UPACARA Ngusaba Kadasa di Pura Ulun Danu Batur, Desa Adat Batur merupakan perayaan tahunan yang puncak pelaksanaannya jatuh setiap Purnama Sasih (bulan) Kadasa, bulan kesepuluh dalam penanggalan Saka. Rangkaian upacara terbesar di Batur ini relatif panjang, bisa nyejer hingga dua pekan sejak Ida Bhatara kodal (diturunkan dari stana masing-masing).
Bakti pangodal Ida Bhatara biasanya diambil pananggal ping 13 Sasih Kadasa (dua hari sebelum puncak acara) atau ketika pujawali di Merajan Agung Bukitan dan Bukutan, kecuali pada saat tersebut bertepatan dengan Pasah. Keesokan harinya akan dilakukan rangkaian prosesi papada wewalungan yang bertujuan untuk menyucikan kurban persembahan.
Pada puncak acara, kesibukan biasanya telah tampak sejak pagi, dimana krama Batur dan umat Hindu se-Dharma akan berjejal memenuhi kawasan pura yang diresmikan pada bulan April 1935 silam, setelah direlokasi akibat erupsi dahsyat Gunung Batur 1926 yang melahap wilayah Desa Batur di kaki Gunung Batur. Kesemarakan itu akan memuncak ketika berlangsungnya prosesi Pepada Agung. Puluhan barung (kelompok) gambelan gong dari berbagai desa, banjar, hingga komunitas akan menyemarakkan prosesi Pepada Agung, mengiringi turunnya pralingga Ida Bhatarabhatari di sepanjang Jalan Raya Batur. Prosesi itu selalu menjelma layaknya festival yang dikelola panitia profesional, menyedot perhatian ribuan krama dan umat Hindu yang datang.
Keriuhan akan berlangsung hingga prosesi utama yang digelar di Utama Mandala Pura Ulun Danu Batur. Menjelang matahari menuju peraduannya, kesemarakan berangsur-angsur mereda. Meski demikian, bukan berarti prosesi upacara telah usai. Justru, tepat di tengah malam, sebuah prosesi yang memiliki esensi mahapenting kemudian dilakukan di Madya Mandala Pura Ulun Danu Batur. Ritual tengah malam mahapenting itu bernama pujawali “Tengahing Dalu”, sebuah persembahan dalam hening yang ditujukan pada manifestasi Tuhan dalam prabhawa-nya sebagai Ida Ratu Maduwe Gama, Tuhan pemilik agama atau ketetapan.
Tuhan dalam manifestasinya sebagai Ida Ratu Maduwe Gama oleh krama Batur distanakan dalam sebuah bangunan suci meru bertingkat sembilan, berbusana wastra merah menyala. Posisinya bersanding harmonis dengan kori agung tingkat sembilan di madya mandala (jaba tengah) Pura Ulun Danu Batur. Selain dari pelaksanaannya yang digelar pada tengah malam, upacara Tengahing Dalu berjalan layaknya pujawali pada palinggih–palinggih lainnya.
Sebagai pengiring upacara, turut dipersembahkan tari wali Baris Batur, mulai dari baris jojoran, baris gede, baris bajra, baris perisi, dan baris dadap, juga rejang wali yang ditarikan tempek Daha Bunga Desa Adat Batur, serta beriring tabuh khas Dong Gede Batur yang melegenda. Setelah persembahan, prosesi akan berlanjut ke Pura Kodo Gunalali, yang terletak beberapa ratus meter dari Pura Ulun Danu Batur di wilayah Banjar Kerta Bhuwana, Desa Batur Selatan.
Jero Gede Batur Alitan dalam sebuah wawancara pada Ngusaba Kadasa 1940 tahun 2018 silam menyatakan, secara esensi personifikasi Ida Ratu Sakti Maduwe Gama memang tokoh yang dipercaya berkuasa atas agama (agem-ageman) manusia, khususnya krama Batur. Fungsi itu pula yang menjadi dasar pelaksanaan pujawali yang digelar pada tengah malam.
“Malam itu simbol keheningan. Ketika malam, kesabaran, konsentrasi kita akan tercapai secara optimal, sebab Tuhan berwujud keamanan, keheningan, kedamaian. Beliau (agama; pengetahuan) itu sangat pingit (sakral), sehingga tidak sebarang waktu bisa dibicaran, tidak di sebarang tempat. Hendaknya harus dibicarakan di waktu dan tempat yang bersih, aman, dan mendukung,” katanya.
Malam dalam pemaknaan selanjutnya juga merujuk pada pencarian ke dalam diri sendiri. Jika pada siang hari manusia melalui indranya yang liar dapat melihat sekeliling secara liar, pada malam hari dunia akan menuntut seorang individu lebih memahami hakekat dirinya yang sesungguhnya. Kondisi ini secara pribadi pernah penulis alami ketika kehabisan bahan bakar di jalanan di bawah Penelokan pada pertengahan Februari 2019 lalu.
Dalam kondisi tanpa seorang pun di sisi kanan-kiri belantara, satu-satunya yang dapat kita andalkan adalah diri sendiri. Malam akan memberikan kecerahan, dan ketika malam menjadi cerah, itulah pembebasan. Ia juga menyebut, tatanan upacara di tengah malam ini telah diwarisi krama Batur sejak dulu kala, sebagaimana yang tersurat dalam Raja Purana Pura Ulun Danu Batur, teks terpenting bagi masyarakat Batur. “Beliau, Ida Bhatari Sakti Maduwe Gama itu memiliki arti sebagai pemegang agem yang dijalankan di Batur dan berhubungan dengan tengahing ratri yang hening,” imbuhnya.
______
Tulisan ini telah terbit pada Majalah Batur: Kata Penyambung Peradaban Edisi II, Mei 2019
____
Penulis/Foto: IK Eriadi Ariana (Jero Penyarikan Duuran Batur)
Editer: Carik Hulu











