BATUR – Puncak upacara Palebon Pangemong Pura Ulun Danu Batur, Palinggih Dane Jero Gede Batur Kawanan (Alitan) memasuki seminggu. Berbagai persiapan pun telah dilakukan, salah satunya pamereman berupa bade tumpang sia (tingkat sembilan) yang kini telah sampai di Batur.
Sebelumnya, bade tumpang sia beserta patulangan kaang yang akan mengantar perjalanan akhir Jero Gede Batur Alitan dibuat oleh undagi bade asal Puri Agung Ubud, Prof. Dr. Tjokorda Gde Raka Sukawati, S.E., M.M. Bade dibuat dalam beberapa bagian di Puri Saren Campuhan.
Setelah badan bade yang terbagi dalam enam bagian selesai dikerjakan, bagian-bagian tersebut lantas dibawa ke Batur oleh masyarakat adat Batur dan pangayah Puri Ubud menggunakan tiga truk pada Jumat, 17 Januari 2025.
Perjalanan dari Ubud menuju Batur memakan waktu sekitar tiga jam menyusuri Jalan Raya Ubud Sanggingan-Kedewatan-Payangan-Batur. Sesampainya di Batur, bagian-bagian bade langsung dirakit di parkiran depan Pura Ulun Danu Batur.
Tjok. Raka mengatakan pamereman bade tumpang sia yang dibuat untuk Palinggih Dane Jero Gede Batur Alitan adalah menggunakan ukuran pola gegunungan tiga dan tumpang sembilan. Bade tersebut sesuai dengan permintaan Jero Gede Batur Alitan kepadanya ketika masih hidup.
“Ketinggian bade tumpang sembilan ini kurang lebih 22 meter yang akan diarak oleh pangayah sebanyak 250 orang per sekali jalan, dengan sistem empat kali estafet dari Puri Kawanan menuju Tunon (Genah Pengesengan/Pembakaran Dane Jero Gede Batur, red). Artinya, masyarakat yang terlibat kurang lebih 1000 orang,” katanya.
Baca Juga: https://bebaturan.id/pura-ulun-danu-batur-dibuka-26-januari-2025/
Sementara itu, patulangan kaang akan dibawa dari Ubud menuju Batur pada tanggal 22 Januari 2025 atau dua hari sebelum puncak upacara. Adapun patulangan kaang tersebut diperkirakan berketinggian sekitar 6 meter dengan tenaga pengarak ideal sebanyak 150 per sekali jalan.
Di sisi lain, Prawartaka bade Desa Adat Batur, I Ketut Suarta menambahkan bahwa dalam pembuatan bade sudah sesuai dengan gegulak (ukuran) yang diwarisi di Desa Adat Batur. Dengan demikian, bade tumpang sia yang dipersembahkan kepada Jero Gede Alitan adalah perpaduan antara dua tradisi, yakni Batur dan Ubud.
Berdasarkan hasil keputusan rapat adat Desa Adat Batur bade akan diarak oleh masyarakat Batun Sendi Ida Bhatari. Pangayah tersebut antara lain dari Desa Bayung, Buahan, Selulung, Sekardadi, Bonyoh, Sribatu, Tanggahan Gunung, Katung, Belancan, Sangkaduan, dan Bunutan. Sedangkan krama tempekan Desa Adat Batur akan ditugaskan mengarak patulangan kaang.
___
Penulis: Ni Ketut Veny Yuliasih
Penyunting: Carik Hulu
Foto: Masyarakat adat Batur dan pangayah lainnya menyusun bade tumpang sia pamereman Palinggih Dane Jero Gede Alitan (Tim Pusdok Batur )











