}} Upaya Menjaga Kekerabatan: Refleksi Odalan di Pura Jati Batur* - Bebaturan.id

Upaya Menjaga Kekerabatan: Refleksi Odalan di Pura Jati Batur*

Pasuara
Iring-iringan pangayah saat mengusung Ida Bhatara Pura Jati pada saat pujawali.

Oleh I Gede Angga Sastra Pratama**

Foto: Iring-iringan Ida Bhatara saat Pujawali di Pura Jati (Carik Hulu).

========================

BALI sejak dahulu memang dikenal sebagai pulau yang kaya akan keindahan alam dan budaya. Pulau kecil ini memiliki gugusan pegunungan, empat buah danau, perbukitan, dan pesisir pantai yang indah. Potensi alam ini pun kemudian dibaluti dengan budaya yang begitu beragam dan saling berkaitan, sehingga menimbulkan ketertarikan bagi berbagai kalangan.

Penamaan Pulau Bali konon berasal dari kata wali yang artinya ‘upacara’. Penamaan ini dapat dirujuk menurut teks Markendya Purana yang wacananya sering didialogkan oleh penari topeng dalam banyak pementasan. Sebagai pulau upacara, maka kita akan sangat mudah melihat suatu pelaksanaan ritual di Bali. Peristiwa ini bagi saya sangat unik, sebab melalui pelaksanaan upacara yang beragam itu, Bali masih tetap mampu memenuhi kebutuhannya. Budaya juga bergerak. Beragam bentuk kebudayaan tercipta mengiringi upacara. Ritual oleh orang Bali dibuat dengan daya cipta seni yang tinggi, yang menjadikan Bali menarik untuk dijadikan destinasi kunjungan.

Menurut pandangan awam saya, orang dari berbagai belahan dunia umumnya melihat peristiwa ritual yang ada di Bali sebagai magnet yang selalu menarik mereka untuk kembali datang ke Bali. Mereka bisa menyaksikan beragam budaya bahkan di antara desa-desa yang bertetangga. Seperti Batur dan Kintamani misalnya, meskipun desa ini bertetangga, kebudayaan dan tradisinya memiliki variasi yang cukup banyak. Maka dari itulah saya sering bertanya sendiri, mengapa ini bisa terjadi? Bagaimana ini kemudian bisa bertahan?

Pada lain pihak, pelaksanaan ritual di Bali juga tidak luput dari sisi yang menurut saya penuh pertanyaan. Saya melihat ada banyak orang yang pesimis pada pelaksanaan ritual. Bagi mereka tradisi yang dilakukan oleh orang-orang Bali hanya sekadar proses buang-buang sumber daya. Saya pernah juga berpikir seperti ini. Pada beberapa kondisi saya sering merenung, bukankah praktik kebudayaan yang demikian beragam, dilakoni orang Bali ini menguras tenaga, pikiran, dan keadaan alam kita? Saya juga sempat bertanya, mengapa sebagai etnis Bali harus membuang-buang waktu hanya untuk melakukan tradisi tersebut, dan bahkan memerlukan uang yang begitu banyak. Itu terjadi di lingkungan saya.

Sepengalaman saya, saya pernah sepulang sekolah langsung menuju ke pura untuk melaksanakan kewajiban sebagai seorang warga desa adat sejalan dengan peraturan adat yang berlaku. Hal yang sama juga berlaku bagi orang tua saya, di mana setelah bekerja mereka tetap ke pura mengerjakan tugas dan tanggung jawab sebagai masyarakat adat. Mereka rela berkorban demi ke pura. Aturan adat itu pun bahkan tetap mengikat sanak saudara saya yang jauh, yang berada di pulau berbeda. Mereka tetap datang menyempatkan waktu untuk datang sekadar mengikuti rangkaian tradisi.

Saya pernah bertanya kepada teman-teman. Mengapa kita melakukan adat, tradisi, dan budaya seperti ini? Jawaban teman saya, yaitu “Nak keto koné (memang seperti itu katanya)”. Ketika saya bertanya kepada tetua di lingkungan saya, jawabanyapun tetap sama. “Mula kéto uli pidan (memang demikian dari dahulu)”. Ada juga yang mengatakan “kocap kéné  (katanya begini)”. Jawaban-jawaban itu kadang tidak menjalankan tugas selayaknya sebuah jawaban. Saya kadang semakin bingung, dan memunculkan pertanyaan baru.

Pada proses pencarian jawaban dari pertanyaan-pertanyaan semacam itu, pada akhirnya saya mulai menemukan jawaban. Saya perlahan menemui orang-orang yang berpikir secara postmodern. Budaya, bagi kalangan ini ternyata bukan sekadar pengulangan-pengulangan laku. Kalangan seperti ini mulai bergerak memaknai kebudayaan yang mereka miliki. Mereka meyakini kebudayaan bermakna, sehingga merka dengan sepenuh hati berupaya mempertahankannya. Pada posisi itulah saya melihat bahwa budaya ternyata bukan sekadar buang-buang sumber daya. Hanya saja, banyak dari kebudayaan itu tidak bisa dibaca dan pelakunya kadang kala tidak bisa menjelaskan nilai-nilai yang dimiliki oleh tradisinya dalam rangkaian kata-kata sehingga dapat dipahami oleh orang lain.

Peristiwa-peristiwa itu pula yang saya lihat dalam praktik kebudayaan di Batur, misalnya ketika pelaksanaan odalan di Pura Jati. Desa Adat Batur adalah desa tetangga saya. Letaknya di timur Desa Adat Kintamani. Letaknya ini membuat saya sering mengamati laku budaya di desa yang juga terdapat Pura Ulun Danu Batur itu. Mengapa kami bisa bertetangga? Menurut cerita, konon dulu beberapa wilayah yang jadi pusat Desa Adat Batur saat ini dahulunya adalah wilayah Desa Kintamani. Karena tahun 1926 Desa Adat Batur terkena bencana erupsi Gunung Batur, meka mereka kemudian direlokasi ke tempat yang sekarang. Maka, sejak saat itulah kami benar-benar menjadi desa yang bertetangga.

Kembali lagi ke Pura Jati. Pura ini katanya merupakan salah satu pura penting di Batur. Letaknya di tepi Danau Batur. Jaraknya memang agak jauh dengan pusat desanya hari ini. Barangkali ada sekitar 12 km. Kalau pusat desanya masih di kaki Gunung Batur, jaraknya tentu akan lebih dekat. Pura ini melaksanakan odalan atau pujawali-nya pada Sasih Kasa, yakni pada Pananggal ke-13 Sasih Kasa menurut Kalender Bali. Tahun 2023 ini, upacaranya berlangsung tanggal 1 Juli 2023, namun rangkaiannya telah berlangsung sejak tanggal 28 Juni 2023. Menurut Ariana (2021) yang juga Jero Penyarikan Duuran Batur, pura ini adalah parahyangan Ida Bhatara Sakti Bujangga Luwih yang merupakan nabe niskala dari orang-orang Batur.

Pelaksanaan odalan di Pura Jati tergolong unik. Menjelang pelaksanaan upacara, pralingga Ida Bhatara Pura Jati akan diusung dari Pura Ulun Danu Batur ke Pura Jati dengan berjalan kaki. Seingat saya, tidak pernah tidak berjalan kaki, kecuali saat Covid-19. Ketika pralingga kembali dari Pura Jati ke Pura Ulun Danu Batur setelah dilakukan ritual juga dierlakukan yang sama. Masyarakat tetap berjalan kaki. Ada ribuan orang yang terlibat. Sepanjang perjalanan itu, kadang kala mereka juga didukung oleh masyarakat yang tinggal di tepi jalan yang dilewati juga pelaku-pelaku usaha dengan memberikan makanan, buah-buahan, dan minuman. Tahun 2023, peristiwa membagi makanan itu pun sempat viral di media sosial dan mendapat komentar beragam. Ada yang mengapresiasi, ada pula yang membandingkan kegotongroyongan masyarakat itu dengan kebijakan pemerintah daerah yang justru memungut retribusi pariwisata di jalan-jalan. Itu ironis sekali.

Ketika saya datang ke kawasan itu, saya melihat upacara sangat ramai. Kawasan yang biasnaya sepi mendadak ramai. Keramaian ini terjadi salah satunya karena hampir seluruh warga Batur tinggal sementara di kawasan pura selama pelaksanaan odalan. Mereka membuat tenda-tenda, beberapa juga membuatnya dalam bentuk bangunan semi permanen yang disebuut dunungan. Bangunan-bangunan ini digunakan bernaung selama tiga-empat hari. Peristiwa tinggal sementara ini secara tradisional dikenal sebagai madunungan. Di dalam dunungan, masyarakat adat Batur akan tinggal sementara di tempat yang sederhana. Hanya beralaskan karpet, berdindingkan dan beratap terpal. Hanya beberapa yang beralaskan kasur dan beratapkan seng. Jika dindingnya, memang banyak yang sudah dibuat lebih permanen.

Saya melihat tradisi madunungan ini sebagai memontum menyatukan keluarga-keluarga Batur. Ketika odalan di Pura Jati berlangsung, di dunungan-dunungan itu akan berkumpul sanak keluarga orang Batur. Mereka yang berada di luar Batur, di luar Pulau Bali, bahkan yang berada di luar negeri akan pulang dan menjalin kehangatan bersama.

Praktik kebudayaan ini mengingatkan saya terhadap pandangan atau teori dari Emile Durkheim (1893). Ia mengemukakan bahwa suatu upacara merupakan pengikat tali kekerabatan yang dimiliki. Kalau merujuk teori ini, saya kok melihat tetua kita sejak dulu begitu jenius dan mampu memikirkan bagaimana tali persaudaraan bisa selaly terhubung. Pada masyarakat adat Batur upaya ini dilakukan melalui odalan di Pura Jati. Seperti banyak diketahui, masyarakat Batur sejak dulu terkenal sebagai pedagang yang berjualan ke daerah-daerah lain. Profesi ini barangkali telah dipahami berpeluang merenggangkan sisi-sisi kekerabatan, maka madunungan itulah yang kemudian menyatukan mereka kembali. Secara teori interpretatif, tetua dulu sudah mampu menjelaskan makna tindakan yang mengungkapkan tindakan sosio-budaya dalam implentasianya dengan pendekatan upacara keagamaan.

Ini baru salah satu upacara di salah satu sasih pada kalender Bali. Belum lagi upacara lain-lainnya yang dilakukan oleh orang Batur, yang memiliki runtutan setiap upacara mulai dari Sasih Kasa hingga Sasih Jiestha. Upacara-upacara itu mungkin memiliki nilai yang tersembunyi dan kita perlu berusaha lebih untuk memaknainya ke depan. Bali, khususnya Desa Batur masih banyak memiliki hal-hal yang perlu diartikan dan ditulis demi menjaga jati diri. Saya berharap generasi berikutnya mampu memahami bahwa leluhur, tetua yang memiliki kekayaan intelektual, yang telah memikirkan sejak dulu generasi berikutnya agar mampu bertahan. Upaya memahami pesan-pesan dari tetua yang say amaksud bukan hanya berupaya paham saja, tapi mengerti, memahami, dan melaksanakan kebudayaan yang adiluhung itu.

=====

*Tulisan ini adalah tulisan terpilih dalam program “Catatan Menuju Seabad Relokasi Batur” yang digelar Lingkar Studi Batur untuk memperingati HUT ke-3 tahun 2023 dan memperingati seabad peristiwa perpindahan Desa Adat Batur dari Desa Batur Let di kaki Gunung Batur menuju tempat saat ini. Tulisan ini juga akan terbit dalam buku berjudul Seabad Relokasi Batur yang saat ini dalam proses penerbitan.

**Penulis adalah mahasiswa Program Studi Antropologi Budaya Universitas Udayana. Penulis berasal dari Desa Adat Kintamani.

Berita terkait