}} Pura Segara Ulun Danu Batur, Setana Ida Bhatari Tengahing Segara - Bebaturan.id

Pura Segara Ulun Danu Batur, Setana Ida Bhatari Tengahing Segara

Parahyangan
Meru Tumpang 11 Pura Segara Ulun Danu Batur.

Oleh Jero Penyarikan Duuran Batur (I K. Eriadi Ariana)*

Foto: Meru Tumpang 11 Pura Segara Ulun Danu Batur (Maiva Utama**).

===============

PURA  Sagara Ulun Danu Batur terletak di kawasan Pura Jati, Desa Adat Batur, Kintamani Bangli. Pura ini terletak tepat di tepi Danau Batur, tepatnya di tenggara Pura Jati dan masih menjadi salah satu dari palebahan (kawasan suci). Pura Segara Ulun Danu Batur merupakan satu-kesatuan dengan Pura Ulun Danu Batur, yang merupakan tempat pemujaan ke hadapan Ida Bhatari Tengahing Segara, salah satu dasanama Ida Bhatari Dewi Danuh.

Pura Sagara Ulun Danu Batur memiliki kedudukan penting dalam konstruksi teologi masyarakat adat Batur, krama Pasihan Bhatari Sakti Batur (masyarakat subak), juga umat se-Dharma karena menjadi titik pelaksanaan upacara danu kerthi atau pakelem, baik yang digelar secara periodik maupun insidental dalam berbagai tingkatan. Pura ini juga merupakan pura patirtan, tempat memohon Tirtha Pura Jati

Menurut keyakinan masyarakat, Ida Bhatari Sakti Batur memiliki 11 tirta utama. Kesebelas tirtha tersebut terletak di Kaldera Batur yang diyakini terhubung dengan sungai-sungai di Balidwipa. Kesebelas tirtha tersebut yakni (1) Tirtha Telaga yang mengalirkan air ke Tukad Telaga Waja di kawasan Rendang, Karangasem; (2) Tirtha Bantang Anyud mengalirkan air ke Yeh Pipis (Tukad Jinah) dan Tukad Yeh Bubuh di Klungkung; (3) Tirtha Danu Gadang di Desa Buahan yang mengalirkan air ke Tukad Jinah di Karangasem; (4) Tirtha Danu Kuning di Desa Buahan yang mengalirkan air keTukad Yeh Wos Lanang dan Tukad Yeh Wos Wadon di Ubud; (5) Tirtha Pelisan mengalirkan air ke Danau Beratan, Buyan, Tamblingan, dan Tukad Yeh Sungi; (6) Tirtha Mangening; (7) Tirtha Pura Jati; (8) Tirtha Rejeng Anyar yang mengalirkan air ke sejumlah sungai di Tejakula, Buleleng; (9) Tirtha Mas Bungkah; (10) Titrta Mas Mampeh yang menjadi tirtha bagi masyarakat subak; dan (11) Tirtha Perapen di Pura Prapen Pingit di Bukit Sampian Wani.

Menurut berbagai teks tradisional Bali, misalnya Usana Bali, Sri Purana, dan Purana Tatwa, entitas Bhatari Dewi Danuh hakikatnya berstana di puncak Gunung Batur. Meski demikian, danau dan kawasan kaldera adalah kawasan tetamanan (taman) yang wajib dijaga oleh seluruh masyarakat Bali. Oleh karena itulah banyak situs pemuliaan terhadap Bhatari Dewi Danuh berdiri dan mengelilingi Gunung Batur.

Purana Tattwa Rajapurana Pura Ulun Danu Batur (Budiastra, dkk, 1979a) menceritakan aspek teologi Ida Bhatari Ayu Mas Membah berstana di puncak Gunung Batur dan tengah danau Batur, sehingga bergelar Ida Bhatari Ulun Danu atau Ida Bhatari Tengahing Segara. Menurut kisah tersebut, dahulu kala seluruh bagian Kaldera Batur (bebengan agung) tergenang air. Bebengan agung tersebut adalah bekas pijakan kaki Ida Bhatara Pasupati ketika berupaya menstabilkan Pulau Bali.

Ida Bhatari Mas Membah datang dengan disunggi oleh Mangku Pucangan kemudian menginginkan sebuah lingga sebagai tempatnya beristana. Maka dari itu, dipecutlah bagian tengah genangan air yang luas tersebut hingga terjadi gemuruh selama 11 hari 11 malam. Usai gemuruh tersebut, muncullah sebuah gunung kecil yang terus membesar. Ida Bhatari pun beristana di gunung tersebut, sehingga dikenal sebagai Ida Bhatari Ulun Danu atau Ida Bhatari Tengahing Sagara. Gunung itulah yang menjadi Gunung Batur yang merupakan hulu dari Danau Batur, sehingga keduanya terkait satu dengan yang lain. Gunung Batur dan Danau Batur itu diibaratkan sebagai mahameru yang merupakan simbol kemunculan amreta.

Manifestasi Ida Bhatari Dewi Danuh dalam dasanama-nya sebagai Ida Bhatara Tengahing Segara inilah yang dipuja di Pura Segara Ulun Danu Batur. Palinggih yang ditujukan ke Beliau juga terdapat di Pura Jati dalam bentuk meru tumpang tiga. Palinggih ini ditujukan sebagai pemujaan ke hadapan-Nya sebelum Pura Segara Ulun Danu Batur dipugar.

Pura Segara Ulun Danu Batur mulai dipugar tahun 1993, kemudian berlanjut tahun 1999 saat dilaksanakan upacara Pamelepeh, Upacaea Guru Piduka, Bendu Piduka, Pamarisuda, Tawur Agung dan Pakelem di Segara Batur dan Gunung Batur. Palinggih utama kala itu berbentuk meru tumpang tiga sesuai. Seiring dengan bhakti krama Desa Adat Batur bersama para subak, maka pada tahun 2005 meru tumpang tiga tersebut kembali dipugar dan ditingkatkan menjadi meru tumpang solas. Sayangnya, pada tahun 2007 meru tersebut terbakar lantaran disambar petir. Pemugaran akhirnya berlanjut sehingga pada tahun 2009 berhasil direnovasi dan dipersembahkan upacara ngenteg linggih yang dirangkaian dengan pakelem.

Selayaknya jalan yang diberikan Ida Bhatari, antara tahun 2011-2012 muka air Danau Batur terus meningkat, sehingga meru tumpang solas yang awalnya terletak di tepi danau tenggelam dan seolah-olah berada di tengah-tengah danau. Peningkatan muka air danau ini pun menyebabkan utama mandala pura tersebut tenggelam. Menjelang upacara Danu Kerthi tahun 2018, dibuatlah jembatan apung agar akses pemedek bisa lebih mudah ke areal utama mandala. Selain itu juga dilakukan penataan yang lebih masif terhadap kawasan pura, sehingga representatif untuk membangun bangunan-bangunan penunjang pura. Pemugaran inilah yang bertahan sampai saat ini.

Saat ini mandala Pura Segara Ulun Danu Batur dibedakan menjadi jabaan, jeroan, dan jeroan utama (utamaning utama mandala). Jabaan dibatasi oleh panguub (tembok) dengan pintu masuk utama berupa candi di sebelah utara. Areal jeroan berisikan beberapa fasilitas penunjang seperti bale pesandekan, bale gong, bale baris, bale semar pegulingan, paselang, bale palinggih, serta Palinggih Pengayatan Ida Bhatara ring Nusa. Mandala jeroan utama adalah meru tumpang solas yang juga dikelilingi panguub. Selain meru di areal tersebut juga terdapat sepasang bale papelik. Di bagian hulu meru terdapat sumur yang digunakan untuk memohon tirtha Ida Bhatari Sakti.

 

=============

*Penulis buku Ekologisme Batur (2020) dan tenaga pengajar di Program Studi Sastra Jawa Kuno Universitas Udayana.

**Planolog alumni ITB yang merupakan anggota krama adat Batur. Gemar menulis dan memotret.

Berita terkait