}} Peluang Pengembangan Ekowisata Religius di Desa Adat Batur* - Bebaturan.id

Peluang Pengembangan Ekowisata Religius di Desa Adat Batur*

Batur Matangi, Pasuara
Tirta Mampeh.

Prof. Dr. Drs. I Ketut Setia Sapta, S.E., M.Si.**

Foto: Patirtan Toya Mampeh, salah satu patirtan penting di Desa Adat Batur (Kadek Wendra Pratawa).

========================

PEMBANGUNAN nasional, khususnya pembangunan ekonomi, pada hakikatnya merupakan proses pembangunan yang bersifat multidimensional. Pembangunan multidimensional dimaksudkan tidak hanya dilakukan dalam satu asepk ekonomi, tetapi menyangkut banyak aspek di dalamnya dan berupaya untuk mengembangkan berbagai aspek ekonomi yang tumbuh dan berkembang di masyarakat. Hal ini dilakukan karena salah satu upaya yang diharapkan dalam mengembangkan perekonomian masyarakat adalah tercapainya kesejahteraan masyarakat, yang sekaligus merupakan arah dan setiap geliat kegiatan suatu daerah, di mana penduduk bermukim tidak terkecuali yang terjadi pada masyarakat adat di Batur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Untuk memenuhi maksud tersebut setiap langkah dan tindakan mengacu kepada arah kesejahteraan masyarakat, baik yang berhubungan dengan usaha untuk memenuhi kebutuhan material maupun spiritual. Masyarakat adat Batur dengan kondisi yang dimiliki hingga saat ini maupun tradisi yang sudah dibangun sejak dahulu kala sudah tentu memiliki kekhasan tersendiri, baik yang bersifat kebendaan/material maupun non material.

Untuk mencapai masyarakat yang sejahtera sebagaimana diharapkan dalam konteks pembangunan nasional, maka diperlukan pola pikir dan pola pembangunan yang mengedepankan lingkungan di mana masyarakat berada. Pola pikir dan arah kegiatan ekonomi masyarakat adat Batur yang bersuasana dan bernuansa Kaldera Batur juga terpolakan berbeda dengan masyarakat lainnya, sekalipun dalam lingkungan masyarakat di wilayah “Wingkang Ranu”. Kearifan ekonomi Batur didukung dengan keberadaan Desa Batur yang terdiri atas 6 palebahan di luar Pura Ulun Danu Batur seperti halnya dengan Pura Besakih. Ada 380 buah bangunan palinggih dan 13 kompleks pura. Palemahan Desa Adat Batur di dalamnya juga termasuk juga Gunung dan Danau Batur. Keduanya menjadi obyek dan daya tarik wisata yang sebenarnya sejak zaman pemerintahan kerajaan sampai sekarang pengelolaan obyek dan daya tarik wisata itu sepenuhnya diberikan kepada Desa Adat Batur.

Telah disebutkan dalam berbagai sumber bahwa terdapat empat situs yang masuk dalam warisan budaya dunia (WBD) di Provinsi Bali dalam kategori culture landscape. Keempat situs tersebut merupakan satu-kesatuan yang mencerminkan bagaimana sistem subak dilestarikan. Salah satu dari ke empat sistem itu adalah kawasan Pura Ulun Danu Batur dan Danau Batur. Atas pengelolaan itu pula UNESCO pada tahun 2013 memberikan pengakuan dan memberikan sertifikat kepada Pura Ulun Danu Batur sebagai warisan budaya dunia dan sertifikat Pura Ulun Danu Batur sebagai pura panguluning subak dengan sertifikat “Geopark Kaldera Batur”.

Oleh karena itu, maka peluang penerapan ekonomi masyarakat Batur tidak dapat dilepaskan dari kondisi obyektif masyarakat sekitarnya dari kehidupan yang penuh dengan kehidupan religiusnya. Sekalipun arah dan tujuan itu tidak serta merta terpola dengan keadaan, tetapi menyatu dengan kehidupan alam. Menurut hal itulah, Wirata menilai bahwa kearifan ekonomi Batur berkiblat pada ekowisata, bahkan menyitir pendapat Janianton disebut sebagai ekonomi ekoreligius karena kegiatan ekonomi masyarakat Batur pada umumnya diarahkan untuk kepentingan upakara keagamaan. Masyarakat di Batur berjuang untuk kehidupan ekonominya, mengarah untuk memenuhi kebutuhan materal dan spiritual, baik di dalam lingkungan tingkah laku kehidupan kebutuhan hidup maupun untuk penghidupan di masyarakat sendiri. Ekowisata merupakan bentuk industri pariwisata berbasis lingkungan yang berupaya untuk meminimalkan dampak yang muncul terhadap alam dan budaya lokal sekaligus menciptakan peluang kerja dan meningkatkan pendapatan serta membantu kegiatan konservasi alam itu sendiri.

Beraktivitas dengan danau dan gunungnya memberikan berkah bagi kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, maka kehidupan pertanian yang dapat memasok kebutuhan pariwisata merupakan tantangan sekaligus harapan masyarakat adat, khususnya di Batur. Kondisi dan profil desa adat sudah tentu memiliki kekhasan tersendiri bilamana dibandingkan dengan daerah lainnya, baik dari segi budaya maupun religiusitas masyarakatnya.

 

Aspek Penerapan

Di samping catatan tentang kekuatan yang dimiliki desa adat, berbagai kearifan atau kecerdasan lokal yang dimiliki desa adat juga perlu diidentifikasi. Kearifan lokal dengan berbagai kecerdasan yang dimiliki merupakan bagian dari kebudayaan. Kearifan lokal dalam organisasi desa adat memiliki basis tri hita karana memperoleh apresiasi universal sesuai dengan kandungan lokal jenius. Esensi dari kearifan lokal adalah komitmen yang tinggi terhadap kelestarian alam, rasa religiusitas subyektivitas manusia dan konstruksi penalaran yang berempati kepada persembahan, harmoni, kebersamaan, dan keseimbangan untuk jagathita berkelanjutan. Di sinilah letaknya kearifan lokal sebagai lokal jenius dari keberadaan Desa Adat Batur.

Sudah menjadi wacana publik bahwa subak dan desa adat adalah dua sejoli yang merupakan bemper dari kebudayaan Bali. Kalau subak di Bali mengalami proses ketidakberlanjutan maka hal ini bermakna bahwa kebudayaan Bali akan ikut goyah. Hal ini dipertegas oleh Sutawan (2001) dan Windia (2006). Sementara, Windia, dkk. dalam penelitiannya di Gianyar menunjukkan bahwa peran subak dan desa adat dalam mentransformasikan kebudayaan Bali (khususnya konsep tri hita karana) cenderung lebih kuat dibandingkan dengan desa adat. Oleh karena itu perlu dikaji berbagai kiat agar subak di Bali dapat terus berlanjut. Dengan demikina kebudayaan di Bali akan dapat lebih kokoh.

Kita mengetahui bahwa situs Pura Ulun Danu Batur dipercaya oleh seluruh anggota masyarakat subak di Bali sebagai tempat berstananya Dewi Danuh sebagai dewi kesuburan. Terkait dengan hal tersebut maka hampir setiap tahun sekali seluruh anggota masyarakat subak di Bali akan melakukan persembahyangan di Pura Ulun Danu Batur sebagai wujud tanda terima kasih mereka kepada Tuhan Yang Maha Kuasa karena telah memberikan hasil pertanian yang baik dan terhindar dari kekurangan pangan (Pemerintah Provinsi Bali, 2010). Hal tersebut merupakan salah satu bentuk implementasi tri hita karana dalam konteks parahyangan yaitu menjaga keselarasan hubungan antara manusia dengan Tuhan Yang Maha Kuasa sebagai sang pencipta dan pemelihara beserta seluruh isinya. Selanjutnya Danau Batur merupakan salah satu wujud fisik dari kesuburan karena sebagai sumber daya air yang dipercaya masyarakat Bali adalah sumber kehidupan, karena tidak ada kehidupan tanpa air. Oleh karena itu, maka suka tidak suka mau tidak mau masyarakat Bali harus menjaga kelestarian sumber daya air yang ada di Danau Batur. Terkait dengan kondisi tersebut maka upaya konservasi terhadap sumber daya air di Danau Batur dilakukan melalui konservasi kawasan hutan yang ada di bagian atas kawasan perairan Danau Batur yang meliputi hutan lindung, hutan taman wisata sebagai hutan yang dikuasai negara serta hutan produksi yang dikuasai rakyat.

Sejalan dengan perkembangan saat ini maka apa yang diungkapkan Ramanta, cukup beralasan bahwa konsep ekonomi Nangun Sat Kerthi Lokha Bali yang berbasis alam, manusia dan kebudayaan Bali merupakan rencana srategis dan caracerdas diungkapkan Gubernur Bali dari Konep yang dibangun para pendahulu kita dijabarkan dalam bentuk sad kerthi Bali. sekaligus cara cerdas konsep ekonomi Bali untuk mewujudkan kemajuan ekonomi, kesempatan kerja dan kesejahtraan masyarakat Bali sekaligus memproteksi Bali dari tekanan ekonomi secara global.   Dalam konsep ekonomi Sat Kerthi juga ditopang ekonomi digital dan ekonomi kreatif dengan tujuan untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional maupun ekonomi lokal (Bali).

Sekalipun sumber ekonomi kerakyatan yang dimiliki masyarakat Bali seperti pasar rakyat dan Bumdes dari masing masing desa yang ada di Bali serta saat ini adanya Bupda (Baga Utsaha Padruwen Desa Adat) di tiap desa adat juga harus memiliki konsep semangat spiritualnya efisiensi dan kenyamanan masyarakat selain pariwisata Bali memiliki potensi lain selain pariwisata. Menjaga alam dan mengembangkan kebudayaan Bali berbasis manusia Bali. Sehingga dari sinilah kita di Bali memiliki potensi ekonomi kreatif untuk dikembangkan seiring dengan perkembangan pariwisata untuk masyarakat Bali itu sendiri. Masalahnya tinggal bagaimana kita mampu mengemasnya menjadi seiring dengan kebutuhan pariwisata. Apa yang dilahirkan dari pariwisata sebagai produk yang sudah lama berkembang dibarengi dengan produk lainnya sehingga Bali memiliki lokal jenius yang berbeda dengan daerah dan negara lainya di dunia. Oleh karena itu regulasi pemerintah dengan stakeholder sangat diperlukan ketika pariwisata sudah mulai menunjukkan kemajuannya. Konsep Ekonomi Sad Kerthi Loka Bali sudah tepat dan seirama dengan kondisi Bali saat ini yang harus kita kawal.

Bali, khususnya Desa Adat Batur yang berada di antara gunung dan danau memiliki potensi yang cukup besar untuk dikembangkan sebagai daerah pariwisata sekaligus dengan semangat spiritualnya. Pura Ulun Danu Batur dan Danau Batur sebagai perwujudan dan stananya “Dewi Danuh” dapat menjadi modal yang cukup besar dan sangat menjanjikan dikembangkan. Oleh karna itu masyarakat dapat memanfaatkan geliat ekonomi Batur sebagai ikon yang dapat dikemas untuk memenuhi salah satu kegiatan pariwisata di Bali.

Kintamani sebagai kecamatan dari Desa Adat Batur juga memiliki potensi yang cukup besar untuk dikembangkan. Konsep pariwisata yang cocok untuk dikembangkan di Desa Adat Batur adalah ekowisata religius. Karena memiliki panorama yang dikelilingi oleh Kaldera Gunung dan Danau Batur. Kaldera ini merupakan kaldera yang terindah di dunia. Di tempat ini juga didirikan tempat suci yang disebut Pura Ulun Danu Batur. Oleh masyarakat Batur pura ini sangat disucikan. Jadi, konsep ekowisata religius dinilai cocok untuk dikembangkan di Bali, khususnya di wewidangan atau kawasan Desa Adat Batur. Semoga segala potensi ini dapat dikembangkan dengan baik dan bermanfaat bagi masyarakat. Svaha!

 

=====

*Tulisan ini adalah salah satu epilog buku Seabad Relokasi Batur yang saat ini dalam proses penerbitan.

**Penulis adalah Jero Kraman Desa Adat Batur serta Guru Besar Universitas Mahasaraswati Denpasar.

Berita terkait