}} Seabad Rarud Batur: Jelajah Ingatan, Merawat Kekerabatan* - Bebaturan.id

Seabad Rarud Batur: Jelajah Ingatan, Merawat Kekerabatan*

Pasuara, Purana
Stehn.

Oleh I K. Eriadi Ariana [Jero Penyarikan Duuran Batur]**

Foto: Erupsi Gunung Batur tanggal 8 Agustus 1926 (Stehn, 1928)

========================

ANTARA tahun 1921 hingga 1926, Gunung Batur mengalami peningkatan aktivitas vulkanik yang signifikan. Erupsi terjadi setiap tahun secara berturut-turut selama lima tahun. Namun, erupsi tahun 1926 menjadi letusan terdahsyat, bahkan lebih mengerikan dari letusan tahun 1905. Lelehan lava pijar yang keluar dari perut Gunung Batur kala itu berhasil menenggelamkan seluruh peradaban Desa Batur Let[1].

Erupsi Gunung Batur tahun 1926 menjadi akar dari peristiwa bersejarah yang dikenal sebagai rarud (pengungsian) Batur. Hampir seabad peristiwa itu berlalu, ingatan-ingatan di sekitarnya semakin tenggelam digulung debur zaman. Nilai-nilai yang dilahirkan oleh peristiwa itu pun kian memudar bersama para saksi sejarah yang telah habis berpulang ke alam leluhur. Tulisan ini berupaya menjejak peristiwa tersebut sembari merefleksikan kembali nilai-nilai yang dikandungnya dalam konteks saat ini.

 

Telusur Catatan

Arsip-arsip sezaman dapat menjadi teropong untuk menilik peristiwa rarud Batur 1926. Beberapa orang yang mengunjungi Bali antara tahun 1920 s.d. 1930 mencatat landskap Gunung Batur yang paradoks. Di balik bentang alam yang menawan, Gunung Batur menyimpan kengerian.

Couperus (2012) dalam tulisannya yang terbit pada tahun 1924 mencatat beberapa fenomena vulkanis Gunung Batur. Asap kelabu kehitaman mengepul dari celah kawah, suara gemuruh seperti petir sering terdengar, dan gempa bumi acapkali menggoyang kawasan Kintamani. Peristiwa-peristiwa alam ini membuat penduduk waswas. Apabila terjadi erupsi, air danau dapat meluap dan menghancurkan desa-desa di pinggir danau. Akan tetapi, beberapa tahun sebelum kedatangannya, lahar Gunung Batur melahirkan keajaiban. Lelehan lahar mengenai sebagian Pura Batur, tetapi berhenti tepat di depan pura tanpa menyentuh kawasan permukiman. Masyarakat memaknai kejadian itu sebagai kebaikan para dewa yang masih menjaga mereka.

Seperti Couperus, Powell (2012) mencatat pemandangan serupa. Jurnalis ini tiba di Bali sekitar tahun 1928 dan menerbitkan sebuah tulisan pada tahun 1930. Ia menerangkan bahwa asap kelabu kehitaman masih menyembul dari kawah Gunung Batur. Menyitir penjelasan rekannya, Andre Roosevelt, dijelaskan bahwa dua tahun sebelum kedatangan mereka ke Batur, gunung api itu meletus sangat dahsyat. Saat kejadian, celah gunung berubah bak sungai lahar yang mengubur permukiman pendudukt. Sepuluh tahun sebelum letusan besar itu[2] letusan besar pernah terjadi, tetapi kekuatan magis telah melindungi perkampungan, di mana lahar berhenti tanpa sebab yang jelas di depan tembok pura.

Geolog, Ch. E. Stehn (1928) memberikan penjelasan lebih komprehensif seputar erupsi Gunung Batur tahun 1926. Erupsi dimulai dengan tanda-tanda gempa vulkanik pada 2 Agustus 1926 tengah malam. Retakan panjang muncul di barat daya Gunung Batur, disusul dengan keluarnya lava pijar. Intensitas erupsi sempat turun pada 3 Agustus 1926 siang hari, hingga lava pijar berhenti bergerak. Masyarakat memandang penurunan aktivitas gunung sebagai pertanda baik dan mengira erupsi akan berhenti. Namun, gejolak Gunung Batur tidak sesuai perkiraan penduduk. Aktivitasnya kembali meningkat sejak 3 Agustus 1926 tengah malam. Ledakan besar terjadi, disusul lelehan lava pijar yang bergerak dengan kecepatan tinggi. Salah satu alirannya mengarah ke pusat permukiman Desa Batur Let.

Pemerintah Hindia Belanda memberi atensi mendalam terhadap bencana Gunung Batur 1926. Stehn (1928) melaporkan bahwa Kontrolir Klungkung turun langsung ke Batur sesaat setelah mendengar berita letusan. Perhatian ini mungkin terkait dengan posisi Pura Ulun Danu Batur sebagai situs penting bagi masyarakat Bali seperti yang tertuang pada surat pawungu tertanggal 27 November 1911. Surat yang ditujukan ke hadapan Kontrolir Klungkung tersebut menjelaskan posisi Pura Batur sebagai kahyangan Bhatari Dewi Danu (Danuh), putri Bhatara Pasupati di Mahameru, sebagaimana penjelasan teks-teks lontar yang disucikan pemeluk Agama Tirta di Bali.

Kontrolir Klungkung saat itu, J.C.C. Haar, sampai di Batur pada tengah malam[3]. Ketika kontrolir sampai di Batur, lava pijar telah menembus permukiman penduduk. Sebuah rumah di batas utara desa telah hangus terlahap lava pijar. Selain kontrolir, Asisten Residen Den Pasar, Zieck, juga menyusul datang ke lokasi bencana. Ketika asisten residen tiba di Batur, 30 rumah penduduk telah terbakar (Stehn, 1928).

Melihat situasi yang genting, Pemerintah Hindia Belanda segera mengambil kebijakan untuk mengevakuasi penduduk dan benda-benda komunal yang disakralkan. Penduduk Batur diminta menyingkir dari desa. Seturut kemudian, para pendeta bergegas menyelamatkan arca perwujudan dan pusaka-pusaka pura. Pemerintah juga mengerahkan tim evakuasi tambahan yang berasal dari kalangan tentara dan narapidana pada keesokan harinya (Stehn, 1928).

Tim evakuasi berhasil menyelamatkan tinggalan-tinggalan seperti arca perwujudan, pusaka, pustaka (rajapurana), termasuk rangka jero agung (bale pasamuhan) Pura Ulun Danu Batur. Benda-benda yang disakralkan itu untuk sementara waktu ditempatkan di Desa Bayunggede. Pada masa pengungsian, upacara-upacara penting seperti Ngusaba Kadasa sempat digelar di Desa Bayunggede.

Melihat permukiman yang telah habis tertimbun lahar, Pemerintah Hindia Belanda menawarkan solusi untuk merelokasi permukiman ke Kalanganyar. Kalanganyar adalah kawasan kosong (henengan) yang terletak di timur Desa Kintamani. Rencana pemerintah untuk merelokasi permukiman telah diberitakan koran Het Nieuws van Den Dag pada Selasa, 10 Agustus 1926 atau seminggu setelah letusan pertama. Tempat relokasi juga telah dikoordinasikan dengan bagian kehutanan di Singaraja (“De Eruptie op Bali,” 1926). Apabila mengacu pada berita tersebut, Pemerintah Hindia Belanda kemungkinan telah melakukan upaya mitigasi sebelum bencana terjadi. Hal ini memperkuat dugaan bahwa foto-foto tentang Desa Batur Let yang diambil antara tahun 1905 s.d. 1926 bukan sekadar foto dokumentasi, tetapi turut digunakan untuk keperluan mitigasi bencana.

Menurut cerita tetua, penduduk Batur tidak serta merta bersedia untuk direlokasi. Banyak dari mereka ingin kembali ke desa lama. Alasan ini mungkin terkait dengan keyakinan penduduk Batur bahwa desanya adalah kawasan suci tempat para dewa bersemayam. Konon, Desa Bayunggede juga sempat menawarkan tanah adatnya yang terletak di daerah Puaji untuk dijadikan permukiman baru bagi penduduk Batur. Namun, tawaran itu ditolak untuk suatu alasan.

Pada tahun 1928 Desa Batur resmi direlokasi ke Kalanganyar[4]. Kalanganyar berasal dari kata kalangan ‘panggung’ dan anyar ‘baru’ yang mengisyaratkan optimisme orang Batur membangun kembali peradabannya di tempat baru. Penduduk yang terpencar selama dua tahun kembali disatukan. Setiap keluarga diberikan pekarangan baru. Penduduk bahu-membahu membangun desanya, termasuk Pura Ulun Danu Batur yang strukturnya disesuaikan dengan tatanan pura lama di kaki Gunung Batur.

Teks Pangeling-eling Wong Batur Rajapurana Pura Ulun Danu Batur (Budiastra, dkk., 1979) menerangkan Pura Ulun Danu Batur di Kalanganyar rampung pada tahun 1935. Peresmian dilakukan pada Wuku Prangbakat, antara tanggal 14 s.d.16 April 1935. Upacara mplaspas dan balik sumpah dilakukan pada Redite Pon Prangbakat, Pananggal ke-11 Sasih Kadasa 1857 Saka (14 April 1935). Dua hari setelahnya, yakni pada Anggara Kliwon Prangbakat, Pananggal ke-13 Sasih Kadasa (16 April 1935) dilaksanakan ritual mendak nuntun. Pada Buda Umanis Prangbakat, Pananggal ke-14 Sasih Kadasa (17 April 1935) dilaksanakan upacara ngenteg linggih. Sementara itu, pada Wrehaspati Pon Prangbakat, tepat pada Purnama Kadasa 1857 Saka (18 April 1935) dilaksanakan upacara Ngusaba Kadasa pertama di pura baru yang kini terletak di tepi Jalan Raya Kintamani.

 

Kaki Jair dan Rarud Batur

Saya sejak kecil cukup akrab dengan narasi rarud Batur. Kisahnya diturunkan oleh seorang yang akrab dipanggil Kaki Jair[5]. Ia merupakan kakek saya dari garis ibu, yang kebetulan saksi sejarah rarud Batur. Usianya diperkirakan sekitar tujuh tahun saat peristiwa terjadi, sehingga cukilan-cukilan ingatan tentang Batur Let cukup dalam membekas pada ingatannya

Kaki Jair sering menceritakan dua cerita yang cukup terkenal seputar rarud Batur. Pertama adalah kisah seorang yang tiba-tiba karauhan (trans), kemudian mencelupkan dirinya ke lahar panas. Konon, secara ajaib orang itu dapat kembali ke permukaan dengan kondisi sehat tanpa satu pun luka bakar. Cerita kedua adalah kisah penduduk yang memohon izin agar lahar berhenti bergerak, sehingga penduduk dapat mengevakuasi diri. Secara ajaib, konon permohonan penduduk itu pun dipenuhi oleh alam.

Kaki Jair cukup baik mengingat landskap Desa Batur Let. Ia mengenang rumah orang tuanya yang terletak di Banjar Kaja. Ketika diwawancara oleh Wayan Sukadia sekitar tahun 2005, Kaki Jair masih ingat beberapa nama banjar seperti Banjar Jero, Banjar Tengah, Banjar Kaja, Banjar Kodo, Banjar Abang, dan Banjar Kelod Batulompeh. Banjar Kelod Batulompeh cukup kuat diingatnya. Banjar ini ditandai dengan sebuah batu datar (lempeh) yang kerap dijadikan tempat berkumpul dan bermain anak-anak sebayanya.

Kaki Jair samar-samar mengingat kondisi pura. Jarak pura jauh dari rumahnya. Apabila ingin ke pura, maka harus melewati jalan yang ditumbuhi bagas (jenis rumput savana) dan beluhu (jenis rumput yang biasanya dimanfaatkan untuk atap). Jarak antar-palinggih berjauhan, tetapi jika odalan berlangsung—mungkin merujuk Ngusaba Kadasa—keramaian akan berpusat di penataran pura yang luas. Penduduk akan berpakaian serba bagus saat odalan. Desa menjadi ramai dan banyak persembahan. Berbagai kesenian seperti tari baris hingga wayang kulit akan dipentaskan.

Ketika erupsi terjadi, Kaki Jair dan keluarganya menyingkir dari desa melalui Jalan Bayung. Ia diberi tugas memikul sebidang tikar pandan, sedangkan kakaknya ditugaskan memikul bilah-bilah gender wayang. Sayang sekali, kala itu saya hanya menjadi pendengar pasif, sehingga tidak mengkritisi setiap jengkal cerita kakek. Saya tidak pernah menanyakan apakah kakek dan keluarga kami turut mengungsi ke Desa Bayunggede atau tinggal di suatu tempat. Peristiwa di seputar pengungsian juga tidak pernah saya tanyakan. Misalnya tentang proses pernikahan atau ritual pemakaman bagi warga yang meninggal di antara tahun 1926 s.d. 1928.

Setelah direlokasi ke Kalanganyar, keluarga kami mendapat pekarangan di sebelah barat jalan raya yang letaknya beberapa ratus meter di utara Pura Ulun Danu Batur (kini Banjar Kerta Buana, Desa Batur Selatan). Saya tidak sempat menanyakan bagaimana mekanisme pembagian pekarangan bagi warga kala itu. Namun, saya menduga jika pembagian pekarangan disesuaikan dengan lokasi rumah penduduk di Batur Let. Mengingat ketika di Batur Let keluarga kami tinggal di Banjar Kaja, maka masuk akal saat di Kalanganyar keluarga kami diberikan pekarangan di bagian utara desa (utara Pura Ulun Danu Batur).

Kaki Jair acapkali menunjuk lokasi Desa Batur Let dari ladang kami di Pundukan Sanan. Pundukan Sanan terletak di lereng Kaldera Batur I bagian barat yang kebetulan berhadapan langsung dengan Gunung Batur. Kaki Jair biasanya menunjuk sebuah lokasi di kaki Bukit Sampian Wani untuk merujuk letak Batur Let. Kawasan yang ditunjuk itu adalah hamparan batu lava hitam dengan bentuk seolah seperti ombak. Setelah titik nol Batur Let teridentifikasi, Desa Adat Batur menandai lokasi itu dengan monumen batu kelabu yang cukup kontras dengan warna batuan lava. Saat ini monumen yang juga dililit kain putih tersebut terlihat cukup jelas dari ladang kami di Pundukan Sanan. Monumen itu terletak di sekitar batu berbentuk ombak, kawasan yang acapkali ditunjuk Kaki Jair untuk merujuk Batur Let.

 

Kekerabatan Batun Sendi Bhatari Sakti Batur

Tanpa menafikkan sisi spiritual-mistis dan relasi politik, bagi saya jejaring kekerabatan adalah kunci penting yang menjaga eksistensi peradaban Batur. Tanpa jejaring persaudaraan lintas desa yang solid, tahun 1926 mungkin menjadi tahun penutup peradaban Batur. Peradaban Batur mungkin lenyap, seperti fisik Desa Batur Let yang hilang digulung lava pijar. Narasi besar Batur mungkin hanya akan menjadi sejarah yang lambat laun juga akan terlupakan.

Peristiwa rarud Batur 1926 tidak dapat dipisahkan dengan peran Batun Sendi Bhatari Sakti Batur. Selain jejaring pasihan dan gebog wingkang ranu, Batur memiliki aliansi antardesa bernama batun sendi. Aliansi Batun Sendi Batur terikat dengan situs, ritus, serta pranata adat yang kompleks. Mereka bisa dikatakan sebagai komunitas “ring satu” yang setia menyokong setiap denyut peradaban Batur. Seperti namanya, desa-desa dalam jaringan aliansi batun sendi diibaratkan seperti sendi atau lapik tiang. Lapik-lapik itulah yang berperan menyangga bangunan bernama Batur.

Anggota Batun Sendi Batur terdiri atas Desa Bayunggede, Buahan, Selulung, Sekardadi, Bonyoh, dan Sribatu (Tanggahan Gunung). Desa Bayunggede adalah “lumbung” padi gaga yang digunakan dalam ritual-ritual di Batur. Desa Buahan terhubung melalui keberadaan Palinggih Bhatara Gunung Agung di Pura Jati. Dua dari 11 patirtan Bhatari Dewi Danuh, yakni Tirta Danu Gadang dan Tirta Danu Kuning, juga terletak di wilayah adat Buahan. Ketika Ngusaba Kadasa, Buahan berkewajiban mempersembahkan bukakak atau dangsil ke Pura Ulun Danu Batur.

Desa Selulung (Petak Cemeng) terikat dengan Batur melalui keberadaan Palinggih Ida Ratu Puseh Petak Cemeng di Pura Puseh Batur. Selulung juga berperan menyediakan kijang untuk kurban ritual tahunan di Pura Ulun Danu Batur. Seperti Selulung, Desa Bonyoh dihubungkan melalui keberadaan Palinggih Ida Ratu Puseh Bonyoh di Pura Puseh Batur. Pura Puseh Batur memang menunjukkan ciri sebagai pura puseh lintas desa adat. Selain ada Palinggih Ida Ratu Puseh Batur, pada mandala yang sama juga terdapat Palinggih Ida Ratu Puseh Petak Cemeng, Ida Ratu Puseh Bonyoh, Ida Ratu Puseh Sangkaduan, dan Ida Ratu Puseh Belatungan. Oleh karena itulah, setiap pujawali di Pura Puseh yang jatuh pada Purnama Kasa, desa-desa tersebut akan datang mempersembahkan pujawali.

Desa Sekardadi diyakini sebagai pemekaran dari Desa Bayunggede, sehingga desa ini menjadi bagian dari Batun Sendi Batur. Sementara itu, relasi Batur dengan Sribatu (Tanggahan Gunung) diikat oleh jaringan tata kelola air dan tanah. Selain itu, konon salah seorang Jero Gede Batur dahulu kala pernah menyingkir dan menetap di Tanggahan Gunung dengan mengajak beberapa orang pengiring dari Batur.

Rarud Batur 1926 sangat ditentukan oleh peran desa-desa batun sendi. Mereka adalah tenaga pertama yang datang untuk membantu evakuasi, khususnya terhadap benda-benda bersejarah yang sakral. Batur sangatlah protektif terhadap simbol-simbol budayanya, terlebih pada arca perwujudan, pusaka, dan pustaka. Secara psikologi kultural, kecil kemungkinan orang Batur mengizinkan simbol-simbol budayanya dibawa oleh orang yang tidak dikenal. Pun pada masa-masa kritis. Mengingat nilai kultural dari artefak-artefak tersebut, tentu hanya orang terdekat dan terpercaya yang diizinkan melakukan evakuasi. Atas dasar kekerabatan dan kepercayaan itu pula benda-benda sakral milik Batur diizinkan untuk ditempatkan di Desa Bayunggede hingga dua tahun lamanya.

Kekerabatan Batur dengan desa batun sendi masih terjalin erat sampai saat ini. Apabila pralingga Ida Bhatari-Bhatara Batur melakukan perjalanan suci ke luar desa, perwakilan masyarakat dari desa-desa batun sendi diwajibkan untuk turut serta. Jero Gede Batur akan meminta para kubayan dari setiap desa batun sendi untuk mengutus warganya. Dahulu kala, ketika penduduk Batur belum sebanyak sekarang, desa-desa ini akan mengirimkan puluhan orang untuk membantu perjalanan. Namun, sekarang jumlahnya relatif lebih sedikit, sebatas sebagai perwakilan dari tiap desa.

Relasi antara Desa Batur dan desa-desa batun sendi juga diperlihatkan melalui praktik saling mengunjungi ketika pelaksanaan ritual. Desa Batur biasanya akan diundang oleh desa batun sendi apabila mereka sedang melaksanakan upacara, terlebih yang bersifat khusus seperti melaspas bangunan suci atau ngusaba. Sebaliknya, desa batun sendi juga akan datang berkunjung dan membantu pelaksanaan ritual besar di Batur. Praktik bantu-membantu ini tampak jelas ketika Ngusaba Kadasa atau pakelem, di mana para kubayan dari setiap desa batun sendi masuk struktur kepanitiaan. Desa batun sendi juga akan diminta membantu proses pekelem, utamanya prosesi di puncak Gunung Batur. Sebagai contoh pada Karya Agung Danu Kerthi tahun 2023, pekelem di Puncak Kanginan Gunung Batur dibantu oleh Desa Sekardadi, sedangkan di Puncak Kawanan Gunung Batur dibantu oleh Desa Buahan.

Simbol-simbol sosio-kultural juga menunjukkan kekerabatan aliansi Batun Sendi Batur. Desa-desa batun sendi umumnya memiliki gong gede dan tari baris dengan notasi musik dan gerak tari senada, bahkan relatif sama. Beberapa desa batun sendi sampai saat ini memilih pakaian adat pangayah yang identik dengan pakaian pangayah Batur. Udeng hitam yang jadi ciri khas dari jero gambel Batur turut dipakai oleh jero gambel Bayunggede, Buahan, Bonyoh, dan Sekardadi. Demikian pula udeng berwarna ungu yang jadi ciri khas jero baris Batur juga dipakai oleh tempekan baris beberapa desa batun sendi. Adakalanya keindentikan warna pakaian juga meluas hingga ke setelan saputan dan baju pangayah.

Kemiripan simbol-simbol kultural ini menjadi penanda penting dalam membaca kekerabatan dan solidaritas Batur dengan desa batun sendi. Dalam konteks kontemporer saat ini, spirit kekerabatan batun sendi perlu terus dirawat. Kekerabatan dan kesetiakawanan sosio-kultural tersebut dapat dikelola sebagai modal untuk mempertahankan, menguatkan, dan mengembangkan kebudayaan desa-desa aliansi batun sendi yang bercita rasa serta berkarakter khas kebudayaan Bali pegunungan. Solidaritas antar-desa pewaris kebudayaan Bali pegunungan penting untuk terus dinarasikan di tengah dinamika wacana kebudayaan Bali yang cenderung mengarusutamakan kebudayaan Bali dataran sembari memandang sebelah mata kebudayaan Bali pegunungan. Ke depan, lembaga formal semacam majelis kebudayaan Bali pegunungan atau majelis kebudayaan Bali mula yang berbasis pada nilai-nilai kekerabatan batun sendi, gebog, atau wanua berpeluang besar dibentuk untuk kemajuan bersama.

Selain memendam potensi pengembangan, aliansi Batun Sendi Batur juga dihadapkan pada tantangan yang kompleks. Seiring dengan modernitas dan pergerakan manusia yang semakin individualistis, keminderan budaya, serta literasi kebudayaan yang rendah, “kerobohan” aliansi batun sendi pun membayangi. Maka daripada itu, upaya-upaya preventif perlu diambil. Komunikasi kultural tidak boleh diputus. Kegiatan kebudayaan yang melibatkan anggota aliansi batun sendi dapat dijadikan ruang untuk merawat solidaritas antar-anggota aliansi. Kearifan yang dikandung oleh jejaring batun sendi perlu diwariskan terus-menerus melalui gerakan literasi, misalnya lewat upaya diskusi, pencatatan, maupun dokumentasi visual dan media kreatif lainnya.

 

Daftar Pustaka

Budiastra, P., & dkk. (1979). Rajapurana Pura Ulun Danu Batur KIntamani Bangli Volume 1. Museum Bali.

Couperus, L. (2012). Di Bali, Segalanya adalah Seni. dalam A. Vickers (Ed.), Bali Tempo Doeloe (pp. 15–28). Komunitas Bambu.

De Eruptie op Bali. (1926, August 10). Het Nieuws van Den Dag.

Powell, H. (2012). Dari Buleleng ke Den Passar. dalam A. Vickers (Ed.), Bali Tempo Doeloe (pp. 29–36). Komunitas Bambu.

Stehn, CH. E. (1928). De Batoer op Bali En Zijn Eruptie in 1926. Druk N.V. Maks & V.D. Klits.

***

[1] Batur Let dalam tulisan ini merujuk pada Desa Batur Kuno sebelum tahun 1926. Desa Batur Let terletak di kaki Gunung Batur sebelah barat daya. Belakangan eks Desa Batur dikenal sebagai Black Lava yang mulai dikembangkan sebagai destinasi wisata, misalnya jeep tour.

[2] Powell dan Andre mungkin mengunjungi Batur pada tahun 1928, sehingga peristiwa besar yang dijelaskan dua tahun dari kedatangan mereka merujuk pada erupsi tahun 1926. Sedangkan, peristiwa yang dikatakan penuh keajaiban merujuk pada erupsi tahun 1905. Erupsi 1905 menyebabkan beberapa kerusakan di desa, khususnya bagi Pura Ulun Danu Batur. Namun, secara ajaib lahar kemudian berhenti di halaman Pura Batur. Pada beberapa foto yang diambil antara tahun 1914-1925, kori agung Pura Batur setengahnya telah dilahap lahar erupsi 1905.

[3] Keterangan Stehn terkait urutan waktu peristiwa erupsi Gunung Batur 1926 sedikit ambigu. Kontrolir Klungkung, J.C.C. Haar mungkin tiba pada tanggal 3 Agustus 1926 atau 4 Agustus 1926 tengah malam. Namun, penulis menduga kontrolir telah sampai di Batur pada tanggal 3 Agustus 1926 tengah malam dan mulai memerintahkan narapidana dan tentara untuk membantu evakuasi pada 4 Agustus 1926, ketika setengah kawasan desa telah tertimbun lahar panas. Erupsi terus berlanjut, dan Asisten Residen Den Pasar, Zieck tiba pada 5 Agustus 1926, tetapi 2/3 desa telah tertimbun lahar panas.

[4] Menurut Wayan Sukadia, penggunaan Kalanganyar sebagai nama Desa Batur masih dipakai hingga tahun 1940-an. Nama desa itu akhirnya dikembalikan menjadi Batur setelah ada seorang pejabat republik yang ingin bersembahyang ke Pura Ulun Danu Batur bingung mendapati nama desa dan pura tidak sinkron. Maka daripada itu, Desa Kalanganyar dikembalikan lagi menjadi Desa Batur. Antara tahun 1947 s.d. 1970-an, Batur mengalami dinamika politik hingga terbagi menjadi tiga desa dinas, yakni Batur Selatan, Batur Tengah, dan Batur Utara, serta hampir mekar menjadi empat sebagai Batur Catur. Namun, pengajuan Batur Catur sebagai desa dinas ditolak pemerintah.

[5] Nama lahir Kaki Jair adalah I Wayan Citra atau Nang Sipar (nama pungkusan yang diberikan masyarakat berdasarkan nama anak pertama). Ia merupakan seorang nelayan Danau Batur yang menggarap lahan adat di kawasan Seked sekaligus seorang penabuh gender wayang yang cukup dikenal di desa. Ia dipanggil Kaki Jair karena menjadi pelopor menjual ikan mujair sejak tahun 1980-an. Kaki Jair meninggal pada bulan Juli 2010 dan di-aben pada Agustus 2010.

=====

*Tulisan ini adalah tulisan terpilih dalam program “Catatan Menuju Seabad Relokasi Batur” yang digelar Lingkar Studi Batur untuk memperingati HUT ke-3 tahun 2023 dan memperingati seabad peristiwa perpindahan Desa Adat Batur dari Desa Batur Let di kaki Gunung Batur menuju tempat saat ini. Tulisan ini juga akan terbit dalam buku berjudul Seabad Relokasi Batur yang saat ini dalam proses penerbitan.

**Penulis adalah Jero Penyarikan Duuran di Pura Ulun Danu Batur/Desa Adat Batur. Saat ini adalah tenaga pengajar di Program Studi Sastra Jawa Kuno FIB Universitas Udayana. Merupakan anggota dan pendiri Lingkar Studi Batur.

Berita terkait