DENPASAR – Film dokumenter berjudul “Moot Emping” didasarkan pada wacana Rajapurana Pura Ulun Danu Batur. Film yang menunjukkan kekayaan praktik agraris manusia Bali ini merupakan hasil karya dari sineas muda, I Komang Rangga Adi Kusuma.
I Komang Rangga Adi Kusuma adalah pemuda asal Selat Tengah yang saat ini sedang kuliah perfilman di ISI Denpasar. Ia telah membuat sejumlah film. Salah satunya adalah film “Moot Emping” yang dituturkan telah mengalami proses pembuatan ulang sebanyak dua kali.
“Moot Emping adalah praktik agraris di Desa Selat Tengah yang pada prinsipnya sama dengan ritual magpag toya yang lebih umum dikenal oleh masyarakat Bali,” katanya dalam kegiatan Cāyārupa (Gelar Film Berbasis Sastra Jawa Kuna) yang digelar Program Studi Sastra Jawa Kuna Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (FIB Unud) dan Himpunan Mahasiswa Program Studi Sastra Jawa Kuna (Himawan) di Unit Lontar Universitas Udayana (ULU) FIB Unud, Jalan Pulau Nias No. 13 Sanglah-Denpasar.
Film “Moot Emping” adalah satu dari tiga film yang diputar dan didiskusikan pada kegiatan yang dirangkaian dengan HUT ke-65 Prodi Sastra Jawa Kuna FIB Unud dan HUT ke-13 Himawan FIB Unud. Puncak HUT tersebut akan digelar tanggal 10 November 2023 pekan ini.
Rangga Adi Kusuma menuturkan bahwa ia berupa melakukan penyelaman terhadap ritual “Moot Emping” yang eksis di desanya. Sebelum menggarap film, ia melakukan penelitian. Setelah melakukan penelitian, ia menentukan narasumber dari berbagai unsur, yakni arkeolog, peneliti lontar, dan seorang pekaseh di desanya yang memahami persoalan sawah.
“Dari narasumber IGA Darma Putra yang adalah peneliti lontar didapatkan bahwa ada relasi budaya antara masyarakat agraris di Selat dengan Batur yang dicatat dalam Rajapurana Pura Ulun Danu Batur. Menurut lontar itu dijelaskan bahwa sawah (tanah) dan air di Selat merupakan milik atau druwe Ida I Ratu Sakti Sinarata sehingga ada catatan agar masyarakat Selat mengingatnya. Sinarata itu merujuk pada nama kuno dari Desa Batur,” katanya.

Sementara itu pada momen yang sama juga didiskusikan film “Ambassador The Peace”. Film ini merupakan garapan wayang sinema yang mengambil lakon dari Kakawin Kresnaduta. “Film ini didasarkan pada Kakawin Kresnaduta yang menceritakan ketika Kresna mengambil peran sebagai duta perdamaian untuk mendamaikan Pandawa dan Kurawa,” kata I Made Sabda Wiguna, salah satu tim produksi yang mewakili Rival Raynata.
Film ketiga yang berjudul “Kawi Sastra: Kakawin Abad XXI” digarap oleh I Putu Gede Wahyu Hermawan, dan rekan-rekannya yang adalah mahasiswa semester III di Prodi Sastra Jawa Kuna FIB Unud. Film yang tengah dilombakan pada ajang lomba film dokumenter.
Menurut salah satu tim produksi, I Gusti Putu Weda Adi Wangsa, proses kreatif dari film “Kawi Sastra: Kakawin Abad XXI” didasarkan pada keinginan mereka untuk mendokumentasikan para pengarang kakawin (puisi sastra Jawa Kuna) yang masih aktif mencipta karya sastra di abad ke-21 ini. Film pun digarap dengan riset dan menampilkan para penekun sastra Jawa Kuna lintas generasi.
“Film ini adalah bentuk dokumentasi kami terhadap eksistensi penulisan kakawin di abad ini. Film ini juga menjadi salah satu bentuk model alih wahana dari sastra Jawa Kuna sesuai dengan tema HUT yang diusung tahun ini,” katanya.
Koordinator Program Studi Sastra Jawa Kuna, Prof. Dr. I Nyoman Suarka, M.Hum mengatakan bahwa HUT Prodi Sastra Jawa Kuna tahun ini dirayakan dengan menggelar sejumlah kegiatan yang berkaitan dengan Tri Darma Perguruan Tinggi. Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan juga sejalan dengan upaya pelestarian dan pengembangan sastra Jawa Kuna. Semua kegiatan dikemas dalam program bertajuk Pekan Jawa Kuna.
“Pekan Jawa Kuna merupakan agenda penting yang patut dan layak dilaksanakan oleh civitas prodi sastra Jawa Kuna atau mahasiswa sendiri. Kegiatan-kegiatan seperti pemutaran film, konservasi lontar, bincang alih wahana, dan seminar nasional adalah bagian integral dalam HUT Sastra Jawa Kuna dan Himawan sebagai wujud refleksi diri sejauh mana melangkah, melestarikan, dan mewariskan sastra Jawa Kuna untuk generasi ke depan,” katanya.
____
Penulis/Penyunting: Carik Hulu
Foto: Panitia HUT ke-13 Himawan Unud.











