}} Pengesengan Palinggih Dane Jero Gede Batur: Upacara yang Sarat Makna - Bebaturan.id

Pengesengan Palinggih Dane Jero Gede Batur: Upacara yang Sarat Makna

Pasuara
Panyupitan

Oleh Wayan Mustiawan (Pemuda Batur)

Foto: Panyupitan (tempat perabuan Jero Gede Batur) di Tunon, Desa Adat Batur (Wayan Mustiawan).

Penyunting: Redaksi

========================

Pangesengan adalah bagian penting dalam upacara kematian di Bali, khususnya yang berkaitan dengan palebon atau upacara ngaben. Dalam konteks Desa Adat Batur, pengesengan Palinggih Dane Jero Gede Batur Alitan memiliki makna dan tata cara yang sangat khusus.

 

Makna Pengesengan

Pangesengan berasal dari kata geseng yang berarti “tempat pembakaran”. Dalam upacara palebon, pengesengan memiliki makna simbolis sebagai pengganti atau persembahan kepada para leluhur. Benda-benda yang digunakan sebagai pangesengan biasanya memiliki nilai filosofis dan dianggap sebagai sarana untuk menghubungkan dunia manusia dengan dunia roh. Pangesengan Palinggih Dane Jero Gede Batur terletak di Tunon Desa Adat Batur.

Dalam kasus Jero Gede Batur Alitan, pangesengan memiliki makna yang lebih dalam lagi. Beliau sebagai seorang pemimpin spiritual dan adat memiliki peran yang sangat penting dalam masyarakat Batur. Oleh karena itu, upacara palebon-nya dilaksanakan dengan sangat khidmat dan melibatkan berbagai simbol yang mengandung makna filosofis.

 

Tata Cara Pangesengan Dane Jero Gede Batur Alitan

Tata cara pangesengan Palinggih Dane Jero Gede Batur Alitan mengikuti aturan-aturan yang telah ditetapkan dalam lontar (naskah kuno Bali). Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam upacara ini antara lain:

  • Bade: Bade adalah bangunan tempat meletakkan jenazah yang akan dikremasi. Untuk Jero Gede Batur Alitan, digunakan bade tumpang sembilan, yang melambangkan tingkatan spiritual yang tinggi.
  • Patulangan: Petulangan adalah benda-benda yang digunakan sebagai pengganti atau persembahan. Untuk Jero Gede Batur Alitan, petulangan yang umum digunakan adalah be kaang (ikan). Ikan memiliki makna simbolis sebagai kehidupan dan keberuntungan.
  • Upacara: Upacara pangesengan dilakukan dengan sangat khidmat dan melibatkan berbagai rangkaian upacara, seperti melasti, ngatur, dan ngaben. Setiap upacara memiliki makna dan tujuan yang berbeda-beda.

 

Makna Simbolis Patulangan Be Kaang

Penggunaan patulangan be kaang (ikan) sebagai patulangan dalam upacara pelebon Jero Gede Batur Alitan memiliki makna simbolis yang sangat dalam. Figur ikan dapat bermakna beberapa hal, mulai dari kehidupan hingga kebebasan.

Dalam hal kehidupan figur ikan kaang merujuk pada tempat hidupnya. Ikan hidup di air, yang merupakan sumber kehidupan. Dengan demikian, ikan melambangkan kehidupan yang terus berlanjut, meskipun tubuh jasmani telah meninggal.

Kedua adalah keberuntungan. Dalam hal ini, ikan juga dianggap sebagai simbol keberuntungan. Diharapkan dengan memberikan persembahan berupa ikan, roh leluhur akan mendapatkan berkah dan kehidupan yang bahagia di alam baka.

Patulangan be kaang juga dapat dimaknai sebagai kebebasan. Ini karena ikan hidup di air yang bebas, sehingga ikan juga melambangkan kebebasan dari belenggu kehidupan duniawi.

 

Warisan Budaya yang Tak Ternilai

Upacara pangesengan Palinggih Dane Jero Gede Batur Alitan merupakan warisan budaya yang sangat berharga. Upacara ini tidak hanya memiliki makna spiritual, tetapi juga menjadi sarana untuk mempererat hubungan sosial antar anggota masyarakat. Melalui upacara ini, nilai-nilai luhur seperti gotong royong, kekeluargaan, dan penghormatan terhadap leluhur terus dilestarikan.

 

Berita terkait