}} "Simbolic Capital": Kekuatan Ekonomi Strategis Desa Adat Batur* - Bebaturan.id

“Simbolic Capital”: Kekuatan Ekonomi Strategis Desa Adat Batur*

Pasuara
Batur Waterpark.

Oleh I Wayan Absir**

Foto: Salah satu wahana di Batur Waterpark Seked (Nengah Suryadi).

========================

Desa Adat Batur memiliki tanggung jawab mengempon banyak pura dengan ritual besar, serta melibatkan umat Hindu seluruh Bali bahkan Nusantara. Selain mengempon Kahyangan Tiga yang terdiri atas Pura Bale Agung (Pura Desa), Pura Puseh, dan Pura Dalem, krama Desa Adat Batur memiliki tanggung jawab utama pada Pura Ulun Danu Batur. Pura Ulun Danu Batur adalah kahyangan jagat, masuk dalam konsep Pura Rwabhineda dan Pura Sad Kahyangan Bali, dan memiliki 17 pura pangider-ider, yakni Pura Jati, Pura Pelisan, Pura Tirta Mas Bungkah, Pura Rejeng Anyar, Pura Taman Sari, Pura Tirta Mas Mampeh, Pura Prapen Pingit, Pura Ratu Pande, Pura Jaba Kuta, Pura Kodo Guna Lali, dan lain-lain. Selain itu ada juga beberapa pura yang di-empon oleh beberapa orang masyarakat adat Batur, seperti Pura Alas Arum, Pura Tuluk Biyu, Pura Bukit Mentik, dan Pura Gunung Menak.

Keberadaan pura yang banyak, menyebabkan hampir setiap hari purnama dan tilem ada upacara piodalan di Desa Batur. Banyaknya pura yang di-sungsung, membutuhkan biaya yang besar untuk perawatan bangunan dan pelaksanaan upacara piodalan secara berkala, termasuk melaksanakan Karya Ngusaba Kadasa setiap tahun di Pura Ulun Danu Batur. Sementara, krama Desa Batur sebagai pangempon tidak memiliki sumber daya secara perorangan. Ketika direlokasi ke tempat yang baru, Pemerintah Hindia Belanda hanya memberikan sumber daya dalam bentuk tanah untuk Pura Ulun Danu Batur dan Desa Adat Batur (Sukadia, 2013). Pelaksanaan Karya Ngusaba Kadasa yang berlangsung setiap Purnama Sasih Kadasa di Pura Ulun Danu Batur, biayanya bersumber dari persembahan atos (berbagai bahan upakara) dari para pepasihan yang disebur pula sebagai sarin tahun. Persembahan atos dan sarin tahun adalah bentuk rasa terima kasih atas hasil panen yang melimpah dan keselamatan para pasihan dan subak. Setelah mempersembahkan atos dan sarin tahun, pepasihan dan subak memohon tirtha pangusaban dari Pura Ulun Danu Batur (Sukadia, 2010; Schaublin, 2011).

Kesejahteraan warga Desa Adat Batur sangat bergantung pada pengelolaan sumber daya yang dimiliki Pura Ulun Danu Batur dan Desa Adat Batur. Selain memanfaatkan pengelolaan sumber daya (tanah) duwen desa dan pelaba pura, warga Desa Batur juga memanfaatkan Danau Batur sebagai tempat budidaya dan menangkap ikan (mujair). Sebagian lagi memilih pekerjaan sebagai pedagang acung (asong) saat berlangsungnya upacara Ngusaba Kadasa di Pura Ulun Danu Batur, bahkan berlangsung sepanjang tahun, baik di seputar daerah pariwisata Batur/Kintamani maupun di perkotaan seperti Denpasar. Sisanya memilih profesi menjadi pedagang keliling ke desa-desa di Bali yang umum disebut dengan istilah ngalu yaitu berjualan kain dan berbagai barang kebutuhan masyarakat secara langsung/door to door (Sadar, 2017).

Walaupun masyarakat Desa Adat Batur secara individu tidak memiliki tanah garapan sebagai sumber daya, tetapi melalui usaha dan pemanfaatkan sumber daya yang ada, saat ini warga Desa Adat Batur telah menjadi warga yang cukup mapan secara ekonomi. Warga Desa Adat Batur menekuni berbagai profesi seperti petani, pedagang, aparat keamanan (TNI/POLRI), wirausaha, hingga bidang politik. Berdasarkan uraian tersebut, maka perlu dipetakan apakah sumber daya strategis yang dimiliki Desa Adat Batur untuk menunjang dharma agama Hindu? Bagaimanakah Desa Adat Batur mengelola sumber daya strategis yang dimiliki dalam menunjang dharma Agama Hindu? dan Bagaimanakah implikasi pengelolaan sumber daya strategis terhadap kehidupan masyarakat Desa Adat Batur dalam rangka menunjang dharma agama Hindu?

 

Sumber Daya Strategis Desa Adat Batur

Sumber daya strategis yang dimiliki Desa Adat Batur terdiri atas sumber daya (modal) simbolik. Ini adalah sumber daya yang menentukan, yakni berupa Pura Ulun Danu Batur dengan sungsungan Ida Bhatari Batur/Bhatari Dewi Danuh dan Jero Gede Batur Makalihan (Jero Gede Duuran dan Jero Gede Alitan). Hal ini sejalan dengan isi kisah dalam Mitos I Ratu Ayu Mas Membah, sebuah mitos tentang kekuasaan Ida Bhatari Batur sebagai penguasa air di Bali (Duija, 2009). Penguasaan terhadap air merupakan sebuah aspek yang penting dalam menguasai dunia terutama bidang ekonomi (Darmayasa, 1995). Penguasaan terhadap air sebagaimana kisah dalam Mitos I Ratu Ayu Mas Membah tersebut, memunculkan keterikatan antara Pasyan dan Subak di Bali dengan Pura Ulun Danu Batur. Pada setiap pelaksanaan karya Ngusaba Kadasa, pasihan mempersembahkan bahan/sarana upacara tertentu (atos) dan seluruh Subak di Bali mempersembahkan sarin tahun ke Pura Ulun Danu Batur.

Jero Gede Batur Makalihan selain berperan sebagai pemimpin spiritual di Pura Ulun Danu Batur juga merupakan Pamucuk Desa Adat Batur secara ex-officio (Sadar, 2017). Selain di Desa Adat Batur, Jero Gede Batur makalihan sangat dihormati oleh umat Hindu di Bali khususnya para pasihan dan subak di Bali karena dianggap sebagai pemilik pura mewakili Ida Bhatari Batur (Schaublin, 2011). Kedudukan Jero Gede Batur Makalihan disamakan dengan seorang Paus, pemimpin Gereja Katholik se-dunia.

Selain sebagai sumber daya simbolik, Jero Gede Batur juga memiliki sumber daya (modal) intelektual, yang terdiri atas sumber daya manusia (human capital), modal pelanggan (customer capital: para pasihan, subak, dan umat Hindu), modal struktural (structural capital), modal sosial (social capital), modal teknologi (technology capital), dan modal spiritual (spiritual capital) (Hashim, 2015). Kedua, Jero Gede Batur juga memiliki sumber daya (modal) kultural (budaya) berupa Pura Ulun Danu Batur dan beberapa pura lainnya dengan rangkaian prosesi Upacara Ngusaba Kadasa, yang dihadiri oleh ribuan umat Hindu dari seluruh Bali. Ketiga, Jero Gede Batur memiliki sumber daya alam, berupa tanah yang terletak di hamparan Pegunungan Kintamani dengan latar belakang Gunung Batur dan Danau Batur yang indah. Selain berlokasi di sekitar Pegunungan Kintamani, Pura Ulun Danu Batur juga memiliki tanah (pelaba) di daerah lain sekitar Kabupaten Bangli, yang merupakan persembahan tokoh-tokoh desa sebagai pengganti anugerah gelar bangsawan dari Kerajaan Bangli (Schaublin, 2011). Keempat, Jero Gede Batur juga memiliki sumber daya (modal) sosial, yang terdiri atas masyarakat Desa Adat Batur yang berdomisili di Desa Batur Utara, Desa Batur Tengah, Desa Batur Selatan, dan di luar Desa Adat Batur seperti Kota Denpasar, Jakarta, dan lain-lain. Beliau juga memiliki jaringan baik yang berkaitan dengan Pura Ulun Danu Batur (pepasihan dan subak) maupun karena profesi masing-masing. Masyarakat Desa Adat Batur dengan mata pencaharian berbagai profesi, di antaranya petani, pedagang keliling (pangalu), karyawan swasta, pegawai negeri, pengusaha, politisi, dan lain-lain.

 

Pengelolaan Sumber Daya Strategis

Pengelolaan sumber daya di Desa Adat Batur hingga saat ini dapat dibagi ke dalam tiga periode. Pertama adalah pengelolaan sumber daya periode sebelum tahun 1980. Pada periode ini, pengelolaan seluruh sumber daya (simbolik, kultural, ekonomi, dan sosial) menggunakan konsep manajemen tradisional sesuai dengan tradisi yang berlaku di Desa Adat Batur. Pengeling-eling kepada para pasihan dan subak dilakukan dengan cara mengirimkan surat dalam bentuk lontar, pengelolaan tanah duwen desa dan pelaba pura oleh Krama Desa Adat Batur sebagai lahan pertanian dengan sistem bagi hasil.

Kedua, adalah tata cara pengelolaan sumber daya pada periode 1980 hingga 2007. Pada periode ini pengelolaan sumber daya dengan manajemen tradisional masih tetap dipertahankan. Pengelolaan tanah duwen desa dan pelaba pura sebagian masih dikelola krama Desa Adat Batur sebagai lahan pertanian dan sebagian lagi disewakan kepada investor untuk mendirikan akomodasi wisata. Pengeling-eling kepada para pasihan dan subak, selain dengan cara mengirimkan surat dalam bentuk lontar, juga dengan menerbitkan buku pengeling-eling yang dibagikan kepada para pasihan dan subak saat berlangsungnya Karya Ngusaba Kadasa.

Ketiga adalah pengelolaan sumber daya pada periode setelah 2007. Pada periode ini, sistem pengelolaan beberapa sumber daya secara tradisional masih dipertahankan, seperti pengeling-eling masih tetap dengan cara mengirimkan surat dalam bentuk lontar, buku pengeling-eling, dan juga memanfaatkan teknologi informasi/media sosial. Pengelolaan tanah duwen desa dan pelaba pura, selain masih dikelola krama desa sebagai lahan pertanian dengan cara bagi hasil dan disewakan kepada para investor, juga dikelola sendiri dengan mendirikan usaha pariwisata.

Pada tahun 2007, atas prakarsa Jero Gede Batur dibentuk usaha desa dengan nama PT. Prudes Sari Mekar Batur dengan modal awal dikumpulkan secara gotong royong dari krama Desa Adat Batur. Seiring perkembangan usaha yang terus menunjukkan kemajuan, maka saat ini usaha Desa Adat Batur dibagi menjadi dua unit usaha, yakni unit usaha sektor keuangan untuk mendukung permodalan unit-unit usaha dan kebutuhan krama Desa Adat Batur dan usaha sektor pariwisata. Unit usaha sektor keuangan Desa Adat Batur terdiri dari unit usaha Lembaga Perkreditan Desa (LPD) Desa Adat Batur dan Koperasi Simpan Pinjam Mekar Sari Batur. Sektor pariwisata yang tahun 2007 dikelola PT. Prudes Sari Mekar Batur pada tahun 2014 disempurnakan kembali dengan membentuk Tim Manajemen Pengelola (TMP) melalui hasil perarem Desa Adat Batur. TMP mengelola unit usaha sektor pariwisata di tiga lokasi, yaitu Unit Usaha Toya Bungkah Batur, Unit Usaha Seked Batur, dan Unit Usaha Jaba Pura Batur.

Unit Usaha Toya Bungkah Batur mengelola usaha kolam renang air panas dengan nama Batur Natural Hot Spring dengan motto, “The Only One Healing Spa in Bali”. Selain kolam renang, Unit Usaha Toya Bungkah Batur juga mengelola restoran, bar, serta massage and spa. Unit Usaha Seked Batur, mengelola usaha seperti Warung Makan Seked, Tirtha Pancoran Solas, Nirvana Villas, Villa Bambu dan Villa Kayu, Batur Water Park, Volcano Bar, permainan air tanpa mesin, adventure, bersepeda, mendaki gunung, dan berperahu. Ketiga, yakni Unit Usaha Jaba Pura Batur, mengelola usaha wisata spiritual Pura Ulun Danu Batur. Pelancong akan diajak mengelilingi Pura Ulun Danu Batur dengan guide lokal yang memahami sejarah dan keunikan Pura Batur dan Coffe Corner Kintamani.

Pengelolaan sumber daya strategis Desa Adat Batur berimplikasi terhadap dharma Agama Hindu di Desa Adat Batur. Pertama terkait dengan peningkatan jiwa kewirausahaan (entrepreneurship) bagi krama Desa Batur. Jiwa kewirausahaan sangat diperlukan dalam mengelola sumber daya strategis yang dimiliki Desa Adat Batur. Menjadi seorang wirausaha bagi krama Desa Adat Batur diajarkan secara berkala melalui ritual matiti suara pada prosesi upacara pepranian menjelang penutupan Karya Ngusaba Kadasa di Pura Ulun Danu Batur. Matiti suara adalah prosesi penyampaian pesan Ida Bhatari Batur kepada umatnya. Ada tiga pesan yang disampaikan, yaitu mula kliki mula biyu, memula bedik mupu liu (menanam sedikit, panen banyak), baas barak baas putih, sané daak dadi sugih (yang miskin bisa jadi kaya), dan sampunang nganggé kriya upaya, dana upaya anggén (jangan usaha dengan tenaga, gunakan modal untuk berusaha).

Pesan “mula kliki mula biyu, memula bedik mupu liu” artinya usaha dengan modal kecil untuk memperoleh manfaat yang besar. Pesan “baas barak baas putih, sané daak dadi sugih” artinya dengan usaha dan kerja keras serta menerapkan manajemen keuangan sesuai ajaran Sarasamuccaya 1-262, yakni memperoleh harta harus berdasarkan dharma/ajaran agama, harta yang diperoleh penggunaannya dibagi tiga untuk memenuhi kebutuhan dan tujuan hidup manusia, yaitu untuk tujuan dharma (kewajiban: dharma agama dan dharma negara), kama (kebutuhan hidup: kebutuhan biologis dan kebahagiaan), dan artha (tabungan dan kebutuhan mendesak). Jika konsep ini diterapkan maka yang miskin pun bisa menjadi kaya. Pesan ketiga, yakni “sampunang nganggé kriya upaya, dana upaya anggén” artinya jangan seumur hidup menjadi pekerja, gunakan uang yang sudahterkumpul melalui usaha menabung (saving) sebagai modal usaha (Bontot, 2016).

Pengelolaan sumber daya strategis ini juga harus didukung dengan penataan tata ruang dan usaha untuk mendukung lancarnya pelaksanaan ritual di Pura Ulun Danu Batur dan kegiatan usaha jasa wisata serta peningkatan pendapatan desa dan krama desa melalui pengelolaan sumber daya ekonomi yang memberikan setoran dana kepada kas Desa Adat Batur dan menciptakan lapangan pekerjaan bagi krama Desa Adat Batur. Terakhir adalah segala pengelolaan itu diwujudkan demi tujuan meningkatkan sradha dan bhakti krama Desa Batur sebagai wujud terima kasih atas anugerah Ida Bhatari Batur.

Pengelolaan sumber daya Desa Adat Batur dapat meningkatkan pendapatan Desa Adat Batur untuk membiayai seluruh ritual (dharma) Agama Hindu. Berdasarkan laporan kinerja Tim Manajemen Usaha Duwen Desa Pakraman Batur yang mengelola PT. Prudes Sari Mekar Batur per 31 Desember 2019, ada setoran dana ke Kas Desa Adat Batur. Hal tersebut sesuai dengan Surat Perintah Kerja dari Desa Adat Batur kepada Tim Manajemen Pengelola, yang besarnya 30% dari penerimaan bersih perusahaan.

Peningkatan pendapatan Desa Adat Batur dan Krama Desa Batur sebagai implikasi pengelolaan sumber daya, membuat krama Desa Batur sangat mensyukuri keberadaan Pura Ulun Danu Batur dengan sungsungan Ida Bhatari Batur/Bhatari Dewi Danuh. Rasa syukur tersebut mendorong masyarakat untuk lebih memahami kuasa dan anugerah Ida Bhatari Batur. Melalui pemahaman (sradha) yang semakin baik tersebut juga akan meningkatkan ketaatan (bhakti) masyarakat Hindu, khususnya krama Desa Adat Batur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa).

 

=====

*Tulisan ini adalah tulisan terpilih dalam program “Catatan Menuju Seabad Relokasi Batur” yang digelar Lingkar Studi Batur untuk memperingati HUT ke-3 tahun 2023 dan memperingati seabad peristiwa perpindahan Desa Adat Batur dari Desa Batur Let di kaki Gunung Batur menuju tempat saat ini. Tulisan ini juga akan terbit dalam buku berjudul Seabad Relokasi Batur yang saat ini dalam proses penerbitan.

**Penulis adalah ekonom asal Batur. Menyelesaikan studi doktoral di IHDN Denpasar. Saat ini turut aktif di MDA Bali.

Berita terkait