}} Potret Akuntanbilitas Keuangan Pura Ulun Danu Batur* - Bebaturan.id

Potret Akuntanbilitas Keuangan Pura Ulun Danu Batur*

Pasuara
Laporan keuangan Ngusaba Kadasa pada pelaksanaan ritual Maprani.

Oleh Cokorda Gde Bayu Putra**

Foto: Laporan keuangan Ngusaba Kadasa dalam ritual Maprani (Panca Sedana).

=======================

TILEM Sadha di pagi hari, saya memonitor pergerakan perjalanan tiga buah truk yang bertolak dari Ubud menuju Solo, Jawa Tengah. Tiga truk tersebut berisi beberapa peralatan dekorasi, satu barung gamelan, sebuah barong, dua buah rangda, sebuah celuluk, enam buah tapel telek, serta beberapa air suci dari beberapa pura. Saya berkomunikasi dengan Putu Okto Saputra yang berasal dari Lorong Pekandelan–penjaga sisi timur Puri Ubud yang secara khusus bertugas membawa beberapa air suci tersebut. Sesuai jadwal, seluruh truk beserta isinya akan tiba di hari Tilem Sadha, 18 Juni 2023 di Pura Mangkunegaran dalam rangka pelaksanaan pentas “Sudamala: Epilog dari Calonarang” yang digagas oleh Titimangsa bersama Pura Mangkunegara dan Katadata. Dari 14 air suci (tirtha) yang dimohonkan oleh pihak produksi, salah satunya adalah tirtha dari Pura Ulun Danu Batur. Sama seperti jelang pementasan Sudamala tahun lalu di Jakarta. Saya yang kebetulan berkesempatan menjadi produser pendamping memohon langsung restu Ida Bhatari di Pura Ulun Danu Batur beberapa hari sebelum keberangkatan ekspedisi.

Pura Ulun Danu Batur merupakan salah satu sungsungan jagat Bali yang melekat di sanubari saya. Jalinan emosional religius antara masyarakat Ubud—tempat saya berasal—dengan Pura Ulun Danu Batur telah mekar dan terpupuk sejak lama. Kami meyakini bahwa keberadaan air sawah dan perairan sungai di jantung Ubud bersumber dari pegunungan dan danau di Batur. Setahun sekali menjelang Ngusaba Kadasa digelar di Pura Ulun Danu Batur, para tetua desa dan anggota subak di Ubud berduyun-duyun datang untuk menghaturkan persembahan. Para pemuda dalam wadah sekaa teruna di Desa Adat Ubud secara rutin turut menghaturkan sejumlah penjor menyongsong gelaran ngusaba tersebut. Manakala upacara besar setingkat mapadudusan agung di beberapa desa seputaran Ubud pun diawali dengan ngaturang pakelem di Gunung dan Danau Batur, di mana terlebih dahulu akan memohon petunjuk Jero Gede Batur serta pengemong Pura Ulun Danu Batur. Puri Ubud pun dicatat memiliki amongan di Pura Ulun Danu Batur, yaitu Palinggih Bhatara Dalem Waturenggong.

Dari sekian untaian ikatan tersebutlah, saya kemudian merasa terpanggil untuk senantiasa memohon berkah dan anugerah Ida Bhatari Batur pada setiap tapak penting kehidupan yang dijalani. Terlebih, pada pertengahan 2018 hingga 2021, fokus pikiran dan konsentrasi saya terpusat pada sisi-sisi unik keberadaan tata kelola manajerial Pura Ulun Danu Batur yang kemudian berhasil saya tuangkan dalam sebuah disertasi. Mengambil setting riset pada acara maprani di hari penutupan Ngusaba Kadasa, saya mencoba melihat kesadaran terdalam para pemain kunci tata kelola Pura Ulun Danu Batur dalam menampilkan potret akuntabilitas tata kelola keuangan yang unik. Akuntabilitas sebagai bagian dari penerapan azas governance yang baik bersentuhan dengan banyaknya sumber dan penggunaan dana yang digunakan dalam menyukseskan gelaran upacara Ngusaba Kadasa. Pangempon dan pelaksana kegiatan upacara memainkan sebuah kejelasan fungsi yang baik dalam organisasi pura serta secara konsisten mempertanggungjawabkan seluruh sumber dan penggunaan dana di hadapan khalayak luas baik unsur pemerintah, organisasi keagamaan, masyarakat desa, maupun umat yang hadir saat itu. Pada titik ini, kita dapat melihat beragam makna yang tersirat dari tindakan masyarakat Desa Adat Batur serta pangempon pura yang memposisikan dana sebagai sebuah nilai sakral serta bentuk persembahan umat yang wajib juga dibalas dengan laku pertanggungjawaban yang baik.

Di hadapan Ida Bhatara Makabehan, ritus menjadi paripurna dengan salampah laku manajerial keuangan para pangempon. Mungkin pertanggungjawaban keuangan menjadi hal yang lumrah dilakukan pada beberapa entitas religi, tetapi mungkin juga tak banyak yang konsisten menampilkannya bersamaan dalam ruang-ruang ritus serta di hadapan publik. Kita dapat menyimak model pengelolaan keuangan yang merepresentasikan bentuk kearifan budaya yang bertahan sekaligus beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan jati diri dan tradisi asal-usul dari Pura Ulun Danu Batur. Bahkan saat Covid-19 melanda, yang menuntut terjadinya pembatasan kegiatan, pelaksanaan pertanggungjawaban pada acara maprani pun tetap digelar. Saat itu, dengan beberapa orang yang jumlahnya dibatasi saya pun turut berada di utama mandala mengikuti jalannya acara. Saya meyakini bahwa masyarakat adat Batur dan pangempon pura dengan teguh memegang nilai dan warisan leluhur. Rasanya tidak mungkin jika praktik tersebut berjalan konsisten hanya sekadar sebagai sebuah seremonial pelengkap tanpa ada sebuah nilai yang diyakini bersama.

Seiring dengan perubahan arus zaman dan tingkah laku manusia, tampaknya penelusuran terhadap beragam motif manakala peristiwa ini berjalan di masa-masa mendatang masih menjadi ruang yang menarik untuk diungkap. Sejauh pengamatan serta perjumpaan dengan beberapa pemain kunci, tersirat adanya dimensi kepemimpinan Batur yang kokoh serta menginspirasi para pangempon untuk bersungguh-sungguh memulai aktivitas dari proses perencanaan, pencatatan (sarin tahun, rerampen, dan punia), penghitungan, penyusunan laporan, hingga penyampaian laporan sumber dan penggunaan dana. Banyaknya mobilisasi orang yang datang serta persembahan yang juga kompleks tentu memerlukan kejelasan fungsi serta pembagian peran yang baik di antara para pangempon dan pangayah pura. Para pangayah dan pangempon tersebut tidak saja bertindak sebagai aktor atau pelaku yang semata menyapa para umat, tetapi juga pencatat yang baik dengan penuh kesadaran dan kesabaran mengelola beragam persembahan umat. Dane sareng nem di Batur yang berjumlah enam orang (2 orang jero gede, 2 orang jero balian, dan 2 orang jero penyarikan) secara intens memotivasi serta memastikan segala urusan manajerial berjalan dengan baik, baik yang berhubungan dengan sarana ritual maupun yang berkaitan dengan unsur-unsur lain di luar itu. Dalam sebuah perbincangan di Bale Bangli bersama Jero Penyarikan Duuran Batur pertengahan tahun 2020 silam, ia menuturkan bahwa konsep makalihan tidak semata warisan pendahulu, tetapi juga sarat akan makna check and balances yang saling melengkapi dan menguatkan.

Seperti diketahui bahwa proses menjadi dane sareng nem dan juga para jero mangku dilakukan melalui prosesi nyanjan—proses menghadirkan sebuah nilai magis dan kekuatan niskala dalam memilih peran tersebut. Pada titik ini, sejatinya amanah bukan semata tanggung jawab sakala pada pembertahanan tradisi, tetapi juga penghormatan pada unsur ilahi atau entitas niskala. Ini adalah titik masuk meneropong dimensi kepemimpinan spiritualis corak Batur yang tidak saja horizontal menyatu dan mengakar dengan elemen tetua pura dan masyarakat desa, tetapi juga vertikal pada nilai-nilai transedental. Wajar serasa momen penting pertanggungjawaban keuangan pada pelaksanaan ritus Ngusaba Kadasa digelar di mandala pura tatkala Ida Bhatara ngrajeg sebelum panyineban dijalankan. Itu adalah sebuah pesan yang menampilkan angka-angka kuantitatif, bukan semata sebagai siraman informasi data, tetapi juga persembahan para penerima amanah ke hadapan Ida Bhatari. Tata kelola keuangan ritus di Pura Ulun Danu Batur berujung pada penghormatan pada angka-angka yang menjadi sesuatu yang sakral untuk disampaikan. Saya jadi teringat dengan sebuah orasi ilmiah salah satu Guru Besar Ilmu Akuntansi Universitas Negeri Semarang pada tahun 2021 dengan judul “Masih Layakkah Angka Akuntansi Dipercaya?” Walau mengambil setting pada sebuah keputusan penting perusahaan, namun orasi ilmiah tersebut mengingatkan bahwa sebuah angka akuntansi merupakan sesuatu yang sakral untuk disajikan, sehingga menuntut pengelola menyajikan sesuatu yang faktual. Penyaji wajib mengedepankan jiwa intetgritas dan kapabilitas yang tinggi dalam hal itu.

Apa yang disampaikan oleh pangempon pura tentang besaran sumber dana dan penggunaan dana pada mimbar yang terbuka di Pura Ulun Danu Batur setidaknya juga bagian dari penghormatan pada kesakralan angka sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari nilai-nilai religius, sehingga paripurna sebagai bagian dari ibadah sebagai juru sapa masyarakat. Selain itu seni dan kegigihan mengelola sumber daya yang berujung pada akuntabilitas keuangan setidaknya bagian dari aktualisasi diri masyarakat Batur yang kokoh dalam penghormatannya pada raja purana serta salah satu corak masyarakat Pegunungan Utara yang tangguh memegang nilai-nilai masa lalu. Walau aktivitas vulaknologi tahun 1926 mengguncang desa tua Batur kala itu, tetapi semangat mempertahankan dan melanjutkan tradisi menuju Karanganyar menjadi hal yang patut untuk kita contoh sebagai masyarakat hilir yang merasakan anugerah dan berkah air dari Batur. Semoga apa yang ditampilkan dapat senantiasa menginspirasi serta bertahan di masa-masa mendatang.

=====

*Tulisan ini adalah tulisan terpilih dalam program “Catatan Menuju Seabad Relokasi Batur” yang digelar Lingkar Studi Batur untuk memperingati HUT ke-3 tahun 2023 dan memperingati seabad peristiwa perpindahan Desa Adat Batur dari Desa Batur Let di kaki Gunung Batur menuju tempat saat ini. Tulisan ini juga akan terbit dalam buku berjudul Seabad Relokasi Batur yang saat ini dalam proses penerbitan.

**Penulis adalah warga Ubud (Puri Anyar Ubud). Saat ini merupakan dosen di Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar. Disertasinya terkait dengan menajemen keuangan pada ritual Ngusaba Kadasa di Pura Ulun Danu Batur.

Berita terkait