}} Tari Tirtha Mahamreta Pratistha, Tari Maskot Desa Adat Batur yang Terinspirasi dari 11 Tirtha Bhatari Dewi Danu - Bebaturan.id

Tari Tirtha Mahamreta Pratistha, Tari Maskot Desa Adat Batur yang Terinspirasi dari 11 Tirtha Bhatari Dewi Danu

Berita, Gatra Desa, Pakraman
Pementasan Tari Tirtha MAhamreta Pratistha Desa Adat Batur.

BATUR – Desa Adat Batur kini telah memiliki tari maskot. Berjudul Tirtha Mahamreta Pratistha, tari ini hadis terinspirasi dari 11 Tirtha Utama milik Ida Bhatari Dewi Danu.

Tari yang digarap Tim ISI Denpasar melalui Program Nawa Citta Swabudaya di Desa Adat Batur itu dipentaskan pertama kali pada Puncak Ngusaba Kadasa, Buda Umanis Prangbakat, 5 April 2023 lalu di Pura Ulun Danu Batur. Tarian ini tercipta melalui perpaduan tari, gerong, dan tabuh yang melibatkan sepenuhnya krama adat Batur, baik dari Jero Gambel sebagai penabuh dan Daha Bunga sebagai penari dan gerong.

Ketua garapan Tari Mahamreta Pratistha, I Wayan Suharta mengatakan abhwa tari maskot tersebut terinspirasi dari kawasan kaldera Batur yang merupakan suatu simpul peradaban air Balidwipa Mandala. “Hal tersebut dikuatkan melalui Kakawin Purwaning Gunung Agung yang dikatakan bahwa di Kaldera Batur tepatnya di antara Gunung Batur yang merupakan Gunung Apuy dan Bukit Abang, terdapat Tirta Mottama Mahamreta, air kehidupan yang paling utama,” katanya.

Di samping sebagai Tirta Mahottama ada Keyakinan masyarakat terhadap entitas 11 tirtha mata air yang dimuliakan masyarakat adat Batur, yang menghidupkan dan mengaliri persawahan, bahkan menjadi sumber mata air masyarakat. Tirta tersebut di antaranya Tirtha Telaga Waja, Tirtha Bantang Anyud ,Tirtha Danu Gadang, Tirtha Danu Kuning, Tirtha Pelisan Tirtha Mangening, Tirtha Pura Jati, Tirtha Rejeng Anya, Tirtha Mas Bungkah, Tirtha Mas Mampeh, dan  Tirtha Perapen.

Pencipta tari, Ida Ayu Trisnawati, yang juga dosen ISI Denpasar menuturkan tahapan penciptaan tari maskot tersebut bahwa pihaknya mengawali dengan malakukan wawancara dengan Penglingsir Dane Jero Gede Duuran Batur, terkait dengan tema tari maskot tersebut. “Kemudian saya mencari beberapa ide gerakan yang tetap berpijak pada pola gerak tradisi dengan merancang pola lantai. Dilanjutkan dengan menentukan hari baik (nuasen, red) ke Pura Ulun Danu Batur. Sekaligus mencari perwakilan penari, serta langsung memberikan beberapa gerak dasar tari putri dan memberikan arahan terkait dengan tema dari tari maskot tersebut,” kata Trisnawati.

Trisnawati juga langsung terjun dalam latihan-latihan yang dilakukan di Pura Ulun Danu Batur. Ia mengatakan latihan dilakukan selama kurang lebih tiga bulan sampai pemantapan gerak yang berhasil tampil perdana pada puncak karya Ngusaba Kadasa di Pura Ulun Danu Batur pada tanggal 5 April 2023. “Kesan tiang sangat bersyukur dapat ngaturang ayah dan ini tidak pernah terbayangkan dapat menggarap tari maskot yang tidak gampang menterjemahkan, tabik pakulun pemuliaan bagi Ida Bhatari Dewi Danu. Peciptaan tari mengalir dan lancar tanpa ada kesulitan atau kendala apapun. Sueca Ida Bhatara sami,” kata Trisnawati.

Sementara itu, penggarapan naskah gerong Tari Tirtha Mahamreta Pratistha dilakukan setelah gerakan tari sudah terbentuk yang juga mengikuti melodi gamelan Gong Gede sebagai pengiring. Lamanya penggarapan naskah gerong sekitar satu bulan.

Ni Komang Sekar Marhaeni pencipta nahkah gerong yang juga memang menekuni seni pedalangan mengatakan. “Tahapan penciptaan teks gerong saya garap dengan mengikuti irama dari Gong Gede Batur dan juga menyesuaikan sinopsis tarian. Kemudian setelah teks selesai latihan pun dimulai, saya cukup kagum dengan personil gerong yang sangat cepat berlatih untuk menyesuaikan melodi gamelan,” katanya

Sementara itu, salah satu pemudi adat Batur yang terlibat dalam garapan tersebut, yakni Ni Luh Meisa Wulandari mengatakan pihaknya sangat bersyukur dapat terlibat. “Keterlibatan pemudi Batur dalam penggarapan maskot Batur baik jadi penari ataupun gerong, bagi saya memberikan pengalaman yang sangat berkesan, ke depannya tarian ini akan menjadi ciri khas Batur di mana kita akan mengingat bahwa tirta sebelas menjadi pemersatu pasihan atau subak di Bali,” katanya.

———

Penulis: Oka Suyasa

Foto: Tim Pusdok Kadasa 1945 Pura Ulun Danu Batur

Editor: Carik Hulu

Berita terkait