}} Peluang Ekskavasi Situs Pemukiman Batur Let* - Bebaturan.id

Peluang Ekskavasi Situs Pemukiman Batur Let*

Pasuara
Mencari Titik o Batur

Oleh I K.S. Wira Darma**

Foto: Mencari Titik o Batur. Pada tahun 2020 beberapa orang masyarakat Batur melakukan kunjungan ke situs yang diduga sebagai pusat Desa Batur Let [Batur Kuna] di kaki Gunung Batur sebelah barat daya. Tampak salah satu masyarakat membandingkan Gunung Batur saat ini dengan foto Gunung Batur pada foto koleksi Belanda sebelum tahun 1926 dan menemukan posisi yang sama persis. Tempat tersebut kemudian diyakini sebagai kawasan pusat Desa Batur Kuna yang tenggelam dilahap lahar tahun 1926 dan seterusnya (Maiva Utama).

========================

GUNUNG Batur telah berkali-kali meletus. Letusan Gunung Batur yang tercatat dalam sejarah dimulai sejak tahun 1804. Sejak tahun 1804 hingga 2005, Gunung Batur telah meletus sebanyak 26 kali. Jurnal karya Junghuhn (1850) mencatat ada letusan dan aliran lava pada tahun 1849 yang mengalir ke arah selatan sampai Danau Batur. Awal tahun 1906, Gunung Batur kembali meletus. W. O. J. Nieuwenkamp pada kedatangannya yang kedua pada tanggal 2 November 1906 menyaksikan sebagian besar pura di Desa Batur (Batur Let) telah roboh. Pada kunjungannya yang ketiga tahun 1919, Nieuwenkamp menyebutkan bahwa hancurnya Pura Batur disebabkan oleh timbunan lahar Gunung Batur yang terjadi pada awal tahun 1906 dan oleh gempa bumi dahsyat yang terjadi pada tanggal 21 Januari dan 4 Februari tahun 1917. Informasi ini didapatkan dan dimuat oleh Koran Batavia (De Java Courant)[1]. Pada tahun 1963 dan 1964 erupsi terjadi lagi, berupa lelehan lava ke arah barat, selatan, dan barat daya. Tahun 1926, Gunung Batur di utara Pulau Bali itu lagi-lagi meletus. Salah satu letusan hebat yang tercatat dalam sejarah. Gunung Batur mengeluarkan lelehan lava yang menimbun Desa Batur, tetapi tidak menimbulkan korban jiwa.

Salah satu sumber mengatakan bahwa setelah gunung berapi itu meletus hebat pada tahun 1926, baik desa dan pura dihancurkan, kecuali pura yang paling penting yakni meru 11 tingkat yang didedikasikan untuk Dewi Bhatari Ulun Danu. Akibatnya, penduduk desa pindah ke tepi kaldera tertinggi, di mana mereka membangun kembali desa dan pura mereka.

Sampai saat ini kita bertanya-tanya bagaimana kondisi sebenarnya pemukiman Batur Let itu. Banyak orang mengatakan kemungkinan desa Batur Let beserta bangunan sucinya telah hilang menjadi debu akibat terdampak aliran lava Gunung Batur. Di balik segala kemungkinan itu, saya mencoba mencari kemungkinan lain bahwa kita masih berpeluang menemukan jejak-jejak pemukiman Batur Let dengan usaha penggalian melalui ekskavasi[2]. Ekskavasi adalah pekerjaan arkeologi yang khas. Ekskavasi menggunakan metode dan teknik yang cermat dilengkapi pengukuran dan perekaman. Karena bersifat perusakan, ekskavasi harus dilakukan hati-hati sekali oleh orang yang berkompeten. Jadi, ekskavasi tidak boleh dilakukan sembarang orang, apalagi untuk tujuan mencari keuntungan pribadi. Ekskavasi demikian bersifat ilegal, biasa disebut penggalian liar. Mereka bisa dituntut secara pidana.

Sebagai gambaran, kita dapat berkaca pada usaha-usaha penelitian di daerah pemukiman yang pernah terdampak letusan gunung, misalnya bisa kita lihat dari kegiatan penelitian di wilayah Gunung Tambora. Gunung Tambora di Semenanjung Sanggar, Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, meletus dahsyat pada April 1815. Letusan terbesar yang tercatat dalam sejarah. Kekuatan letusannya, berdasarkan Volcanic Explosivity Index, berada pada skala 7 dari 8, hanya kalah oleh letusan Gunung Toba (Sumatera Utara) sekitar 73.000 tahun lalu.

Usaha awal penelitian tentang Tambora dilakukan oleh peneliti luar negeri. Haraldur Sigurdsson, ahli vulkanologi dari Universitas Rhode Island, Amerika Serikat, terpukau dengan artefak yang ditemukan warga saat dia mengunjungi ke Tambora pada 1986. Dia pun memimpikan bahwa Tambora bisa menjadi “Pompeii dari Timur”. Pada tahun 2004, dia kembali ke Tambora dan mengajak peneliti Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Igan Sutawijaya, untuk memulai penggalian. Hasilnya, mereka menemukan balok kayu bekas rumah yang terarangkan, tembikar, keramik, peralatan rumah tangga, gabah dan kopi yang nyaris hangus, perhiasan dari perunggu, serta dua kerangka manusia. Satu kerangka ditemukan dalam posisi tertelungkup persis di depan rumah. Tidak hanya ahli vulkanologi yang terkejut, penemuan itu juga mengguncang dunia arkeologi. Jejak kehidupan yang terkubur letusan gunung terbukti ada.

Pada Mei 2006, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) melakukan ekskavasi di Tambora bekerja sama dengan Museum Geologi. Balai Arkeologi Bali yang berada di bawah Puslit Arkenas juga mulai melakukan penggalian di kawasan itu sejak 2008. Namun, upaya penyingkapan jejak masa lalu berlangsung lambat. Hanya satu kotak yang digali setiap tahunnya, yaitu bidang berukuran sekitar 25 meter persegi. Masalahnya adalah keterbatasan anggaran, sehingga penggalian secara besar tidak dapat dilakukan.

Pemukiman Batur Let baru 100 tahun lalu terkubur, jauh lebih baru dibandingkan Tambora, tetapi kita hanya tahu sedikit tentang Desa Batur Let. Karena itu, dalam tulisan ini saya mencoba menimbang dan mendorong peluang untuk melakukan penelitian secara komprehensif, khususnya kegiatan ekskavasi. Setidak-tidaknya ekskavasi berupa tes spit[3]. Proses ekskavasi itu tidak sembarangan seperti menggali lubang, tetapi melalui proses yang sesuai pedoman. Proses ekskavasi diawali dengan penentuan lokasi, pendokumentasian lingkungan lokasi ekskavasi, pembersihan lingkungan lokasi ekskavasi, pembuatan tata letak (lay out) kotak ekskavasi, penamaan kotak ekskavasi, pendokumentasian permukaan kotak ekskavasi, pemetaan, kemudian barulah dilakukan penggalian/pengupasan lapisan tanah secara hati-hati. Selama proses ekskavasi wajib melakukan perekaman. Tanah hasil penggalian dilakukan pengayakan/penyaringan, kemudian dilakukan perekaman stratigrafi, dan terakhir pendokumentasian akhir kegiatan ekskavasi.

Memang usaha ini tidak mudah, perlu keahlian, sokongan dana, dukungan teknologi dan tentunya niat melakukannya. Banyak tantangan dan kendala yang akan dihadapi. Hanya saja, sangat disayangkan apabila setelah peneliti luar melakukan penelitian di Desa Batur Let, kita baru berbondong-bondong mengikuti. Seperti situs-situs lainnya. Kita harus menjadi pelopor, dan pembuka kunci wasiat budaya kita sendiri. Bali tidak kekurangan ahli-ahli di bidang ini, seperti akademisi di Universitas Udayana, peneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan di Balai Pelestarian Kebudayaan XV.

Pemukiman Batur Let sangat berpotensi menjadi open site museum[4]. Sama seperti dengan Pompeii di Italia, yang terkubur letusan Vesuvius pada tahun 79 Masehi. Letusan Pompeii telah diabadikan dalam museum. Pompeii yang terkubur juga direkonstruksi hingga menjadi wahana belajar masyarakat. Areal pemukiman Batur Let dapat dijadikan sebagai geowisata, wisata sejarah, edukasi, dan riset.

 

Catatan Kaki

[1] informasi ini dimuat pada website sejarahbali.com

[2] Ekskavasi adalah salah satu teknik pengumpulan data melalui penggalian tanah yang dilakukan secara sistematik untuk menemukan suatu atau himpunan tinggalan arkeologi dalam situasi insitu.

[3] Test Pit adalah kotak ekskavasi yang sifatnya sebagai penggalian uji coba atau pendahuluan untuk mengetahui lapisan tanah (stratigrafi) dan kandungan arkeologisnya.

[4] Open Site Museum adalah jenis museum yang lokasinya berada pada lokasi ditemukannya koleksi, yang disajikan langsung di lapangan sebagaimana adanya, sehingga pengunjung dapat menangkap nuansa temuan koleksi dan sekaligus memperoleh maknanya.

 

=====

*Tulisan ini adalah tulisan terpilih dalam program “Catatan Menuju Seabad Relokasi Batur” yang digelar Lingkar Studi Batur untuk memperingati HUT ke-3 tahun 2023 dan memperingati seabad peristiwa perpindahan Desa Adat Batur dari Desa Batur Let di kaki Gunung Batur menuju tempat saat ini. Tulisan ini juga akan terbit dalam buku berjudul Seabad Relokasi Batur yang saat ini dalam proses penerbitan.

**Penulis adalah arkeolog jebolan Prodi Arkeologi Universitas Udayana. Ia adalah pemuda dari Desa Selat Tengah dan kini tengah menyelesaikan studi di Program Magister Kajian Budaya Universitas Udayana.

Berita terkait