}} Sisi Didaktis Tradisi Nyanjan di Pura Ulun Danu Batur* - Bebaturan.id

Sisi Didaktis Tradisi Nyanjan di Pura Ulun Danu Batur*

Pakraman, Pasuara
Nyanjan.

Oleh I Komang Angga Sila Dharma**

Foto: Proses nyanjan di Pura Ulun Danu Batur tahun 2019 (Ferdy Febriana).

========================

Desa Adat Batur merupakan desa yang terletak di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali. Desa ini dikenal sebagai desa dengan panorama alam yang indah. Bagi orang-orang kebanyakan, ketika mendengar nama Batur umumnya akan langsung terpikir dua landskap lingkungan yang sangat indah, yakni Gunung Batur dan Danau Batur. Dua bentang alam tersebut memang menjadi pemikat dan penciri utama Desa Adat Batur. Dua landskap alam yang menyatu sebagai Taman Bumi (Geopark) Batur pun telah diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia pada tahun 2012.

Selain potensi alam yang begitu indah, Batur juga memiliki bentang kebudayaan yang tidak kalah menarik. Kebudayaan Batur sesungguhnya tidak bisa dipisahkan dengan alamnya, terutama keberadaan Gunung Batur dan Danau Batur yang disucikan oleh orang-orang Hindu Bali. Sistem religi yang diikat oleh dua landskap alam itulah yang juga membuat kebudayaan Batur begitu khas.

Salah satunya adalah tradisi nyanjan atau pengangkatan jero mangku di Batur. Nyanjan adalah cara yang dilakukan untuk memilih para jero mangku di seluruh pura yang ada di Desa Adat Batur. Namun, tentu saja yang paling menarik untuk dilihat adalah pelaksanaan nyanjan di Pura Ulun Danu Batur yang merupakan pura utama bagi masyarakat Batur. Jero mangku yang dipilih di pura ini otomatis berperan sebagai jero mangku desa dan jero mangku pura sad kahyangan jagat Bali.

Berbeda halnya dengan proses memilih jero mangku di daerah-daerah Bali secara umum, seorang jero mangku di Batur dipilih sebelum ia menikah. Kecenderungannya adalah mereka yang masih kanak-kanak. Seorang jero mangku di Batur akan mengemban tugasnya seumur hidup. Artinya, sebelum yang bersangkutan meninggal, maka yang bersangkutan tidak akan digantikan oleh orang lain. Hal inilah yang membuat banyak orang bingung dengan nama-nama jabatan jero mangku di Batur kadang tidak sesuai dengan usianya. Misalnya Palinggih Dane Jero Gede Batur Duhuran secara usia lebih muda dibandingkan dengan Palinggih Dane Jero Gede Batur Alitan, demikian pula Palinggih Dane Jero Penyarikan Duuran yang secara usia lebih muda dibandingkan Jero Penyarikan Alitan. Penyebabnya adalah siklus pilih mereka. Pada siklus-siklus tertentu, maka posisi duuran (kakak) bisa lebih muda secara usia dengan alitan (adik), demikian pula sebaliknya.

Tradisi nyanjan bagi masyarakat Batur merupakan tradisi yang sangat sakral. Elemen niskala dihadirkan pada ritual ini. Entitas Ilahi itu dimohon turun melalui suatu rangkaian ritual, kemudian diminta untuk meminjam tubuh-tubuh dari para dasaran prawalen dan pramade. Prawalen dan pramade ini adalah dasaran-dasaran yang telah melewati proses penyucian dan pawintenan yang disebut nuntun. Prawalen merujuk pada dasaran yang perempuan, sedangkan pramade adalah dasaran yang laki-laki.

Nyanjan pada dasarnya adalah memohon anugerah Ida Bhatara-Bhatari dalam memilih orang-orang yang akan disucikan sebagai jero mangku. Pada waktu yang ditentukan, seluruh perangkat desa akan datang ke pura sebagai saksi. Demikian pula penduduk desa, akan duduk memenuhi areal utama mandala Pura Ulun Danu Batur. Kadang kala undangan dari luar desa juga diundang untuk menyaksikan ritual sakral itu. Kehadiran mereka menjadi simbol legalitas dari keterpilihan seorang jero mangku. Adapun ritual nyanjan yang terakhir dilaksanakan pada tanggal 27 Desember 2019. Saat itu adalah pemilihan Jero Penyarikan Duuran yang telah dua tahun kosong serta seorang jero mangku. Tahun 2016 dilakukan upacara nyanjan untuk memilih Jero Balian Desa Kelodan, sedangkan tahun 2010 dilakukan nyanjan yang memilih puluhan pemangku.

Ritual nyanjan biasanya akan diawali dengan persembahyangan bersama masyarakat desa. Pertama, Jero Balian Desa Adat Batur bersama Jero Gede Batur, Jero Penyarikan Batur, dan jero mangku lainnya akan mengambil posisi dan bersembahyang. Selain itu juga ada Jero Kraman dan Pelancang Desa Adat Batur, termasuk seluruh krama adat. Setelah doa-doa dilantunkan, masayarakat akan sembahyang bersama memohon kepada Tuhan (Sesuhunan) agar bisa memberikan pencerahan dan jalan terbaik terhadap apa yang diinginkan oleh masyarakat desa. Setelah sembahyang, semua orang yang tadi sembahyang akan diperciki tirta.

Setelah proses sembahyang bersama, kesempatan selanjutnya akan diserahkan kepada para premade dan pramalen.  Orang-orang terpilih ini akan duduk di tempat yang sudah disiapkan dengan diiringi oleh satu atau dua orang di belakangnya. Para pramalen dan premade biasanya akan melakukan brata tertentu sebelum ritual dilaksanakan pada hari yang ditentukan. Setelah semua siap. Para dasaran akan dihadapkan pada bara api yang ditempatkan pada jabah tanah liat. Gambelan, nyanyian suci, serta asap yang mengepul dari bara api, kemudian akan membuat para premade dan pramalen kesurupan dan mengmbil, bahkan meremas bara api yang ada di depannya. Kadangkala juga diiringi dengan percakapan-percakapan dengan bahasa yang tidak dimengerti atau menari-nari.

Jika proses itu telah dilalui sebagai pertanda bahwa Ida Sesuhunan telah hadir, maka masyarakat desa yang diwakili oleh jero mangku senior akan membangun komunikasi dengan dasaran (matur-atur). Saat itulah Ida Sesuhunan atau Ida Bhatara-Bhatari akan mapica (memberi anugerah), siapakah anak-anak yang terpilih untuk mengisi posisi jero mangku yang kosong. Para premade dan pramalen yang kesurupan akhirnya akan menyebutkan satu nama yang terpilih mengisi posisi yang kosong itu. Setelah nama itu disebutkan dan orang yang dimaksud ditemukan.  maka semua orang akan bersorak dan bergembira, diiringi dengan gambelan yang ditabuh meriah. Penabuhan gambelan itu menjadi pertanda nyanjan telah berjalan dengan baik hingga mendapatkan orang yang terpilih menjadi jero mangku di Pura Ulun Danu Batur.

Setelah anak yang terpilih ditemukan, ia akan ditanya, apakah akan ngiring (mengambil tanggung jawab) itu atau tidak. Ketika yang bersangkutan telah menerima, maka proses akan dilanjutkan. Proses tersebut adalah pelaksanaan brata, di mana mereka yang terpilih tidak diperkenankan untuk keluar dari areal pura dalam waktu tertentu yang dianugerahkan oleh Ida Sesuhunan melalui prawalen dan pramade. Pada saat ini pula pembelajaran seorang jero mangku Batur akan dimulai. Pelajaran pertama terkait dengan etika-etika menjadi seorang pemangku. Etika-etika ini biasanya akan dituntun oleh jero mangku yang lebih senior.

Ariana (2020) menjelaskan, setelah brata selesai proses akan dilakukan dengan pamadegan (penobatan). Pada proses inilah seorang jero mangku Batur disucikan melalui upacara. Setelah itu, proses brata akan kembali berlanjut, hingga tiba saatnya untuk proses mancang karma ke Pura Jati. Orang Batur meyakini bahwa semua pengetahuan digenggam oleh Ida Sesuhunan Pura Jati, sehingga untuk proses menjadi jero mangku pun memohonnya di pura tersebut. Proses mancang karma ini adalah menerima dengan kesungguhan hati sasana menjadi seorang jero mangku itu. Usai melewati proses itulah seorang jero mangku Batur dikatakan layak dan siap untuk melakoni segala tanggung jawabnya.

Saya melihat tradisi nyanjan di Pura Ulun Danu Batur memiliki sisi pendidikan yang unik. Ada nilai-nilai pembelajaran yang khas bagi mereka yang terpilih sebagai jero mangku. Sebab, umumnya mereka yang terpilih belumlah siap secara pengetahuan dan mental. Mereka ditempa oleh waktu setelah mereka ditetapkan. Maka daripada itu, menurut tradisi ini proses pendidikan sesungguhnya berpijak pada kesungguhan hati seseorang, tanggung jawab, dan prosesnya berjalan sepanjang hayat. Selain itu, pengakuan masyarakat juga sangat terukur. Jika seorang telah ditetapkan sebagai jero mangku melalui proses nyanjan, masyarakat akan menganggapnya layak. Ini tentu berbeda dengan fenomena yang belakangan banyak berseliweran tentang kepemangkuan dan ngiring. Pola ini mungkin bisa menjadi jawaban atas fenomena yang muncul dari peristiwa ngiring dan kepemangkuan itu.

 

Daftar Pustaka

Ariana, I K. Eriadi. (2020). Ekologisme Batur. Mahima Institut Indonesia

 

=====

*Tulisan ini adalah tulisan terpilih dalam program “Catatan Menuju Seabad Relokasi Batur” yang digelar Lingkar Studi Batur untuk memperingati HUT ke-3 tahun 2023 dan memperingati seabad peristiwa perpindahan Desa Adat Batur dari Desa Batur Let di kaki Gunung Batur menuju tempat saat ini. Tulisan ini juga akan terbit dalam buku berjudul Seabad Relokasi Batur yang saat ini dalam proses penerbitan.

**Penulis adalah anggota Lingkar Studi Batur yang kini tengah kuliah di ITP Markandeya Bali di Bangli, mengambil Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris. Ia juga menguasai desain visual. Aktif di DPK Peradah Indonesia Bangli sebagai anggota Bidang Informasi dan Komunikasi.

Berita terkait