BATUR – Tradisi yang hidup di Batur berbasis pada nilai-nilai konservasi alam. Nilai-nilai yang dimaksud misalnya terkait menjaga kelestarian hutan, menjaga kemurnian air, dan lain-lain.
Pendapat tersebut mengemuka dalam diskusi terbuka Lingkar Studi Batur yang digelar Sabtu, 24 Desember 2022. Diskusi dengan tema “Konservasi dalam Harmoni: Sebuah Tantangan Zaman dan Refleksi Tradisi” itu digelar di madya mandala Pura Pasar Agung Batur dan diikuti oleh anggota sejumlah komunitas dan para siswa dari sejumlah sekolah di sekitar Bangli dan Gianyar.
Diskusi yang dilaksanakan merupakan refleksi hari ulang tahun ke-2 Lingkar Studi Batur yang jatuh pada 25 Desember 2022. Diskusi turut dilaksanakan sebagai rangkaian kegiatan penanaman pohon “Grow Green” yang diinisiasi Forum Alumni Green Circle (FAGC) Gitakita di kawasan Pura Pasar Agung Batur.
Pemantik diskusi, I Putu Sucita Maiva Utama yang merupakan salah satu anggota Lingkar Studi Batur memaparkan bahwa tradisi Batur sesungguhnya berbasis pada konservasi alam, khususnya terkait Gunung dan Danau Batur dan kawasan sekitarnya. Prinsip-prinsip konservasi tersebut diawetkan dalam berbagai macam ritual yang dilakoni secara mensiklus oleh krama adat Batur.
Pemuda yang tergabung di Bidang Edukasi Badan Pengelola Geopark Batur mengawali paparannya terkait dengan evolusi pembentukan Kaldera Batur sejak 30 ribu tahun silam. Ia menuturkan bahwa Kaldera Batur merupakan salah satu kawasan yang sentral bagi Bali.
“Kaldera Batur adalah kawasan kaldera purba yang teleh berevolusi selama puluhan ribu tahun. Awalnya adalah sebuah gunung yang sangat besar, kemudian untuk pertama kali meletus sekitar 30 ribu tahun yang lalu dan membentuk Kaldera I Batur,” katanya.
Selanjutnya, pada 25 ribu tahun yang lalu kembali meletus hingga membentuk Kladera II Batur. Pada kaldera kedua inilah terdapat danau yang secara tradisi diyakini merupakan sumber resapan air di Bali. “Evolusi Kaldera Batur itu kemudian menciptakan keanekaragaman geologi, ekologi, dan budaya, sehingga UNESCO kemudian menetapkannya sebagai salah satu geopark dunia,” kata dia.
Namun, kata planolog jebolan Institut Teknologi Bandung ini, seiring dengan berjalannya waktu status itu turut menciptakan tantangan dalam pelaksanaan konservasi, seiring dengan semakin bergeliatnya pariwisata dan sektor lainnya. Oleh karena itulah pihaknya berharap upaya-upaya konservasi dapat dilakukan dan tradisi-tradisi yang selama ini hidup di Batur seperti mapakelem, dapat digunakan sebagai spirit upaya konservasi itu.
“Kegiatan penghijauan yang dilakukan Forum Alumni Gitakita ini sangat penting dan sentral, lantaran sangat berkontribusi dalam hal pelestarian, terlebih embrionya sudah terbentuk sebelum Geopark Batur ditetapkan UNESCO. Oleh karena itulah saya sangat pengapresiasi kegiatan ini,” ucapnya.
____
Penulis: Carik Hulu
Editor: Carik Hulu
Foto: Dwi Wirahadi











