Oleh I.B. Oka Agastya**
Foto: Keragaman warisan geologi Batur berupa aliran lava dari kawah III Gunung Batur, situs geologi bukit dalam dan dinding kaldera dalam dan luar Gunung Batur (Oka Agastya)
========================
Pulau Bali dan Asal Muasalnya
Pulau Bali atau kerap disebut sebagai Pulau Dewata merupakan salah satu pulau di gugusan Sunda Kecil yang terkenal akan keindahan alam dan keberagaman budaya. Keindahan Pulau Bali menjadikannya daya tarik bagi wisatawan dalam negeri maupun luar negeri untuk mengunjunginya. Keindahan alam yang dimiliki berupa bentang alam pantai, perbukitan, dataran tinggi, hingga pegunungan tidaklah lepas dari proses maupun fenomena geologi yang menjadi pengontrolnya. Berdasarkan penelitian ahli geologi Pulau Bali diperkirakan terbentuk kurang lebih 15 juta tahun yang lalu. Pulau ini terbentuk pada masa miosen yang terbentuk dari aktivitas gunung api bawah laut. Pemunculan gunung api ini tidak terlepas dari proses subduksi lempeng antara lempeng Indo-Australia di bagian selatan dan lempeng Eurasia di bagian utaranya, sehingga menghasilkan rangkaian zona penunjaman lempeng dan juga rangkaian sabuk magmatisme yang kita kenal saat ini sebagai cicin api atau ring of fire.
Gunung api memiliki peranan penting dalam membentuk dan membangun rona bumi terutama di Pulau Bali. Hampir 70% batuan penyusun Pulau Bali bersumber dari aktivitas vulkanik atau gunung api. Tidak mengherankan bagi masyarakat Indonesia pada umumnya dan Bali khususnya jika percaya bahwa gunung adalah sumber dari segala kehidupan, sebab mineral, batuan, hingga air berasal darinya. Salah satu gunung api yang memiliki peranan penting dalam pembentukan Pulau bali adalah Kaldera Gunung Batur, di mana sebagian besar material letusan Kaldera Batur menjadi dasar penyusun wilayah dari kota-kota penting di Pulau Bali seperti Gianyar, Denpasar, Klungkung, Bangli, hingga Badung.
Warisan Bumi di Batur
Kaldera Gunung Batur terbentuk oleh aktivitas Gunung Batur Purba yang dikenal sebagai Gunung Penulisan. Gunung purba ini mengalami letusan paroksimal sehingga menyebabkan terbentuknya bentangalam unik yang disebut kaldera ganda atau kaldera di dalam kaldera. Proses pembentukan Kaldera Gunung Batur dimulai pada 29.300 tahun yang lalu, di mana letusannya disebut sebagai letusan paroksimal yang melontarkan semua material piroklastik ke arah selatan Pulau Bali. Material piroklastik yang terhempas kala itu dikenal sebagai ignimbrite Ubud. Endapannya banyak ditemukan di sekitar wilayah Ubud, bahkan hingga Denpasar. Banyaknya material yang terlontarkan ke udara menyebabkan terbentuknya ruang hampa pada tubuh Gunung Batur I yang menyebabkan tubuh gunungnya runtuh dan membentuk kaldera dengan luas mencapai 13,8 x 10 km2, Peristiwa ini juga memotong bagian dari tubuh gunung parasitnya, yakni Gunung Abang, yang juga saat ini sebagai puncak tertinggi di kawasan Kaldera Batur dengan ketinggian 2.152 mdpl.
Proses geologi Kaldera Batur tidak berhenti sampai di sana. Perlahan pascaletusan kaldera pertama, gunung api baru mulai tumbuh. Proses itu diawali dengan tumbuhnya Gunung Parasit Bunbulan dan Gunung Payang di bagian utara dan barat daya zona depresi kaldera. Lambat laun mulailah tumbuh Gunung Batur Purba II yang terus tumbuh dan akhirnya kembali mengalami letusan paroksimal pada 20.150 tahun yang lalu. Peristiwa ini menyebabkan terbentuknya kaldera dengan diameter 7 km dan memotong setengah dari tubuh gunung api-gunung api parasit, yakni Gunung Bunbulan dan Gunung Payang. Material piroklastiknya terlontarkan hingga keluar dari kaldera pertama ke arah selatan dan mengendapkan ignimbrite Gunung Kawi. Pascapembentukan kaldera kedua juga menyebabkan depresi di bagian timur yang semakin mendalam dan dalam waktu yang relatif cukup lama tanpa adanya aktivitas gunung api baru sehingga daerah depresi tersebut tergenang oleh air hujan dan membentuk danau bulan sabit dengan luasannya 16 km2. Danau itu sekarang dinamakan Danau Batur.
Masih belum begitu jelas berapa lama jeda waktu antara aktivitas kaldera kedua hingga terbentuknya gunung api baru, yakni Gunung Api Batur Muda, merupakan gunung api strato komposit. Gunung ini memiliki tiga kawah utama yakni kawah I (1.717 mdpl), kawah II (1.589 mdpl), dan kawah III (1.410 mdpl). Selain tiga kawah utama tersebut Gunung Api Batur juga terususun oleh beberapa kawah kecil hasil erupsi samping. Beberapa penelitian mengatakan bahwa Gunung Api Batur Muda pertama kali muncul di 3000 tahun yang lalu dan hingga kini telah mengalami sekitar 26 kali letusan berdasarkan aktivitas yang tercatat sejak tahun 1804 hingga tahun 2000.
Aktivitas gunung api ini juga membentuk keragaman geologi unik yang dapat dijumpai di Kawasan Kintamani. Karakter gunung api yang bersifat asam hingga gunung api bersifat basa dapat dijumpai di sini, seperti Situs Geologi Gunung Payang, Situs Geologi Gunung Bunbulan, Situs Geologi Kerucut Sinder Yeh Mampeh, Situs Geologi Kerucut Sinder Bukit Dalam, Stratovolcano Gunung Api Batur Muda, dan kaldera ganda yang membentuk danau bulan sabit. Kaldera Batur juga memiliki banyak jenis kegaraman geologi berupa fitur geologi seperti aliran lava tumuli, lava bantal, goa lava, lava roping atau tali, lava aa, lava clinker, belantara lava, lava hornites/driblet spires, lava pipe/spiracel, lava bola, lava pahoehoe-pahoehoe toe, lava talus, lava stalaktit, lava steptoe/slab, dan pressure ridges lava. Keragaman geologi hasil fenomena geologi yang berlangsung puluhan ribu tahun ini menjadikan Kaldera Batur sebagai laboratorium gunung api terlengkap di dunia, sehingga tidak salah berbagai kampus kebumian di Indonesia hingga luar negeri berdatangan untuk memperlajari rekam jejak geologi di Kaldera Batur.
Warisan bumi yang penting dan memiliki makna luar biasa atas bagaimana manusia dapat hidup berdampingan dengan alam adalah fenomena letusan Gunung Batur pada tahun 1926. Letusan ini menghasilkan aliran lava berkomposisi andesit-basaltik menutupi Desa Batur Kuno pada waktu itu. Letusan itu menyebabkan masyarakat memutuskan untuk merelokasi keberadaan Desa Batur Kuno ke atas kaldera seperti saat ini. Peristiwa ini merupakan salah satu warisan pengetahuan lokal (local knowledge) yang tidak tergantikan, sehingga dengan ditemukannya kembali titik nol Desa Batur Kuno menjadi pesan penting untuk dikonservasi dan dilestarikan. Selain itu, bebatuan lava yang ada di kaki Gunung Batur memiliki arti penting dalam melestarikan pengetahuan pengurangan risiko bencana di kawasan Gunung Api Batur. Hal tersebut menjadi keragaman geologi di kawasan Kaldera Batur sebagai warisan geologi yang tidak tergantikan. Warisan geologi ini mempunyai andil bagi masyarakat dalam membangun budaya kesadaran terhadap lingkungan maupun bencana.
Tantangan Konservasi dan Degradasi Warisan Bumi Batur di Era Pariwisata Modern
Setiap batuan yang ada di Kaldera Batur merekam jejak peristiwa pembentukan bumi dan kejadian bencana, sehingga apabila batuan-batuan ini hilang dan rusak maka rekaman peristiwa bumi ini akan hilang dan tidak dapat dipelajari maupun diwarisi bagi generasi mendatang. Selain itu warisan geologi di Kaldera Batur memiliki fungsi ekosistem, baik sebagai dasar bertumbuh dan hidupnya keragaman hayati yang ada di Kaldera Batur maupun berfungsi sebagai wilayah resapan dan wadah penyimpan cadangan air tanah dan mata air di Pulau Bali.
Saat ini, kekayaan warisan bumi di Batur juga terancam mengalami degradasi, baik dari faktor alam seperti perubahan iklim dan fenomena bencana maupun dampak perubahan yang diciptakan oleh manusia. Masuknya Kaldera Batur sebagai global geopark sejak 20 September 2012 serta menjadi warisan budaya UNESCO membuat perkembangan ekonomi dan investasi di kawasan Kintamani semakin pesat. Pembangunan fasilitas pariwisata semakin gencar dilakukan dan mengancam keberadaan situs-situs warisan bumi di Kaldera Batur. Masyarakat juga semakin banyak yang tidak memahami warisan bumi, ditambah dengan tuntutan ekonomi yang mempercepat perubahan alih fungsi lahan di kawasan ini. Maka, perlu sebuah inovasi untuk menjaga atau merawat warisan bumi, baik melalui peran aktif masyarakat dalam menjaga dan memanfaatkan potensi jasa lingkungan maupun ekosistem secara berkelanjutan.
Pariwisata modern saat ini tidak lagi menempatkan kuntitas sebagai tolok ukurnya, melainkan kualitas dari suatu daya tarik wisata. Kualitas ini bisa didapat dari informasi atau kegiatan pariwisata yang memberikan kesadaran dan pelibatan wisatawan dalam melestarikan lingkungan serta kelangsungan bumi. Contohnya seperti mengajak wisatawan untuk tidak membuang sampah sembarangan maupun ikut kegiatan pemungutan sampah; mengajak wisatawan untuk kegiatan penanaman pohon di kawasan lindung; memberikan pemahaman mengenai emisi jejak karbon; belajar mengenai pertanian organik di kawasan Batur; belajar mengenai budaya hidup selaras dengan alam dari Batur; bergeowisata sejarah letusan Gunung Batur; membangun eco-homestay; dan kegiatan wisata lainnya yang dilakukan guna memberikan manfaat ekonomi untuk kelangsungan hidup bagi masyarakat sekaligus kelestarian lingkungan.
====
*Tulisan ini adalah tulisan terpilih dalam program “Catatan Menuju Seabad Relokasi Batur” yang digelar Lingkar Studi Batur untuk memperingati HUT ke-3 tahun 2023 dan memperingati seabad peristiwa perpindahan Desa Adat Batur dari Desa Batur Let di kaki Gunung Batur menuju tempat saat ini. Tulisan ini juga akan terbit dalam buku berjudul Seabad Relokasi Batur yang saat ini dalam proses penerbitan.
**Geolog di Batur UNESCO Global Geopark dan Mahanta Geoscience Consultant.











