}} Pura Jati: “Rumah Sejati” Orang Batur* - Bebaturan.id

Pura Jati: “Rumah Sejati” Orang Batur*

Parahyangan, Pasuara
Suasana persembahyangan di Pura Jati Batur saat pujawali.

Oleh Jero Penyarikan Duuran Batur (I K. Eriadi Ariana)**

Foto: Masyarakat adat Batur bersembahyang pada pelaksanaan pujawali di Pura Jati Batur tahun 2022 (Jero Penyarikan Duuran Batur).

===============

PURA Jati Batur secara administratif terletak di Desa Batur Tengah, Kecamatan Kintamani, Bangli. Pura ini memiliki kedudukan yang sentral bagi orang Batur. Lokasinya berada berdekatan dengan tepian Danau Batur, tepatnya tepi Danau Batur sebelah barat.

Secara fungsional, Pura Jati merupakan salah satu Pura Pasanakan Bhatara Sakti Batur dan dipercaya sebagai parahyangan Ida Bhatara Sakti Bujangga Luwih, bhagawanta (penasihat spiritual) Ida Bhatari Sakti Dewi Danuh.

Letaknya di kawasan yang tidak padat penduduk melahirkan suasana damai yang mendukung untuk menyepi atau perenungan diri. Sejak pertengahan 2018, krama adat Batur mulai melakukan penataan terhadap mandala Pura Jati. Beberapa patung sebagai perwujudan bhatara/bhatari yang dipuja di pura tersebut didirikan di jeroan pura, di sela-sela palinggih. Taman-taman di setiap mandala juga ditata dengan baik. Pura ini kini diorbitkan menjadi salah satu destinasi wisata spiritual di Kaldera Batur.

Pura Jati sering disebut-sebut sebagai “rumah sejati” orang Batur. Selain karena namanya Pura Jati yang secara harfiah dapat diartikan sebagai rumah (benteng) sejati, setidaknya ada tiga hal lain yang turut mendukung penyematan istilah itu.

Pertama, secara geografis kawasan Pura Jati terlepas dari lelehan lahar Gunung Batur, sehingga masih menampilkan “tanah asli” Batur. Lantaran tidak terkena lahar seperti halnya Desa Batur Let, di pura ini juga masih terdapat sebuah kori agung (paduraksa) bertingkat tiga yang autentik berbahan padas dari masa pra-1926.

Kedua, secara sosio-kultural pura ini diyakini terkait dengan masyarakat Bali Mula. Sampai saat ini, masyarakat Kayu Selem yang tersebar di berbagai pelosok Bali masih menempatkan pura ini sebagai salah satu situs penting dan wajib diketahui.

Ketiga, secara spiritual masyarakat Batur menampatkan Ida Bhatara Bhujangga Luwih, entitas bhatara yang berstana di Pura Jati, sebagai nabe (guru suci) niskala atas berbagai kecakapan. Tirta (air suci) milik Beliau pun senantiasa dimohon untuk berbagai kepentingan ritual sebagai simbol berkat.

 

Sejumlah Catatan

Pura Jati Batur setidak-tidaknya telah ada lebih dari 200 tahun yang lalu. Hal ini sejalan dengan wacana lontar Pratekaning Usana Siwa Sasana yang merupakan satu dari 13 cakep lontar Raja Purana Pura Ulun Danu Batur.

Pada halaman 11b lontar yang sangat disucikan oleh masyarakat Batur ini, mewartakan bahwa pada Buda Umanis Dukut-Julungwangi Pananggal ke-5 Sasih Wesaka tahun 1720 Saka telah dilaksanakan pembangunan di Pura Jati (…samalih pawangune ring pura jati dwaŋ těmwang durian, bu, u, warah dukut, julungwangi, sasih wesaka, rah, 2, těng, 2, tang ping 5, isakanya, 1720,…).

Kata pawangune dalam kalimat tersebut tentu perlu penafsiran yang kritis, sebab dapat merujuk pada pembangunan pertama maupun renovasi terhadap pura tersebut. Namun yang pasti, jika dikonversi ke dengan tahun Masehi, isaka 1720 merujuk tahun 1798 atau 225 tahun yang lalu. Artinya, seminimal mungkin Pura Jati telah ada pada tahun tersebut.

Data tersebut dikuatkan oleh tuturan lisan yang masih diingat oleh masyarakat Batur hari ini. Menurut kisah lisan yang berkembang, areal Pura Jati diyakini sebagai kawasan yang berhasil selamat dari gempa bumi dahsyat, Gejer Bali 1917 serta erupsi Gunung Batur 1926. Tinggalan kori agung (paduraksa) bertingkat tiga yang membatasi jaba tengah dan jeroan disebut sebagai saksi bisu peristiwa-peristiwa itu.

Sebagai perbandingan, bencana Gejer Bali tercatat telah menyebabkan banyak kerusakan di Bali, termasuk memenggal mudra (puncak) kori agung di Pura Batur Kuno di Desa Batur Let di kaki Gunung Batur sebelah barat daya. Namun, karena kokohnya, kori di Pura Jati tidak terpengaruh dan masih bisa bertahan sampai saat ini. Lebih dari seabad setelah kejadian.

Kori agung tersebut dibangun dengan material batu padas. Corak tatahannya memiliki kemiripan dengan langgam ukir Bali Utara yang khas. Sekilas bentuk dan bahannya pun memiliki kemiripan dengan bangunan candi bentar dan paduraksa di Buleleng, misalnya Kubutambahan. Hal ini seakan menguatkan jika di masa itu wilayah ini sangat dekat dengan wilayah Bali Utara.

Menurut pengamatan sepintas alumni Arkeologi Universitas Udayana, motif-motif pahatan pada kori menunjukkan pahatan gaya Bali antara abad XVII-XVIII. Namun, pernyataan itu hanya pengamatan sekilas, tanpa dilakukan lagi studi yang lebih mendalam.

Saat ini kori agung di Pura Jati mulai menunjukkan kondisi termakan usia. Mengingat keberadaannya yang memiliki nilai penting bagi masyarakat Batur dan Bali pada umumnya, ada baiknya bangunan kuno ini diajukan sebagai cagar budaya, mengikuti prosedur yang berlaku. Hal ini penting, terutama untuk tujuan restorasi struktur.

Langkah pemugaran sejatinya telah dilakukan oleh masyarakat pada kisaran tahun 2018. Masyarakat Batur saat itu telah berupaya melakukan konsolidasi struktur dengan menambal bagian padas yang rusak. Sayangnya, mungkin karena keterbatasan pengetahuan, restorasi yang dilakukan justru menggunakan semen.

Metode restorasi sedemikian rupa jelas tidak sejalan dengan pola bangunan di masa kuna yang menggunakan teknik asab maupun menggunakan media perekat tanah liat. Upaya pemugaran yang keliru dapat berdampak tidak pas pada struktur bangunan, bahkan berpeluang merusak struktur.

Keberadaan Pura Jati dalam panggung sejarah masih remang-remang. Tidak banyak catatan tertulis yang bisa ditemui untuk menguak kabut tebal yang masih menyelubungi sejarahnya. Menurut I Wayan Surpha dalam buku berjudul Pura Ulun Danu Batur dan Pura Jati (1990), keberadaan Pura Jati berkaitan dengan sosok Mpu Jayamahireng.

Pura ini didirikan sebagai wujud kesejatian, dan patut dipuja seluruh masyarakat Bali. Dinyatakan, jika ada umat yang ingin menggelar upacara yadnya meghormati bhatara, memohon tirtha Kamandalu, wajib keturunannya mengetahui isi kitab suci, memuja Tuhan ke hadapan Bhatari Gangga. Oleh sebab itulah disebut Pura Jati sebagai tanda umat mempersembahkan pejati (wkasya hana sahanaking wang, kalanya anangunakěn karya, mahayu bhatara, nuhur tirtha Kamandalu, wanang sěntanan manira asing wruh ring aji purana, angastawa ngaturang widhi widana ngastawa Bhatari Gangga. Mangka kramanira rumuhun, dumeh ingaranan Pura Jati maka cihna jati angaturana pějati).

 

Ritus dan Situs

Tirtha (air suci) Pura Jati dalam kehidupan spiritual masyarakat Batur tergolong tirtha yang unik. Dari sebelas tirtha dari petirtaan-petirtaan yang ada di seputar Kaldera Batur, Thirta Pura Jati memiliki fungsi sebagai tirtha panglukatan atau tirtha pamarisuda. Tirtha yang secara umum dikenal sebagai Tirta Kangin ini biasanya dimohon paling akhir oleh umat.

Ketokohan Bhatara Sakti Bujangga Luwih yang dimuliakan di Pura Jati juga dipercaya sebagai guru nabe niskala dari para jero mangku maupun jero kraman di Desa Adat Batur. Sebelum melaksanakan tugas dan fungsinya, orang-orang yang dipilih untuk duduk pada jabatan tersebut harus melakoni upacara Mancang Karma, yakni sebuah upacara mengawali tugasnya sebagai jero mangku maupun jero kraman.

Beberapa aguron-guron sulinggih juga mengamanatkan sulinggih yang baru dilahirkan melalui proses dwijati untuk mengawali sasana-nya ke pura ini. Tujuannya tidak lain untuk memohon restu dari Ida Bhatara Sakti Bhujangga Luwih.

Pada pujawali Pura Jati yang jatuh pada Pananggal ke-13 Sasih Kasa (dua hari sebelum Purnama Kasa), masyarakat Batur banyak yang menghaturkan salaran maupun atos ke hadapan Ida Bhatara. Seringkali kedua jenis ritual ini digelar atas dasar kaul dari umat, sebab suatu permohonannya terkabul.

Salaran akan dipersembahkan dengan perantara puja diantarkan oleh para jero mangku, sedangkan bakti atos pujanya wajib diantarkan oleh Dane Sareng Nem, meliputi Jero Gede Batur Kanginan, Jero Gede Batur Kawanan, Jero Balian Desa Kajanan Batur, Jero Balian Desa Kelodan Batur, Jero Penyarikan Duuran Batur, dan Jero Penyarikan Alitan Batur.

Masyarakat adat Batur juga memiliki tradisi unik ketika pelaksanaan pujawali di Pura Jati tiba. Pralingga Ida Bhatara akan diusung berjalan kaki, baik ketika berangkat dari Pura Ulun Danu Batur ke Pura Jati maupun kembali dari Pura Jati ke Pura Ulun Danu Batur.

Selama tiga-empat hari Ida Bhatara bersistana di pura, masyarakat akan tinggal sementara dalam bangunan-bangunan semi permanen yang disebut dunungan. Tradisi ini seperti mengingatkan masyarakat Batur pada wilayah desanya terdahulu di Desa Batur Let, yang terletak di kaki Gunung Batur sebelah barat daya.

Situs Pura Jati terbagi menjadi beberapa areal (mandala). Pertama adalah nista mandala (jabaan) yang dibatasi oleh candi bentar di sebelah barat (pintu masuk utama), selatan, dan utara. Pada areal ini terdapat beberapa fasilitas penunjang seperti wantilan, pawaregan, dunungan dane-dane dan krama, palinggih apit lawang, dan palinggih lain.

Mandala kedua adalah jaba tengah (madya mandala) yang terdapat beberapa balai, yakni bale gong, bale panjang, bale angklung, bale baris. Jaba tengah dibatasi oleh candi bentar jabaan dan paduraksa. Kawasannya bertingkat, menyesuaikan dengan kontur kawasan tersebut.

Bagian paling dalam di situs ini adalah jeroan (utama mandala) yang cukup luas. Pada areal ini terdapat beberapa deretan palinggih. Palinggih utama berbentuk meru tumpang tiga tempat pemuliaan Ida Bhatara Sakti Bhujangga Luwih (terletak nomor dua dari kanan). Selain itu ada palinggih padmasana rong tiga di tengah-tengah; meru tumpang tiga tempat pemuliaan Ida Bhatari Ayu Tengahing Segara (Ida Bhatari Dewi Danuh) yang terletak nomor dua paling kanan; meru tumpang kalih tempat pemuliaan Ida Ratu Gde Gunung Agung yang juga disungsung oleh Batun Sendi Ida Bhatari dari Desa Buahan; dan sebuah bebaturan tempat pemuliaan Ida Ratu Gde Perahu (paling kanan).

Beberapa bangunan suci lainnya adalah dua buah bale papelik, sebuah bale paselang, sebuah bale palinggih di sebelah utara (kiri), bale pawedaan, palinggih piasan, palinggih bebaturan penghormatan pada ancangan Ida Bhatara, serta sebuah bale kulkul. Selain itu juga terdapat bale panjang, dan 2 buah bale pesandekan.

 

=============

*Tulisan ini pernah dimuat dalam Majalah Batur: Kata Penyambung Peradaban edisi I, tetapi direproduksi kembali dengan penambahan sejumlah data.

**Penulis buku Ekologisme Batur (2020) dan tenaga pengajar di Program Studi Sastra Jawa Kuna Universitas Udayana.

Berita terkait