}} Sikěp Batur: Jejak Perang di Desa Selat* - Bebaturan.id

Sikěp Batur: Jejak Perang di Desa Selat*

Pasuara
Prosesi Perang Maplengkungan di Desa Selat Tengah

I G.A. Darma Putra dan I K.S. Wira Darma**

Foto: Prosesi Perang Maplengkungan di Desa Selat Tengah (I Komang Rangga Adi Kusuma)

========================

BERTAHUN-TAHUN lalu usaha penelusuran sejarah Desa Selat diawali dengan membuat sebuah diskusi yang diprakarsai oleh Sekaa Teruna Eka Murti Dharma Guna. Diskusi itu dilangsungkan saat HUT yang ke-36 [tahun 2015] dengan menghadirkan Anak Agung Rai Wija [selanjutnya disebut Rai Wija] dari Puri Benawah. Dalam diskusi itu Rai Wija mengungkapkan bahwa Kerajaan Bangli terdesak saat perang melawan Kerajaan Gianyar. Karena itu Kerajaan Bangli yang dipimpin oleh I Dewa Tangkeban memohon kepada Bhatari di Batur agar diberikan bantuan. Pada saat itulah Sikĕp Batur ditugaskan untuk menjaga wilayah Selat.

Bila cerita Rai Wija benar, artinya masyarakat Selat sekarang memiliki “hubungan darah” dengan masyarakat Batur. Namun siapakah Sikĕp Batur yang dimaksud Rai Wija? Mengapa Bangli membangun koalisi dengan Batur, bukan yang lain? Lalu di mana Sikĕp Batur itu sekarang? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, mari kita telusuri jalan tapak sejarah yang sepi ini perlahan-lahan.

Pertama-tama, kita tarik dulu sejarah jauh ke belakang seperti menarik busur. Kita berharap dengan cara itu anak panahnya bisa melesat lebih kencang menembus lapisan-lapisan sejarah. Oleh karena itu, kini kita tarik dulu tali busur ini ke masa prasejarah. Pada tahun 2018 Desa Selat dihebohkan dengan penemuan Sarkofagus oleh petani di sawahnya, dekat dengan Pura Bedugul Selat. Sarkofagus merupakan tempat yang digunakan sebagai wadah kubur di masa prasejarah. Tinggalan ini menjadi bukti wilayah Desa Selat telah dihuni oleh manusia sejak dari masa prasejarah dan terus belanjut ke masa Bali Kuno hingga masa kini. Asumsi ini semakin kuat apabila dilihat dari letak wilayahnya, desa ini diapit oleh dua buah sungai yakni Sungai Pakerisan di barat dan Sungai Daah di timur. Di masa lampau, sungai merupakan faktor yang sangat penting bagi pemilihan lokasi pemukiman.

Bila kita membandingkan dengan narasi Babad Bandesa Batur yang disampaikan Rai Wija, Desa Selat justru dicurigai pada mulanya bernama Tegal Melakang. Dan, apabila Tegal Melakang merepresentasikan sebuah wilayah hutan atau pepohonan lebat dan belum dihuni, agaknya kurang tepat. Jadi, apa dan di manakah Tegal Melakang itu? Barangkali kita mestinya memperluas pandangan sejenak bila ingin mengetahui apa dan di mana Tegal Melakang itu. Contohnya, dengan memprediksi bahwa wilayah Selat di masa itu tidak sama batas-batasnya dengan wilayah yang sekarang. Bisa jadi yang dimaksud Selat saat itu adalah gabungan antara Desa Adat Selat yang sekarang dengan Desa Adat Selat Nyuhan, sehingga kita dapat mencari Tegal Melakang di wilayah yang lebih luas itu. Sampai sekarang setidaknya ada dua tempat yang namanya mengandung unsur “tegal”. Dua nama itu yakni Alas Kekeran di sebelah utara dari Pura Puseh Nyuhan, dan Pura Alas Sari yang letaknya di antara Desa Adat Selat dan Desa Adat Nyuhan. Pura Alas Sari berada di tanah yang tinggi.

Selanjutnya, kita melesat ke masa klasik melalui penuturan Jero Mangku Gede sebagai pangamong Pura Puseh dan Masceti Desa Adat Selat. Menurut Jero Mangku Gede, di Pura Puseh dan Masceti terdapat patung-patung [arca] yang tersimpan di salah satu meru. Patung-patung itu merupakan perwujudan Dewa Tri Murti, dan hanya dapat dilihat ketika piodalan. Karena itu pada saat piodalan di Pura Puseh dan Masceti [Purnama Kelima] kami mencoba melihat arca yang dimaksud.  Rupa-rupanya cukup banyak tinggalan yang tersimpan di Pura ini. Peninggalan-peninggalan purbakala tersebut di antaranya berupa lingga, arca perwujudan, arca Ganesha, batu sima, dan batu-batu alam yang dahulunya kemungkinan digunakan sebagai media pemujaan. Apabila dilihat dari ciri-ciri ikonografi serta gaya seni arca, arca-arca di Pura Puseh dan Masceti berasal dari abad XIII-XIV Masehi.

Berdasarkan arca-arca itu, kita dapat menduga bahwa Pura Puseh dan Masceti di Desa Adat Selat telah digunakan sebagai tempat pemujaan di masa lalu. Bahkan di masa Kerajaan Bangli, Pura Puseh dan Masceti ini merupakan pura penting. Apa bukti bahwa Kerajaan Bangli menganggap pura ini penting? Kami lalu bertanya kepada tetua-tetua desa. Kami justru mendapatkan cerita tentang perpindahan dan terbaginya wilayah Selat dengan Selat Nyuhan. Salah satunya adalah Jero Mangku Anom, yang kami temui pada tanggal 21 Agustus 2022. Jero Mangku Anom menuturkan seperti ini. Dahulu krama Desa Puseh Nyuhan dan krama Desa Puseh Selat menjadi satu. Krama itu nyungsung pura di Puseh Nyuhan. Krama desa itu adalah krama yang mendapatkan tanah AYDS berupa sawah yang berasal dari 5 banjar, yaitu Banjar Selat Tengah, Banjar Selat Peken, Banjar Selat Kaja Kauh, Banjar Selat Nyuhan, dan Banjar Songlandak.

Jero Mangku Anom juga menegaskan bahwa Pura Puseh dan Masceti di Desa Adat Selat yang diwarisi sekarang dahulunya merupakan Pura Masceti bagi masyarakat yang berada di wilayah barat Sungai Sangsang. Karena itulah Pura Masceti ini sangat penting bagi Kerajaan Bangli. Saking pentingnya, Bangli berusaha melindunginya mati-matian di kemudian hari sebagaimana akan tampak pada peperangan yang berulang kali terjadi.

Kemudian krama desa itu berpisah. Orang-orang yang mendapatkan tanah AYDS di sebelah selatan Sribantang[1] mendirikan lagi Pura Puseh yang lain di tempat yang sama dengan Pura Masceti. Sehingga jadilah dua Pura yang menjadi satu sebagaimana yang kita dapati sekarang di Desa Selat. Pura itu diempon oleh krama desa yang berasal dari Selat Tengah, Selat Kaja Kauh, dan Selat Peken dengan jumlah 150 orang. Sedangkan Pura Puseh Nyuhan saat ini diempon oleh krama desa yang berasal dari Selat Nyuhan, Selat Kaja Kauh, Selat Tengah, dan Songlandak dengan jumlah 63 orang. Apa sebabnya krama desa yang nyungsung Pura Puseh Nyuhan berpisah lalu mendirikan lagi Pura Puseh dan Masceti di Desa Selat?

Boleh jadi, perpisahan ini terjadi akibat perang antara Gianyar dan Bangli. Bangli dan Gianyar memang terus menerus berebut wilayah kekuasaan. Perselisihan itu mengakibatkan kekacauan di kedua wilayah kerajaan, terutama wilayah-wilayah perbatasan. Kronologis perselisihan antar Gianyar dan Bangli yang sempat dikumpulkan informasinya, kira-kira seperti ini.[2]

Tahun 1859. Dewa Ayu Agung, putri Dewa Gde Tangkeban VI, dijadikan permaisuri oleh Dewa Agung Putra III di keraton Smarapura, Klungkung. Perkawinan itu membuat Dewa Manggis VII khawatir, dan menyulut perpecahan antara kerajaan Klungkung, Bangli, dan Gianyar. Akibatnya Raja Bangli dan Gianyar sama-sama menutup rapat perbatasan kerajaan mereka. Perpecahan tidak hanya sampai di sana saja, Gianyar kemudian memisahkan diri dengan Klungkung.

Setahun setelahnya, yakni tahun 1860. Serangan dilakukan oleh Bangli di Desa Gunung Rata. Desa ini merupakan milik Gianyar dan letaknya di perbatasan Kerajaan Bangli. Perpecahan berlanjut, buktinya tahun 1884 penduduk Desa Apuan matilas ke Kerajaan Bangli. Akibat dari kejadian ini, laskar Kerajaan Bangli menduduki Apuan dan memperkuat benteng pertahanan. Gerakan penyerahan diri ini dianggap sebagai pemberontakan oleh Kerajaan Gianyar. Karena itu Gianyar menyerang Apuan untuk menumpas pemberontakan itu sebanyak dua kali, tetapi gagal.

Pada tahun 1885 atas desakan Dewa Agung di Klungkung, laskar Kerajaan Bangli di bawah pimpinan I Dewa Made Raka memasuki wilayah Kerajaan Gianyar dan menduduki sepuluh desa yang terletak di selatan Bukit Jati. Sedangkan, tahun 1890-1893 satu per satu wilayah Kerajaan Gianyar yang sempat dikuasai Klungkung dan Bangli berhasil direbut kembali.

Tahun 1893 Cokorda Suda seorang punggawa dari Pejeng melakukan pembangkangan atas hasutan Raja Bangli. Pembangkangan itu dinetralisir oleh Cokorda Gde Sukawati, Punggawa Ubud. Cokorda Suda dapat meloloskan diri dan meminta suaka kepada raja Bangli. Narasi yang sama sekali berbeda konon dimuat di dalam Babad Bandesa Batur yang kini tersimpan di Selat Peken. Menurut babad itu, Cokorda Suda tidak disebut pemberontak, tetapi korban serangan yang dilancarkan Ubud. Apa alasan penyerangan itu? Tidak dijelaskan lebih terperinci. Informasi perihal keberadaan dan isi Babad Bandesa Batur ini diterangkan oleh Rai Wija.

Pergolakan antar tiga kerajaan pecah pada tahun 1897. Di tahun itu kerajaan Klungkung dan Bangli mulai melancarkan serangan terbuka terhadap desa-desa di perbatasan di tepi timur dan tepi utara kerajaan Gianyar. Pada tahun yang sama, tepatnya tanggal 14 Agustus 1897 Punggawa Tampaksiring membelot dan wilayahnya diserahkan ke Raja Bangli. Pembelotan itu terjadi karena hasutan Dewa Agung Klungkung.

Situasi ketiga kerajaan membuat pemerintah Hindia-Belanda turun tangan. Pada bulan April dan Mei 1898, Residen F.A. Liefrink mengadakan kunjungan ke Klungkung, Bangli, dan Karangasem untuk memberikan pertimbangan agar menghentikan permusuhan terhadap Kerajaan Gianyar. Saran ini tidak digubris oleh Dewa Agung dan Dewa Gde Tangkeban.

Tahun 1899, Bangli memusatkan laskarnya di Tampaksiring, kemudian melancarkan serangan terhadap Desa Mancawarna [14 April 1899], Pejeng [15 Mei 1899], Seloli [30 Juni 1899]. Akan tetapi, serangan itu dapat dipukul mundur sampai keluar dari Tampaksiring. Tanggal 2 Januari 1900, Bangli dan Klungkung melancarkan serangan ke perbatasan-perbatasan tepi utara Kerajaan Gianyar, yaitu pada enam desa, yakni Petak, Gumantring, Padpadan, Panyembahan, Melayang, dan Pamanisan. Semua wilayah ini terletak di selatan Desa Selat. Desa Selat sendiri tidak disebut sebagai wilayah yang diserang, kemungkinan besar karena Selat memang berada di bawah kekuasaan Bangli. Saat penyerangan itu terjadi, rumah-rumah penduduk dibakar, harta benda dirampas. Setelah desa-desa itu diduduki oleh laskar Bangli, mereka diusir lagi berkat serangan balasan laskar Gianyar. Panglimanya adalah Cokorda Gde Sukawati, Punggawa Peliatan, dan Bebitra. Tanggal 10 Januari 1900, laskar Bangli melancarkan serangan lagi terhadap tiga desa, yakni Semita, Bonnyeh, dan Madangan tetapi dapat diusir lagi oleh Kerajaan Gianyar. Sementara itu, laskar Klungkung merampok dan merampas hewan-hewan penduduk di perbatasan tepi timur.

Perang masih terus berlanjut setelah beberapa peristiwa di atas. Bahkan, di seputaran tahun 1899-1900, Cokorda Suda dihasut lagi untuk membalas dendam atas kekalahannya dahulu. Itu artinya, Kerajaan Bangli dan Cokorda Suda memiliki hubungan yang erat. Karena itu, narasi seni yang berkembang belakangan saat sasolahan ngonying tidak tepat sama sekali. Di dalam narasi itu, Cokorda Suda diceritakan bermusuhan dengan Kerajaan Bangli.

Apa hubungan antara rentetan perang Gianyar dan Bangli di atas dengan Desa Selat?  Menurut Babad Dalem Pemayun, peristiwa perpindahan Cokorda Gede Suda Pamayun ke Petak, Madangan kira-kira terjadi pada tahun 1899. Di tahun itu, Cokorda Gede Suda Pamayun berangkat ke Desa Selat. Artinya, ada satu peristiwa perang yang menyebabkan Cokorda Suda Pamayun berpindah dari Pejeng ke Madangan. Kemungkinan besar, pada masa inilah Sikĕp Batur diturunkan untuk menjaga wilayah Desa Selat sekarang.

Ada beberapa hal lain yang mestinya dimunculkan dalam catatan ini. Namun, keinginan itu ditangguhkan sementara, sebab saat kami ingin menyelesaikannya, kami tidak memiliki banyak waktu untuk membuktikan asumsi-asumsi kami. Semisal, dugaan mengenai hubungan erat antara Ubud dan Batur yang mempengaruhi pula keputusan untuk mengirim Sikĕp Batur ke wilayah konflik. Hubungan erat itu pula yang sedikit banyaknya mempengaruhi perpindahan Batur ke wilayah yang sekarang. Jadi, hubungan tiga wilayah, yakni Selat, Ubud, dan Batur telah terjalin sejak pergolakan politik kerajaan terjadi. Terutama saat perang antara Bangli dan Gianyar. Selain itu, kami juga menduga bahwa ada suatu petunjuk penting dari informasi-informasi yang telah kami gali berkenaan dengan Pura Penataran di Banjar Selat Tengah. Sayang sekali, tulisan ini belum rampung sama sekali. Atas berbagai macam pertimbangan, kami cukupkan sampai di sini dulu cerita ini. Kesimpulan sementara, kami adalah Sikĕp Batur, korban perang antar dua kerajaan di abad ke-19, sehingga kami berada di Desa Selat setidak-tidaknya selama empat generasi.

 

Catatan Kaki

[1] Sribantang adalah nama lokasi yang menjadi perbatasan antara Subak Nyuhan dengan Subak Selat. Perbatasan ini ditandai oleh gelinjing yang membentang dari Timur ke Barat. Kata Sri nampaknya merujuk pada Sawah, karena Sri adalah nama Dewi Sawah. Sedangkan Bantang rupa-rupanya berarti sepotong batang kayu atau kerangka yang menjadi pembatas. Tafsir ini masih bersifat tentatif.

[2] Peristiwa peperangan yang dicatat dalam catatan ini, disarikan dari berbagai sumber seperti Babad Dalem Pamayun, buku dari Gora Sirikan, Anak Agung Gde Agung, dan tentu saja Sejarah Gianyar yang diselesaikan oleh sebuah Tim tahun 2015.

 

=====

*Tulisan ini adalah tulisan terpilih dalam program “Catatan Menuju Seabad Relokasi Batur” yang digelar Lingkar Studi Batur untuk memperingati HUT ke-3 tahun 2023 dan memperingati seabad peristiwa perpindahan Desa Adat Batur dari Desa Batur Let di kaki Gunung Batur menuju tempat saat ini. Tulisan ini juga akan terbit dalam buku berjudul Seabad Relokasi Batur yang saat ini dalam proses penerbitan.

**Kedua penulis merupakan pemuda bersaudara asal Desa Selat Tengah, Susut, Bangli. IGA Darma Putra saat ini adalah dosen di Universitas Hindu Indonesia dan aktif dalam kegiatan akademik terkait pernaskahan dan epigrafi. I K.S. Wira Darma adalah alumni Prodi Arkeologi Universitas Udayana yang saat ini tengah menyelesaikan studi di Program Magister Kajian Budaya Universitas Udayana.

Berita terkait