasihan Ida Bhatari Batur dibatasi oleh sungai-sungai. Bentang kewilayahannya ibarat dua mata jaring bersimpul di Kaldera Batur, kemudian menjalar ke dataran rendah di utara dan selatan. Adapun penjabaran bentang kewilayahan pasihan itu turur dapat dilihat dalam Pratekaning Usana Siwa Sasana 14b sebagai berikut.
..Ne kwanang i pasih sira wnang ing wong Buleleng, kanginnya Tianyar, ne ring nagara sadauh Yeh Unda, kulonnya dangin Yeh Sumi, mangkana ne kadi arep (Yang patut sebagai pasihan beliau adalah masyarakat Buleleng, [dengan batas] timurnya Tianyar, di kawasan sebelah barat Yeh Unda [Sungai Unda, Klungkung], wilayah baratnya sebelah timur Yeh Sumi [Sungai Sungi, Tabanan], demikian sebagaimana di depan).
Jero Gede Batur Duhuran menambahkan, batas bagian utara di sebelah timur yang dimaksud penjelasan Raja Purana Pura Ulun Danu dibatasi Tukad Macanggah di Tianyar, Kubu dan Tukad Banyumala, Sukasada, Buleleng. Bentang kawasan utara ini turut dikuatkan pada rekam mitos Ida Ratu Ayu Mas Membah (Duija, 2009). “Jadi itulah bagian Pasihan Ida Batari Batur, di timur itu, di luar penjelasan yang ada dalam Raja Purana, krama subak sudah mengacu ke Besakih, sementara di bagian barat, di luar yang dinyatakan masuk dalam kelompok Beratan,” jelas Jero Gede Batur Duhuran.
Merujuk konsep ini, Kaldera Batur melalui sebelas sumber mata air (tirta rolas) yang dikuasai Bhatari Dewi Danuh secara secara tegas diposisikan sebagai inti resapan air penunjang sungai-sungai itu. Sementara, penjelasan lebih jelas penjelasan Jero Gede Batur Duhuran, pada bagian utara, batas bagian barat
Tumpuan Mempertahankan Subak
Bertumpu pada jejaring sosial-budaya yang dibangun melalui sistem pasihan, sekiranya dapat ditarik suatu simpulan tentang kesadaran ekologis yang dibangun leluhur Bali sejak berabad-abad silam. Orientasi pemujaan terhadap gunung (hutan) dan danau sejatinya adalah suatu kesadaran tentang keberadaan energi-energi alam pemelihara manusia. Jika pun pada praktik selanjutnya orientasi pemujaan pada unsurunsur ekologi itu memunculkan jejaring ritual yang kompleks tak lebih sebagai media pengingat betapa pentingnya alam lingkungan yang lestari sebagai penyambung hidup.
Berabad-abad lalu, leluhur Bali barangkali berupaya memproduksi mitos-mitos guna mencegah perusakan energi-energi hidup itu dari tangan-tangan usil manusia. Sosok-sosok seram yang digambarkan hidup di hutan belantara adalah penjaga hutan agar tak ditebang, pemusatan parahyangan para dewa dewa di puncak-puncak gunung mengupayakan agar puncak tetap steril, minimal tidak terlalu sering dijamah masyarakat. Pun, hidupnya kisah Ida Ratu Ayu Mas Membah yang berjualan air ke desa-desa, barangkali merupakan tanda pengingat menjaga relasi aliran air dari hulu ke hilir.
Pada era yang semakin maju, simpul-simpul ekologis seperti sawah dan gunung (juga hutan) kini terancam alihfungsi, pencemaran, hingga sampah plastik. Mitos-mitos yang diproduksi leluhur seakan mulai kehilangan taringnya. Ia terlindas pemikiran kritis generasi milenial yang sejatinya merupakan olahan kuali mitos-mitos tersebut. Jika kisah-kisah penjaga lingkungan tak mampu lagi menjaga lingkungan, bahkan dirinya, kepada siapa lingkungan akan berlindung? Jawabannya adalah mitos-mitos baru yang diproduksi sesuai dengan situasi milenial kini.
Mitos-mitos baru itu salah satunya adalah regulasi. Saat ini, untuk melindungi pusat-pusat ekologi Bali, perlu dibuatkan regulasi untuk mengatur. Aturan-aturan itu dapat berupa pengaturan soal alih fungsi, penggunaan obat pertanian kimiawi, atau pengaturan penggunaan sampah plastik wajib diberlakukan tanpa pandang bulu atau mengulur waktu lebih lama lagi. Dan, serangkaian Pergub yang lahir dari tangan Gubernur Bali, Dr. I Wayan Koster dan Wakil Gubernur Bali Dr. Tjokorda Artha Ardhana Sukawati telah menjadi semangkuk harapan yang mengurai masalah tersebut. Kini, publik menunggu komitmen itu terus berlanjut.
____
*Tulisan ini telah terbit pada Majalah Batur: Kata Penyambung Peradaban Edisi 2, Maret 2019 sebagai laporan utama.
________
Penulis: IK Eriadi Ariana [Jero Penyarikan Duuran Batur], Jero Adit Alamsta, NL Meisa Wulandari
Editor: Carik Hulu
Foto: Jero Penyarikan Duuran Batur











